Thursday, May 31, 2018

Ruby Ring ep 31 Part 1

Sebelumnya...


Roo Bi yang masih di kantor, heran karena In Soo tidak menjawab panggilannya.


Gyeong Min tiba-tiba datang, “Cheoje.”

“Hyeongbu.” Jawab Roo Bi.

“Kenapa kau belum pulang?” tanya Gyeong Min.

“Aku bekerja, aku mengikuti kontes proposal. Kau sendiri?”

“Ponselku tertinggal di ruanganku dan aku melihat lampu masih menyala disini. Belakangan ini, aku sering lupa. Kau sudah makan?”

“Geuromyeo.”

“Kau mau minum teh denganku? Aku tahu kau suka kopi, tapi ini sudah malam. Minumlah, ini teh dengan susu.”

Mereka lalu membahas Roo Na. Lalu tiba-tiba, ponsel Roo Bi berdering.


Suara ambulance meraung-raung dijalanan. In Soo kritis! Denyut nadinya melemah dan nafasnya tidak stabil.


Gyeong Min menemani Roo Bi ke rumah sakit! Dokter pun ingin bicara dengan wali In Soo.Roo Bi langsung pergi mengikuti dokter.


Gyeong Min menghubungi Roo Na, tapi tidak dijawab.

Roo Na sendiri tengah menikmati waktunya sambil mendengarkan musik. Volume nya yang keras membuat Roo Na tidak mendengar deringan ponselnya.


Gyeong Min pun akhirnya menghubungi Se Ra. Se Ra yang sedang olahraga, terkejut mendengar kabar tentang In Soo.


Se Ra pun langsung ke kamar Roo Na. Roo Na sendiri tidak bisa mendengar suara ketukan di pintu kamarnya. Karena itulah, Se Ra menerobos masuk ke kamar Roo Na dan langsung mematikan musik yang sedang didengar Roo Na.

“Ulke, Na In Soo PD ditusuk. Kondisinya kritis.” Ucap Se Ra.

Roo Na terkejut mendengarnya. “Dimana dia sekarang?” tanya Roo Na.


Gyeong Min dan Roo Bi menunggui In Soo yang sedang menjalani operasi. Roo Bi nyaris pingsan, tapi untunglah ada Gyeong Min yang memeganginya. Roo Bi kalut, ia takut terjadi sesuatu pada In Soo.

“Bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya?”ucap Roo Bi berkaca-kaca, lalu menyenderkan kepalanya ke dada Gyeong Min.


Gilja dan Chorim yang baru dikabari Roo Bi pun langsung menyusul Roo Bi ke rumah sakit.


Roo Na sendiri juga cemas, ia takut In Soo tidak selamat. Roo Na akhirnya menelpon Roo Bi.

“Eonni, In Soo-ssi, In Soo-ssi...” ucap Roo Bi sambil menangis.

“Tenanglah, kau harus tenang saat ini.” Jawab Roo Na.

“Na oetteokhe??” tanya Roo Bi.

“Menurutmu, dia meninggal?” tanya Roo Na.

Roo Na tak sanggup lagi menjawab.

Roo Bi : Marebwa!


Telepon terputus. Roo Na langsung terduduk lemas. Tangisnya pecah.

“Kita pacaran, kita saling berjanji, akan mati bersama di hari yang sama.”

“Maukah kau menikah denganku? Ayo menikah.”

Roo Bi menangis mengingat semua kata-kata In Soo.


Gyeong Min datang, membawakan kopi untuk Roo Bi. Roo Bi ingin tahu apa yang dikatakan polisi. Gyeong Min berkata, polisi sudah memeriksa CCTV dan tidak menemukan hal aneh tapi laptop dan USB In Soo hilang.

“Kau tahu penyebabnya?” tanya Gyeong Min.

“Entahlah.” Jawab Roo Bi.


Gilja dan Chorim datang. Tangis Roo Bi pun kembali pecah. 




Gyeong Min memberitahu Chorim, bahwa polisi masih menyelidik kasus In Soo dan si pelaku sangat teliti sampai tidak meninggalkan jejak.

Roo Bi takut In Soo tak selamat. Gilja pun berusaha keras menenangkan Roo Bi.


In Soo masih dioperasi. Pendarahannya tidak berhenti dan tekanan darahnya menurun. Dokter pun melakukan CPR.


Roo Na menyesalkan tindakan In Soo yang tidak mau mendengarnya.

“Aku sudah bilang padamu. Aku menyuruhmu menyerah. Lupakan balas dendammu, menikahlah dengan Roo Bi dan berbahagialah. Apa kau bertahan hanya untuk mati seperti ini? Tidak peduli seberapa keras kau mencoba, kau tidak akan bisa mengalahkanku.” Ucap Roo Na.


Roo Na lalu mengingat semua kenangannya dengan In Soo.

“Aku sudah bilang, jangan percaya pada cinta. Kenapa kau begitu bodoh? Kenapa kau membuatku menderita seperti ini?” ucap Roo Na lagi.


Roo Na kemudian mengaku bahwa ia mencintai In Soo.


Dan sekarang, Roo Na berada di ruangan gelap itu lagi.

“Benar, aku mencintainya. Pada awalnya, dia hanyalah seseorang yang kubutuhkan. Lalu aku jatuh cinta tanpa menyadarinya.” Ucap Roo Na.

Tapi kemudian, Roo Na meralat ucapannya.

“Tidak, aku tidak mencintainya. Yang aku cintai hanyalah bakat dan latar belakang pendidikannya. Cinta itu tidak ada. Aku tidak peduli dia hidup atau mati. Yang aku cintai adalah hidupku, masa depanku,dan mimpiku. Apakah itu salah?” ucap Roo Na.


In Soo akhirnya dibawa keluar dari ruang operasi. Dokter menjelaskan, bahwa mereka harus menunggu dan melihat. Dokter bilang, In Soo terkena serangan jantung tapi operasinya berjalan dengan baik, namun In Soo bisa saja terkena serangan jantung lagi.


Roo Bi pun nyaris pingsan. Chorim dan Gilja langsung memeganginya.

“Dokter bilang operasinya berjalan baik. Jangan cemas. Kau baru saja bangun dari koma.” Ucap Chorim.

“Itu benar. In Soo orang yang baik.” Jawab Gilja.

“Eomma, aku merasa bersalah padanya. Apa yang harus kulakukan?” isak Roo Bi.


Sekarang, Roo Bi berjalan sendirian di lantai rumah sakit. Ia lalu duduk di ruang tunggu dan melihat foto-foto In Soo dengan Roo Na.

“Kau bilang, kau akan melindungiku. Kau bilang, kau akan berada di sisiku sampai akhir. Kau tidak boleh melakukan ini padaku. In Soo-ssi, ini tidak adil.” Ucap Roo Bi.


Tuan Bae dan nenek terkejut mendengar kabar soal In Soo dari Gyeong Min. Nenek ingat In Soo adalah pria yang sempat dijodohkannya dengan Se Ra.

Nyonya Park menanyakan Roo Na. Gyeong Min bilang, Roo Na sudah pergi pagi-pagi sekali.

“Kudengar, adik Roo Bi tunangan In Soo. Roo Bi pasti sangat cemas. Bersikap baiklah padanya.” Ucap nenek pada Gyeong Min.


Roo Na sendiri menemui Yeonho. Yeonho memberikan laptop dan USB In Soo pada Roo Na. Roo Na marah karena orang suruhan Yeonho melukai In Soo. Yeonho membela diri, ia berkata bahwa orang suruhannya tidak punya pilihan lain selain menusuk In Soo.


Roo Na lalu memberikan Yeonho sejumlah uang. Yeonho pun kesal Roo Na membayarnya tidak sesuai dengan perjanjian mereka. Roo Na bilang, itu karena Yeonho gagal menjalankan tugas darinya. Roo Na lalu menyuruh Yeonho turun dari mobilnya. Setelah Yeonho turun, mobil Roo Na langsung melesat pergi.


Yeonho pun kesal bukan main.

No comments:

Post a Comment