Thursday, November 1, 2018

The Promise Ep 1 Part 3

Sebelumnya...


Anak laki-laki itu  mengantarkan Nayeon pulang.

Nayeon berterima kasih sudah diantar. Nayeon bilang, berkat anak laki-laki itu dia tidak akan makan nasi dingin dan kecap selama seminggu.

Nayeon lantas memberikan payung kuningnya pada anak laki-laki itu.

Setelah memberikan payungnya, Nayeon langsung berlari menuju rumahnya.

Tapi baru menaiki beberapa tangga, ia berhenti melangkah dan kembali menoleh ke si anak laki-laki.

"Kau tahu payung itu jelek jadi tidak usah dikembalikan tapi jika kau tetap ingin mengembalikannya, datanglah hari minggu ke gereja. Aku akan bermain piano mengiringi paduan suara minggu ini." ucap Nayeon.

Anak laki-laki itu pun tersenyum menatap Nayeon.


Begitu masuk ke rumahnya, Nayeon minta sang ibu mengambilkannya handuk. Tapi karena sang ibu tak menjawab, ia pun pergi ke kamar ibunya dan heran tidak mendapati ibunya di kamar.

Nayeon lalu memeriksa kamar yang lain dan tidak juga menemukan ibunya.

"Jadi ibu belum kembali?" tanyanya heran.


Anak laki-laki itu membuka pintu sebuah kedai dan langsung dilempari segulung tisu oleh seorang ajumma.

"Kenapa kau repot-repot kembali? Kau tahu berapa banyak pengiriman yang dibatalkan gara-gara dirimu?  Jika kau meminta-minta dari kami, setidaknya kau bekerja. Jika kau tidak punya malu, setidaknya kau sadar. Kau tidak tahu malu atau bodoh? Tapi, ibumu tidak tahu malu. Tentu saja, kau juga sama. Apa lagi alasan dia membuang bayinya? Anak nakal. Kau tidak mau meminta maaf." maki si ajumma.

Anak laki-laki itu memungut tisu yang dilemparkan padanya di lantai dan meletakkannya di atas meja dengan wajah agak kesal.

"Apa kau tuli? Apa kau tidak mendengar aku sedang bicara?"

Si ajumma lantas melemparkan sebuah kaleng ke kepala anak laki-laki itu.


Lalu, seorang ahjussi keluar dari dalam.

"Ada apa ribut-ribut? Ada apa sekarang?" tanyanya.

"Aku bekerja sangat keras, tapi kau hanya tidur seharian!"

Si ahjumma lantas menyuruh anak laki-laki itu membersihkan kedai dengan kasar dan masuk ke dalam.


"Kau harus sadar diri jika ingin bertahan. Apa begitu sulit menyenangkan bibimu?"

"Paman, kirim aku ke panti asuhan."

"Lalu siapa yang akan mengantar pesanan? Hentikan omong kosongmu dan makan saja apa yang kami beri." jawab pamannya, lalu pergi.


Nayeon menunggu ibunya di halte. Tak lama kemudian, bis datang dan Nayeon heran karena tidak mendapati ibunya di dalam bis.


Yoo Kyung pulang ke rumah. Begitu masuk ke rumah, ia langsung disambut oleh suami dan putrinya.

Jang Kyung Wan, pria itu, dan juga putri mereka heran melihatnya pulang basah kuyup.

"Ibu memiliki payung di mobil."

"Hujannya sangat deras jadi payung tidak membantu." jawab Yoo Kyung.

"Se Jin-ah, pergilah ambil handuk." ucap Presdir Jang.


"Kau bilang, kau bertemu dengan temanmu. Kalian sudah bertemu?" tanya Presdir Jang.

"Kau tahu perempuan. Saat bertemu, tidak tahu kapan berakhir." jawab Yoo Kyung.

"Berakhir?" tanya Presdir Jang.

"Maksudku, obrolannya." jawab Yoo Kyung gugup.


Tak lama kemudian, Se Jin datang membawakan handuk. 

Presdir Jang langsung mengambil handuk itu dan mengelap kepala Yoo Kyung.

Presdir Jang lalu menyuruh Se Jin menyiapkan air hangat agar Yoo Kyung bisa mandi.

Presdir Jang yang sedang mengelap kepala Yoo Kyung pun dibuat kaget saat Yoo Kyung tiba-tiba memeluknya.

"Sayang, kau harus tua di pelukanku. Sakitlah dan matilah di pelukanku."

"Apa terjadi sesuatu?" tanya Presdir Jang.

Yoo Kyung diam saja dan semakin mengeratkan pelukannya.


Tim dokter berusaha keras menyelamatkan Yoon Ae.


Yoo Kyung melihat hasil tes DNA itu. Ia teringat saat mengambil hasil tes DNA itu dari tas Yoon Ae.


Nayeon masih menunggu ibunya di halte.


Yoo Kyung membakar hasil tes DNA.


Sementara tim dokter masih berusaha menyelamatkan nyawa Yoon Ae.


Dan Nayeon masih menunggu ibunya di halte.


Bersambung........

No comments:

Post a Comment