Thursday, May 31, 2018

Ruby Ring Ep 36

Sebelumnya...


Eun Ji memberi ucapan selamat untuk Roo Bi yang akan segera menikah dengan In Soo. Roo Na langsung tertawa mendengarnya, lalu ia berkata bahwa Eun Ji tak berhak mengucapkan selamat pada Roo Bi karena Yeonho sudah menyusahkan In Soo.

Eun Ji tersinggung mendengarnya. Ia langsung bilang bahwa Roo Na lah yang membuat Yeonho seperti itu.


Sontak, Roo Na kaget dengan kata-kata Eun Ji. Eun Ji yang kesal, beranjak pergi.

“Eun Ji-ya!” panggil Roo Na seraya menyusul Eun Ji keluar.

“Apa maksudmu seseorang menyuruh pacarmu melakukan sesuatu. Apa dia mengatakan sesuatu padamu?” tanya Roo Na.

“Apa yang kau bicarakan?” jawab Eun Ji, entah dia tahu atau pura-pura tidak tahu.

“Kau sebaiknya menonton saja.” Ucap Roo Na.

“Untuk apa? Karena kau selebritis sekaraang dan status sosialmu tinggi, jadi aku harus hati-hati?” jawab Eun Ji.

“Jaga mulutmu.” Ucap Roo Na, lalu beranjak pergi.

“Si perebut itu...” dengus Eun Ji kesal.


Roo Na kembali ke ruang ganti. Begitu Roo Na kembali, Roo Bi langsung meminta cincin pertunangannya. Roo Bi berkata, Gyeong Min yang memberitahunya kalau cincinnya ada di Roo Na.

“Kau bertemu Gyeong Min?” tanya Roo Na.

“Di lorong.” Jawab Roo Bi.

“Mianhae, aku lupa membawa cincinmu. Akan kukembalikan besok.” Ucap Roo Na.

Kemudian, ponsel Roo Na berdering. Telepon dari Produser Oh yang mengabarkan bahwa mereka terpaksa mulai syuting besok. Roo Na terkejut.


Nyonya Park heran Tuan Bae pulang lebih awal. Tuan Bae berkata, bahwa ia sengaja pulang lebih awal karena merindukan Nyonya Park. Nyonya Park langsung tertawa geli. Lalu nenek muncul dan bertanya, apa Tuan Bae tidak merindukannya.

“Eomma, kau dirumah?” jawab Tuan Bae.

“Bagaimana bisa kalian masih romantis di usia kalian sekarang?” ucap nenek, menggoda keduanya.

“Eomma, sekarang aku membawakanmu banyak hadiah.” Jawab Tuan Bae.


Nenek langsung antusias mendengar kata ‘hadiah’. Tuan Bae lalu mengeluarkan isi goodie bag yang dibawanya.

“Apa semua ini?” tanya Nyonya Park sambil melihat beberapa perhiasan dan aksesoris. Ya, hadiah yang dibawa Tuan Bae adalah perhiasan dan aksesoris.

“Semua ini untuk kalian. Presdir Lee yang bekerja sama denganku di Chuncheon, berbisnis perhiasan. Dia bilang, ada banyak sisa sampel jadi aku membawanya untuk kalian.” Jawab Tuan Bae.

Lalu, Geum Hee keluar dan mereka pun juga memberikan Geum Hee perhiasan itu. Sontak, Geum Hee senang. Ia langsung mengambil beberapa perhiasan dan membawa ke kamarnya.

Roo Na pulang. Nyonya Park senang karena Roo Na juga pulang lebih awal. Roo Na kemudian berkata, bahwa ia ingin mengatakan sesuatu.


Di kamarnya, Geum Hee sedang mencoba perhiasan itu sambil mematut dirinya di kaca.

Lalu tiba2, dia mendengar suara Tuan Bae yang marah.


Ya, Tuan Bae marah! Dia bahkan menyebut Roo Na egois karena membuat keputusan sendiri tanpa memberitahu mereka.

“Aku tidak membuat keputusan itu sendiri. Gyeong Min sudah menyetujuinya. Kumohon, abonim. Ini adalah momen penting untuk diriku dan juga perusahaan. Program ini akan menentukan apakah kita dapat naik ke level berikutnya atau tidak.” Jawab Roo Na.

“Aku tidak peduli!” ucap Tuan Bae.

“Tapi aku peduli. Memang apa salahnya jika mereka meliput keluarga kita? Mereka bisa melihat betapa sederhana dan hematnya ibu dan nenek. Ini bisa membentuk citra kita di publik.” Jawab Roo Na.

“Kami melakukan itu bukan untuk pamer! Tidak ada alasan bagi kami untuk tampil di TV. Karirmu ya karirmu! Dan keluarga kami adalah keluarga kami!” ucap nenek.

“Apa kau malu karena aku yang menjadi menantumu?” tanya Roo Na.

“Roo Bi-ya!” tegur Nyonya Park.

“Aku ingin melakukannya dengan baik. Aku juga bagian keluarga ini. Tidak bisakah keluarga ini membantuku? Ini hanya sebentar. Mereka hanya akan menyorot kita makan dan mengajukan beberapa pertanyaan.” Ucap Roo Na.


“Roo Bi-ya, ayah mertuamu dan nenek mengatakan tidak. Aku mengerti apa maksudmuu tapi kau tidak bisa melakukan sesuatu yang tidak mereka setujui.” Jawab Nyonya Park.

“Aku bagian dari keluarga ini. Jika Se Ra yang meminta, kau pasti akan membantunya dengan senang hati.” Ucap Roo Na.

“Roo Bi-ya!” tegur Nyonya Park.

“Aku akan tetap melakukannya meski tanpa persetujuan kalian. Besok, kru film akan datang.” Ucap Roo Na.


Tuan Bae pun syok. Tepat saat itu, Gyeong Min dan Se Ra pulang. Dan... PLAAAK! Tuan Bae menampar Gyeong Min.

Sontak, Se Ra dan Gyeong Min yang tidak tahu apa-apa syok. Nenek pun menyuruh Gyeong Min dan Se Ra ke kamarnya.

Sementara, Roo Bi melenggang menuju kamarnya.


Geum Hee keluar dan memberitahu Se Ra apa yang terjadi.


Se Ra menyusul Roo Na ke kamar. Ia marah.

“Memfilm-kan keluarga kami. Siapa kau sampai berani memutuskan hal itu! Aku belum pernah melihat ayahku marah seperti itu. Orang tuaku belum pernah memukul Gyeong Min sepanjang hidupnya. Apa kau tahu, bagaimana syok nya kami melihat dia ditampar?”

Tapi Roo Na malah menyuruh Se Ra keluar dari kamarnya. Se Ra tambah syok.

“Apa hebatnya keluarga ini? Jika kita terkenal, perusahaan bisa melakukan penjualan yang lebih tinggi. Apa buruknya? Bisnis membayar untuk mengiklankan diri mereka sendiri. Publisitas akan lebih baik untuk keluarga ini.” Ucap Roo Na.

“Setiap keluarga memiliki aturan masing-masing. Keluarga kami membenci sorotan. Kami membantu orang lain bukan untuk publisitas. Apa kau tidak tahu, 5% gaji kami, kami sisihkan untuk dana beasiswa? Pernahkah kami mengatakan itu pada pers?” jawab Se Ra.

“Itu hanya untuk mendapatkan keringanan pajak.” Ucap Roo Na.

Se Ra pun tambah syok.


Di kamar, nenek memberitahu Gyeong Min apa yang terjadi. Gyeong Min pun meminta maaf atas kelakuan istrinya.

“Kau tahu kan keluarga kita membenci sorotan. Kita memiliki permintaan wawancara selama bertahun-tahun, tapi pernahkah ayahmu mengatakan iya? Apa bagusnya jika kita menjadi konsumsi publik? Jadi jangan marah pada ayahmu.” Ucap nenek.


“Mereka bilang apa? Mereka menyalahkanku, kan?” tanya Roo Na setelah Gyeong Min kembali ke kamar.

“Haruskah kau pergi sejauh ini?” tanya Gyeong Min.

“Aku tidak melakukan kesalahan. Kenapa mereka tidak mau jadi terkenal? Apa yang mereka cemaskan? Apa mereka takut, aku akan mencuri uang mereka jika aku populer?” ucap Roo Na.

“Roo Bi-ya!”

“Bujuk lah mereka. Jika aku melakukan ini, semua orang di Korea akan mengetahui siapa diriku. Ini adalah kesempatan yang baik. Tidak ada yang tidak bisa kulakukan. Aku bahkan bisa masuk ke dalam dunia politik. Itu bisa membantumu dan perusahaan. Kau bahkan bisa menjadi legislator atau presiden. Aku hanya mencoba yang terbaik untuk mewujudkan mimpiku.  Tapi mereka menghalangi jalanku. ” Ucap Roo Na.

"Mimpi egois hanyalah keserakahan. Kau tidak tahu? Kau berpikir, dengan melakukan ini, akan membuatmu semakin dekat dengan mimpimu? Kau salah. Yang penting adalah memenangkan hati mereka. Caramu mengejar mimpi adalah dengan mengasingkan orang lain dan menginjak-nginjak mereka. Kenapa kau tidak percaya bahwa kejujurann akan memenangkan hati seseorang?" jawab Gyeong Min.

Gyeong Min lalu menyuruh Roo Na minta maaf pada orang tuanya.

Tapi Roo Na kekeuh dengan pendiriannya. Ia bahkan menyuruh Gyeong Min membujuk Tuan Bae dan Nyonya Park.

Gyeong Min kecewa dan langsung pergi meninggalkan Roo Na.


Gyeong Min minta maaf pada orang tuanya. Sang ayah pun berkata, bahwa Roo Bi bukanlah gadis yang sama seperti gadis yang mereka kenal dulu.


Lalu, Roo Na datang dan meminta maaf pada Tuan Bae. Roo Na berjanji, akan membatalkan semuanya.

Tuan Bae yang sudah tidak punya tenaga lagi untuk berdebat pun menyuruh Gyeong Min dan Roo Na kembali ke kamar.


Di depan kamar mereka, Roo Na meminta maaf pada Gyeong Min. Ia berusaha menjelaskan, tapi Gyeong Min yang terlanjur kecewa tidak mau mendengar penjelasan Roo Na.


Chorim masuk ke kamar Gilja dan melihat Gilja sedang menghitung simpanan mereka. Chorim mengerti Gilja mencemaskan biaya pernikahan Roo Bi.

“Tapi aku bahagia Roo Na akan menikah. Dia sudah cukup menderita.” Ucap Gilja.

Gilja pun menyesal karena sudah terlalu keras pada Roo Na. Gilja berkata, seandainya dia tahu Roo Na akan semanis itu, dia tidak akan terlalu keras pada Roo Na.

Chorim bersyukur kecelakaan itu sudah mengubah Roo Na menjadi manusia baik.

“Apa kau sudah menemukan tempat baru untuk Roo Na?” tanya Chorim.

“Roo Na bilang, dia akan pindah ke studio In Soo. Setelah mereka punya anak, mereka akan pindah ke tempat yang lebih besar.” Jawab Gilja.

“Itu menyedihkan. Roo Bi tinggal di rumah mewah, sedangkan Roo Na tinggal di kotak sepatu.” Ucap Chorim.

“Meskipun tinggal di kotak sepatu, kebahagiaan mereka yang terpenting.” Jawab Gilja.


Lalu, Gilja dan Roo Bi pergi berbelanja kebutuhan pernikahan.


Soyeong sedang memijit kaki Chorim. Soyeong pun minta Chorim memijit kakinya juga, tapi Chorim menolak.Soyeong langsung cemberut.


Kemudian, Gilja dan Roo Bi datang. Dan Chorim langsung menanyakan barang-barang yang mereka beli. Gilja berkata, barang2 itu akan langsung diantarkan ke rumah.

“Chef No, apa kita masih memiliki ayam!” tanya Gilja.

“Kau belum makan?” tanya Dongpal sembari keluar dari dapur.

“Aku mengajaknya makan tapi dia lebih tertarik makan disini.” Jawab Roo Bi.

“Kau tidak bosan makan ayam terus? Kau tidak pernah makan diluar.” Ucap Chorim.


“Aku menyukai ayam, oke?” jawab Gilja. Lalu mereka semua tertawa dan In Soo pun datang.

“Calon pengantin selalu saja terlihat lebih tampan.” Puji Dongpal.

“Dia memang tampan. Tidak seperti orang yang kukenal.” Jawab Chorim.

“Maksudmu aku?” tanya Dongpal.

“Aku tidak mengatakan apapun.” Jawab Chorim.

“Kau tidak sibuk belakangan ini?” tanya Gilja.

“Tidak, tapi hatiku selalu berpacu. Aku tidak sabar menunggu pernikahan. Aku takut Roo Na akan berubah pikiran lagi.” Jawab In Soo.

“Kau harus berhati2, Na PD. Jika kau tidak bersikap baik denganku, aku akan menyuruh Roo Na menikah dengan orang lain.” Ucap Chorim.


Setelah itu, In Soo dan Roo Bi berjalan-jalan di taman. Mereka bergandengan tangan dan In Soo meminta maaf karena tidak bisa membelikan sebuah rumah untuk Roo Bi.

“Jangan menyesal. Siapa yang peduli dimana kita tinggal.” Jawab Roo Bi.


Roo Bi kemudian bertanya, apa yang In Soo sukai darinya. In Soo berkata, tidak butuh alasan baginya menyukai orang yang baik seperti Roo Bi.

“Kau pergi ke Selatan untuk syuting. Saat itu di musim dingin. Gigiku gemeletuk menahan dingin. Aku terlalu sibuk bekerja, tapi kemudian kau memberiku sepasang pantyhose. Kau bilang, pantyhose memang untuk wanita tapi itu bisa menghangatkan tubuhku."

"Jadi kau jatuh cinta padaku karena pantyhose?"

"Pria macam apa yang tidak akan jatuh hati pada wanita yang baik? Langit di musim dingin dipenuhi bintang, dan di kamera kau menatapku balik dengan pipi kemerahan seperti apel yang sudah matang. Pada momen itu, kau menjadi gadis tercantik di dunia. Tapi aku sudah melupakan Jeong Roo Na yang dulu. Aku jatuh cinta pada Jeong Roo Na yang sekarang. Bukan karena wajah Jeong Roo Na yang terlihat di kamera.” Ucap In Soo.

“Mereka bilang, aku orang yang jahat. Aku tidak ingin percaya tapi seseorang yang kukenal mengatakan seperti itu.” Jawab Roo Bi.

“Kau tidak seperti itu lagi. Kau lebih hangat, ramah dan perhatian dari siapapun yang kukenal.” Ucap In Soo.


In Soo lalu memeluk Roo Bi. Roo Bi terlihat sangat bahagia.

“Jeong Roo Bi, jika memorimu kembali, akankah kau memaafkanku? Tolong maafkan aku.” Kata In Soo dalam hati.


Keesokan harinya, Roo Bi menemui Gyeong Min di kantor. Tapi saat melihat Gyeong Min, ia lagi-lagi mendapat penglihatan soal Gyeong Min. Roo Bi pun terdiam.

“Apa yang kau pikirkan?” tanya Gyeong Min.

“Bau kopinya sangat enak.” Jawab Roo Bi.

Gyeong Min pun langsung menyajikan kopi untuk Roo Bi.

“Persiapan pernikahanmu berjalan baik?” tanya Gyeong Min.

Roo Bi mengangguk.

“Ibumu pasti sangat sibuk sekarang.” Ucap Gyeong Min.


Roo Bi pun menyeruput kopinya sambil menikmati aroma kopinya.

“Aku benar2 menyukai wangi kopinya.” Ucap Roo Bi.

“Sudah kubilang padamu, kan? Kalau kau datang ke sini, aku akan menjadi barista pribadimu.” Jawab Gyeong Min.


Roo Bi lalu memberikan undangan pernikahannya. Mereka mengobrol sebentar, lalu tanpa sengaja, Gyeong Min melihat Roo Bi tidak memakai cincin pertunangan.

“Eonni belum mengembalikannya, dia bilang dia lupa.” Jawab Roo Bi.

“Ini tidak benar, cincin itu sangat berarti.” Ucap Gyeong Min.

“Terima kasih atas kopinya.” Jawab Roo Bi.

“Apa kau bisa makan malam denganku besok?” tanya Gyeong Min.

“Wae?” tanya Roo Bi.

“Apa maksudnya wae? Jika kakak iparmu yang meminta, kau seharusnya mengatakan iya.” Jawab Gyeong Min.


Lalu, Roo Bi beranjak pergi. Gyeong Min melihat syal Roo Bi yang tertinggal di meja, ia mau mengembalikannya tapi Roo Bi keburu pergi.


Di lorong, Roo Bi bertemu Roo Na. Roo Na marah saat Roo Bi bilang, sudah memberikan undangan pernikahannya pada Gyeong Min.


Gyeong Min menyusul Roo Bi keluar dan melihat Roo Bi berdebat dengan Roo Na.

“Aku tidak bisa menghubungimu.” Ucap Roo Bi.

“Maka kau harusnya menunggu.” Jawab Roo Na.

“Apa salahnya jika aku menemui Gyeong Min? Apa ada alasan kenapa aku tidak boleh menemuinya?” tanya Roo Bi.


Roo Na tidak bisa menjawab. Lalu, Roo Bi meminta Roo Na mengembalikan cincin pertunangannya. Setelah itu, Roo Bi beranjak pergi dan Roo Na membuang cincin Roo Bi ke tempat sampah. Tanpa ia sadari, Gyeong Min melihatnya membuang cincin itu.


Setelah Roo Na pergi, Gyeong Min mengambil cincin itu. Ia heran, kenapa Roo Na membuang cincin itu.


Sekarang, Roo Na sudah berada di kamarnya. Ia sedang berbicara dengan Direktur Kim di telepon.


Gyeong Min kemudian pulang. Selesai bicara dengan Direktur Kim, Roo Na langsung memberitahu Gyeong Min kalau Direktur Kim mengajak mereka makan malam bersama besok. Roo Na juga bilang, ada Majelis Min Jongcheol juga di sana.

“Apa bagusnya makan malam dengan mereka? Aku ada janji makan malam besok.” Ucap Gyeong Min.

Roo Na terus membujuk Gyeong Min. Ia bahkan protes karena Gyeong Min tidak punya ambisi. Gyeong Min sontak kaget dengan kata-kata Roo Na.

Kesal karena Gyeong Min terus menolaknya, Roo Na pun pergi ke kamar mandi.


Gyeong Min menatap cincin pertunangan Roo Bi dan In Soo. Ia tidak mengerti apa yang terjadi pada Roo Bi nya.


Keesokan harinya, Se Ra memanggil Roo Bi ke ruangannya. Begitu Roo Bi datang, Se Ra langsung memberi Roo Bi hadiah pernikahan.

Roo Bi terkejut Se Ra memberinya hadiah gaun pengantin. Se Ra berkata, dia sendiri yang mendesain gaun itu saat dirinya berada di luar negeri.

Se Ra juga mengaku, bahwa ia tidak tahu bagaimana perasaan Roo Na saat mendapatkan hadiah itu dari nya tapi karena Roo Na juga bagian dari keluarganya, jadi ia pikir tak masalah jika ia memberi gaun pengantin sebagai hadiah.

“Sebenarnya aku ingin menjadi desainer terkenal, tapi ayahku membuatku terperangkap disini. Kau tahu, profesorku bahkan memuji desain gaunku ini.” Ucap Se Ra.

“Aku menyukainya, In Soo juga pasti akan menyukainya.” Jawab Roo Na.


Roo Na masuk ke ruang ganti dan mendapati Roo Bi sedang mematut diri di kaca dengan gaun pengantin itu.

“Eonni, bukankah ini cantik? Direktur Bae Se Ra yang memberikannya sebagai hadiah.” Ucap Roo Bi.

“Direktur Bae Se Ra?” tanya Roo Na kaget.

No comments:

Post a Comment