Wednesday, November 7, 2018

The Promise Ep 4 Part 2

Sebelumnya...


Tae Joon pergi memperbaiki payung Na Yeon, meski dibilang payungnya tidak akan bertahan lama jika diperbaiki, tapi Tae

Joon tak peduli dan tetap ingin payung itu diperbaiki.

Tak lama kemudian, payung itu selesai diperbaiki.

Tae Joon pun membuka payungnya. Senyumnya merekah.


Tae Joon lantas kembali mengayuh sepedanya.

Ia kembali ke warung paman dan bibinya dan terkejut melihat Presdir Jang yang sudah menunggunya.

"Apa yang membawa anda ke rumahku?"

"Aku datang karena ingin meminta bantuan." jawab Presdir Jang.


Sejin dan teman-temannya sedang asyik membaca komik sambil mendengarkan musik.

Tak lama kemudian, terdengar ketukan di pintu kamarnya tapi Se Jin tidak mendengar karena suara musiknya yang kelewat keras.

Akhirnya, pintu kamarnya pun dibuka dari luar dan Na Yeon masuk membawakan minuman serta camilan.

Melihat Na Yeon, Se Jin pun mematikan tape nya.

"Apa kau tidak tahu caranya mengetuk pintu?" tanya Se Jin.

"Aku sudah mengetuknya tapi kau tidak mendengar." jawab Na Yeon, lalu meletakkan camilan yang dibawanya di atas meja.


Na Yeon hendak pergi tapi Se Jin dan teman-temannya malah menghina Na Yeon.

Se Jin lalu memasukkan sesuatu ke dalam minuman yang hendak diminumnya.

Se Jin kemudian memanggil Na Yeon dan memarahinya.

Na Yeon pun mengecek minuman yang dibawanya, lalu menatap kesal Se Jin.

"Kenapa menatapku seperti itu? Kau mengira aku yang menaruh rambut disana?" tanya Se Jin.

"Aku yakin kau lebih tahu dariku." jawab Na Yeon.

"Jangan keras kepala dan bawakan aku yang baru!" perintah Se Jin.


Na Yeon pun menuruti perintah Se Jin meskipun kesal.

Tapi saat hendak membawa lagi camilan itu keluar, salah satu teman Se Jin malah menjegel Na Yeon hingga Na Yeon jatuh.

Se Jin pun menyuruh Na Yeon membereskan pecahan-pecahan kaca itu.

Tapi Na Yeon tidak mau dan berdiri, lalu membuka pintu.

"Cepat bersihkan sebelum aku menelpon ibuku!"

"Kau yang mengacau, jadi kau yang bersihkan." jawab Na Yeon.

Se Jin yang kesal, melempari Na Yeon dengan bantal.

"Kau tidak akan pernah bisa menang dariku! Satu langkah lagi, kau akan tahu apa yang terjadi!" ancam Se Jin.


Na Yeon yang sudah kesal sejak tadi pun tidak mampu lagi menahan dirinya.

Ia menampar Se Jin.

"Anak yatim piatu rendahan!" maki Se Jin.

"Kau benar. Aku yatim piatu sekarang tapi aku masih memiliki kebanggaan yang ibuku tinggalkan!" balas Na Yeon.


Se Jin lantas berusaha mendorong Na Yeon.

Mereka saling mendorong hingga Na Yeon jatuh.

Setelah itu, Se Jin dengan sengaja menginjak pecahan beling. Sontak Na Yeon kaget melihatnya.


Yoo Kyung memapah Se Jin masuk ke rumah.

Kaki Se Jin tampak dibalut perban.

Bibi menghampiri mereka. Yoo Kyung pun meminta bibi mengantarkan Se Jin ke kamar dan mencari Na Yeon.

"Dia di dapur, dia pasti kaget juga. Dia diam saja sejak tadi." jawab bibi.


Yoo Kyung pun ke dapur, menyusul Na Yeon.

Ia menatap tajam Na Yeon, lalu meminta Na Yeon mengambilkannya segelas air.

"Apa Se Jin baik-baik saja?"

"Bagaimana dia bisa baik-baik saja? Dia harus mendapatkan lima belas jahitan."

"Aku minta maaf. Aku yang salah." jawab Na Yeon.

Mendengar itu, Yoo Kyung kesal. Ia sedikit membanting gelasnya ke atas meja.

"Ada lagi yang mau dikatakan? Aku akan lebih berhati-hati mulai sekarang."

PLAAAK!! Yoo Kyung menampar Na Yeon.

"Membuat kaki seorang gadis seperti itu dan kau bilang akan berhati-hati dari sekarang?"

Na Yeon terus meminta maaf sambil menahan tangisnya dan berkata akan berhati-hati mulai sekarang.


Yoo Kyung pun kembali menamparnya.

"Lima belas jahitan! Dan kau cuma mengatakan maaf?"

"Aku minta maaf." jawab Na Yeon.

Yoo Kyung lagi-lagi menamparnya.

"Jika kau tahu dengan baik kenapa kau bertindak seperti itu?"

Na Yeon hanya menunduk. Tangisnya mulai keluar.

"Benar, itulah caramu menutupinya. Itulah peranmu di rumah ini. Apapun yang Se Jin katakan, apapun yang dia lakukan, kau tidak boleh marah. Tidak ada pengecualian!"


Setelah melabrak Na Yeon, Yoo Kyung pun pergi.

Na Yeon menangis sambil memegangi pipinya yang terasa sakit.


Se Jin sudah tidur. Presdir Jang terkejut melihat luka Se Jin dan meminta penjelasan pada Yoo Kyung bagaimana itu bisa terjadi.

"Se Jin bilang Na Yeon mendorongnya di depan teman-temannya."

"Itu tidak mungkin."

"Kau tidak tahu? Terkadang anak-anak bisa lebih kejam dan menipu dibanding orang dewasa! Putriku tidak bisa berjalan sekarang. Teman-teman Se Jin bilang bahwa Se Jin adalah korban dipukul."

"Cangkir pecah dan Se Jin berjalan di atasnya, setelah itu jadi begini dan kau bilang Na Yeon memukul Se Jin?"

"Pertanyaan macam apa itu? Kau mau bilang aku yang membuat semua ini? Atau kau pikir Se Jin bohong pada kita? Se Jin adalah gadis yang baik!" jawab Yoo Kyung lalu keluar dari kamar Se Jin.

*Se Jin emang bohong keleees, tapi si Yoo Kyung mah meski tahu Se Jin bohong dia gak akan peduli.


Presdir Jang menyusul Na Yeon ke dapur. Ia mengajak Na Yeon bicara.

"Kau memiliki waktu yang sulit, kan?" tanya Presdir Jang.

"Aku baik-baik saja, aku lebih khawatir keluarga paman akan terganggu karena aku." jawab Na Yeon.

"Aku membawamu kemari karena keinginanku sendiri tapi hatiku tidak nyaman melihatmu menderita disini. Apa yang terjadi pada Se Jin. Kau bisa katakan padaku dengan jujur."

"Itu bukan masalah besar. Aku hanya terlalu sensitif pada Se Jin. Aku minta maaf."

"Jangan berkata seperti itu. Aku yakin kau punya alasan."

Na Yeon pun meminta dikirim ke panti asuhan. Ia beralasan, tidak ingin Yoo Kyung atau Se Jin menderita karenanya.

Tapi Presdir Jang memintanya tetap tinggal. Ia mengaku tidak bisa membiarkan Na Yeon pergi dalam keadaan seperti ini.


Tak lama kemudian, Yoo Kyung muncul dan langsung menatap kesal keduanya.


Presdir Jang ke kamar. Yoo Kyung pun langsung menanyainya soal yang ia bicarakan dengan Na Yeon.

Presdir Jang beralasan, ia hanya berusaha menghibur Na Yeon.

"Aku tidak tahu apa yang dia katakan tapi jangan mempercayai semua perkataannya. Di depanmu dia pura-pura baik tapi di depanku dan Se Jin dia mengatakan apapun yang dia inginkan."

Presdir Jang pun berusaha membujuk Yoo Kyung agar menerima Na Yeon.

Tapi Yoo Kyung kekeuh menolak Na Yeon.

"Kau merasa buruk padanya karena dia putri dari cinta pertamamu. Kau ingin Na Yeon mengambil alih semuanya. Kau tidak memikirkan perasaan Se Jin? Meski dia tidak mengatakan apapun, dia pasti merasa buruk karena harus berbagi kasih sayang ayahnya."

"Aku tidak berpikir sejauh itu."

"Karena itu, kumohon." pinta Yoo Kyung.


Na Yeon pun pindah ke kamar bibi.  Bibi langsung mengomelinya dan berkata, harusnya Na Yeon berusaha mengambil hati Se Jin. "Maafkan aku, aku akan berusaha tidak mengganggumu."

"Ketika aku tidur, aku bisa mendengar suara jarum jatuh. Aku tidur dengan lampu mati jadi berpura-puralah kau tidak disini. Mengerti."

Sekarang bibi sudah tertidur pulas. Suara dengkurannya sangat keras terdengar.


Sementara Na Yeon masih terjaga, melihat saputangan milik sang ibu.

Saat hendak menyimpan kembali saputangan ibunya, ia melihat sesuatu di dalam tasnya.

Tak lama berselang, ia mengambil kotak pensil yang dilihatnya dan mengeluarkan gumpalan tisu dari sana.

Na Yeon pun membuka gumpalan tisu itu dan dia mengambil anting Yoo Kyung disana.


Na Yeon lantas teringat ketika ia berusaha membangunkan ibunya yang sudah tiada.

Saat itulah, ia menemukan anting Yoo Kyung di dalam genggaman sang ibu.


Di kamarnya, Yoo Kyung juga sedang melihat anting itu.

Bersambung ke part 3.........

No comments:

Post a Comment