Friday, November 2, 2018

The Princess Man Ep 17



Seung Yoo menunggu pedangnya di tukang pandai besi.

Dan Se Ryung tiba di Bing Ok Gwan. Ia terkejut melihat Myun beserta Pasukan Hanseong ada di sana.
No Geol lari2 di pasar. Seok Joo yang menyuruhnya mencari Seung Yoo. Tanpa disadari No Geol, ia sudah berpapasan dengan Seung Yoo. Seung Yoo melihat No Geol, tapi tidak curiga sama sekali dan jalan pergi.
Myun dan Jae Beon masuk ke Bing Ok Gwan. Tiba2, terdengar seruan. Myun dan Jae Beon pun bergegas keluar. Chil Goo pun menunjuk kea tap. Tampaklah Seok Joo yang melarikan diri lewat atap. Mereka pun langsung mengejar Seok Joo.

Seung Yoo yang lagi jalan kaget melihat Seok Joo diuber2 Myun. Myun menoleh ke arah seung Yoo. Tepat saat itu, Se Ryung menarik Seung Yoo ke balik kain yang dijual di pinggir jalan. Myun pun akhirnya jalan pergi tanpa curiga sedikit pun. Seung Yoo kaget melihat Se Ryung. Se Ryung menatap Seung Yoo dengan tatapan yang cemas.
“Bagaimana kalau kau tertangkap, apa yang akan kau lakukan?” tanya se Ryung.
“Kenapa kau ke sini?” tanya Seung Yoo balik.
“Aku datang karena ada yang mau kukatakan padamu.”
“Pergilah.”
“Aku hidup atau mati, apa kau tidak peduli?”
Seung Yoo jelas peduli, tapi ia pura2 tidak peduli dan beranjak keluar. Se Ryung mengikuti Seung Yoo. Mereka melihat Seok Joo yang digelandang oleh pasukan Myun.
No Geol datang, “Aigoo, Hyungnim. Kau darimana saja? Hyungnim besar menyuruhku mencarimu dan mencegahmu pulang.”

No Geol pun akhirnya menyadari keberadaan Se Ryung.
“Kau kan yang waktu itu menahan anak panah demi Hyungnim kecil. Jadi kau masih hidup? Dia memang tidak mengatakan apapun padaku, tapi aku tau dia mencemaskanmu.” Ucap No Geol.

Seung Yoo pun jalan pergi. No Geol menyuruh Se Ryung menunggu di Bing Ok Gwan, karena ia mau mengejar Seung Yoo. Se Ryung meminta No Geol menjaga Seung Yoo. No Geol lalu mengantarkan Se Ryung ke tempat mereka. Muyeong keluar. No Geol menyuruh Muyeong menjaga Se Ryung.

Chohi turun dengan Soaeng. Chohi tanya apa yang terjadi. Muyeong memberitahu kalau orang2 itu menggelandang Seok Joo. Chohi kaget. Muyeong menyuruh Se Ryung menunggu. Soaeng tanya ke Muyeong, siapa Se Ryung. Muyeong bilang, tamu suamimu. Soaeng pun menatap Se Ryung dengan pandangan tak suka.
“Harus bagaimana lagi aku mengatakannya! Gong Chil Goo sudah menjebakku. Tidak ada seorang pun yang tidak mengenalku di Dermaga Mapo. Bagaimana bisa seorang Petugas Hanseong tidak tahu ini? Kalau di Gibang Chong Pung Gwan ada Han Myung Hoe, maka di Bing Ok Gwan Mapo ada aku, Jo Seok Joo.”
“Jadi kau mau bilang kau tidak ada dalam kapal yang membawa tahanan yang diasingkan ke Pulau Kanghwa?” tanya Myun.
  

“Aku memang ada di sana. Aku hampir menjadi hantu air dan tenggelam di tengah laut. Susah payah aku menyelamatkan diriku. Ada yang salah dengan itu?”
“Kapal itu berisi orang2 yang terlibat kejahatan berat!”
“Jangan membuatku tertawa! Bagiku, mereka terlihat seperti preman yang diseret ke sana tanpa alasan.”
“Jadi menurutmu mereka ada di kapal itu tanpa alasan yang jelas?”
“Seharusnya kau tanyakan itu pada Gong Chil Goo.”
Myun pun menyuruh Jae Beon mencari tahu.
No Geol dan Seung Yoo ada di depan Kantor Hanseong. No Geol berkata, kalau ia mendengar orang2 yg diseret ke sana, akan keluar dengan tulang yang remuk. No Geol pun tanya pada Seung Yoo, apa yang harus mereka lakukan. Seung Yoo bilang mereka akan masuk ke dalam saat malam tiba. No Geol syok.
Jae Beon memberi laporan pada Myun, “Diantara para penjahat yang dituduh bersalah, sebagian dari mereka mati karena disiksa. Seorang oknum dari Nae Geum Bu menerima suap dari Gong Chil Goo dan mengisi tempat yang kosong dengan orang lain.”

Myun lalu bertanya pada Seok Joo, “Di kapal itu, apa ada putra Kim Jong Seo? Kau ingat?”
“Aigoo, bagaimana aku tahu putra Kim Jong Seo, selain aku, semua sudah mati.” Jawab Seok Joo.
“Benarkah?” tanya Myun.
“Apa aku punya alasan untuk berbohong?” jawab Seok Joo.
Myun terlihat kesal. Jae Beon tanya apa yang harus mereka lakukan. Myun pun akhirnya melepaskan Seok Joo.
Chil Goo menunggu di luar Kantor Hanseong dengan wajah puas.
Chil Goo : Jo Seok Joo, kali ini aku tidak akan mengirimmu ke Pulau Kanghwa, tapi akan kukirim kau ke tempat yang lebih jauh.
Tiba2, Seok Joo keluar membuat No Geol lumayan kaget. Seok Joo mencengkram kerah baju Chil Goo, lalu melempar Chil Goo ke tanah.

Seok Joo : Jangan lakukan hal2 yang akan memperpendek usiamu.

Seok Joo pun beranjak pergi. Chil Goo menarik napas kesal. Tiba2, Myun dan Jae Beon muncul. Jae Beon mengarahkan pedangnya ke leher Chil Goo. Myun minta Chil Goo jangan menggunakannya untuk membalaskan dendam pribadi Chil Goo. Myun dan Jae Beon pun pergi. Chil Goo mendengus kesal.

Seung Yoo dan No Geol masih menunggu di depan Kantor Hanseong. Seok Joo pun keluar. No Geol langsung menyambut Seok Joo. Seperti biasa, No Geol membual lagi dengan berkata kalau dirinya baru saja mau masuk ke dalam untuk menyelamatkan Seok Joo. Seung Yoo mendekati Seok Joo. Seok Joo bilang tempat itu berbahaya bagi Seung Yoo dan mengajaknya pergi.
Soaeng menatap Se Ryung dengan tatapan cemburu. Se Ryung tampak cemas.
Chohi keluar. Muyeong menyusulnya.
“kalau kau kesana, apa yang bisa kau lakukan?” ucap Muyeong mencegah Chohi pergi.
“Sampai kapan aku harus menunggu. Bagaimana caranya aku tahu mereka akan membawanya kemana kali ini?” jawab Chohi.
“Tetap di sini, aku yang pergi.” Ucap Muyeong.
Bersamaan dengan itu, Seok Joo, Seung Yoo dan No Geol pulang. Seung Yoo tak percaya melihat Se Ryung masih menunggunya. Se Ryung lega melihat Seung Yoo baik2 saja. Soaeng langsung mendekati Seung Yoo. Ia bahkan merangkul Seung Yoo, membuat Se Ryung sedikit cemburu.
“Orabeoni, kau kemana saja. Soaeng-mu mencemaskanmu.” ucap Soaeng.

Chohi menatap Seok Joo dengan wajah dingin, lalu pergi tanpa berkata apapun. Muyeong menyuruh Seok Joo menyusul Chohi. Seok Joo pun menyusul Chohi. Seung Yoo yang tahu Se Ryung cemburu, melepaskan diri dari rangkulan Soaeng. 


Ia lalu jalan melewati Se Ryung tapi tiba2 langkahnya terhenti. Ia menatap Se Ryung. Se Ryung pun menatap Seung Yoo. Seung Yoo lalu menarik Se Ryung keluar.
No Geol : Dia agresif sekali.
Soaeng kesal, “Siapa wanita itu?”

“Seorang Putri. Dia akan menjadi Tuan Putri sebentar lagi. Posisi yang tak kan bisa kau tandingi.” Jawab No Geol.
“Apa?” tanya Soaeng.
Seung Yoo menarik Se Ryung keluar. Seung Yoo mau masuk, tapi Se Ryung menghentikannya.

Se Ryung : Apa kau tidak ingin melihat keluargamu. Ah Kang dan Kakak Ipar-mu masih hidup. Bukankah aku sudah pernah mengatakannya, Guru? Kenapa kau tidak pergi dan melihatnya sendiri. Ayo pergi. Tempatnya cukup jauh.
Seung Yoo pun akhirnya pergi bersama Se Ryung. Dalam perjalanan, Se Ryung meringis kesakitan menahan nyeri di punggungnya akibat luka yang belum pulih benar. Seung Yoo ingin menyentuh punggung Se Ryung tapi gak jadi. Akhirnya, Seung Yoo menghentikan kudanya dan memutuskan jalan menuntun kuda agar Se Ryung tak terlalu sakit.
Sooyang bertemu dengan Myung Hoe, Shin Sook Joo, Kwon Ram dan Myun.
Sooyang : Lega melihatmu baik2 saja.
Myung Hoe : Apa kau mengenali wajah penjahat itu?
Shin Sook Joo : Saat itu gelap, dia menutupi wajahnya dengan topeng. Jadi aku tidak bisa melihatnya.
Kwon Ram : Jika tidak ada Petugas Shin, kau pasti sudah tidak ada.
Sooyang : Sudah jelas sekarang Dae Ho mengincar pejabat yang berjasa.
Shin Sook Joo : Utusan dari Dinasti Ming akan segera tiba untuk mengakui keberadaan anda, Yang Mulia.
Kwon Ram : Jika Pihak Ming setuju dengan pengangkatan ini, para sarjana dari Jiphyeonjeon tidak akan bisa melakukan apa2.
Shin Sook Joo : Maaf karena saya harus mengatakan ini. Jika Pihak Ming tahu anda merebut takhta dari keponakan anda yang masih muda, ini akan jadi masalah besar.
Dan Sooyang pun meminta Myun menjaga keamanan ibukota.
Myung Hoe : Yang Mulia, semua ini terjadi karena mantan Raja masih hidup. Setelah urusan dengan Dinasti Ming selesai, kita harus segera melenyapkan mantan Raja.
Lalu, Kasim mengumumkan kedatangan Ratu.
Sooyang ditemani Kasim dan antek2nya pun pergi menyambut istri dan anak2nya.

“Selamat datang, Istriku. Aku tidak melihat Se Ryung?”
“Saya pikir dia membutuhkan waktu untuk menenangkan pikirannya.” Jawab Lady Yoon.

“Dia itu Putri Raja, bagaimana dia bisa berkeliaran saja.” Ucap Sooyang kesal.
“Ini salah saya yang tidak bisa mengendalikan putri saya.” jawab Lady Yoon.
“Cepat cari Se Ryung dan bawa dia ke Istana.” Ucap Sooyang ke Myun.
“Baik.” Jawab Myun.

Se Ryung minta Seung Yoo menghentikan kudanya karena melihat pedagang sepatu. Ia lalu turun dari kuda dan memilih2 sepatu untuk anak perempuan. Seung Yoo menatap Se Ryung dengan pandangan lembut.
Keduanya lalu sampai di rumah tempat Lady Ryu dan Ah Kang tinggal.
“Ini tempatnya. Kenapa kau tidak pergi dan melihatnya sendiri?” ucap Se Ryung.
“Jadi mereka masih hidup?” tanya Seung Yoo.
“Petugas Shin yang mencarikan rumah ini untuk mereka. Kurasa lebih baik kau membawa mereka ke tempat yg lebih baik.” Jawab Se Ryung.
Seung Yoo jalan mendekati rumah itu. Tanpa disadarinya, Lady Ryu dan Ah Kang ada di belakangnya. Lady Ryu menjatuhkan tempayan. Seung Yoo pun menoleh ke belakang. Ah Kang dan Lady Ryu syok melihat Seung Yoo. Begitu pula Seung Yoo. Ah Kang menangis. Ia langsung menghambur ke pelukan Seung Yoo.

Ah Kang : Apa kau benar2 pamanku?
Seung Yoo mengangguk.

Ah Kang berbalik menatap ibunya.
“Eomoni, ini paman. Paman datang.” Ucap Ah Kang.
“Kau masih hidup?” tanya Lady Ryu gemetaran.
Ah Kang kembali memeluk pamannya. Ia menangis di pelukan pamannya. Se Ryung terharu melihatnya.

Lady Ryu dan Seung Yoo bicara di dalam. Lady Ryu menjelaskan kalau Se Ryung yang membawa Ah Kang ke tabib, saat Ah Kang hampir meninggal di tahanan. Dan Se Ryung juga yang membantu mereka melarikan diri dari Kediaman Pangeran Onyeong.
Ah Kang lalu menghampiri Se Ryung. Se Ryung berjongkok, dan membelai Ah Kang.
“Ikutlah denganku. Memang lingkungannya tidak baik, tapi lebih baik daripada di sini.” Ucap Seung Yoo.
“Tidak peduli lingkungannya baik atau tidak, kemana pun kau pergi, aku akan ikut, karena kita keluarga.” Jawab Lady Ryu.
Ah Kang datang dan menunjukkan hadiah sepatu dari Se Ryung. Seung Yoo menoleh ke tempat tadi Se Ryung berdiri. Se Ryung sudah pergi.
Ah Kang : Dia menyuruh paman melupakan semua kenangan buruk dan pergi jauh, lalu hidup bahagia bersama kami.
Lady Ryu : Aku menyesal karena belum mengucapkan terima kasih padanya yang sudah mempertemukan kita.



Seung Yoo pun pergi menyusul Se Ryung. Se Ryung ternyata belum pergi jauh. Seung Yoo memegang tangan Se Ryung. Ia mengucapkan terima kasih dan berharap mereka tidak akan bertemu lagi. Se Ryung menatap Seung Yoo berkaca2. Seung Yoo melepaskan pegangannya. Se Ryung memberi hormat, lalu pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Seung Yoo menatap kepergian Se Ryung dengan tatapan tidak rela melepas Se Ryung.

“Apa kalian saling mencintai? Dari keluarga mana ia berasal?” tanya Lady Ryu pada Seung Yoo.
“Kita tidak perlu bertemu dengannya lagi.” Jawab Seung Yoo.
Myun ternyata mencari Se Ryung ke Kediaman Putri Kyung Hee. Putri Kyung Hee kaget tahu Se Ryung hilang karena menolak pemberian gelar.
Myun : Jadi dia tidak di sini?
Putri : Untuk apa dia ke sini. Untuk pamer karena dia sudah menjadi Tuan Putri atau untuk merayakannya denganku?
Myun : Kalau dia ke sini, tolong….
Jong : Kami mengerti, jadi pergilah sekarang.
Myun pun pergi.
Putri ngomel, “Melarikan diri karena menolak pemberian gelar, dia memang selalu seperti itu.”
Se Ryung benar2 ke Kediaman Putri Kyung Hee. Dia melihat Myun dan bergegas sembunyi. Setelah Myun pergi, Se Ryung keluar. Tapi kali ini Putri Kyung Hee melihatnya.

“Mau kemana lagi kau? Apa kau datang untuk mengucapkan selamat tinggal?” tanya Putri.
Se Ryung pun menghadap Putri. Putri tidak menyangka Se Ryung masih berani datang menemuinya.
“Saya tahu tidak seharusnya saya datang ke sini, tapi saya tidak tahu lagi harus kemana.” Jawab Se Ryung.
“Bagaimana mungkin kau tidak punya tujuan? Bukankah Istana adalah rumahmu sekarang?” ucap Putri.
Se Ryung diam saja dan menatap Putri.
“Kenapa? Kau tidak suka kata2ku?” tanya Putri.
Se Ryung menggeleng dan berkata, “Selama ini anda pasti membenci saya karena sifat saya yang kekanak2an. Saya tidak tahu seperti apa ayah saya.”



“Sekarang kau sudah tahu, tapi meskipun demikian, menjadi Putri Raja adalah sesuatu yang tidak bisa kau tolak.” Jawab Putri.



“Saya tidak akan menghindar lagi. Saya akan masuk istana, lalu saya akan bertanya pada diri saya sendiri pertanyaan yang Tuan Putri tanyakan pada saya.” ucap Se Ryung.

“Pertanyaan apa?” tanya Putri.
“Apakah saya mampu melawan ayah saya? Putri pernah menanyakan itu pada saya. Saya akan mengamati apa yang ayah saya lakukan, baru saya akan menemukan jawabannya. Jika Raja melakukan hal yang tidak benar, saya akan berusaha semampu saya untuk menghentikannya.” Jawab Putri.
“Se Ryung-ah.” Ucap Putri tidak percaya.
“Bagi saya, Putri negeri ini hanya satu, yaitu anda Putri Kyung Hee. Saya datang untuk mengatakan ini saja.” Jawab Putri.
Air mata Putri Kyung Hee pun jatuh.

Seung Yoo menggendong Ah Kang pulang ke Bing Ok Gwan bersama Lady Ryu. Soaeng syok, “Orabeoni, jadi kau sudah menikah? Lalu siapa wanita yang tadi?”
No Geol : Kau benar2 hebat.
Seung Yoo : Mereka adalah kakak ipar dan keponakanku. Aku ingin mereka tinggal di kamarku untuk sementara ini.
Chohi : Jika kau mau kerja, boleh tinggal. Tapi jika tidak, pergilah.
Seung Yoo : Aku akan kerja lebih keras lagi.
Lady Ryu : Tidak apa2, adik. Aku tidak ingin menjadi beban untukmu. Aku bisa masak dan bersih2.
Chohi : Oke.
Seok Joo : Berikan mereka kamar sendiri.
Chohi : Haruskah kita melakukannya?

Chohi pun beranjak pergi. Setelah Chohi pergi, Soaeng mengambil buntalan yang dibawa Lady Ryu dan Seok Joo mengendong Ah Kang.

Seung Yoo : Bertahanlah di sini sementara. Aku akan segera mencarikan tempat yang nyaman untuk kalian.
Lady Ryu : Tidak masalah. Dibandingkan dengan yang sudah mati, tempat seperti ini bisa dibilang tempat yang cukup layak.  Kau berhasil kembali dengan selamat. Aku pikir ini berkat pertolongan ayah dan kakakmu dari sana.
Wajah Seung Yoo pun langsung berubah sedih.
“Aku pergi dulu.” Ucap Seung Yoo.
“Baiklah.” Jawab Lady Ryu.

Namun saat Seung Yoo mau pergi, Ah Kang tidak mau melepas tangan Seung Yoo. Seung Yoo pun tersenyum geli.

“Wanita yang mencarimu waktu itu apa Nona itu? Apa dia bukan kekasihmu, adik ipar?” tanya Lady Ryu.
“Dia bukan orang yang seharusnya kita temui.” Jawab Seung Yoo.
Seung Yoo pun beranjak pergi. Ah Kang terbangun dan teriak memanggil Seung Yoo. Tapi Seung Yoo terus pergi keluar. Lady Ryu menenangkan Ah Kang. Diluar, Seung Yoo teringat saat Se Ryung memilihkan sepatu itu untuk Ah Kang dan ingat perpisahannya dengan Se Ryung. Seung Yoo menghela napas teringat itu. Ia lalu melihat sepatu Ah Kang di depan pintu.

Se Ryung jalan keluar dari Kediaman Putri. Myun telah menunggunya. Se Ryung pun akhirnya masuk ke istana.

Lady Yoon : Akhirnya Petugas Shin menemukanmu. Aku rasa kalian ditakdirkan untuk bersama. Yang Mulia, tolong segera tentukan tanggal pernikahannya.
Sooyang : Kita memang harus melakukannya.


Se Ryung menyela, saya ingin mengatakan sesuatu. Di dunia ini, saya tidak akan menikah dengan siapapun.
Sooyang, Lady Yoon dan Myun kaget.
Sooyang : Apa?

Lady Yoon : Apa maksud perkataanmu?
Se Ryung : Saya dipaksa melakukan sesuatu yang bukan keinginan saya. Menjadi Putri Raja sudah cukup. Mulai sekarang, saya akan hidup dengan cara saya sendiri.
Sooyang : Bagaimana bisa kau bersikap seperti itu? Upacara pernikahanmu akan segera diadakan. Kau harus segera bersiap.
Se Ryung : Di masa depan, anda tidak akan bisa lagi memaksa saya melakukan sesuai keinginan anda.
Se Ryung lantas berdiri, memberi hormat dan beranjak pergi. Myun terpukul. Ia juga berdiri dan memberi hormat. Sooyang minta Myun tidak menyerah. Baginya, Myun sudah menjadi Pangeran Pendamping. Myun diam saja dan beranjak pergi.


Se Ryung berjalan keluar. Myun menyusul dan menghadang jalan Se Ryung.
“Kenapa anda tidak bersembunyi hari ini?” tanya Myun.
“Karena Petugas Shin sudah tahu hatiku tidak akan berubah.” Jawab Se Ryung.

“Dibandingkan menjadi Pangeran Pendamping, hatimu lebih penting bagiku. Saya yang masih hidup… apakah saya benar2 kalah dengan pria yang sudah meninggal?” ucap Myun.
“Di dalam hatiku, dia masih hidup.” jawab Se Ryung.
“Apa?” tanya Myun.
“Aku benar2 minta maaf. Tapi jika seseorang setia mencintai satu orang, sulit untuk tidak menyakiti org lain. Tolong mengerti ini.” jawab Se Ryung.
Se Ryung pun pergi. Myun memandangi Se Ryung dengan pandangan terluka.

Yeo Ri menunggu Se Ryung dengan gelisah di depan kediaman resmi Se Ryung. Kediaman resmi Se Ryung adalah bekas kediaman Putri Kyung Hee. Begitu Se Ryung tiba2, Yeo Ri langsung lega.

“Nona. Tidak. Tuan Putri, anda darimana saja. Pelayan anda, sangat mencemaskan anda.” Ucap Ye Ri.
“Seragam ini sangat cocok untukmu.” Jawab Se Ryung sambil sedikit tersenyum.
“Cepatlah masuk. Para dayang sudah tak sabar ingin memberikan salam pada anda.” Ucap Yeo Ri sambil senyum2 pula.

Se Ryung lalu melihat ke sekelilingnya. Wajahnya berubah sedih.
“Ini dulu tempat tinggal Putri Kyung Hee.” Ucap Se Ryung.
“Apa itu mengganggu anda?” tanya Yeo Ri sedih.

Se Ryung mengangguk, lalu masuk ke dalam. Ia jalan ke rak sepatu dan ingat pertanyaannya untuk Putri. Ia tanya kenapa Putri mengoleksi sepatu sutra padahal Putri tidak pernah memakainya. Putri waktu itu menjawab karena dia ingin. Se Ryung pun menjawab sama dengannya, ia juga ingin naik kuda.

Se Ryung tersenyum pahit mengingat itu. Lalu pelayan datang, mengingatkan Se Ryung untuk berganti baju resminya. Pelayannya membantunya berganti jubah dengan hanbok resmi Puti Raja. Se Ryung tampak menahan kesedihannya.

Seung Yoo menyendiri lagi di ruang penyimpanan anggur. Seok Joo menemuinya.
“Kenapa kau selalu di sini setiap hari?” tanya Seok Joo.
Seung Yoo diam saja.
Seok Joo menghela napas, lalu tanya, “Apa kau putra Kim Jong Seo?”
Seung Yoo tertegun dan menatap Seok Joo.
“Petugas Hanseong menyelidiki apa kau masih hidup atau sudah mati.”ucap Seok Joo lagi.
“Kenapa kau tidak memberitahu mereka?” tanya Seung Yoo.
“Aigoo, bisa2nya kau bertanya seperti itu.” jawab Seok Joo kesal.

Seok Joo lalu menyinggung soal Se Ryung. Seung Yoo bilang tak ingin mendengar apa2 lagi ttg Se Ryung. Seok Joo bilang ttg Se Ryung yg rela mengorbankan nyawa demi menyelamatkan Seung Yoo. Seung Yoo diam saja. Seok Joo bilang Se Ryung tidak terlihat berpura2. Ia lalu tanya, apa Seung Yoo goyah? Ia juga berkata, tidak peduli siapa ayahnya, yang diinginkan Seung Yoo adalah memeluk Se Ryung. 
Seung Yoo pun teringat saat Se Ryung rela tertusuk anak panah demi menyelamatkan dirinya. Ia juga ingat seringai Sooyang. Teringat Sooyang membuat dirinya kesal dan beranjak pergi. 




Sepertinya, Seung Yoo akan melakukan sesuatu lagi. Terlihat jelas dari wajahnya.

Terdengar gelak tawa dari chong Pung Gwan. Myung Hoe memberikan jabatan baru bagi dua pembunuh. Dua pembunuh itu sangat senang. Myung Hoe bilang masih banyak posisi di pemerintahan yang bisa diduduki dua pembunuh itu. Dua pembunuh itu berterima kasih pada Myung Hoe. Myung Hoe tertawa, lalu menyuruh mereka pergi.

“Aku juga harus pergi.” Ucap Myung Hoe.
“Anda mau kemana? Ini sudah malam?” jawab Mae Hyang.
“Setiap malam Kim Jong Seo bertopeng itu ingin mencabut nyawa pejabat yang berjasa. Aku harus tidur di tempat lain malam ini.” ucap Myung Hoe.

Dua pembunuh itu jalan pulang sambil tertawa puas membicarakan bagaimana mereka menghabisi Kim Jong Seo dan seluruh keluarganya. Tanpa mereka sadari, bahaya mengintai mereka. Setelah beberapa lama, akhirnya Seung Yoo muncul dan menghadang jalan mereka.

Pembunuh 1 tewas dalam satu kali tebasan pedang. Pembunuh 2 lalu bertarung dengan Seung Yoo. Akhirnya, Seung Yoo berhasil menjatuhkan pembunuh 2. Pembunuh 2 tampak ketakutan.


Seung Yoo membuka topengnya. Pembunuh 2 kaget. Dan dalam satu kali tebasan, pembunuh 2 mati.
Seung Yoo kembali ke Bing Ok Gwan.

Tiba2, terdengar suara, “Kau baru kembali?”
Seung Yoo berbalik. Ternyata itu suara Profesor Lee. Seung Yoo memberi hormat. Profoser Lee mendekati Seung Yoo.
“sepertinya kau leluasa sekali jalan di kegelapan menggunakan itu.” ucap Profesor Lee.
“Bagaimana anda tahu tempat ini?” tanya Seung Yoo.
“Aku tahu dari Jong. Pasti tidak mudah bagimu tinggal di sini.” Jawab Profesor Lee.
“Kenapa guru ke sini?” tanya Seung Yoo.
“Kali ini, siapa lagi yang kau bunuh?” tanya Profesor Lee.
“Pulanglah.” Suruh Seung Yoo.
“Tidak peduli berapa banyak orang yang kau bunuh, ujung pedangmu apa akan mengenai Sooyang? Kenapa kau tidak bergabung saja dengan rencana pemberontakan kami?” ucap Profesor Lee.
“Rencana apa?” tanya Seung Yoo.
“Rencana untuk menggulingkan Sooyang dan menaikkan kembali Yang Mulia ke takhta.” Jawab Profesor Lee.
“Pelajar seperti guru apa bisa melawan Sooyang?” tanya Seung Yoo ragu.
“Jika kita bersama dan kuat, kita bisa mengalahkan setiap musuh.” Jawab Profesor Lee.
“Apa Guru yakin mereka punya pendapat yang sama dengan Guru? Saya adalah orang yang dikhianati oleh teman saya sendiri. Saat ini, saya tidak bisa percaya siapapun.” Ucap Seung Yoo.
“Apa kau tidak bisa mempercayaiku dan Jong?” tanya Profesor.
“Jangan meremehkan Sooyang.” Jawab Seung Yoo.
Seung Yoo memberi hormat, lalu masuk ke dalam. Profesor menatap Seung Yoo dengan tatapan prihatin.

Seung Yoo duduk dan mengelap pedangnya yang berlumuran darah. Ladu Ryu dan Ah Kang datang. Lady Ryu kaget dan segera menutup mulut dan mata Ah Kang. Seung Yoo terus mengelap pedangnya tanpa menyadari kehadiran Ah Kang dan Lady Ryu. Lady Ryu menatap Seung Yoo dengan pandangan cemas dan takut.

Paginya, Myun dan Jae Beon memeriksa jalan yang akan dilalui rombongan Ming. Seorang petugas melapor ttg mayat yang digantung. Myun dan Jae Beon pun bergegas ke sana.

Di pohon, mayat anak buah Myung Hoe digantung dengan tulisan Dae Ho di tubuh mereka. Rakyat pun bergunjing ttg Dae Ho yg bangkit dari kematian untuk membalaskan dendam. Myun pun mulai merasa terganggu dengan itu.

Seung Yoo merenung di kamarnya. Lady Ryu pun masuk membawakan makanan.
“Ah Kang menyukai ini, jadi aku membuatnya beberapa. Tadi malam, aku melihatmu duduk sendirian. Apa Dae Ho yang dibicarakan orang2 adalah kau?” ucap Lady Ryu.
“Kau tidak perlu memikirkan ini.” jawab Seung Yoo.
“Pikiran untuk membunuh seseorang…. bagaimana aku tidak memikirkannya? Adik Ipar, apa cara yang kau gunakan tidak terlalu gegabah? Jika ayah masih hidup, apa yang akan dilakukannya? Kumohon, jangan permalukan dua nama itu. Dan bertindaklah hati2.” Jawab Lady Ryu lalu pergi keluar.

Paginya, Se Ryung berjalan menuju ruang belajarnya. Kenangan masa lalu pun berputar di otaknya, saat ia meminta Putri Kyung Hee mengizinkannya mengikuti pelajaran dari Jikgang Kim, karena ingin melihat seperti apa wajah Jikgang Kim yang tak lain adalah calon suaminya.

Wajah Se Ryung berubah sedih. Se Ryung pun masuk ke dalam. Ia ingat saat Seung Yoo memperkenalkan diri. 




Se Ryung mengangkat tirai, tapi tak ada Seung Yoo di sana. Wajahnya terlihat sedih. Profesor Lee Gae masuk. Se Ryung kaget. Profesor Lee Gae memberi hormat. Se Ryung kembali menutup tirai dan dengan mata berkaca2 juga memberi hormat.
“Saya Lee Gae yang akan bertanggung jawab untuk pelajaran anda Tuan Putri.” Ucap Profesor Lee Gae.
“Senang bertemu anda.” Jawab Se Ryung.
“Hari ini saya akan mulai mengajar dari Buku Kepatuhan.” Ucap Profesor Lee Gae.
“Dulu… saya belajar Buku Kepatuhan. Seorang Jikgang datang ke sini dengan bekasl lipstick di lehernya.” Jawab Se Ryung sambil teringat Seung Yoo.

“Diantara murid2 saya, apa ada orang seperti itu?” tanya Profesor Lee Gae yang juga mengingat Seung Yoo.
“Orang itu… seperti apa orang itu?” Se Ryung bertanya dengan air mata yang menetes.
“Dia memiliki wajah yang tampan. Dia seperti playboy, tapi dia selalu ceria dan menghargai teman2nya seperti nyawanya sendiri. Dia seorang anak yang sangat baik.” Jawab Profesor Lee Gae.
“Orang itu, sepertinya anda sangat menyayanginya.” Ucap Se Ryung.
“Saya benar2 merindukannya.” Jawab Profesor Lee Gae dengan mata berkaca2.
Se Ryung pun menangis. Profesor Lee Gae menahan kesedihannya.

Sooyang bertemu dengan antek2nya. Sooyang marah, “Apa saja yang dilakukan Petugas Hanseong!”
Myun minta maaf.
Kwon Ram berkata ada rumor kalau Kim Jong Seo masih hidup.
“Semua yang menentangku, harus dihabisi untuk membayar kejahatannya!” ucap Sooyang.
Shin Sook Joo mengingatkan Sooyang sudah waktunya menyambut utusan Ming.

Danjong terkejut, apa kau bilang? Dae Ho? Siapa orang yang menggunakan nama lain dari Wakil Perdana Menteri?”
“Orang itu adalah Kim Seung Yoo.” jawab Putri Kyung Hee.
“Kim Seung Yoo?” tanya Danjong.
“Kim Seung Yoo lolos dari maut dan berusaha keras untuk membunuh Sooyang dan semua musuh ayahnya.” Jawab Jong.
“Masih ada yang berpihak pada kita, jadi kumohon semangatlah Yang Mulia.” Ucap Putri Kyung Hee.
“Yang Mulia, besok di acara jamuan makan bersama Utusan Ming, akan ada beberapa orang yang membunuh Sooyang.” Jawab Jong.
Pelayan lalu mengumumkan kedatangan Sooyang. Ketiganya kaget.
Sooyang datang untuk mengundang Danjong ke jamuan makan bersama Utusan Ming besok. Ia juga berkata, sambil melirik Jong dan Putri Kyung Hee, kalau ia cemas Danjong terpengaruh pikiran jahat dan akan mengatakan sesuatu yang membuat Utusan Ming salah paham. Danjong menenangkan pamannya itu dengan mengatakan tidak akan terjadi apapun. Sooyang lalu minta Jong dan Putri untuk terus berada di sisi Danjong. Putri dan Jong menatap Sooyang dengan penuh amarah.
Jong dan Profesor Lee berkumpul dengan orang2 yg akan membunuh Sooyang. Mereka berencana memberitahu Utusan Ming ttg Sooyang yang merampas takhta dan setelah itu mereka akan menaikkan kembali Danjong ke takhta. Jong berkata ada tenaga tambahan.
Seung Yoo pun masuk dengan busana yang rapi. Profesor Lee senang dengan kehadiran Seung Yoo. Pemimpin kelompok itu pun terkejut saat Jong memberitahu Seung Yoo adalah putra Kim Jong Seo.
“Saya ingin membunuh mereka yang membunuh ayah saya, dengan cara yang sama. Tapi saya sadar, ini bukanlah cara yang benar. Ini hanyalah cara melampiaskan kemarahan saya. Saya akan bergabung dalam rencana penggulingan Sooyang dan pengangkatan kembali Yang Mulia.” Ucap Seung Yoo.
“Kau yang tumbuh dalam kehangatan keluarga, tiba2 harus melalui hal semacam ini. Jika ayahmu masih hidup, beliau pasti bangga padamu. Kau benar2 luar biasa. Tolong maafkan kami yang tidak melakukan apapun saat ayahmu mendapatkan ketidakadilan.” Jawab orang2 itu satu per satu.
Myung Hoe : Mereka bukanlah orang2 yang akan diam saja. Kudengar, beberapa Sarjana seperti Seong Sam Moon, Park Pang Nyun dan Lee Gae sering bertemu, bahkan Pangeran Pendamping Jung Jong juga terlibat di dalamnya. Jika mereka merencanakan sesuatu, mereka tidak akan melewatkan kesempatan saat Utusan Ming tiba. Tolong kau selidiki.
Myun : Baik.
Sementara itu, Se Ryung mencemaskan Seung Yoo. Ia berpikir mungkin Jong bisa menghentikan Seung Yoo.
Se Ryung menghadap ibunya.
Se Ryung : Saya ingin bertemu dengan Putri Kyung Hee.
Lady Yoon : Kau baru masuk istana beberapa hari dan sekarang kau mau pergi lagi?
Se Ryung  : Saya ingin memberikan beberapa obat.
Lady Yoon : Lakukanlah. Jika kau menjaga hubungan baik dengan Putri Kyung Hee, akan tampak bagus di mata semua orang.

Salah seorang guru bertanya pada Profesor Lee, “Bagaimana dengan Tuan Putri yang sekarang ini? Apakah dia benar2 payah seperti gossip yang beredar?”
Guru2 yg lain berkata ttg Se Ryung yang tetap mau sendiri sepanjang hidupnya.
Profesor Lee marah, “Jaga mulutmu!”
Lalu, Profesor Lee kedatangan tamu. Dia Myun!
“Anda sering bertemu Jong kan?” tanya Myun.
“Sepertinya kau datang untuk menyelediki gurumu?” jawab Profesor Lee sambil tersenyum.
“Jika anda terus bertemu dengan Jong, anda bisa dicurigai.” Ucap Myun.
“Jika guru bertemu dengam muridnya akan dicurigai, berarti kejadian biasa juga tidak diizinkan.” Jawab Profesor Lee.
“Jong dan Pangeran Geum Sung sudah pernah berkomplot melawan Raja. Saya tidak ingin anda membuat Yang Mulia marah. Jadi ada baiknya jika anda berhenti mengunjungi Jong.” Ucap Myun.
“Yang Mulia kau bilang? Kata2 itu terdengar aneh bagiku.” Jawab Profesor Lee.
“Aku akan pergi sekarang.” ucap Myun, lalu pergi.
Se Ryung dalam perjalanan menuju Kediaman Putri Kyung Hee. Ia sudah tak sabar, bahkan ingin jalan sendiri agar cepat sampai. Yeo Ri pun membujuk Se Ryung agar tetap di dalam tandu. Se Ryung pun menurut.
Seung Yoo mempelajari keadaan di sekitar istana.
Seung Yoo menemui Putri Kyung Hee dan Jong.
“Ini benar2 sulit dipercaya. Orang yang kukira sudah mati, kembali hidup2.” Ucap Putri Kyung Hee.
“Saya minta maaf.” Jawab Seung Yoo.

Jong tersenyum. Tiba2, senyum itu menghilang dari wajahnya. Ia pun berbisik ke telinga Putri Kyung Hee.
“Jika kau terus memandanginya seperti ini, aku bisa cemburu. Di masa lalu, selain aku, dia adalah calon terkuat sebagai Pangeran Pendamping. Jika kalian ditakdirkan….”

Putri menatap Jong aneh. Jong lalu tertawa geli. Seung Yoo minta Jong jangan menggoda Putri Kyung Hee lagi.

Rombongan Profesor Lee Gae datang. Putri Kyung Hee berterima kasih karena mereka bersedia membantu Danjong. Profesor Lee dan yang lain minta Putri jangan mencemaskan hal itu. Jong lalu mengajak mereka masuk.
Profesor Lee membagi tugas. Orang yang akan membunuh Sooyang adalah Tuan Yoo. Orang yang akan menjaga Danjong adalah ia dan Jong. Tentara dibawah kepemimpinan Kim Moon Ki juga akan ikut serta. Profesor Lee lalu menunjuk Seung Yoo sebagai pemimpin mereka karena Seung Yoo ahli dalam menyusun strategi militer dan menggunakan pedang.
Rekan yang lain berkata setelah membunuh Sooyang, mereka harus membunuh Shin Sook Joo, Kwon Ram dan Myung Hoe.
Pertemuan selesai. Beberapa pejabat mulai meninggalkan kediaman Putri Kyung Hee. Mereka tak melihat Se Ryung di pintu. Se Ryung kaget mendengar orang2 itu berkata sebentar lagi Sooyang akan mati.


Di dalam Lee Gae memberitahu Jong dan Seung Yoo kalau Myun datang mencarinya dan mulai curiga. Seung Yoo mengajak mereka bertemu di tempatnya. Lee Gae sepertinya tidak setuju karena tempat itu penuh gisaeng.
Jong nyengir, “Ide yang bagus. Mata kita bisa melihat2 gisaeng sambil kita membicarakan rencana kita.”
“Apa katamu?” terdengar suara Putri Kyung Hee tiba2.

Jong kaget. Ia lalu tertawa sambil melihat Putri yang berjalan ke arahnya.

Seung Yoo tersenyum geli melihat pasangan ini. Profesor Lee dan Putri Kyung Hee senang melihat senyum Seung Yoo. Mereka merasa Seung Yoo yang dulu sudah kembali. Profesor lalu tanya pendapat Seung Yoo ttg rencana ini.
Seung Yoo : Saya kembali untuk membunuh Sooyang. Saya akan mempertaruhkan nyawa saya demi kesuksesan rencana ini.
Se Ryung yang berdiri di pintu kaget dan menjatuhkan mantelnya. Seung Yoo, Putri dan Jong kaget melihat Se Ryung. Hanya Lee Gae yang tampak tenang.
Eun Geum lalu datang dan memberitahukan kedatangan Myun.
Se Ryung kaget dan menatap tajam Seung Yoo. Seung Yoo juga kaget dan menatap Se Ryung. Tampak Myun yang berjalan masuk ke kediaman Putri Kyung Hee.
BERSAMBUNG…………

No comments:

Post a Comment