Friday, November 2, 2018

The Princess Man Ep 22


Seung Yoo dan pasukannya mengawasi Kediaman Jong dari kejauhan. Ia melihat Myun yang sedang teriak2 menyuruh dirinya keluar. Seung Yoo mengambil busur dan panah, kemudian membidik Myun. Tiba2, Jae Beon datang membawa Se Ryung. Seung Yoo kaget.  Myun marah.
“Dimana Kim Seung Yoo?” tanya Myun.
“Dia sudah pergi.” Jawab Se Ryung.
“Kau pikir aku bodoh?” tanya Myun.
“Apa kau ingin menggunakanku sebagai umpan? Tidak akan bisa.” Jawab Se Ryung.
“Bisa atau tidak, kita lihat nanti.” Ucap Myun, kemudian mencabut pedangnya dan mengarahkannya ke leher Se Ryung.
“Kim Seung Yoo, kau lihat? Kalau kau tidak ingin wanita ini mati, keluar sekarang?!” teriak Myun.
“Aku sudah bilang dia sudah pergi!” jawab Se Ryung.
“Kenapa tidak keluar?! Apa kau ingin selamat sendirian!” teriak Myun.
Lalu Putri Kyung Hee datang. Ia mendorong Se Ryung ke belakang, lalu berdiri di depan Se Ryung. Putri Kyung Hee minta Myun mengarahkan pedang padanya. Jong kaget, lalu melakukan hal yang sama. Ia minta Myun membunuhnya. Seung Yoo geram dan siap menembakkan panah ke Myun. Jong menyingkirkan pedang Myun. 

Saat itulah, Seung Yoo menembakkan panahnya dan mengenai dada Myun.
Semua kaget. Jae Beon langsung lari menolong Myun. Seung Yoo dan pasukannya maju. Terjadi pertempuran.
Seung Yoo mendekati Se Ryung. Myun marah, tapi ia tak bisa berbuat apa2 karena terluka terkena panah Seung Yoo. Jae Beon langsung bertindak. Ia mau menangkap Seung Yoo, tapi dihalangi Jong. Jong menyuruh Seung Yoo pergi. Seung Yoo dan Se Ryung berat untuk meninggalkan mereka. Putri Kyung Hee mengangguk, memberi restu mereka pergi. Mereka pun akhirnya pergi.
Jae Beon mengejar mereka, tapi mereka berhasil lolos.
Myun heran melihat pasukan patrol bertempur dengan Pasukan Hanseong.
“Kenapa pasukan ini membantumu? Apa yang sedang kau rencanakan!” teriak Myun.
“Kenapa? Apa kau ingin menangkapku dan mengurungku lagi di penjara?” tanya Jong.
“Kalau kau memang bersalah, tentu saja aku harus menangkapmu. Kau pelayan setia yang tidak takut mati meskipun itu karena permohonan istrimu.” Jawab Myun.

Jong naik darah dan mencengkram baju Myun. “Jaga perkataanmu!”
“Kenapa? Kau sebenarnya malu kan selamat karena istrimu?” sindir Myun.
Jong semakin marah dan terus mencengkram Myun. Jae Beon datang berusaha melepaskan cengkraman Jong. Dan itu membuat amplop berisi deklarasi pemberontakan terjatuh. Jong kaget. Ia mau mengambil amplop itu, tapi Jae Beon lebih cepat. Jae Beon membacanya dan terkeut. Lalu ia menyerahkan surat itu ke Myun.

Myun kaget, sampai2 ia gemetaran.
“Apa kau benar2 merencanakan pemberontakan?!” bentak Myun.
Jong dan Putri Kyung Hee pun langsung lemas. Rencana mereka ketahuan.
Seung Yoo tiba2 menghentikan kudanya.
“Kenapa berhenti?” tanya Se Ryung.
“Aku mencemaskan Jong.” Jawab Seung Yoo.
“Kalau begitu, kita kembali.” Ucap Se Ryung.
“Tapi aku harus menemui Pangeran Geum Sung.” Jawab Seung Yoo.
“Kalau kita tetap pergi, kau tidak akan merasa tenang. Lebih baik kita kembali dan memastikan keselamatan Pangeran Pendamping.” Ucap Se Ryung.
“Terima kasih.” Jawab Seung Yoo.
Seung Yoo kaget saat tahu surat berisi deklarasi pemberontakan itu jatuh ke tangan Myun. Ia pun ingin menyusul Jong. Tapi Putri melarang Seung Yoo dan Se Ryung muncul di muka umum. Menurutnya, jika dirinya ikut, maka mereka akan mengetahui keadaan Jong.
Surat pemberontakan itu sampai di tangan Sooyang. Sooyang geram, “Orang ini…! Aku mengirimnya ke pengasingan agar dia bisa merenung. Tapi dia tetap menyusun rencana lagi!”
Kwon Ram pun minta Sooyang menghukum mati Jong. Tidak hanya itu, Myung Hoe juga meminta Sooyang menghukum mati Pangeran Geum Sung. Sooyang pun memerintahkan Jong dieksekusi besok. Dan memerintahkan untuk mengirimkan racun ke Pangeran Geum Sung.
Myun sedang mengobati lukanya. Wajahnya terlihat kesal. Lalu, Jae Beon datang memberitahu besok pagi Jong akan dieksekusi. Myun pun mengajak Jae Beon melihat Jong.
Myun ke penjara menemui Jong. Ia minta semua petugas keluar. Jong merasa hari eksekusinya sudah diputuskan. Myun memberitahu besok Jong akan dieksekusi. Jong pasrah. Myun tanya apa Jong tidak ingin hidup. Jong balik bertanya apa rencana Myun kali ini. Myun yakin Seung Yoo akan datang untuk menyelamatkan Jong. Jika Seung Yoo benar2 datang, ia tidak akan membiarkan Seung Yoo hidup lagi.
Jong tanya, apa kau akan menggunakanku sebagai umpan untuk menangkap Seung Yoo. Apa kau sudah lupa pesan terakhir guru sebelum beliau meninggal? Jadilah teman yang saling membantu, bukan menjadi musuh yang saling membunuh.
Myun diam saja. Ia lalu beranjak pergi. Jong mengepalkan tangannya. Ia tidak menyangka sahabatnya kini menjadi musuhnya.
Seung Yoo ke Bing Ok Gwan. Tapi pintunya terkunci.
Seung Yoo lapor ke Se Ryung. Disana juga ada Putri Kyung Hee dan Eun Geum. Se Ryung yakin orang2 di Bing Ok Gwan sudah banyak mengalami kesulitan. Mereka pun bingung harus membawa Putri Kyung Hee kemana. Tiba2, No Geol datang.
“Aku iri padamu, Hyung. Kau selalu dikelilingi wanita cantik.” Ucap No Geol sambil melirik Se Ryung, Putri Kyung Hee dan Eun Geum.
“Kemana mereka pergi?” tanya Seung Yoo.
“Hyung besar menugaskanku mengawasi daerah ini.” jawab No Geol.
“Bing Ok Gwan, kenapa dikunci?” tanya Seung Yoo.
“Hyung besar digelandang ke Kantor Hanseong. Karena membantumu, dia nyaris kehilangan hidupnya.” Jawab No Geol.

No Geol lalu mengajak Seung Yoo ikut dengannya. Ternyata semua penghuni Bing Ok Gwan tinggal di tempat persembunyian Lady Ryu. Ah Kang senang dan langsung lari menghampiri Se Ryung. Chohi kesal melihat Seung Yoo, dan jalan masuk. Seung Yoo minta maaf karena sudah membuat Seok Joo menderita. Tapi Seok Joo berkata kalau dia baik2 saja.
Seung Yoo juga minta maaf pada Muyeong dan Soaeng. Muyeong berkata, setelah semua baik2 saja, mereka akan kembali.
  

Seung Yoo berkata akan mencari tahu apa yang terjadi pada Jong.
“Di tengah hari seperti ini? Apa kau sudah gila?” jawab Seok Joo.
“Biar aku yang ke sana.” Ucap Putri.
“Jika anda bertemu Jong, tolong sampaikan padanya untuk bertahan sampai saya datang dan menyelamatkannya.” Pinta Seung Yoo.
Putri mengangguk.
“Kumohon berhati2lah.” Pinta Se Ryung.
 
Setelah Putri Kyung Hee dan Eun Geum pergi, Seung Yoo meminta No Geol dan Seok Joo ke Chong Tong Wi dan membawa Heung Soo menemuinya diam2. No Geol dan Seok Joo pun langsung pergi.
Putri dan Eun Geum tiba di Hanseong. Tapi pengawal melarang mereka masuk. Jae Beon lalu keluar dan menyuruh Putri Kyung Hee masuk. Didalam, Putri bertemu Myun. Myun menawarkan satu cara menyelamatkan Jong, yaitu dengan mengatakan keberadaan Seung Yoo. Putri gemetaran. Myun melihat itu.
Jong teringat kata2 Myun yang akan membunuh Seung Yoo jika Seung Yoo datang menyelamatkannya. Ia tampak cemas. Putri datang. Jong awalnya mengira dirinya berhalusinasi, tapi akhirnya ia sadar kalau itu bukan halusinasi. Jong pun mendekati istrinya.
“Aku bertemu Petugas Shin.” Ucap Putri.
“Apa yang dikatakannya untuk menipu Yang Mulia?” tanya Jong.
“Dia bilang akan membebaskan dirimu, jika aku memberitahukan dimana Kim Seung Yoo.” jawab Putri.
Jong terdiam. Putri menatap Jong penuh harap. Jong lalu berkata, meskipun Myun berusaha menyelamatkannya, Sooyang tidak akan mengampuninya. Putri pun teringat kata2 Sooyang, saat ia memohon agar Sooyang mengampuni Jong. Sooyang bilang tidak ada ampun jika Jong merencanakan pemberontakan lagi.
“Malam ini Jikgang Kim akan datang menyelamatkanmu. Ia ingin aku mengatakan ini padamu.” Ucap Putri.
“Itulah yang mereka inginkan. Mereka ingin membunuhku dan Seung Yoo secara bersamaan.” Jawab Jong.
“Suamiku.” Ucap Putri panic.
“Kematianku adalah… takdir yang tidak bisa diubah. Jika Seung Yoo juga mengalaminya, siapa yang akan melawan Sooyang nantinya?” jawab Jong.
Putri berkaca2. Ia lalu meletakkan tangan Jong di perutnya.
“Apa kau tidak ingin hidup?” tanya Putri.
Jong terdiam untuk beberapa saat, sebelum akhirnya berkata, “Aku ingin hidup. Tapi jika Seung Yoo datang, dia bukan hanya akan gagal menyelamatkanku, tapi dia juga akan kehilangan nyawanya. Jangan beritahu Kim Seung Yoo kalau besok adalah hari eksekusiku. Katakan padanya tunggu sampai aku memberi tanda.” Jawab Jong.
Putri menangis, “Tidak… tidak suamiku.”
Heung Soo menemui Seung Yoo, “Diketahui? Anda berkata rencana pemberontakan ini telah diketahui?”
“Kita harus menyelamatkan Pangeran Pendamping terlebih dahulu.” Jawab Seung Yoo.
“Jadi karena ini Kepala Polisi Gwangju dibawa ke Hanseong?” tanya Heung Soo.
“Bagaimana dengan persenjataan. Aku rasa kita harus memakainya untuk menyelamatkan Pangeran Pendamping.” Jawab Seung Yoo.
“Akses ke semua persenjataan dihalangi. Apa rencanamu?” tanya Heung Soo.
“Aku akan pergi menyelamatkan Pangeran Pendamping, setelah itu menyusun rencana baru.” Jawab Seung Yoo.
“Meskipun tubuh saya tidak mampu lagi, tapi dengan sedikit kekuatan yang saya miliki, saya akan berusaha yang terbaik.” Ucap Heung Soo.
“Terima kasih.” Jawab Seung Yoo.
Heung Soo pun pergi. Setelah Heung Soo pergi, se Ryung mendekati Seung Yoo. Ia mencemaskan Seung Yoo. Seung Yoo berkata ia harus menyelamatkan Jong bagaimana pun caranya.
Putri dan Eun Geum pulang. Putri murung dan menatap tajam Seung Yoo. Seung Yoo dan Se Ryung sama2 heran. Putri diam saja dan jalan masuk. Se Ryung menyusul Putri.
“Anda terlihat pucat. Apa sesuatu terjadi pada Pangeran Pendamping?” tanya Se Ryung.
“Besok… dia dieksekusi.” Jawab Putri.
“Guru harus tahu soal ini. Dia bilang akan menyelamatkan Pangeran Pendamping malam ini.” ucap Se Ryung.
“Kim Seung Yoo tidak boleh pergi.” Jawab Putri menahan kepergian Se Ryung.
“Apa maksud anda?” tanya Se Ryung.
“Petugas Shin menunggu Kim Seung Yoo menyerang penjara.” Jawab Putri.
“Apa?” kaget Se Ryung.
“Dia tidak boleh pergi.” Ucap Putri.
“Bagaimana….” Se Ryung menangis, “… aku bisa berbohong padanya?” ucap Se Ryung lagi.
“Jika kita kehilangan Pangeran Pendamping dan Kim Seung Yoo secara bersamaan, maka tidak akan ada lagi yang bisa melawan ayahmu. Lakukan perintahku.” Jawab Putri sambil menangis.
Se Ryung keluar menemui Seung Yoo. Wajahnya pucat. Seung Yoo tanya apa terjadi sesuatu pada Putri. Se Ryung menggeleng. Seung Yoo tanya lagi apa Putri sudah bertemu Jong. Se Ryung mengangguk. Seung Yoo pun berkata akan pergi malam ini untuk menyelamatkan Jong.
Putri keluar dan melarang Seung Yoo pergi.
Putri : Malam ini mereka akan memperketat penjagaan. Pangeran Pendamping akan bilang akan mencari kesempatan dan menghubungiku dalam beberapa hari.
Seung Yoo : Apa kali ini dia bersedia lari dari penjara?
Putri : Mungkin karena anak di perutku, dia jadi memiliki harapan baru.
Seung Yoo : Sungguh melegakan. Saya akan menyelamatkannya apapun yang terjadi.
Putri : Terima kasih.
Putri kembali ke kamarnya. 




Putri Kyung Hee kembali ke kamarnya. Setelah menutup pintu, tangisnya pecah. Ia menutup mulutnya agar tangisnya tak terdengar keluar. Sementara itu di penjara, Jong teringat saat istrinya bertanya ia ingin anak laki2 atau perempuan. Jong berharap, mau laki2 atau perempuan, anak mereka mirip dengan Putri Kyung Hee.


Jong menangis. Tapi ia sudah bisa menerima apa yang terjadi pada dirinya. Ia lalu minta kertas dan tinta pada penjaga. Penjaga keberatan memberikannya. Jong berkata ia ingin menuliskan nama anaknya. 

Myun mendengar dan memberikan izin. Penjaga minta Jong menunggu karena ia akan mengambilkan kertas dan tinta.
Pagi pun tiba. Sooyang dan istrinya menunggui Soong. Sooyang berkata hari itu adalah hari eksekusi untuk para pemberontak dan meminta Soong cepat sembuh karena Soong akan mewarisi takhta darinya. Soong ingin kembali ke kediaman lamanya. Ratu pun membujuk Sooyang mengizinkan Soong istirahat di kediaman lama mereka. Sooyang pun memberikan izin, selama itu bisa  membuat Soong sembuh.

Eun Geum sedang merias Putri. Putri ingin tampil cantik di depan suaminya, karena itu akan menjadi kali terakhir Jong melihat Putri. Ternyata Eun Geum merias Putri sambil menangis. Air mata Putri pun menetes.
Putri Kyung Hee menemui suaminya. Jong tersenyum melihat sang istri.
“Kau di sini?” tanya Jong.
“Iya, suamiku.” Jawab Putri.
“Aku tidak ingin kau melihatku dieksekusi.” Ucap Jong.
“Aku akan berada di sisimu  sampai akhir. Karena anak ini, aku tidak bisa mati bersamamu. Tapi anak ini, aku akan membiarkannya melihat kalau ayahnya adalah pria yang baik.” Jawab Putri.
“Yang Mulia, aku sungguh minta maaf karena tidak bisa melindungimu sampai akhir.” Ucap Jong.
Penjaga lalu datang untuk membawa Jong keluar. Jong cepat2 memberikan kertas pada Putri.  Jong bilang karena tidak tahu anaknya laki2 atau perempuan, jadi dia memikirkan dua nama. Dan ia pun meminta Putri Kyung Hee membesarkan anak mereka dengan baik.
Jong dibawa keluar dengan tubuh diikat dan didampingi Putri Kyung Hee. Mereka pun bertemu dengan Myun.
“Jadi kau memutuskan untuk menyerahkan nyawamu?” tanya Myun.
“Apa kau takut pada Seung Yoo? Dia tidak tahu kalau hari ini adalah hari eksekusiku.” Jawab Jong.
“Apa?” tanya Myun kaget.
“Kau tidak akan pernah bisa menangkap Kim Seung Yoo.” jawab Jong.
“Dasar, orang jahat.” Ucap Myun, lalu pergi.
“Myun-ah.” Panggil Jong, membuat langkah Myun terhenti, “Walaupun aku kesal padamu, aku tidak pernah membencimu. Aku merasa kasihan pada Seung Yoo, juga kau.”
Myun tampak terpukul. Tapi ia diam saja dan beranjak pergi. Jong dan Putri menangis.

Heung Soo berlari dengan terpincang2. Seung Yoo, Seok Joo dan No Geol sedang merancang strategi. Heung Soo menghampiri mereka. Seung Yoo berkata, sebenarnya ia ingin mengirimkan pesan pada Heung Soo. Malam ini, mereka harus mereka harus menyerang penjara.
Heung Soo : Eksekusi Pangeran Pendamping hari ini.
Seung Yoo : Apa maksudmu? Seharusnya bukan hari ini…
Heung Soo : Pangeran Pendamping sudah diseret ke lokasi eksekusi.
Se Ryung yang baru datang kaget. Ia sampai menjatuhkan cucian yang dibawanya. Semua kaget. Se Ryung hanya diam menatap Seung Yoo. Seung Yoo menatap tajam Se Ryung.
“Eksekusi hari ini… jangan2.. kau sudah tahu?” tanya Seung Yoo.
Se Ryung diam saja dan menatap Seung Yoo dengan perasaan bersalah.
“Kenapa? Kenapa?” tanya Seung Yoo.
Seung Yoo pun lari, diikuti Heung Soo, Seok Joo dan No Geol.
Sooyang sudah berada di lokasi eksekusi. Di sana pun juga ada 5 ekor kuda yang akan dipakai untuk mengeksekusi Jong. Masyarakat pun sudah berkumpul untuk melihat proses eksekusi. Putri Kyung Hee dan Eun Geum ada di antara kerumanan masyarakat.
“Alasanku memanggil semua menteri adalah untuk melihat proses eksekusi ini. Ini adalah akibat untuk orang yang ingin memberontak. Kuharap kalian mengingat ini baik2.” Ucap Sooyang.
Semua mengiyakan.
  

Jong lalu dibawa masuk menghadap Sooyang.
“Orang tidak tahu balas budi! Karena Putri Kyung Hee berlutut dan memohon ampun padaku, aku mengampuni nyawamu! Tapi sekali lagi, kau mencoba membunuhku. Kali ini kau sendiri yang harus memohon ampun.” Ucap Sooyang.
Jong tertawa sinis. Sooyang dan sekutunya kaget.
“Sooyang, dengarkan aku baik2. Meskipun tubuhku dicabik2, tapi rohku tidak akan pernah lenyap. Walaupun di dalam mimpi, aku akan menghantui dan menyiksamu.” Jawab Jong.

Sooyang marah dan menunjuk2 Jong, “Segera buat dia kesakitan!”
“Semua keturunanmu akan menderita!” teriak Jong.
“Kau.. kau…” ucap Sooyang syok.
“Cepat laksanakan proses eksekusi!” teriak Myung Hoe.

Algojo pun mulai mengalungkan tali ke leher, tangan dan kaki Jong. Jong mencari istrinya. Sang istri tersenyum dengan mata berkaca2. Myun tampak terpukul. Jong ingat kisahnya dengan Putri Kyung Hee, Mulai dari pertemuan pertama mereka, lalu saat mereka menikah, saat mereka mulai saling mencintai dan saat mereka bahagia karena akan segera memiliki anak.
Jong menangis dan tersenyum pada istrinya. Sang istri juga tersenyum sambil menangis.
Dan proses eksekusi pun dimulai.
Seung Yoo berlari kencang di sepanjang jalan. No Geol, Seok Joo dan Heung Soo ketinggalan jauh di belakang.
Langkah Seung Yoo terhenti tepat di depan darah Jong yang berceceran di tanah. Eksekusi sudah selesai. Seung Yoo syok. Ia terjatuh.
“Jong-ah, Jong-ah. Seberapa besar… penderitaanmu? Seberapa besar.. kesakitanmu?” ucap Seung Yoo sambil menangis.
Heung Soo, Seok Joo dan No Geol ikut menangis. Se Ryung ada di belakang mereka dan menatap sedih Seung Yoo.

“Kau tahu semuanya… tapi kau tidak memberitahuku. Kenapa? Kau tahu apa arti Jong bagiku? Kenapa?” ucap Seung Yoo sambil menatap Se Ryung dengan tatapan kecewa.
Se Ryung hanya menangis. Ia juga tak bisa berbuat apa2.

Myun minum2 di temani Jae Beon. Myun tanya, “Jae Beon-ah, apa arti hidup bagimu. Bagiku, hidup sangat menarik. Tapi pada akhirnya, aku membunuh temanku. Tanganku sudah ternodai darah temanku.”
Jae Beon prihatin melihat Myun. Myun menangis, lalu menertawakan dirinya sendiri.
Seung Yoo dan Se Ryung menemui Putri Kyung Hee.
“Kenapa anda tidak memberi kesempatan pada saya? Saya punya kesempatan untuk menyelamatkannya. Saya pasti bisa menyelamatkannya.” Ucap Seung Yoo.
“Tenangkan dirimu. Kumohon jangan sia2kan pengorbanan Pangeran Pendamping yang sudah menyelamatkanmu, Jikgang Kim.” Jawab Putri.
“Kenapa… kenapa anda bisa….” Ucap Seung Yoo.
“Tolong pergi kumpulkan mayat Pangeran Pendamping. Kita tidak bisa meninggalkannya di tanah yang dingin.” Pinta Putri berkaca2.
Seung Yoo, Se Ryung dan Eun Geum sedih mendengarnya.

Malamnya, Seung Yoo, Seok Joo dan No Geol pergi ke lokasi mayat Jong. Penjaga menahannya. Seung Yoo marah. Ia teriak, jangan halangi jalanku! Selesai mengatakan itu, Seung Yoo langsung menebas penjaga itu. Seok Joo dan No Geol pun bertempur melawan penjaga lainnya.
Seung Yoo duduk di depan tubuh Jong yang hancur.
Paginya, Seung Yoo membantu Putri menguburkan mayat Jong. Se Ryung memandang mereka di belakang. Ia menangis dan berkali2 mengucapkan kata maaf.
Sooyang bertemu antek2nya. Mereka mendesak Sooyang mengeluarkan perintah untuk menghukum mati Danjong. Tapi Sooyang ragu karena Soong sedang sakit. Shin Sook Joo yakin akan ada lagi orang yang berusaha merebut takhta dan mengembalikan takhta pada Danjong dengan alasan sakitnya Putra Mahkota. Ia pun mendesak Sooyang untuk segera membuat keputusan.
Sooyang minum2 ditemani istrinya.
“Aku memanfaatkan sakitnya kakakku untuk merebut takhta darinya. Tidak kusangka, hal yang sama juga akan terjadi padaku.” Ucap Sooyang.
“Yang Mulia, tetaplah kuat. Aku akan pergi ke kuil untuk berdoa.” Jawab Ratu.
“Aku sudah memberikan perintah untuk menghukum mati Pangeran Geum Sung dan Pangeran Nosan. Putri Kyung Hee juga akan dikirim ke tempat jauh sebagai budak pemerintahan. Jadi, tidak akan ada lagi pertumpahan darah.” Ucap Sooyang.
Ratu pun kaget.
Pangeran Geum Sung menerima hukuman sayak.
Danjong di pengasingannya, menatap ke langit. Ia bicara sendiri, Noonim. Cuaca hari ini sangat bagus. Rasanya seperti akan terjadi sesuatu yang baik.

Lalu petugas dari istana datang. Danjong heran dan tanya, “Ada apa kalian kemari?”
“Perintah Raja telah tiba.” Ucap petugas.
Danjong hanya bisa menghela napas.


“Noonim aku benar2 merindukanmu. Abamama…” ucapnya.

Putri Kyung Hee duduk dengan pandangan kosong. Eun Geum membujuk Putri Kyung Hee untuk makan. Putri Kyung Hee berkaca2.
“Setelah aku jadi budak pemerintah, apa yang akan kau lakukan?” tanya Putri.
“Saya akan mengikuti anda sampai akhir. Ini janji saya pada Pangeran Pendamping. Sampai mati, saya akan berada di sisi anda.” Janji Eun Geum.
Putri pun memaksakan dirinya makan. Dan ia menangis.

Se Ryung menemui Putri Kyung Hee. Begitu bertemu Putri Kyung Hee, ia berlutut.
“Aku sudah mendengarnya.” Ucap Se Ryung.
“Jadi benar ayahmu menjadikanku sebagai budak pemerintahan? Meskipun aku sangat ingin membunuh ayahmu, tapi aku tidak pernah merasakan kemarahan padamu. Jadi tolong jangan datang lagi.” Jawab Putri, lalu pergi.




Di kamarnya, Seung Yoo masih menangisi kepergian Jong. Se Ryung datang, “Apa kau di dalam? Ini aku, Se Ryung. Aku akan di sini menunggumu bangun. Jika kau ingin bicara, temui aku.”


Rupanya Se Ryung tidur sampai pagi di depan kamar Seung Yoo. Saat terbangun, Se Ryung melihat Seung Yoo sudah duduk disampingnya.
“Aku pernah berpikir untuk melupakan semuanya. Pembalasan dendamku pada ayahmu… juga cintaku padamu. Aku ingin melupakannya dan pergi jauh. Kenapa aku begitu lemah? Kenapa aku ikut dalam peperangan yang tidak bisa dimenangkan?” ucap Seung Yoo.
“Jadi… apa kau mau melarikan diri?” tanya Se Ryung.
“Sebelum Guru dan Jong meninggal, mereka meninggalkan pesan penting untukku.” Jawab Seung Yoo.
“Apa?” tanya Se Ryung.
“Sekarang, hanya aku satu2nya yang bisa menentang Sooyang. Aku tidak peduli meskipun harus gagal. Berperang lebih penting daripada menang atau kalah. Meninggalkan peperangan sebelum dimulai karena takut, aku jelas tidak akan melakukannya.” Jawab Seung Yoo.
Se Ryung kemudian menyenderkan kepalanya di bahu Seung Yoo. Seung Yoo memeluk Se Ryung.
“Sekarang pertempuran baru akan dimulai. Aku minta maaf karena membuatmu memikul beban berat. Aku minta maaf karena membuat hatimu sakit.” Ucap Seung Yoo lagi.
“Aku tidak tahu. Bagaimana caranya membayar dosa2 ini… aku benar2 tidak tahu.” jawab Se Ryung.
Air mata Se Ryung pun mengalir.
Seung Yoo menemui Heung Soo. Heung Soo menegur Seung Yoo, “Kenapa baru datang? Kami sudah menunggu dari tadi.”
“Maafkan saya.” jawab Seung Yoo.
Lalu seorang pria berkata, “Aku pergi dulu.”
Pria itu pun pergi. Seung Yoo tanya, siapa dia?
“Dia adalah mata2 yang mengawasi kediaman pribadi Sooyang. Putra Mahkota sedang sakit. Dia keluar dari istana dan tinggal di kediaman lamanya.” Jawab Heung Soo.
“Putra Mahkota?” tanya Seung Yoo.
“Sepertinya sakitnya cukup serius. Ini kesempatan emas buat kita.” jawab Heung Soo.
Semua lalu bicara di dalam. Seung Yoo berkata kalau ia sudah dikenali di kota dan tidak bisa melanjutkan rencana pemberontakan di situ. Ia pun berencana mengubah strategi. Seung Yoo juga berkata akan mengumpulkan pasukan diam2 dan membangun kekuatan yang akan menelan Sooyang.
 
Heung Soo tanya apa Seung Yoo sudah tahu akan pergi kemana? Karena Seung Yoo belum memutuskan, Heung Soo pun menyuruh Seung Yoo pergi ke Hamgil-do.
Seung Yoo : Hamgil-do?
Heung Soo : Memulai lagi dari tempat dimana Jenderal Dae Ho pernah tinggal.
Seung Yoo : Tempat dimana ayah pernah tinggal….
Heung Soo : Ini adalah tempat dimana seorang bangsawan yang dipanggil Lee Shi Ae tinggal. Dia sangat setia pada Jenderal Dae Ho. Tapi sekarang dia hidup menderita karena tekanan Sooyang. Pergilah ke sana.

Se Ryung pergi ke kuil. Dua biksu kecil itu heran, kenapa Se Ryung ke sini. Mereka juga berkata ada banyak makanan enak.
“Ada banyak orang yang harus kudoakan.” Jawab Se Ryung.
“Karena Putra Mahkota sakit, Yang Mulia Ratu datang ke sini untuk berdoa.” Ucap biksu kecil itu.
Ratu lalu datang dan terkejut melihat Se Ryung. Se Ryung memberi hormat. Mata Ratu berkaca2.
Mereka lalu bicara di dalam. Ratu tanya dimana Se Ryung tinggal. Se Ryung minta maaf karena tidak bisa mengatakannya. Se Ryung lalu menanyakan penyakit Soong.
Ratu : Tanpa sebab yang pasti dan tanpa perkembangan. Dia bilang tidak nyaman berada di istana jadi dia tinggal diluar istana. Dia juga terus menanyakanmu. Pulanglah.
Se Ryung diam saja.
Ratu : Aku akan bicara pada ayahmu. Jika kau tidak mau masuk istana, kau bisa tinggal bersama Soong diluar istana.
Se Ryung : Aku mencemaskan Soong yang sakit. Tapi kematian mantan Raja dan menjadikan Putri Kyung Hee sebagai budak pemerintahan, membuat saya merasa sedih.
Ratu : Jadi kau benar2 berada di pihak mereka dan mau mengacungkan pedang pada ayahmu?
Se Ryung : Saya tidak pernah mengharapkan kematian ayah.
Ratu : Lalu apa yang kau inginkan.
Se Ryung : Saya pergi dulu.

Se Ryung pun berdiri dan memberi hormat. Ratu berseru, apa kau akan kembali ke sisi Kim Seung Yoo lagi? Apa kau baru mau kembali setelah sesuatu yang buruk terjadi pada Soong? Apa yang lebih penting di dunia ini selain ikatan darah?

Se Ryung diam saja dan beranjak pergi.
Ratu menghadap Raja. Disana ada Myun juga. Ratu berkata kalau ia sudah bertemu Se Ryung. Sooyang dan Myun kaget. Sooyang pun berkata tidak peduli karena Se Ryung bukan anaknya lagi. Ratu berkata ttg Se Ryung yang mencemaskan Soong dan akan mengizinkan Se Ryung menjaga Soong. Sooyang tanya tempat tinggal Se Ryung. Ratu berkata tidak tahu.

Sooyang : Meskipun dia kembali, aku tidak akan bisa menghentikannya. Dia tidak akan putus dengan Kim Seung Yoo. Gunakan kesempatan ini. Pakai Se Ryung sebagai umpan untuk menangkap Seung Yoo.
Myun : Baik.

Ratu resah, Yang Mulia. Yeo Ri diluar mendengarnya dan resah.

Myun dan pasukannya langsung bergerak ke kediaman lama Sooyang. Se Ryung bersembunyi di balik pohon dan mengawasi mereka. Yeo Ri menemukan Se Ryung. Yeo Ri memberitahu Se Ryung ttg Sooyang yang berencana menggunakan Se Ryung sebagai umpan untuk menangkap Seung Yoo. Se Ryung kaget. Yeo Ri melarang Se Ryung datang lagi.

Anak buah Heung Soo diam2 mendengar Yeo Ri memanggil Se Ryung dgn sebutan Yang Mulia Putri.

Pria itu lapor ttg Se Ryung yang dipanggil Tuan Putri. Heung Soo minta penjelasan Seung Yoo apa benar Se Ryung anak Sooyang. Seok Joo dan No Geol hanya bisa menunduk. Seung Yoo membenarkan. Semua pun kaget. Heung Soo minta Seung Yoo memutuskan hubungan dengan Se Ryung.

Seung Yoo membela Se Ryung, “Dia bukan lagi anak Sooyang. Dia menentang ayahnya sendiri dan membantu mantan Raja dan Putri Kyung Hee.”
“Apa kau berencana membawa wanita itu ke Hamgil-do?” tanya Heung Soo.
“Kau tidak bisa membawanya ikut bersama kita ke Hamgil-do.” Jawab pria tadi.
“Apa keluarga Lee Shi Ae bisa menerima anak perempuan Sooyang? Tolong pertimbangkan lagi.” Ucap Heung Soo.

Pertemuan selesai. Semua pergi keluar. Seok Joo dan No Geol menatap Seung Yoo yang hanya diam. Se Ryung berdiri di dekat pondok. Ia mendengarkan semuanya dan hanya bisa menghela napas.

Seok Joo : Aku setuju dengan mereka. Aku tau dia perempuan yang baik. Tapi karena dia perempuan yang baik, dia akan lebih menderita. Meskipun dia sudah memutuskan hubungannya dengan ayahnya, bagaimana bisa kau mengajaknya ikut bersamamu dan membuatnya melihatmu membunuh ayahnya.

Se Ryung ada di kamar dan membelai wajah Ah Kang yang sudah tidur. Ia lalu ingat penolakan Heung Soo dan rekan2 lainnya. Seung Yoo lalu memanggil. Se Ryung pun keluar menemui Seung Yoo.

“Kita akan segera berangkat ke Hamgil-do.” Ucap Seung Yoo.
Se Ryung hanya mengangguk.
“Kudengar adikmu sakit. Kau pasti sangat mencemaskannya. Maafkan aku.” ucap Seung Yoo.

“Tidak apa2.” Jawab Se Ryung.
“Istirahatlah.” Ucap Seung Yoo.
“Guru, aku ingin berkuda.” Pinta Se Ryung.
“Malam2 begini?” tanya Seung Yoo.
Se Ryung mengangguk.

Seung Yoo pun membawa Se Ryung berkuda. Lalu tiba2 hujan turun. Keduanya pun berteduh di sebuah rumah kosong. Seung Yoo menyuruh Se Ryung masuk sementara ia akan mencari jerami untuk membuat api unggun.

Di dalam Se Ryung membuka baju luarnya dan merasakan sakit pada bekas lukanya. Karena mendengar Seung Yoo masuk, Se Ryung pun buru2 mengenakan bajunya lagi.

Seung Yoo tertegun melihat Se Ryung. Ia lalu meletakkan jerami dan menemukan sebuah kain lalu menyelimuti Se Ryung pakai kain itu. 
“Guru…” ucap Se Ryung menghentikan langkah Seung Yoo yang mau keluar, “… aku tidak akan ikut denganmu. Aku tidak mau menjadi bebanmu.”
“Apa maksudmu. Apa mungkin… kau mendengar pembicarakaan kami?” tanya Seung Yoo kaget.

“Aku akan menunggu sampai kau kembali. Jadi jangan melupakan aku.” jawab Se Ryung.
“Apapun yang terjadi, aku akan kembali.” Ucap Seung Yoo.

Se Ryung menangis. Seung Yoo lalu memeluk Se Ryung dari belakang. Ia lalu membuka baju luar se Ryung, menyentuh bekas luka di punggung Se Ryung dan menciumnya.

BERSAMBUNG………………

No comments:

Post a Comment