Saturday, November 3, 2018

The Promise Ep 3 Part 1

Sebelumnya...

Oke gaes, kita lanjut ya berhubung mimin yang super syantik ini lagi semangat...

Sebelum kita mulai, mimin bakalan ngeringkas sedikit yuah ceritanya dari epi awal, biar pada ingat....

Yoon Ae menerima surat tanpa nama yang ternyata adalah hasil tes DNA. Usai membaca hasil tes DNA itu, Yoon Ae pun pergi menemui Yoo Kyung.

Yoon Ae marah lantaran lantaran Yoo Kyung sudah berbohong pada dirinya dan Presdir Jang.. ia pun berniat mengembalikan semuanya lagi ke awal... Belakangan diketahui, Presdir Jang menikahi Yoo Kyung lantaran Yoo Kyung mengaku hamil anaknya....

Tak mau rahasianya terbongkar, Yoo Kyung berniat menabrak Yoon Ae. Tapi Yoo Kyung membanting setirnya saat Yoon Ae nyaris tertabrak mobilnya. Yoon Ae yg syok jatuh terduduk dan payungnya terlempar ke jalan. Saat hendak mengambil payungnya, sebuah truk lewat dan menabraknya.

Yoon Ae dan si pengemudi truk meningggal.

Setelah ibunya meninggal, Na Yeon menolak dibawa ke panti asuhan. Presdir Jang pun datang dan membawa Na Yeon untuk tinggal bersamanya dan keluarganya.

Lantas bagaimana kah hari-hari Na Yeon bersama keluarga Presdir Jang?? Semua akan terjawab di episode kali ini.....

Happy reading gaes....


Se Jin mengajak Na Yeon ke kamarnya. Tapi baru beberapa langkah menaiki tangga, Yoo Kyung memanggilnya.

Apakah Yoo Kyung curiga? Ani, Yoo Kyung hanya menanyakan nama Na Yeon.


Selepas itu, Na Yeon membongkar barang-barangnya di kamar Se Jin.

Melihat pakaian Na Yeon, Se Jin pun bertanya, apa tidak bisa Na Yeon membuangnya. Ia menyebut pakaian Na Yeon sampah dan menyuruh Na Yeon untuk mengambil seperlunya saja dan membuang sisanya.

"Semuanya sangat berarti bagiku." jawab Na Yeon.

"Apa aku terlalu kasar? Aku hanya mencoba membantu." ucap Se Jin. *Ya iyalah lu kasar neng...

"Aku akan mengambil seperlunya dan menyimpan yang lain agar tidak kelihatan." jawab Na Yeon. Se Jin pun tersenyum mendengarnya.


Na Yeon lalu mengambil saputangan ibunya.

Se Jin pun terkejut melihat sapu tangan itu.

"Ige mwoya?" tanyanya, lalu mengingat saat ia melihat sapu tangan yang sama milik ayahnya.

Flashback....


Presdir Jang ke kantornya. Dan ia terkejut melihat ruangannya yang dipenuhi oleh mainan.

Presdir Jang pun sadar siapa pelakunya.

Sementara itu, Se Jin yang bersembunyi dibalik meja tersenyum.

Presdir Jang pura-pura mencari Se Jin, hingga akhirnya ia menemukan Se Jin dibalik meja.


Se Jin pun keluar dari kolong meja dan berlari menghindari ayahnya. Saat berlari, lututnya tak sengaja tergores kaca meja.

Presdir Jang kaget. Melihat putrinya kesakitan, Presdir Jang langsung mencari sesuatu di lacinya. Ia mengambil sapu tangan Yoon Ae dan berniat membersihkan luka Se Jin dengan saputangan itu tapi kemudian ia berpikir lagi dan menelpon seketarisnya, meminta tisu basah dengan alkohol.

"Apa itu? Apa saputangan itu lebih penting dari putrimu?" protes Se Jin.

Flashback end...


Na Yeon pun menjelaskan bahwa saputangan itu adalah saputangan yang dibuatkan ibunya untuknya.


Di kantor, Pimpinan Park ngamuk pada Presdir Jang lantaran berita di koran tentang konstruksi Baekdo yang harus dihentikan karena stigma jahat.

"Haruskah kutunjukkan seperti apa makhluk jahat itu! Berapa banyak saham yang turun?"

"20 persen." jawab Presdir Jang, membuat Pimpinan Park semakin marah.

"Siapkan sebuah event." perintah Pimpinan Park.

"Event?" tanya Presdir Jang bingung.

"Ini untuk meningkatkan citra kita. Pilih beberapa penerima beasiswa yang cerdas." jawab Pimpinan Park.

"Yang dari masyarakat kalangan bawah?" tanya Presdir Jang.


Anak laki-laki itu, Kang Tae Joon, menerima penghargaan dan hadiah karena berhasi memenangkan kompetisi matematika nasional. Hadiah dan penghargaan diserahkan langsung oleh Jung Tae Moon, ketua jurusan materima Korea.

*Nah gaes, ntar Tae Joon inilah yang menerima beasiswa dari Baekdo. Berawal dari sini lah, hubungan Na Yeon-Tae Joon rusak.


Usai menerima penghargaan dan hadiah, Tae Joon langsung mengayuh sepedanya menuju rumah. Tapi di tengah jalan, ia tak sengaja melihat payung Na Yeon di tempat pembuangan sampah.

Tae Joon pun mengambil payung itu dan kembali mengayuh sepedanya.


Tapi sampai di rumah, seorang ajumma bisik-bisik memanggilnya.

Tae Joon cuek dan langsung menuju pintu kedai, tapi ajumma itu menariknya ke pinggir kedai.

"Kita sudah tidak bertemu satu tahun empat belas hari! Tapi kau bahkan tidak mau melihatku." protes ajumma itu.

"Aku harus pergi. Bibi akan marah jika aku terlambat melakukan pengiriman." jawab Tae Joon dingin.

"Astaga, dia benar-benar sesuatu. Membuat anak-anak melakukan pengiriman." kesal si ajumma.

"Langsung saja." pinta Tae Joon.

"Jangan terlalu keras pada ibu. Bukan kau saja yang menderita, ibu juga!"

"Mengeluh lah pada suamimu, bukan aku!"

"Arraseo, arraseo." jawab Nyonya Oh Man Jung, ibu Tae Joon, lalu memberinya uang.


Nyonya Oh berkata, uang itu sebagai pengganti dirinya karena tidak bisa hadir di ulang tahun Tae Joon minggu depan.

Tae Joon marah, ia melemparkan uang itu ke jalan dan mengatakan dirinya bukan gelandangan.

Nyonya Oh langsung melotot. Ia mengambil uang itu dan memasukkannya ke saku jaket Tae Joon.

Ia mengancam akan datang ke sekolah Tae Joon jika Tae Joon menolak uang darinya.

"Coba saja kalau kau berani." jawab Tae Joon.

"Baiklah, aku tidak akan muncul lagi di hadapanmu. Aku harus pergi. Bibimu mungkin akan keluar. Dia akan merengek padaku jika melihatku. Sampai jumpa tahun depan!" ucap Nyonya Oh, lalu pergi.


Tae Joon mengeluarkan uang itu dari sakunya dan menatapnya kesal.

Tiba-tiba, sang bibi datang mencengkram tangannya dan menuduhnya sudah mencuri uangnya.

Tae Joon menyangkalnya. Tae Joon bilang, uang itu tidak ada hubungannya dengan sang bibi.

Mendengar itu, sang bibi marah dan langsung memukulinya.


Sang bibi lantas berusaha merebut uang itu.

Karena Tae Joon tidak mau menyerahkan uang itu, sang bibi memanggil pamannya.

Sang paman datang dan menyuruh Tae Joon mengembalikan uang itu.


Kesal, Tae Joon pun merobek uang itu dan melemparkannya ke jalan di hadapan paman dan bibinya.

Setelah itu, Tae Joon beranjak pergi dengan wajah kesal.


Tae Joon pergi ke gereja. Mendengar dentingan piano yang biasa dimainkan Na Yeon, Tae Joon pun langsung lari ke dalam.

Ia kecewa karena tidak menemukan Na Yeon di sana.

Si pendeta lantas mematikan tape nya. Ternyata dentingan piano itu berasal dari kaset yang didapatkan si pendeta sebelumnya dari Na Yeon.

"Apa kau mencari Na Yeon?" tanya si pendeta.

Tae Joon pun terdiam.


Malam pun tiba. Yoo Kyung yang tengah membersihkan riasannya bertanya pada Presdir Jang, seperti apa sosok ayah Na Yeon.

"Dia teman lamaku di kampung. Kami dibesarkan di kota yang sama dan kehilangan kontak saat aku kuliah di Seoul." jawab Presdir Jang gugup.

"Jadi teman lamamu meninggal dan Na Yeon dibesarkan sendirian oleh ibunya sampai ibunya meninggal karena kecelakaan baru-baru ini?"

"Aku merasa kasihan pada gadis itu. Dia baru duduk di kelas 12 tapi sudah kehilangan ayah dan ibunya."

"Bagaimana kecelakaan itu terjadi?"

"Sepertinya karena dia sedang terburu-buru."


Yoo Kyung lantas duduk di hadapan Presdir Jang dan bertanya alasan Presdir Jang membawa Na Yeon ke rumah mereka.

"Dia tidak punya kerabat sama sekali dan panti asuhan hendak membawanya jadi karena itulah aku mengajaknya kesini.

Selain itu, aku juga teringat pada Sejin kita."

"Aku benar-benar tidak masalah dia tinggal di sini."


Se Jin sudah tertidur lelap tapi ia terbangun lantaran mendengar suara tangis Na Yeon.

Ya, Na Yeon menangis melihat foto-foto dirinya bersama sang ibu.

Na Yeon pun minta maaf karena sudah membangunkan Se Jin.

Saat hendak menyimpan kembali foto-fotonya, Na Yeon tidak sengaja menjatuhkan jam tangannya hadiah dari Presdir Jang.


Se Jin sontak kaget melihat jam tangan itu. Na Yeon pun berkata, bahwa Presdir Jang lah yang memberikan itu untuknya.

Se Jin lantas mengambil jam tangan itu, lalu membuka lacinya dan membandingkan jam miliknya dengan milik Na Yeon.

Ia terkejut menyadari jam mereka sama.

"Kenapa ayah membelikanmu ini? Kenapa harus ada dua? Harusnya aku saja yang menerima hadiah ini." ucap Se Jin kesal.

Bersambung ke part 2..................

No comments:

Post a Comment