Friday, November 2, 2018

The Princess Man Ep 23


Se Ryung balik badan, sehingga keduanya duduk berhadapan. Seung Yoo mengeluarkan garakji yang dibelinya di pasar. Seung Yoo tanya apa Se Ryung mau menjadi istrinya. Se Ryung menjawab dengan pertanyaan apa Seung Yoo mau menjadi suaminya. Seung Yoo tersenyum kemudian memasangkan garakji di jari Se Ryung.

“Mulai sekarang, kita adalah suami istri. Tidak peduli seberapa jauh kita terpisah, kita akan jadi bayangan satu sama lain.” Ucap Seung Yoo.
Se Ryung lalu mengambil satu dari sepasang cincin di jarinya, kemudian memakaikannya ke jari Seung Yoo.
 
“Dalam kehidupan ini, kita adalah satu.” Ucap Se Ryung.
Keduanya lalu berpelukan dan menghabiskan malam sebagai pasangan suami istri.

Paginya Se Ryung bangun dan panic karena tidak menemukan Seung Yoo disampingnya. Ia keluar dan mencari Seung Yoo. Seung Yoo ada diluar, sedang membereskan kuda. Se Ryung mendekati Seung Yoo. Ia pun tersenyum manis padanya. Seung membalas senyuman Se Ryung.
Se Ryung diantar Seung Yoo ke kediaman lamanya. Keduanya merasa berat untuk berpisah. Seung Yoo memegang tangan Se Ryung. Cukup lama mereka bertatapan hingga akhirnya Se Ryung menarik tangannya dan jalan masuk ke dalam. Seung Yoo terus memandangi Se Ryung.
Penjaga langsung memberi hormat begitu Se Ryung datang. Yeo Ri keluar menyambut Se Ryung. Se Ryung menanyakan Soong. Yeo Ri menyuruh Se Ryung cepat masuk untuk melihat Soong. Saat mau masuk, langkah Se Ryung terhenti. Ia menoleh dan menatap Seung Yoo, juga tersenyum sambil menahan air matanya. Setelah itu, ia pun masuk ke dalam.
Se Ryung membelai kepala Soong. Soong terbangun dan memanggil Se Ryung dengan lemah, Noonim.
“Kenapa kau berbaring seperti ini? Kau harus cepat sembuh.” Ucap Se Ryung.
“Aku baik2 saja. Kenapa kau kembali? Apa kau sudah memutuskan hubunganmu dengan Kim Seung Yoo?” tanya Soong.
Se Ryung menggeleng, lalu menjawab, “Meskipun aku tidak melihatnya, dia selalu ada disampingku.”
Soong lalu menggenggam tangan Se Ryung.
Seung Yoo kembali ke persembunyiannya. Seok Joo menyapanya, “Jadi kau kembali sendirian. Pasti berat bagi kalian berdua untuk mengambil keputusan ini. Kau sudah melakukan hal yang benar.”
“Ini hanya untuk sementara. Hanya sementara.” Jawab Seung Yoo.
“Kita harus segera pergi dari sini. Tempat ini sudah tidak aman.” Ucap Seok Joo.
Jae Beon melapor ke Myun ttg Se Ryung yang sudah kembali ke kediaman lamanya. Myun kaget dan langsung pergi ke kediaman lama Sooyang.
Se Ryung sedang membuat ramuan obat untuk Soong. Myun dan pasukannya datang. Se Ryung diam saja. Sikapnya tampak dingin. Myun meminta semua pelayan pergi meninggalkan mereka.
“Pemberontak itu, Kim Seung Yoo, dimana dia bersembunyi?” tanya Myun.
“Orang itu adalah suamiku. Jadi bicaralah dengan sopan.” Jawab Se Ryung.
Myun kaget, suami? Ia lalu melihat garakji di jari Se Ryung.
“Jika kau berencana menggunakanku untuk menangkapnya, itu tidak akan berhasil.” Ucap Se Ryung.
Myun marah dan menarik tangan Se Ryung. Se Ryung menatap tajam Myun.
“Hanya karena cincin murahan itu, kau membuat janji pernikahan dengannya? Orang yang seharusnya menjadi suamimu adalah aku!” ucap Myun kesal.
“Kau boleh mengambil cincin ini, tapi kau tidak akan bisa mengambil hatiku.” Jawab Se Ryung.
“Sebenarnya apa yang terjadi diantara kalian berdua? Kalian berdua… apa yang sudah kalian lakukan?” tanya Myun.
Se Ryung tersenyum sinis, lalu menjawab, “Apapun yang kami lakukan, bukan urusanmu.”
“Kami…? Sekarang aku tidak lagi menginginkan hatimu. Tapi tubuhmu… adalah milikku.” Ucap Myun.
Se Ryung tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Lalu terdengar suara Soong, “Jangan sakiti kakakku.”
Se Ryung dan Myun menoleh dan melihat Soong yang berdiri di hadapan mereka dengan dipapah para kasim. Myun membungkuk memberi hormat dan jalan pergi.
“Kenapa kau keluar?” tanya Se Ryung cemas.
“Aku bosan di dalam. Meskipun aku sakit, aku masih adik yang berguna kan? Kalau Petugas Shin bersikap kurang ajar lagi padamu, tidak peduli apapun, ingat, kau harus memberitahuku.” Jawab Soong.
Se Ryung tersenyum haru dan mengangguk.
Sooyang marah2 lagi, “Minggir! Aku harus menyeret anak itu dan menangkap Kim Seung Yoo!”
“Kenapa anda tidak mengerti juga. Anak itu akan bunuh diri kalau anda menangkap Kim Seung Yoo. Kesehatan Soong semakin membaik karena Se Ryung menjaganya. Karena melihat Se Ryung, dia bisa tersenyum lagi sekarang.” ucap Ratu.
Ratu lalu berlutut. Disana ada Myun juga.
“Yang Mulia, tolong jangan buat masalah lagi dengan Kim Seung Yoo. Kesehatan Soong lebih penting. Selama Soong masih hidup, aku tidak peduli dengan Kim Seung Yoo.” Ucap Ratu.
“Omong kosong apa yang kau bicarakan! Hanya dengan menangkap Kim Seung Yoo, masa depan Soong akan cerah. Jangan halangi aku!” jawab Sooyang lalu pergi bersama Myun.
Ratu menangis, “Yang Mulia! Yang Mulia!”
Semua sedang bersiap2 untuk pindah ke Hamgil-do. Ah Kang dan ibunya tidak takut. Ah Kang protes, minta sang paman mengajaknya juga. Tapi Seung Yoo mengatakan tempat itu terlalu jauh untuk Ah Kang. Ah Kang tanya kapan pamannya itu kembali. Seung Yoo bilang akan kembali saat Ah Kang sudah bisa mengingat Chon Jya Mun.
Chon Jya Myun : 1000 karakter tulisan mandarin, pelajaran dasar mandarin untuk anak2.
Ah Kang langsung minta pada ibunya mengajarkan 100 kata dalam sehari. Lady Ryu tersenyum. Lady Ryu lalu berpesan pada Seung Yoo untuk menjaga diri. Seung Yoo juga melakukan hal yang sama. Ah Kang menangis. Seung Yoo lalu berkata mau pergi ke suatu tempat dulu.
Seung Yoo ternyata menemui Putri Kyung Hee. Putri Kyung Hee ada di makam Jong. Perutnya sudah tampak membesar.
“Apa tidak apa2 berada diluar seperti ini?” tanya Seung Yoo cemas.
“Setelah dijadikan budak pemerintah, tapi masih bisa menghidupi diriku sendiri, apa itu maksudmu?” jawab Putri.
“Yang Mulia.” Ucap Seung Yoo.
“Karena dulu aku seorang Putri, mereka mengizinkanku istirahat.” Jawab Putri.
“Saya ingin mengajak anda ke Hamgil-do. Akan lebih baik daripada menjadi budak pemerintah.” Ucap Seung Yoo.
“Aku menghargai tawaranmu. Tapi aku tidak ingin pergi. Aku ingin membawa anak ini sering2 bertemu ayahnya. Jika aku tidak sering ke sini, suamiku akan kesepian.” Jawab Putri.
“Tuan Putri.” Ucap Seung Yoo.
“Pemberontakan ini harus sukses. Hanya dengan begitu, aku dan anakku bisa tenang. Jika kau pergi ke Hamgil-do, bagaimana dengan Se Ryung?” tanya Putri.
Seung Yoo hanya menghela napas.
Sooyang beserta istri dan para pelayannya tiba di kediaman lama mereka. Myun juga ikut. Se Ryung menyambut kedatangan mereka. Ratu senang melihat Se Ryung dan tanya kondisi Soong. Se Ryung menyuruh ibunya itu melihat sendiri. Ratu pun langsung masuk ke dalam. Sooyang tampak kesal melihat se Ryung.
“Sebaik apa dia sebenarnya? Bahkan kau rela meninggalkan orang tua dan adikmu. Sebaik itukah berada di sisinya?” tanya Sooyang.
Se Ryung diam saja.
Sooyang marah, “Kemana lidah tajammu pergi? Kenapa kau tidak menjawab? Melihat ayah yang ingin kau bunuh, apa kau tiba2 merasa menyesal?" tanya Sooyang.



 "Saya sudah bilang saya tidak pernah punya pikiran untuk mencelakai ayah.” jawab Se Ryung.


“Kau, lagi….” Ucap Sooyang kesal.

“Saya benar2 berharap sebelum semuanya terlambat. Ayah sekali lagi bisa menjadi orang yang saya kenal. Ayah yang paling penyayang di dunia.  Saya benar2 berharap ayah bisa kembali seperti dulu.” Jawab Se Ryung.
“Dulu atau sekarang, semuanya adalah aku.” ucap Sooyang.
Tiba2, terdengar teriakan Ratu, “Putra Mahkota! Putra Mahkota!”
Semua kaget. Sooyang dan Se Ryung bergegas masuk ke dalam. Soong seperti menunjuk sesuatu. Sooyang menggenggam tangan Soong. Semua terlihat cemas.
“Ayah.” panggil Soong.
“Bicaralah.” Jawab Sooyang.
“Saya baru saja bermimpi.” Ucap Soong.
“Apa mimpi buruk?” tanya Sooyang.
“Yang Mulia mantan Raja dan Raja Munjong, melambai dan tersenyum pada saya, meminta saya pergi.” Jawab Soong.
Sooyang dan Ratu syok.
“Itu hanya mimpi.” ucap Sooyang.
“Disana. Mereka ada di sana.” Jawab Soong sambil menunjuk ke satu arah.
“Sadarlah. Tidak ada siapapun di sana.” Ucap Sooyang.
“Di sana. Ada di sana.” Jawab Soong sambil terus menunjuk sesuatu.
Dan Soong pun tidak bergerak lagi. Semua kaget. Soong meninggal.
Sooyang, Ratu dan Myun sedang berduka. Se Jeong datang bersama Se Ryung.
Sooyang marah, “Apa kau punya malu sehingga berani datang ke sini!”
Se Jeong membela Se Ryung, “Dia datang untuk mendoakan Putra Mahkota.”
“Bersama Kim Seung Yoo, pada akhirnya kau menyebabkan kematian adikmu. Apa kau bahagia sekarang?” jawab Sooyang.
Se Ryung diam saja. Sooyang lalu memanggil Seketaris Kerajaan.
“Hapus semua catatan sejarah yang berhubungan dengan Se Ryung.” Perintah Sooyang.
Semua kaget. Seketaris Kerajaan bingung.
“Aku menyuruhmu menghapus kenyataan bahwa Se Ryung adalah seorang Putri!” ucap Sooyang lagi.
“Yang Mulia, jangan lakukan ini? Anda ingin kehilangan anak perempuan?” tanya Ratu.
“Hanya satu anak perempuan yang kupunya. Jangan pernah menampakkan wajahmu lagi di depanku.” Ucap Sooyang ke Se Ryung.
Se Ryung tampak sedih.
Beberapa bulan kemudian….. Yeo Ri menunggu dengan gelisah di depan sebuah kamar. Putri Kyung Hee sedang berjuang melahirkan anaknya. Eun Geum mencoba menenangkan Putri yang kesakitan dengan memegang tangannya. Akhirnya terdengar tangis bayi. Yeo Ri tersenyum lega. Eun Geum keluar dan memberitahu Yeo Ri bayi Putri laki2.
Eun Geum dan Yeo Ri pun masuk menemani Putri. Putri menahan kesedihannya melihat putranya. Eun Geum lalu membuka catatan dari Jong yang berisi nama bayi laki2.
“Jung Mi Soo. Ini adalah nama yang diberikan ayahmu untukmu. Di penjara, dia memikirkan namamu. Dia pasti sedih sekali saat itu. Kau harus menjadi seperti yang diharapkan ayahmu. Menjadi pria yang kuat dan hebat. Mi Soo.” Ucap Putri.
Yeo Ri menemui Se Ryung. Se Ryung senang sekali mendengar kabar Putri Kyung Hee sudah melahirkan dengan selamat dan bayinya laki2. Yeo Ri juga berkata ttg Putri Kyung hee yang mencemaskan Se Ryung. Se Ryung berkata ia lebih mencemaskan Putri Kyung Hee yang harus membesarkan anak seorang diri.
Se Ryung lalu menyuruh Yeo Ri kembali ke istana. Yeo Ri menolak dengan alasan Ratu mengirimnya untuk berada di sisi Se Ryung. Se Ryung lalu menanyakan ayahnya. Belum sempat dijawab Yeo Ri, seorang pelayan muncul memberitahukan kedatangan Myun. Se Ryung pun keluar bersama Yeo Ri. Myun tanya ke pelayan apa Se Ryung pergi keluar selama ia tidak ada. Pelayan berkata Se Ryung di rumah saja sepanjang hari. Ya, Se Ryung kini menjadi budak Myun.
Seung Yoo dan antek2nya membantai banyak prajurit di sebuah lading. Seung Yoo lalu masuk ke sebuah tenda. Tampak sang komandan yang ketakutan melihat Seung Yoo.

“Semua anak buahmu telah pergi ke dunia lain. Keluarlah dan hadapi ajalmu dengan gagah.” Ucap Seung Yoo.
Seung Yoo pergi keluar, namun orang itu menyerang Seung Yoo. Hanya dengan sekali tebas, nyawa pria itu melayang. Seung Yoo keluar dari tenda dan menancapkan pedang ke tanah. Semua prajurit bersorak sorai. Seok Joo, No Geol dan Heung Soo terlihat puas.
Bangsawan Lee Shi Ae dan pasukannya menghadap Seung Yoo.
“Ini benar2 hebat. Karena komandan divisi sudah mati, Hamgil-do sekarang menjadi tanah yang bebas tanpa pengendalian Sooyang.” Ucap Bangsawan Lee Shi Ae.
“Selatan, kita harus pergi ke Selatan.” Jawab Seung Yoo.
“Baiklah. Dengan adanya peristiwa ini, invasi ke ibukota hanya butuh waktu beberapa hari.” Ucap Lee Shi Ae.
“Tinggal Hamheung saja. Jika kita berhasil menguasainya, maka seluruh wilayah Hamgil-do akan berada dibawah kendali kita.” ucap Heung Soo.
“Ada komandan baru di sana. Kita butuh rencana untuk melenyapkannya.” Jawab Lee.
 
Seung Yoo, Seok Joo dan No Geol kembali ke tenda mereka. Chohi menyambut dingin Seok Joo. Sementara No Geol langsung lari menghampiri Soaeng. Muyeong mengajak mereka makan. Seung Yoo tersenyum, lalu jalan pergi. No Geol memberikan botol kecil berisi air embun yang dikumpulkannya setiap pagi ke Soaeng. Ia bilang dengan itu, kulit Soaeng bisa menjadi halus seperti Se Ryung. Mendengar nama Se Ryung, Soaeng kesal.
Seung Yoo duduk di kamarnya. Ia mengeluarkan cincin yang dijadikannya sebuah kalung. Ia lalu teringat janji Se Ryung.
Se Ryung : Dalam kehidupan ini, kita akan menjadi satu.
Se Ryung juga duduk di kamar dan teringat janji Seung Yoo.
Seung Yoo : Sekarang, kita adalah suami istri. Sejauh apapun kita terpisah, kita akan menjadi bayangan satu sama lain.
Se Ryung lalu menggenggam cincin yang ada di jarinya, dan menangis.
“Ini pemberontakan Yang Mulia. Komandan Hamgil-do, Gang Hyo Mun, tewas.” Ucap Kwon Ram.
“Apa maksudmu? Jadi semua wilayah Hamgil-do sudah jatuh ke tangan pemberontak?” tanya Sooyang kaget.
“Kecuali Hamheung, Yang Mulia.” Jawab Shin Sook Joo.
“Siapa pemberontak kali ini?” tanya Sooyang.
“Mantan komandan Hamgil-do, Lee Shi Ae dan….” Kwon Ram tidak melanjutkan kata2nya.
“Kenapa kau diam? Cepat katakan.” Ucap Sooyang.
“Dan Kim Seung Yoo.” jawab Kwon Ram.
Sooyang marah, “Kim Seung Yoo? Sampai kapan aku harus mendengar nama pria itu! Apa sebenarnya yang kalian lakukan? Apa aku bertakhta hanya  untuk mengerahkan kekuatan melawan Kim Seung Yoo dan pemberontak itu!”
“Maafkan saya.” jawab Shin Sook Joo.
“Petugas Shin, ini semua terjadi karena kau yang tidak menyingkirkan Kim Seung Yoo dari dulu!” ucap Sooyang.
“Maafkan saya.” jawab Myun.
“Aku tidak ingin mendengar kata itu! Ini kesempatan terakhir. Kuangkat kau menjadi Komandan Hamgil-do. Kau harus memenggal kepala Kim Seung Yoo dan menghabisi semua pemberontak!” ucap Sooyang.
“Baik.” Jawab Myun.
“Semua keluar, kecuali Kepala Seketaris Kerajaan.” Ucap Sooyang.
Semua pun beranjak keluar, kecuali Myung Hoe.
Diluar, Kwon Ram bicara pada Shin Sook Joo. Ia berkata Sooyang menjadi sangat sensitive. Shin Sook Joo berkata ini karena Sooyang merasa cemas. Kwon Ram pun penasaran alasan Sooyang memanggil Myung Hoe.

Rupanya Sooyang menyuruh Myung Hoe memimpin pasukan dan mengikuti Myun. Myung Hoe heran. Sooyang berkata tidak bisa lagi mempercayai Myun. Ia pun menyuruh Myung Hoe memenggal kepala Sooyang, walaupun harus mengorbankan Myun, tidak masalah. Myung Hoe berkata jika anjing pemburu sudah tidak bisa digunakan untuk memburu lagi, maka anjing pemburu itu sudah tidak ada gunanya lagi.
 


Se Ryung sedang menyulam. Yeo Ri masuk dan tanya, “Apa anda membuat ini untuk anak Putri Kyung Hee?”
Se Ryung hanya tersenyum dan mengangguk. Lalu, dengan berat hati, Yeo Ri mengingatkan Se Ryung kalau sudah waktunya. Se Ryung menghela napas dan meletakkan sulamannya.
Yeo Ri ngomel, “Benar2 Tuan yang aneh. Kenapa harus anda yang menyiapkan tempat tidurnya.”
“Aku akan segera kembali.” Jawab Se Ryung, lalu berdiri.
“Ludahi dulu selimutnya dan kembali.” Ucap Yeo Ri.
Se Ryung hanya tersenyum tipis dan pergi.
Myun pulang dan sang ayah sudah menunggunya. Sang ayah memberitahu ttg Sooyang yang menyuruh Myung Hoe memimpin pasukan dan mengikuti Myun. Ternyata Myun juga merasa kalau Sooyang sudah tidak mempercayainya lagi.
Shin Sook Joo lalu mengingatkan Myun bahwa Sooyang bukanlah orang yang akan mempercayai seseorang jika orang itu gagal membuat dirinya percaya. Ia pun meminta anaknya untuk mencabut nyawa Seung Yoo bagaimana pun caranya, karena jika sang anak gagal mencabut nyawa Seung Yoo, maka nyawa sang anak yang akan menjadi taruhannya.
Myun lalu menyadari Se Ryung ada di dekat mereka. Myun tanya Se Ryung mau kemana. Dengan perasaan takut dan marah, Se Ryung berkata akan menyiapkan tempat tidur Myun. Se Ryung pun pergi. Shin Sook Joo tanya apa yang akan dilakukan Myun pada Se Ryung. Myun berkata karena Se Ryung budaknya, maka suka2 ia mau melakukan apapun pada Se Ryung. Shin Sook Joo tanya lagi apa Myun akan membawa Se Ryung ke Hamgil-do. Myun diam saja.
Se Ryung merapikan tempat tidur Myun sambil mengingat percakapan Myun dan Shin Sook Joo. Myun lalu datang. Se Ryung bersikap dingin dan terus merapikan tempat tidur Myun.
“Apa kau mau pergi ke Hamgil-do?” tanya Myun.
Se Ryung terperanjat, tapi ia diam saja.
“Kenapa diam saja? Bukannya kau bisa bertemu dengan kekasihmu jika kau pergi ke sana?” tanya Myun.
“Meskipun dia tidak ada disisiku, bukan berarti kami tidak bersama.” Jawab Se Ryung.
Myun marah dan mencengkram tangan Se Ryung.
“Aku akan membawamu ke sana. Akan kubunuh dia di depanmu, sehingga kau tidak akan lupa.” Ucap Myun.
“Suamiku tidak akan tertangkap semudah itu.” jawab Se Ryung sambil menatap tajam Myun.
“Kalau begitu ayo pergi. Kita lihat siapa yang benar. Kau atau aku?” ucap Myun.
Se Ryung menghempaskan tangan Myun, lalu pergi. Yeo Ri menunggu Se Ryung dengan gelisah. Begitu Se Ryung muncul, Yeo Ri langsung tanya kenapa Se Ryung lama sekali? Apa terjadi sesuatu?
Se Ryung menahan tangisnya, “Yeo Ri-ya, dia pasti selamat kan? Dia membuat semua orang cemas seperti ini.”
Sooyang minum2 sendirian. Ratu masuk dan mencemaskan Sooyang, “Kenapa anda ada di sini? Anda bahkan minum2 di kamar anak yang sudah meninggal.”
“Kamar kosong ini benar2 membuatku merasa sedih.” Jawab Sooyang.
“Kudengar Petugas Shin telah menjadi komanan di Hamgil-do. Jika Petugas Shin membawa Se Ryung ke sana, apa yang harus kita lakukan?” tanya Ratu.
“Aku sudah memberikannya pada Petugas Shin, jadi aku tidak peduli.” Jawab Sooyang.
“Saya tidak mau kehilangan anak lagi. Kehilangan Soong sudah membuat separuh dari nyawa saya hilang. Anda tidak boleh membiarkan Se Ryung…. dan juga, bukankah disana ada Kim Seung Yoo?” ucap Ratu berkaca2.
“Keluar.” Jawab Sooyang.
“Jika sesuatu terjadi pada Se Ryung, saya tidak akan memaafkan Yang Mulia. Selama saya bisa melindungi anak saya, saya akan melakukan apapun.” Ucap Ratu, lalu beranjak pergi.
Sooyang diam saja dan memandang kepergian istrinya dengan wajah sedih.
Sooyang ingat detik2 kematian Soong. Ia marah dan membalikkan meja minuman di depannya.
Putri Kyung Hee, ditemani Eun Geum, sedang menenangkan Mi Soo yang rewel.
“Maafkan ibu. Karena ini pertama kalinya aku menjadi ibu, aku selalu telat memberimu makan. Jangan menangis lagi, Mi Soo.” Ucap Putri.
Lalu pelayan datang, memberitahukan ada tamu. Ternyata Ratu. Putri Kyung Hee terperanjat.
Ratu menggendong Mi Soo. Ia minta maaf karena membiarkan Putri Kyung Hee melahirkan dalam lingkungan seperti itu.
“Apa yang membawamu ke sini?” tanya Putri dingin.
“Kembalilah ke istana bersamaku.” Jawab Ratu.
Putri kaget.
“Demi anak ini, kau tidak bisa melanjutkan hidupmu sebagai budak pemerintahan. Aku akan bicara pada Yang Mulia untuk membebaskanmu.” Ucap Ratu lagi.
“Yang kubutuhkan bukanlah itu.” jawab Putri.
“Aku mengerti. Tidak mungkin kau bisa membuka hatimu semudah itu. Tapi sekarang kau seorang ibu. Kau tidak boleh memikirkan dirimu sendiri. Kalau kau tidak suka istana, kau bisa tinggal di kuil.” Ucap Ratu.
“Kenapa kau bersikap seperti ini?” tanya Putri.
“Se Ryung akan pergi ke Hamgil-do. Aku ke sini untuk menebus kesalahan di masa lalu demi anak2ku. Aku datang sebagai seorang ibu.” Jawab Ratu berkaca2.
Paginya, Myun sedang bersiap2 untuk pergi ke Hamgil-do. Putri datang dan mencari se Ryung. Myun menemui Putri.
“Anda datang untuk menemui Nona Se Ryung?” tanya Myun.
Myun lalu melirik Mi Soo. “Apa itu… bayi Jong? Siapa namanya?”
“Aku tidak sudi kau menyebut nama anakku dengan mulut kotormu!” jawab Putri pedas.
 
Myun menatap lembut Mi Soo. Ia lalu mengizinkan Putri bertemu Se Ryung.
Se Ryung keluar dan bertemu Putri. Putri tersenyum pada Se Ryung. Se Ryung juga senyum pada Putri.
Mereka lalu bicara di dalam. Se Ryung menggendong Mi Soo dan Putri melihat baju bayi hasil sulaman Se Ryung.
“Ini cantik sekali. Kapan kau membuat semua ini?” tanya Putri.
“Meskipun ini tidak banyak, tapi ini dari hatiku.” Jawab Se Ryung.
Putri lalu melihat cara Se Ryung menggendong Mi Soo.
“Caramu menggendong Mi Soo, sama seperti ibumu.” Ucap Putri.
Se Ryung heran.
“Belum lama ini, ibumu datang menemuiku. Dia berjanji akan membebaskanku. Aku menerimanya demi Mi Soo. Aku akan tinggal di Kuil Seung Bup.” Ucap Putri.
“Kau sudah mengambil keputusan yang baik.” Jawab Se Ryung.
“Kudengar kau akan pergi ke Hamgil-do. Apa kau akan bertemu Kim Seung Yoo? Jangan bilang kau sudah melupakannya.” Ucap Putri.
“Bagaimana mungkin aku melupakannya? Meskipun dia jauh, tapi aku merasa dia selalu berada di sisiku. Ekspresi matanya yang penuh arti, sentuhannya yang hangat, suaranya yang penuh cinta, tidak peduli berapa lama waktu berlalu, semua semakin terasa jelas.” Jawab Se Ryung.
“Aku juga… aku juga sama sepertimu. Hanya dengan pergi ke kuburannya saja, aku bisa merasakan dia menyambutku dengan bahagia.” Ucap Putri.
Seung Yoo sibuk melatih pasukan. Seok Joo dan Heung Soo sibuk memberi petunjuk. Shi Ae lalu datang.
Shi Ae : Komandan baru akan segera tiba. Aku sudah mengirim orang untuk menyelidikinya, jadi kita akan mengetahuinya sebentar lagi.
Rombongan Myun memasuki Hamgil-do. Myun menatap Se Ryung dan Yeo Ri yang berjalan di belakangnya. Myun lalu tanya ke Jae Beon berapa jumlah tentara pemberontak. Jae Beon belum tahu, tapi penduduk melindungi tentara pemberontak itu.
Seung Yoo dan antek2nya mengadakan pertemuan lagi. Ia kaget saat tahu komandan baru itu adalah Myun. Shi Ae ingin tahu berapa jumlah pasukan Myun. Anak buah Shi Ae berkata tidak banyak, hanya sebagian. Seung Yoo mengajak mereka memata2i pergerakan Myun. Ia yakin Myun akan menyerang duluan.
“Ini adalah tanah Kim Jong Seo. Kita harus membuat tanah ini menjadi milik Yang Mulia. Pilih prajurit yang handal. Tempatkan mereka di garis depan dan selidiki geografi Hye Ning. Fokus mencari lokasi persembunyian para pemberontak.” Ucap Myun.
Se Ryung kebetulan jalan ke arah mereka dan itu membuat Myun marah.
“Berjalan seperti kucing, apa kau mau mencuri dengar? Apa kau ingin mengatakannya pada suamimu itu? Pergi dan katakana padanya, kalau ia akan segera bertemu ayahnya di akhirat.” Ucap Myun, lalu pergi.




Seok Joo menemui Seung Yoo. Ia heran, Shin Myun itu mengikutimu sampai ke sini. Apa ini takdir? Dia bahkan tidak melepaskan tempat sekecil ini.
Seung Yoo yang masih mikirin Se Ryung, tanya apa Seok Joo tidak menyesal mengikutinya ke Hamgil-do?
“Apa yang harus disesali? Aku tidak melakukan apa2 selain pulang ke rumah.” Jawab Seok Joo.
Seung Yoo kaget, rumah? Ini kampung halamanmu?

“Ceritanya panjang. Jenderal Kim Jong Seo telah membangun enam perkampungan di tanah terlantar ini. Tidak ada siapa pun di sini. Jadi, ayah dan ibuku yang awalnya terlahir sebagai budak, dibebaskan oleh beliau dan dizinkan hidup di sini sebagai org normal. Di mata ayahku, ayahmu lebih terhormat daripada Raja. Ayahku berterima kasih dalam hatinya sampai ia menutup matanya. Rasa terima kasih ini akan kukembalikan pada anaknya.” Jawab Seok Joo.
No Geol yang tertidur di bawah pohon, tiba2 terbangun dan kaget melihat beberapa prajurit. Ia pun langsung menembakkan panah ke Seung Yoo dan Seok Joo sbg tanda. Seung Yoo dan Seok Joo kaget mendapatkan tanda dari No Geol.
Seung Yoo dan Seok Joo menghadang para prajurit itu dan membunuhnya hanya dengan sekali tebas.
Jae Beon yang ada di markas kaget melihat anak buahnya kembali tanpa nyawa.
Se Ryung cemas memikirkan nasib Seung Yoo. Yeo Ri yg sadar kegelisahan Se Ryung tanya ada apa?
Se Ryung : Apa dia bisa menghindari pedang dari orang yang sangat ingin membunuhnya?
Yeo Ri menghibur Se Ryung, bukankah dia sudah berjanji akan kembali? Anda pernah berkata kalau dia adalah pria yang memegang kata2nya.
Se Ryung lalu menekan dadanya. Ia terlihat seperti kurang sehat. Yeo Ri cemas dan berkata akan mengambil obat dan segera kembali.
Myun kaget, “Jadi semua orang yang kukirim mati?”
“Maafkan saya. Prediksi anda benar, Tuan. Sepertinya markas pemberontak ada di Hutan Hoe Ryeong.” Jawab Jae Beon.
“Jika mereka bersembunyi di hutan, tidak ada yang bisa kita lakukan karena kita tidak mengenal hutan ini.” ucap Myun.
Lalu Myung Hoe muncul dan berkata kalau mereka harus memancing para pemberontak keluar dari hutan. Myun dan Jae Beon memberi hormat. Myung Hoe duduk dan menghela napasnya. Myun tanya apa Myung Hoe punya ide yang lebih bagus.
“Sebenarnya umpan sudah berada di tangan anda Petugas Shin.” Jawab Myung Hoe.
“Maksud anda…?” tanya Myun yang mulai mengerti.
“Apa yang lebih baik daripada memancing pria keluar dengan wanita? Benar, Nona Se Ryung. Manfaatkan cinta mereka. Lalu lihat bagaimana dia akan bereaksi. Besok kirim pesan ke markas pemberontak. Katakan Nona Se Ryung ada di tangan kita dan Kim Seung Yoo harus datang sendiri untuk menyelamatkannya.” Jawab Myung Hoe.
“Haruskah anda menggunakan cara ini?” tanya Myun.
“Sekarang aku sadar kenapa Yang Mulia mengirimku ke sini. Petugas Shin, jika kau gagal lagi menangkap Kim Seung Yoo, Yang Mulia akan benar2 marah padamu.” Jawab Myung Hoe.
Yeo Ri rupanya mendengar percakapan itu dan langsung lari menemui Se Ryung. Tanpa disadari Yeo Ri, Jae Beon melihatnya.
“Pesan? Mereka berencana menggunakanku untuk memancing dia keluar?” tanya Se Ryung kaget.
“Iya. Mereka berkata akan mengirimkan pesan ke markas pemberontak . Dan dia harus datang sendiri menyelamatkan ada, Tuan Putri.” Jawab Yeo Ri.
“Tidak boleh.” Ucap Se Ryung cemas.
“Bersembunyilah dulu. Tidak akan terjadi apa2 kalau anda tidak ada di sini.” Jawab Yeo Ri.
“Meskipun aku tidak ada di sini, mereka akan tetap mengirimkan pesan itu padanya. Aku harus pergi menemuinya.” Ucap Se Ryung.
“Tapi anda tidak tahu apa2 kecuali lokasinya di sekitar Hutan Hoe Ryeong.” Jawab Yeo Ri.
“Dimana kudanya?” tanya Se Ryung lagi.
Se Ryung melarikan diri dengan kuda. Jae Beon melihatnya dan mencoba menghadang tapi Se Ryung menerjang Jae Beon dengan kudanya membuat Jae Beon jatuh. Jae Beon menyuruh pengawal mengejar Se Ryung.
“Apa? Tuan Putri menghilang?” tanya Myun kaget saat mendapat laporan dari Jae Beon.
“Dia melarikan diri dengan kuda.” Jawab Jae Beon.
“Apa dia mendengarkan percakapan kami?” tanya Myung Hoe.
“Aku melihat pelayannya berdiri diluar.” Jawab Jae Beon.
“Jadi dia akan pergi menemui Kim Seung Yoo? Benar2 Putri yang pemberani.” Ucap Myung Hoe.
Myun dan Jae Beon langsung ke kamar Se Ryung untuk mencari Yeo Ri. Myun mencengkram lengan Yeo Ri dan tanya kemana Se Ryung.
“Saya tidak tahu.” jawab Yeo Ri.
“Dia berbohong. Kau jelas2 sudah mencuri dengar pembicaraan Petugas Shin.” Ucap Jae Beon.
“Tuan Putri sakit perut. Saya pergi keluar untuk mencari obat. Kalau anda tidak percaya, anda boleh melihatnya sendiri. Saat saya kembali, ruangan ini sudah kosong.” Jawab Yeo Ri menunjukkan bukti obat yang dibawanya.
“Aku tahu kau berbohong. Tunggu sampai Tuan Putri tertangkap. Saat itu belum terlambat untuk menghukummu.” Ucap Myun.
Se Ryung sudah sampai di hutan. Ia kebingungan. Tiba2 dua prajurit pemberontak menghadangnya. Se Ryung pun turun dari kudanya.
“Siapa kalian? Apa kalian para pemberontak? Ada yang harus kukatakan. Biarkan aku bertemu Kim Seung Yoo.” ucap Se Ryung.
Salah satu prajurit ingat pernah melihat Se Ryung dimana. Ia ingat melihat Se Ryung dalam rombongan Myun. Mereka pun berpikir Se Ryung adalah mata2 yang dikirim Myun. Mereka pun langsung mengikat Se Ryung.
“Semua orang yang mereka kirim berhasil kita habisi. Aku rasa mereka tidak akan bertindak gegabah.” Ucap Shi Ae.
“Pasukan Han Myung Hoe akan segera datang. Sebelum lokasi persembunyian ini diketahui, kita harus melancarkan perlawanan untuk melumpuhkan kaki dan tangan musuh.” Jawab Seung Yoo.
“Aku mengerti. Kita akan membahas detailnya besok pagi.” Ucap Shi Ae.
Seung Yoo, Seok Joo dan No Geol keluar. Mereka berpapasan dengan dua prajurit yang menangkap Se Ryung. Prajurit itu melapor pada Shi Ae kalau musuh mengirimkan mata2 seorang wanita yang berkuda di hutan. Shi Ae heran, mata2?
“Dia adalah budak komandan yang baru? Tapi anehnya ia terus menanyakan Tuan Kim Seung Yoo. Bagaimana ini tuan? Apa kami harus membunuhnya dan mengembalikan mayatnya seperti sebelumnya?”
“Lakukan saja.” Suruh Shi Ae.
Kedua prajurit itu pun pergi. Shi Ae menemui Seung Yoo diluar.
“Anak buahku menangkap seorang budak wanita dari komandan yang baru.” Ucap Shi Ae.
“Budak wanita?” tanya Seung Yoo.
“Kami kira dia mata2, jadi aku minta mereka untuk membunuhnya dan mengirimkan mayatnya seperti sebelumnya. Wanita biasa dengan keberanian luar biasa. Dia datang dengan menunggang kuda dan terus menyebut namamu.” Jawab Shi Ae.
“Budak wanita Shin Myun datang dengan mengendarai kuda?” tanya Seung Yoo.
Seung Yoo pun sadar siapa budak itu. Ia langsung lari secepat kilat membuat Shi Ae bingung. Seok Joo berkata tidak ada apa2 dan mengajak Shi Ae masuk.
Se Ryung dibawa ke sungai dengan tangan terikat.
“Kumohon padamu, dengarkan aku. Biarkan aku bertemu Kim Seung Yoo. Tunjukkan cincin ini padanya dan dia akan mengenaliku. Kau bisa menyampaikan pesanku padanya….”
Mata Se Ryung mulai ditutup oleh kain.
“… kumohon.” pinta Se Ryung.
Dua prajurit tadi datang dan menyuruh rekannya membunuh Se Ryung. Prajurit itu pun mengayunkan pedangnya ke Se Ryung, namun Seung Yoo datang tepat waktu. Ia menangkis pedang itu.
Si prajurit heran, Tuan, kenapa anda ke sini?
 


Seung Yoo memberi kode agar mereka semua pergi.
“Apa aku boleh tahu siapa kau? Karena kau sudah menyelamatkan nyawaku, aku sangat berterima kasih. Aku punya satu permintaan. Tolong bawa aku bertemu dengan Tuan Kim Seung Yoo. Aku harus mengatakan sesuatu padanya. Ini menyangkut hidup dan matinya. Kumohon.” Ucap Se Ryung.
Seung Yoo tertegun. Ia lalu berlutut dan memegang wajah Se Ryung. Se Ryung awalnya menghindar, namun tiba2 ia seperti mengenali sentuhan Seung Yoo.
“Apa mungkin kau….”
Seung Yoo pun membuka penutup mata Se Ryung. Ia terkejut melihat wanita yang ada di depannya benar2 Se Ryung. Sementara Se Ryung lega karena sudah bertemu Seung Yoo.
BERSAMBUNG

No comments:

Post a Comment