Thursday, November 1, 2018

The Princess Man Ep 11


Se Ryung menemui Seung Yoo di sel. Seung Yoo berdiri, kemudian mendekati Se Ryung dengan wajah geram. Se Ryung memejamkan matanya, menyiapkan diri menerima amukan Seung Yoo. Begitu Se Ryung membuka matanya, Seung Yoo langsung mencekiknya. Se Ryung tidak melawan. Ia hanya berpegangan pada jeruji besi.
“Siapa kau sebenarnya? Apa kau benar2 putri Sooyang?!” tanya Seung Yoo marah.

Se Ryung diam saja. Ia tatap Seung Yoo dengan penuh rasa bersalah. Penjaga lalu datang dan melepaskan cekikan itu. Jae Beon datang dan berkata, cukup! Penjaga pun pergi. Jae Beon menatap tajam Seung Yoo. Se Ryung berusaha mengatur napasnya. Ia lalu menatap Seung Yoo.
“Beraninya kau muncul di hadapanku! Aku akan membunuhmu dan ayahmu dengan tanganku sendiri. Akan kucincang kalian!” teriak Seung Yoo.
“Namaku…” ucap Se Ryung setelah cukup lama menatap Seung Yoo, “… Lee Se Ryung. Kau harus tetap hidup untuk membunuhku. Aku akan menunggu hari, dimana aku akan mati di tanganmu.”
Setelah mengucapkan itu, Se Ryung pergi. Seung Yoo lalu teringat kata2 ayahnya.
“Karena wanita itu…. hidupmu dalam bahaya. Apakah kau siap menanggungnya?” tanya sang ayah.
Seung Yoo lalu berteriak. Ia menyesali apa yang sudah terjadi.
Se Ryung jalan keluar dengan rasa sesak di dadanya. Ia mau jatuh, tapi Myun menahan lengannya. Tampak kecemasan di wajah Myun. Se Ryung melepaskan dirinya dari Myun, kemudian jalan pergi.
Flashback
Seung Yoo mencekik Se Ryung. Dengan kemarahan yg amat sangat, Seung Yoo tanya siapa Se Ryung sebenarnya? Apa Se Ryung benar2 putri Sooyang. Seung Yoo lalu berkata akan membunuh Se Ryung dan Sooyang dengan tangannya sendiri.
Flashback end
Air mata Se Ryung pun jatuh teringat hal itu. Tangannya lalu memegang tembok yang rendah. Se Ryung kemudian menghapus air matanya. Tiba2, seseorang memegang tangannya. Se Ryung kaget dan menoleh. Orang itu Myun. Se Ryung berusaha melepaskan pegangan Myun, tapi Myun tak mau melepas pegangannya.
“Apa yang kau lakukan?!” bentak Se Ryung.
“Aku akan mengantarmu.” Jawab Myun.
Myun menarik Se Ryung. Se Ryung menghempaskan tangan Myun.
“Jangan ikut campur urusanku!” ucap Se Ryung.
“Aku tidak bisa membiarkan wanita yang akan kunikahi pulang sendirian malam2 begini.” Jawab Myun.

“Orang sepertimu yang tidak tahu malu yang sudah mengkhianati temannya sendiri, bukanlah orang yang kuharap menemaniku, meski hanya sebentar.” Ucap Se Ryung.
Myun kaget. Ia kemudian melihat goresan luka di leher Se Ryung. Se Ryung beranjak pergi. Yeo Ri menyusul Se Ryung. Myun menatap kepergian Se Ryung dengan wajah terluka.
Se Ryung tiba di rumahnya, tapi ia tak langsung masuk. Yeo Ri mengajaknya masuk. Se Ryung bilang rumahnya terasa asing dan menakutkan buatnya.
Pangeran Sooyang dan tanya darimana Se Ryung malam2 begini. Yeo Ri menundukkan kepalanya, memberi hormat tapi Se Ryung tidak. Yeo Ri berbohong dengan mengatakan kalau mereka jalan2 karena Se Ryung terus2an murung. Tapi Se Ryung berkata terus terang kalau dia habis menemui Seung Yoo.
“Kau benar2 terus terang pada ayahmu. Kau menyelamatkan hidupnya dengan mengarahkan pedang ke lehermu. Kau bilang jika aku menyelamatkannya, kau akan menuruti perkataanku. Apa kau sudah melupakan hal itu?” jawab Sooyang.
“Aku tidak lupa.” Jawab Se Ryung.
“Aku sudah menetapkan hari pernikahanmu dengan Petugas Shin. Aku mau hari itu menjadi hari yang paling membahagiakan. Jadi kendalikan perasaanmu.” Ucap Sooyang lalu jalan masuk.
Se Ryung kaget, tapi ia diam saja dan jalan masuk.
Myun muncul dari balik pohon. Ia kaget setelah mendengar percakapan Se Ryung dan Sooyang.
Myun minum2 sendirian. Ia ingat kata2 Sooyang ttg Se Ryung yg mengancam bunuh diri demi menyelamatkan Seung Yoo. Ia juga teringat luka di leher Se Ryung. Ia emosi.
Se Ryung duduk dan memegangi lukanya. Yeo Ri datang, memberitahu kalau besok Seung Yoo akan dibawa ke pengasingan. Se Ryung diam saja dan memandangi bulan di langit.
Bulan yg sama juga dipandangi Seung Yoo dari balik jeruji besi.
Myun ke penjara dan menemui Seung Yoo.
“Apa kau benar2… mau membunuhnya? Bukankah dia wanita yang kau cintai?” tanya Myun.
Seung Yoo tidak menjawab, dan balik bertanya, “Kau sudah tahu dia putri Sooyang kan?”
“Jika kukatakan wanita itu, demi menyelamatkanmu, sampai mempertaruhkan nyawanya, apa kau percaya?” tanya Myun.
“Dia tidak ada lagi hubungannya denganku.” Jawab Seung Yoo.
“Benarkah?” tanya Myun, lalu beranjak pergi.
“Shin Myun.” Seung Yoo memanggil Myun.
Myun berbalik dan menatap Seung Yoo.
“Tolong cari kakak iparku dan Ah Kang. Sebagai balasannya, kau boleh mengambil nyawaku sekarang.”
Myun lalu ingat perkataan Myung Hoe kalau mereka tak akan membiarkan Seung Yoo hidup.
“Bagaimana pun juga kau tetap akan mati.” Ucap Myun dingin.
“Tolonglah. Jika mereka masih hidup, bisa kah kau membantu mereka melarikan diri?” pinta Seung Yoo.
“Kenapa aku harus membantu keluarga pengkhianat?” tanya Myun.
“Kau jelas2 tahu ayahku tidak bersalah.” Jawab Seung Yoo.

“Jika ayahmu mencelakakan Pangeran Sooyang, maka akulah yang berada di dalam sana, dan kau diluar sini. Jadi salahkan saja takdirmu.” Ucap Myun.
“Takdir? Menggunakan takdir sbg alasan atas semua darah yang sudah mengotori tanganmu?” jawab Seung Yoo.
Myun diam saja, lalu jalan pergi.
“Apa yang akan kau lakukan pada Ah Kang dan kakak iparku? Jawab aku sebelum pergi!” teriak Seung Yoo.
“Selamat tinggal, Kim Seung Yoo.” ucap Myun, kemudian pergi.
“Shin Myun!” teriak Seung Yoo.
Sooyang memuji puisi Pangeran Anpyeong sbg karya seni terbaik. Myung Hoe yg duduk di depan Sooyang berkata kalau Sooyang tidak akan bisa lagi melihat karya Anpyeong di masa mendatang. Mae Hyang lalu datang, memberitahu kalau seniman terbaik di ibukota sudah datang. Sooyang kemudian memberikan puisi Anpyeong pada Mae Hyang.

Mae Hyang menemui seniman itu. Ia memberikan puisi Anpyeong, juga uang dan surat pada seniman itu. Seniman itu pun mulai menulis, memalsukan tulisan tangan Anpyeong.
Paginya, Anpyeong diantar menuju ke pengasingan. Tiba2, perjalanan mereka terhenti karena dihadang oleh Geum Sung dan Putri. Kepala Pengawal melarang mereka mendekat. Geum Sung marah. Kepala Pengawal akhirnya mengizinkan keduanya mendekati Anpyeong.
“Tuan Puteri.” Ucap Anpyeong.

“Kudengar perjalanan menuju pengasingan sangat panjang.” Jawab Putri sedih.
“Bukankah itu lebih baik daripada dihukum mati? Aku minta maaf karena tidak bisa lagi melindungi anda dan Yang Mulia sampai akhir.” Ucap Anpyeong.
“Jaga diri paman baik2.” Jawab Putri.
“Hyungnim, bertahanlah. Adikmu, Geum Sung, berjanji akan membersihkan namamu.” Ucap Geum Sung.
“Geum Sung, sekarang kau yang harus mendukung Yang Mulia. Aku bagaimana pun caranya akan kembali untuk menghukum Pangeran Sooyang.” Jawab Anpyeong.
Lalu, Kepala Pengawal datang mengingatkan kalau mereka harus segera berangkat. Putri Kyung Hee menangis.
Disaat yg sama, Seung Yoo bersama tahanan lain juga diarah menuju pengasingan. Jong dan Profesor Lee Gae ada diantara masyarakat yg menonton. Seung Yoo keluar bersama para tahanan. Jong dan Profesor Lee langsung teriak memanggil Seung Yoo.

“Kumohon, jaga dirimu.” Ucap Profesor.

Seung Yoo terus jalan. Ia tak melihat Se Ryung dan Yeo Ri yg ada di kerumunan org2. Se Ryung menangis melihat Seung Yoo. Yeo Ri mencemaskan Se Ryung, dan Se Ryung terus melihat Seung Yoo.

Dari arah berlawanan, ada tahanan lain yg terdiri dari wanita dan anak2 diarak. Diantara tahanan2 itu, ada Lady Ryu dan Ah Kang. Ah Kang melihat Seung Yoo dan memberitahu ibunya. Tapi sang ibu menyuruhnya diam. Ah Kang teriak, PAMAN! Se Ryung mendengar teriakan Ah Kang, langsung menoleh ke Ah Kang. Ah Kang pingsan.
“Ah Kang!” teriak Lady Ryu
Seung Yoo mendengar nama Ah Kang disebut. Ia menoleh ke belakang dan tidak melihat Lady Ryu dan Ah Kang yang ditutupi kerumunan org. Seung Yoo jalan lagi dan terus menoleh ke belakang. Profesor Lee dan Jong mengiringi Seung Yoo.
Lady Ryu panik, “Ah Kang, buka matamu. Tuan, tolong anakku.”

Se Ryung ingin mendekat, tapi dihalangi pengawal. Yeo Ri mengajak Se Ryung pulang.
Dalam perjalanan pulang, Se Ryung baru ingat pernah melihat Ah Kang di rumah Seung Yoo. Se Ryung pun beranjak pergi.
Myun di kantornya, kaget melihat Ah Kang dan Lady Ryu yg jalan melintas. Tapi Myun diam saja. Ia lalu berbalik dan kaget melihat Se Ryung di belakangnya. Myun terus jalan melewati Se Ryung.
“Anak itu membutuhkan dokter.” Ucap Se Ryung menghentikan langkah Myun.
“Aku tidak bisa mengizinkanmu memberikan pengobatan pada keluarga penjahat.” Jawab Myun.
“Apa salah anak kecil itu? Apa kau benar2 tidak memiliki darah dan air mata?” tanya Se Ryung.

Myun berbalik dan menatap tajam Se Ryung, “Apa kau melakukan ini karena mereka keluarga Seung Yoo?”
“Aku mohon padamu. Kalau anak itu sampai kenapa2, aku tidak akan pernah memaafkan diriku. Kurasa, hal yang sama juga akan dirasakan Petugas Shin.” Jawab Se Ryung.
Myun pun akhirnya mengizinkan Se Ryung menolong Lady Ryu. Saat bertemu Lady Ryu, Se Ryung membungkuk memberi hormat.
“Siapa kau?” tanya Lady Ryu heran.
“Anak itu sakit. Sebaiknya diobati dulu.” Jawab Se Ryung.
Se Ryung membawa Lady Ryu ke tabib. Tabib memeriksa Ah Kang. Tabib bilang Ah Kang sakit karena syok. Tabib pun segera menyiapkan obat untuk Ah Kang. Lady Ryu memeluk Ah Kang. Kesedihan tampak di wajahnya.
“Bagaimana aku dapat membalas kebaikanmu?” tanya Lady Ryu.
“Tidak usah.” Jawab Se Ryung.
“Kenapa kau membantu kami?” tanya Lady Ryu.
“Itu karena….”
Lady Ryu memotong kata2 Se Ryung. “Aku baru saja kehilangan keluargaku di depan mataku, aku tidak bisa kalau harus kehilangan anakku juga. Aku berterima kasih padamu.”

“Justru aku yang minta maaf. Aku benar2 menyesal.” Ucap Se Ryung.
“Apa maksudmu?” tanya Lady Ryu.
Se Ryung diam saja. Tabib lalu datang membawa obat.
“Penyelidikan ulang?” tanya Sooyang saat menemui Danjong.
“Penyelidikan ulang untuk mencari tahu kebenarannya.” Jawab Danjong.
“Yang Mulia, apa anda benar2 tidak percaya padaku?” tanya Sooyang.
“Aku hanya berusaha bersikap adil. Tanpa bukti yang jelas, Paman Anpyeong dikirim ke pengasingan. Ini tidak benar.” Jawab Danjong.

Lalu, Shin Suk Joo datang membawa bukti kejahatan Pangeran Anpyeong berupa surat yang ditemukan di kediaman Pangeran Anpyeong. Danjong syok membaca isi surat itu. Shin Suk Joo berkata kalau Pangeran Anpyeong memerintahkan Petugas Lee Jin Ok untuk mengerahkan pasukan untuk mencelakai Raja dan Pangeran Sooyang karena mengincar takhta.
Sooyang pun meminta Anpyeong dihukum sayak.
Putri Kyung Hee heran, kenapa dia menyuruhku ke sana?
“Maafkan saya. Pangeran Pendamping yang menyuruh saya membawa anda ke sana.” Jawab Eun Geum.
Putri akhirnya keluar diantar Eun Geum. Eun Geum mengantarnya ke taman. Sesampainya di sana, Putri tertegun melihat banyak sangkar burung tergantung di pohon. Jong yang sudah menunggu di sana, tersipu malu.

“Eun Geum bilang, kau suka mendengar kicauan burung saat masih berada di istana.” Ucap Jong.
“Dan kau menyiapkan ini untukku?” tanya Putri.
“Di taman ini, aku ingin melihatmu tersenyum lagi. Setelah apa yang terjadi, satu demi satu, aku akan berusaha sekeras mungkin melindungi kau dan Yang Mulia.” Jawab Jong.

Putri tersentuh. Kemudian, Eun Geum datang membawa berita buruk. Pemerintah mengajukan petisi pada Raja untuk menghukum mati Pangeran Anpyeong dengan cara disayak! Putri dan Jong kaget. Jong pun pergi untuk mencari tahu kebenarannya.
Di istana, menteri2 yg berpihak pada Sooyang memohon pada Raja menghukum mati Pangeran Anpyeong dengan cara sayak—minum racun. Danjong tak bisa berbuat apa2 lagi. Sooyang mereka di atas angin.

Seung Yoo dan para tahanan duduk di dek bawah kapal. Mereka akan menuju ke pengasingan. Tak jauh dari kapal mereka, ada kapal lain yg berisi anak buah Myung Hoe.
Tahanan yang duduk disamping Seung Yoo mulai curiga kalau mereka tidak akan dibawa ke Pulang Kang Hwa. Ia mencoba melepaskan rantai yang membelit tangannya. Ia lalu berkata pada Seung Yoo dan tahanan yg duduk disampingnya kalau mereka tidak akan dibawa ke Pulang Kang Hwa karena ini sudah lewat Pulang Kang Hwa. Ditambah lagi ada kapal lain yang mengikuti mereka di belakang. Ia juga berkata ttg Raja Taejo yang memasukkan seluruh keluarga kerajaan Dinasti Goryeo ke dalam kapal, lalu menenggelamkan kapal itu di laut.
Di istana, Pangeran Geum Sung dan Jong menemui Sooyang.
“Kali ini siapa lagi yg akan kau bunuh? Apa nanti giliran kepalaku yang akan kau penggal?” tanya Geum Sung.
“Apa kau pikir aku senang melakukannya?” jawab Sooyang.
“Apa kau pikir kau bisa menutup langit dengan telapak tanganmu? Atas nama Tuhan, aku Geum Sung, tidak akan pernah memaafkanmu.” Ucap Geum Sung.
“Aku tahu bagaimana perasaanmu, tapi aku minta kau jaga sikapmu.” Jawab Sooyang.
Seorang tahanan pura2 sakit perut untuk menarik perhatian pengawal. Pengawal pun datang. Begitu pengawal datang, tahanan yg lain langsung menyerangnya. Tahanan itu lantas meminta kunci rantai yg mengikat tangannya.
Kapal yg membawa para tahanan memberikan kode pada kapal anak buah Myung Hoe.
Seorang  penjaga, menyelinap ke kapal bawah untuk menghancurkan kapal.
Saat pengawal mau memberikan kunci, tiba2 saja kapal miring. Beberapa prajurit jatuh ke laut. Seorang tahanan akhirnya mendapatkan kunci. Namun tiba2, tahanan lain mengarahkan pedang kepadanya dan meminta kunci itu. Mereka pun akhirnya berebut kunci.

Putri Kyung Hee menunggu dengan gelisah di kamarnya. Begitu Jong pulang, ia tanya gimana hasilnya. Namun Jong diam saja dan wajahnya pucat. Putri pun terduduk lemas. Ia mengerti Pangeran Anpyeong tidak akan selamat.

Pangeran Anpyeong masih dalam perjalanan. Kemudian petugas datang membawakan surat berisi perintah Raja.
Pangeran Anpyeong pucat tapi ia tak bisa apa2. Ia terpaksa menjalani prosesi sayak. Pangeran Anpyeong memegang cawan dengan tangan gemetar, kemudian meminumnya.
“Sooyang, aku tidak akan pernah memaafkanmu.” Ucap Pangeran Anpyeong, kemudian muntah darah dan meninggal dunia.

Sooyang berkumpul dengan sekutunya. Ia diam saja. Myung Hoe tertawa puas lalu berkata kalau Pangeran Anpyeong dan Sooyang secara bersamaan akan menjadi teman menuju akhirat. Myung lalu tertawa, dan Sooyang tersenyum menyeringai.

Air terus merembes ke dalam kapal Seung Yoo. Seok Joo—tahanan yang tadi duduk disamping Seung Yoo—berusaha melepaskan rantai yg membelit tangannya dgn cara memukul2 rantai itu. Tiba2, ada tahanan lain yg mau menikam Seok Joo. Seung Yoo pun menyelamatkan Seok Joo dengan membunuh tahanan itu.
Seung Yoo dan Seok Joo saling membantu. Mereka lalu sama2 menyelam ke dasar kapal, lalu berhasil naik permukaan.
Anak buah Han yg melihat prajurit dan tahanan di permukaan, langsung memanah mereka.
Seung Yoo dan beberapa tahanan lain berenang ke darat. Anak buah Han mengejar mereka.


“Kau anggota keluarga Wakil Perdana Menteri Kim Jong Seo kan?” tanya Se Ryung saat mengantar Lady Ryu dan Ah Kang kembali ke Kantor Hanseong.
“Bagaimana kau tahu?” tanya Lady Ryu heran.
“Aku pernah datang ke kediaman kalian dan melihat anak ini.” jawab Se Ryung.
“Begitu rupanya.” Ucap Lady Ryu.
“Tuan Muda Kim lolos dari eksekusi dan dibuang ke Pulau Kanghwa.” Jawab Se Ryung.
“Benarkah itu?” tanya Lady Ryu kaget.
“Ya, saya melihatnya sendiri.” Jawab Se Ryung.
“Ini melegakan. Setidaknya aku dan anakku masih ada harapan.” Ucap Lady Ryu.

Sooyang ke kantor Myun. Ia berkata akan segera memberikan Myun jabatan di istana. Myun pun mengucapkan terima kasih.
“Sudah waktunya kau pergi.” Ucap Se Ryung pada Lady Ryu.

Se Ryung berpisah dgn Lady Ryu dan Ah Kang. Lalu, ia bertemu dengan Sooyang dan Myun.
“Apa yang kau lakukan di sini? Wanita itu seperti anggota keluarga penjahat. Kenapa dia bisa alan2 dengan bebas?” ucap Sooyang.
“Itu….”
“Anak kecil itu sakit….” Se Ryung memotong kata2 Myun, “… jadi aku membawanya ke tabib.”
“Memangnya siapa mereka sehingga kau begitu peduli?” tanya Sooyang.
“Mereka adalah menantu dan cucu Wakil Perdana Menteri Kim Jong Seo.” Jawab Se Ryung.
Sooyang pun terdiam. Dan Myun kaget dengan jawaban Se Ryung.
“Kau mulai lagi. Karena kau sangat menyukai anak2, kuharap kalian akan segera memberiku cucu.” Ucap Sooyang sambil menatap Myun.
“Ayah.” protes Se Ryung.
“Sebentar lagi kalian akan menikah jadi tidak perlu merasa malu.” Jawab Sooyang.

Seung Yoo dan tahanan lain berhasil tiba di darat. Anak buah Myung Hoe mengejar dan memanah mereka. Seok Joo yg tangannya masih di rantai dgn tangan Seung Yoo memaksa Seung Yoo melarikan diri. Anak buah Myung Hoe terus mengejarnya.

Seung Yoo, Seok Joo dan seorang tahanan lain bersembunyi di balik semak2. Seung Yoo rupanya mengenali wajah salah satu anak buah Myung Hoe sbg pembunuh ayahnya. Seung Yoo marah. Ia ingin berteriak dan melemparkan batu pada pembunuh ayahnya, namun Seok Joo langsung membekap mulut Seung Yoo. Anak buah Myung Hoe lalu pergi. Seok Joo menarik napas lega.
Malam pun tiba. Anak buah Myung Hoe berkumpul. Seorang dari mereka berkata tidak bisa menemukan Seung Yoo. Pembunuh yg lain berkata mereka hanya perlu memenggal kepala Seung Yoo untuk bisa mendapatkan jabatan di pemerintahan. Mereka pun akhirnya memutuskan menunggu sampai pagi.
Seo Joo memata2i para pembunuh. Mengetahui para pembunuh sudah pergi, Seok Joo mencari tahanan lain dan menyuruh mereka keluar. Seok Joo juga memperingatkan Seung Yoo agar tak bertindak macam2. Ia berkata jika Seung Yoo mau balas dendam, maka Seung Yoo harus menunggu saat yg tepat.
Seok Joo dan yg lainnya mulai memikirkan jalan keluar dari pulau itu. Seorang tahanan—No Geol—mengusulkan untuk mencuri kapal. Seok Joo tak setuju, karena mereka tak punya senjata. Seok Joo yakin para pembunuh itu akan menghadang mereka di tengah laut. Seorang tahanan lain mengusulkan bersembunyi di pulau itu sampai mereka pergi. Seung Yoo berkata kalau mereka tidak akan pergi begitu saja. Seok Joo pun mengusulkan mendatangi kapal para pembunuh untuk mencuri senjata mereka, lalu menghabisi para pembunuh.
Semua mulai bergerak. Saat Seung Yoo dan Seok Joo melewati sebuah pohon, rantai mereka tersangkut.
Seok Joo : Kau ini mau tetap mati atau hidup?

Seung Yoo : Sisi di sana basah, kau akan meninggalkan jejak jika melewatinya.
Seok Joo kaget. Ia pun akhirnya menyadari kemampuan Seung Yoo.
Mereka akhirnya tiba di pantai. Mereka mengendap2 diantara pembunuh yg tertidur dan mencuri senjata mereka. Salah seorang tahanan menginjak tangan salah seorang pembunuh yg lagi tidur. Para pembunuh itu pun bangun. Seung Yoo dan yg lainnya pun melarikan diri.
Saat melarikan diri, lagi2 rantai Seung Yoo dan Seok Joo nyangkut di pohon. Pembunuh mendekat. Seung Yoo dan Seok Joo pun terpaksa melawan pembunuh itu. Mereka pun berhasil melumpuhkan pembunuh itu. Seung Yoo dan Seok Joo kembali bersembunyi. Seung Yoo kembali melihat pembunuh ayahnya. Ia tak tahan lagi dan maju menyerang pembunuh ayahnya.

Pria itu, si pembunuh ayah Seung Yoo, merasa di atas angin karena berhasil melumpuhkan Seung Yoo. Ia lalu mengarahkan pedangnya ke jantung Seung Yoo. Seung Yoo berusaha sekuat tenaga agar pedang itu tidak sampai menusuknya. Ia lalu kembali teringat saat pembunuh itu membantai ayahnya. Dendam yg begitu besar, membuat Seung Yoo berhasil membalikan pedang itu dan akhirnya menusuk si pembunuh. Seok Joo terpana melihatnya.

BERSAMBUNG………

No comments:

Post a Comment