Friday, November 1, 2019

The Great Show Ep 4 Part 3

Sebelumnya....


Song Yi sendiri berlari mengejar pria yang dilihatnya sambil berteriak memanggil pria itu ayah? *What?? Itu ayahnya Song Yi?Berarti ayahnya Tae Poong dan Tak juga dong.

Tapi saat Song Yi berhasil mengejarnya, pria itu bukanlah pria yang dilihat Song Yi tadi. Song Yi langsung kebingungan dan celingak celinguk mencari sosok ayahnya. Pria itu kemudian pergi.


Song Yi menangis.


Dae Han berlari mencari Song Yi.

Tak lama, ia melihat Song Yi duduk sendirian di bangku taman.

Dae Han : Kau pergi ke mana? Aku mencarimu ke mana-mana.

Song Yi menangis lagi dan langsung memeluk Dae Han sambil menggenggam saputangan ibunya. Dae Han tertegun.

Song Yi : Aku mengejarnya karena kupikir itu ayah, tapi ternyata orang lain dan aku tidak bisa melihat paman.

Dae Han lantas memeluk Song Yi dan menenangkan Song Yi.

Dae Han : Maafkan aku. Begitu rupanya. Tidak apa-apa. Maafkan aku... Aku teralihkan.


Dae Han kemudian menatap Song Yi.

Dae Han : Song Yi-ya, akan kutambahkan ini ke Konstitusi. Tidak teralihkan di taman hiburan. Ya? Aku janji, ya?


Song Yi mengangguk, lalu kembali memeluk Dae Han.

Tepat saat itu, Soo Hyun muncul bersama Tae Poong. Soo Hyun sedikit tersenyum melihat mereka.


Mereka lantas berjalan menuju mobil.

Soo Hyun : Song Yi-ya, kapan kau buang air besar selain hari ini?

Song Yi : Kurasa sudah lebih dari sepekan.

Soo Hyun : Anak-anak bisa sembelit jika mereka gelisah. Kurasa gangguan pencernaan hari ini juga akibat stres.

Dae Han : Aku kejam.

Soo Hyun : Kurasa kau tidak boleh menyekolahkannya sampai dia stabil.

Dae Han : Baiklah.


Mendengar itu, Tae Poong langsung loncat2 girang karena berpikir ia juga ikut libur.

Dae Han dan Soo Hyun sontak tertawa melihatnya.

Dae Han : Kau harus pergi ke sekolah.

Tae Poong : Aku sama tidak mau bersekolah!

Dae Han : Yang benar juga, bukan sama.

Tae Poong : Juga! Sama!

Dae Han : Aku juga sama! Kau harus pergi ke sekolah.


Ponsel Soo Hyun tiba2 berdering. Telepon dari PD Koo. Suara PD Koo terdengar panic.

PD Koo : Bu Jung, sudah kuduga. Aku tahu bedebah itu akan membuat masalah.

Soo Hyun : Ada apa?

PD Koo : Apa?

PD Koo : Lihatlah daring. Saat ini sedang kacau.

Soo Hyun : Apa?


Dalam perjalanan, Soo Hyun kesal membaca berita Anggota Dewan Hwang yang dituduh melakukan pelecehan seksual.


Sementara Dae Han tersenyum melihat si kembar tidur.


Dae Han lalu melirik Soo Hyun.

Dae Han : Kenapa Hwang Sunae melakukan itu di zaman sekarang? Apa hubungannya pelecehan seksual dengan waktu?

Soo Hyun : Ini kejahatan kapan pun juga.

Dae Han : Benar. Kurasa itu artinya dia harus meninggalkan acaramu, bukan?

Soo Hyun : Bukan hanya meninggalkan acara kami. Dia harus dipenjara.

Dae Han : Akan sulit mencari panelis baru, terutama karena ini siaran langsung.

Soo Hyun : Itulah maksudku. Apa ada yang bagus?

Dae Han langsung batuk2 dan menyebutkan namanya.

Soo Hyun melirik Dae Han.

Soo Hyun : Kau?

Dae Han : Apa? Kau dengar itu? Aku sangat populer sekarang. Citraku juga bagus sekarang.

Soo Hyun : Aku akan memikirkannya jika gagal menemukan orang lain.

Dae Han : Kau serius?


Mereka lantas tiba di cvN. Dae Han mengucapkan terima kasih atas bantuan Soo Hyun hari ini.

Soo Hyun menatap si kembar yang sudah bangun.

Soo Hyun : Aku senang berkat kalian. Hati-hati di jalan. Sampai jumpa.


Dae Han : Beristirahatlah. Sebut aku di rapatmu....

Soo Hyun langsung turun dan berlari masuk ke gedungnya.

Dae Han pun menghela nafas dan ngomong sendiri sebagai lanjutan dari kata2nya tadi.

Dae Han : Mengerti? Apa itu sulit?


Soo Hyun dan timnya sibuk memikirkan panelis baru pengganti Anggota Dewan Hwang. PD Koo gemas dan berkata, harusnya mereka memecat Anggota Dewan Hwang sejak lama. Soo Hyun berpikir lain. Ia rasa, itu yang terbaik dan mengajak tim nya merubah seluruh acara.

Soo Hyun : Panel, format, dan semuanya.

PD Koo : Kau ingin mengubah semuanya? Ada format yang kau pikirkan?

Soo Hyun : Pemirsa bosan hanya dengan diskusi. Yang orang inginkan sekarang bukan melihat orang berdebat soal hal-hal kecil, tapi berpartisipasi untuk membawa perubahan nyata.

Penulis Ahn setuju.

"Petisi Rakyat Rumah Biru agak populer karena alasan itu. Itu terdengar bagus. Acara interaktif terdengar bagus." ucapnya.

Penulis Ma dan yang lain juga setuju.


Maka PD Koo langsung melaporkan itu ke atas mereka tapi saat sang atasan tanya itu ide siapa, dia malah mengakui itu sebagai idenya. Atasannya alu menanyakan panelisnya.

PD Koo : Pak Kang populer, jadi, kami akan tetap memakainya sebagai konservatif. Sedangkan panelis progresifnya...


PD Koo ingat saat Soo Hyun mengajak mereka memakai Dae Han sebagai panelis progresif mereka. PD Koo tidak setuju karena cap 'anak durhaka'

Dae Han. Soo Hyun membela Dae Han. Ia bilang, Dae Han sudah menjadi 'Ayah Nasional' sekarang.

Flashback end...


PD Koo : ... Wi Dae Han sebagai panelis progresif.

Atasannya setuju.

"Itu akan menarik perhatian. Wi Dae Han sebagai panelis untuk Debat." ucap pria itu.


Atasan Soo Hyun menghubungi Walikota Jung.

Walikota Jung : Sudah ditentukan?

"Aku masih menahannya." jawab atasan Soo Hyun.

"Kurasa partai tidak akan menyukainya. Tapi akan menarik melihat Kang Joon Ho dan Wi Dae Han berhadapan." ucap Walikota Jung.


Dae Han sedang melakukan tugasnya sebagai supir pengganti.

"Berapa usia anak-anak?" tanya kliennya, seorang pria yang dalam kondisi setengah mabuk.

"Begini, yang sulung kelas 11, kedua kelas 9, dan si kembar fraternal berusia delapan tahun."

"Aku sangat kesulitan hanya dengan satu putra. Kau tidak lelah?"

"Aku tidak boleh kelelahan. Daripada itu, aku merasa bangga. Dan rumah kami terasa jauh lebih nyaman karena sekarang penuh anak-anak. Dan saat aku melihat si Kembar tertidur, entah kenapa aku juga menjadi agak emosional."


Tiba2 saja, darah keluar dari hidung Dae Han.

Melihat itu, klien Dae Han panic dan marah2 ketika Dae Han menyentuh laci mobilnya dengan tangan penuh darah.


Klien Dae Han lantas memberi Dae Han tisu.

"Bagaimana bisa kau berdarah di seluruh mobilku! Bahkan belum sampai satu bulan sejak aku membelinya! Sial..."

" Tapi ini tertulis anda sudah menempuh 70.000 km. Itu bukan baru."

"Mungkin bukan mobil ini. Ini mobilku yang paling berharga..."


Dae Han pun akhirnya tiba di tempat tujuan si klien. Ia pun langsung mengelap darahnya dengan tisu begitu mereka tiba.

Tapi si klien menyuruhnya berhenti dan berkata akan mencuci mobilnya saja.

Dae Han : Maafkan aku, Pak. Aku tidak akan meminta bayaran.

"Setidaknya kau masih tahu malu." jawab pria itu lalu pergi.


Setelah pria itu pergi, Dae Han mengambil skuternya di bawah yang sebelumnya sudah ia keluarkan, lalu beranjak pergi tapi saat mau pergi,

Walikota Jung menghubunginya.


Mereka pun bertemu di restoran. Walikota Jung tampak sedikit kesal melihat tisu yang masih melekat di hidung Dae Han. Dae Han pun sadar dan langsung membuang tisunya.

Walikota Jung : Bagaimana rasanya menjadi seorang ayah?

Dae Han : Ini menyiksaku. Setelah mengalaminya, bisa kulihat setiap orang tua di negara ini adalah patriot. Mereka harus diberi penghargaan. Biayanya lebih mahal dari dugaanku dan kondisinya buruk. Ke mana perginya semua pajak itu?

Walikota Jung : Ini semua karena kita, para politisi payah. Ini enam bulan sebelum pemilu dimulai. Kau sedang bersiap, bukan?

Dae Han : Aku membuang julukan itu, tapi perjalananku masih panjang.

Walikota Jung : Jadi, kau tidak akan terburu-buru? Kau harus naik bus ekspres atau kereta untuk bisa lewat.

Dae Han : Aku tahu aku harus, tapi aku tidak punya uang atau koneksi, jadi, tidak dapat tiketnya.


Walikota Jung : Kau akan menjadi panel baru untuk Debat.

Dae Han : Bagaimana Anda tahu?

Walikota Jung : Apa itu penting? Yang penting adalah sebaik apa kau melakukannya. Omong-omong, apa namanya Kang Joon Ho? Putra Kang

Kyung Hoon?

Dae Han : Ya. Ada apa dengan Joon Ho?

Walikota Jung : Ada rumor bahwa dia mengikuti pemilu.

Dae Han : Aku sudah dengar tentang itu.

Walikota Jung : Kang Kyung Hoon menyangkalnya, tapi rubah licik itu tidak akan menunjukkan kartunya. Aku yakin dia berusaha mewariskan posisinya kepada putranya. Apa dia pikir ini zaman feodal?

Dae Han : Aku tidak akan sekadar melihatnya melakukan itu. Entah itu Kang Kyung Hoon atau Kang Joon Ho, aku pasti akan mengalahkannya.

Walikota Jung : Jika ingin melakukan itu, sebaiknya kau berpikir jernih. Jika kau melawan Joon Ho sebagai panel di acara itu, pada dasarnya kau memulai kampanye untuk pemilu. Jika kau tertinggal di sana, tidak ada gunanya berlari. Awasi anak-anak itu juga. Sangat sulit untuk memperbaiki citramu, tapi hanya butuh sesaat untuk memperburuknya.


Dae Han kembali ke rumah dan menjatuhkan dirinya ke sofa. Ia lalu memejamkan mata dan memikirkan kata2 Walikota Jung.

"Hanya butuh sesaat untuk memperburuknya." gumam Dae Han.


Tiba2, kepala Da Jung muncul di depannya. Dae Han membuka mata dan sontak ia menjerit kaget, membuat Da Jung juga kaget.


Da Jung : Kenapa Anda sangat terkejut?

Dae Han : Tentu saja. Kau muncul seperti hantu!

Da Jung : Apa rencana Anda besok?

Dae Han : Ada apa dengan besok?

Da Jung : Anak-anak akan ke mana jika mereka tidak bersekolah?

Dae Han : Kukira mereka akan bosan di rumah, jadi, aku mengajak mereka berdarmawisata.


Da Jung : Ke mana?

Dae Han : Ada tempat bagus. Tidurlah. Kau harus sekolah besok.

Da Jung lalu menyuruh Dae Han masuk ke kamar dan melihat sesuatu di atas meja. Dae Han pun bingung.

Bersambung ke part 4....

Penasaran siapa ayah Da Jung sebenarnya. Apa benar Joon Ho??

No comments:

Post a Comment