Monday, May 27, 2019

Different Dreams Ep 13-14 Part 2

Sebelumnya...


Fukuda dan Young Jin bicara diluar.

Fukuda : Aku memikirkan masa lalu hingga menyiksa diri sendiri. Aku bersumpah aku tidak pernah memanfaatkanmu.

Young Jin diam saja, membuat Fukuda tambah panic.

Fukuda : Tolong katakan sesuatu.

Young Jin : Aku tahu. Akulah yang salah paham. Aku menolak kebaikanmu.

Fukuda : Tidak, tindakanku yang membuatmu salah paham.

Young Jin : Kita saling salah paham dan sama-sama merasa tidak enak, karena itu lupakan saja.


Young Jin lalu mengajak Fukuda berjabat tangan. Fukuda menjabat tangan Young Jin. Keduanya tersenyum.

Setelah berbaikan, Fukuda melepas mantelnya. Ia bermaksud memakaikan mantelnya pada Young Jin. Tapi kemudian, ia tersenyum malu.


Dari balkon, Miki memperhatikan mereka. Ia terluka melihat Fukuda memakaikan mantel ke Young Jin.

Young Jin dan Fukuda lalu beranjak pergi.


Di dalam salah satu kamar, Tuan Noda menasehati Hiroshi, Oda dan Kenta. Tuan Noda bilang, bahwa anjing dan wanita harus dipukul tiap tiga hari agar mau menuruti mereka.

Tuan Noda : Mereka yang berkompolot merencanakan kemerdekaan adalah anjing. Saat anjing mulai menggigit tangan pemilknya, sudah terlalu terlambat. Kalian mengerti?

Hiroshi tampak kesal dengan ucapan Tuan Noda, tapi ia berusaha menahan diri.

*Kimak ini si Tuan Noda... lu lahir dari siapa emangnya? Tapi sy penasaran, Hiroshi ini beneran baik apa gk sih? Atau dia cuma pura2 baik kek yang dibilang Oda? Sy sih ngarepnya, Hiroshi ini beneran tulus ama Young Jin.... Btw, si Noda ngomong gitu, berarti sudah bisa ditebak dong gimana dia memperlakukan Miki... Kek nya gak lama lagi, kita bakal disuguhin ama kisah pilu Miki nih. Ngarep Miki ini orang Joseon juga dan dia entar gabung sama Young Jin untuk balas dendam.

Noda pamit.


Setelah Noda pergi, Oda bicara dengan Kenta dan Hiroshi.

Oda : Dia pahlawan yang jarang ada. Kita benar-benar beruntung. Orang seperti itu bukan orang Jepang seperti kita.

Kenta : Kenapa bicara seperti itu tentang dia?

Hiroshi : Sudah cukup.Masa jabatan gubernur akan segera berakhir. Saat gubernur baru naik jabatan, dia akan mendengar banyak hal dari penasihat kantor. Tidak ada gunanya kita melawannya.

Kenta : Entahlah. Aku tidak berniat menjilat pria yang menjual negaranya sendiri.

Hiroshi bertanya pada Oda.

Hiroshi : Kau juga merasa begitu?

Oda : Apakah yang bertahan adalah yang kuat? Ataukah yang kuat yang bertahan?

Hiroshi : Kalau kau masih belum menemukan jawabannya, posisimu saat ini adalah akhir bagimu.


Kenta tertawa dan langsung menatap Oda.

Hiroshi pamit dan pergi. Oda kesal.


Hiroshi dan Young Jin dalam perjalanan pulang.

Hiroshi tanya, apa Young Jin pernah merasa tidak nyaman atau terbebani selama hidup sebagai putrinya.

Young Jin terdiam.


Hiroshi lantas menatap Young Jin.

Hiroshi : Ayah memberi pertanyaan sulit, ya?

Young Jin : Tanpa Ayah, aku tidak akan hidup. Itu yang kupikirkan. Cara bersepeda. Sebesar apa lautan. Seperti apa jerapah. Tidak pernah ada yang memperlihatkannya padaku. Kemegahan Gunung Fuji... Buket kelulusan yang lebih besar dari yang siswa lain dapatkan... Kalau Ayah tidak mengadopsiku saat kecil dulu, aku pasti sudah mati dan tiada lagi. Itu yang kupikirkan.

Young Jin lalu menatap ayahnya dan tersenyum.

Young Jin : Terima kasih karena sudah memberiku kehidupan kedua. Kurasa ini kali pertama aku mengatakannya.

Hirosh tersenyum mendengarnya.


Young Jin lantas memegang tangan ayahnya.

Hiroshi terkejut lalu balas menggenggam tangan Young Jin.

Setelah itu, Young Jin mengalihkan wajahnya keluar jendela. Wajahnya pun kembali dingin.

*Kok gk rela ya sy, hubungan ayah dan anak ini merenggang....


Besoknya di rumah sakit, Hiroshi bilang pada Young Jin kalau ia tak bisa membiarkan posisi wakil direktur kosong terlalu lama.

Young Jin : Ayah mau aku jadi pengisinya? Aku bukan orang yang tepat.

Hiroshi : Kenapa bukan?

Young Jin : Aku tidak mampu dan tidak mau.

Hiroshi : Kau bisa mulai membuktikan kemampuanmu sekarang dan melihat setinggi apa kau bisa melejit sebagai dokter.

Young Jin tertegun. Hiroshi lalu beranjak pergi.


Sekarang, Hiroshi, Young Jin, Ishida dan beberapa dokter lainnya berada di ruang operasi.

Hiroshi tanya keadaan pasien.

Ishida : Suhu tubuh 39 derajat celcius. Kami mendengar suara gesekan.

Hiroshi : Bagaimana detak jantungnya?

Ishida : 24.

Dokter lain : Mereka pikir dia tidur karena sedang flu.



Young Jin : Kurasa ini pyothorax (Nanah yang terbentuk di dalam dan di sekitar paru-paru).

Young Jin lalu meminta pisau bedah.

Young Jin mulai melakukan pembedahan dan menyedot cairan. Dan memang benar, itu nanah.

Hiroshi menyuruh Ishida keluar. Ishida kaget tapi ia patuh dan tetap keluar seperti perintah Hiroshi.


Sampai diluar, wajahnya berubah kesal.


Nam Ok, Majar dan sekelompok orang pergi ke pabrik mesiu Joseon.

Di pintu masuk, mereka diperiksa penjaga.

Nam Ok berkata, mereka disuruh Pak Kim dari apotek datang ke sana.

Pria yang memimpin penjagaan yang ternyata komplotan Pak Kim,  mengerti lalu berbisik, meminta mereka hati2.

"Itu akan meledak kalau terguncang." ucapnya.

"Kau pikir aku bodoh?" tanya Nam Ok.

"Kau mau bercanda bahkan sebelum kita mulai?" jawab pria itu kesal.

Pria itu lalu mempersilahkan Nam Ok dan Majar lewat.


Nam Ok dan Majar mulai mencari nitrogliserin, komponen utama membuat dinamit.

Setelah menemukannya, mereka bergegas pergi.

Tapi... kotak kayu yang dibawa Majar, bagian bawahnya terbuka. Majar takut dan langsung memanggil Nam Ok.

Kaleng yang berada di dalam, seketika menggelinding keluar. Nam Ok dengan sigap, langsung menelungkup, menangkap kaleng berisi bahan berbahaya itu.


Polisi yang menjaga pintu masuk tadi, mendengar ribut2 dan langsung memeriksa tapi tidak menemukan siapa pun. Dia pun bergegas pergi.


Setelah polisi pergi, Majar mendekati Nam Ok. Nam Ok berbalik dengan hati2 sambil memegangi kaleng itu.

Majar mulai menangis.

Nam Ok memarahi Majar karena tidak hati2.


Anggota Korps Pahlawan yang lain juga sibuk memindahkan bahan2 peledak itu ke mobil.

Setelah itu, mereka semua langsung pergi.


Jung Im memainkan kaleng itu. Sontak, Majar dan Nam Ok panic dan meminta Jung Im hati2.


Setelah itu, Majar memeluk Nam Ok.

Majar : Hyungnim, saranghamnida hyungnim.

Nam Ok : Sedang apa kau?

Majar : Kau menjatuhkan diri di atas kaleng itu. Aku nyaris menangis melihatnya.

Nam Ok : Bukan masalah besar. Kau membuatku malu saja. Jung Im di sini, lanjutkanlah.

Majar : Aku sangat menghormatimu.

Jung Im tertawa melihatnya.

Nam Ok lantas meminta Seung Jin mengatakan sesuatu padanya.


Seung Jin mengangkat tangannya lalu kembali sibuk dengan pikirannya.

Nam Ok lalu menanyakan Won Bong. Jung Im bilang, Won Bong ada tamu dari Shanghai.

Nam Ok : Siapa? Doo Wol Sung?

Mereka lalu tertawa.

Sementara Seung Jin terus menatap syal dari Jung Im.

Bersambung ke part 3...

No comments:

Post a Comment