Thursday, November 1, 2018

The Princess Man Ep 8


Se Ryung syok mendengar rencana orang tuanya. Pangeran Sooyang merasa ada seseorang diluar yang menguping pembicarannya. Ia pun keluar untuk memeriksa. Tidak ada siapa2.  Se Ryung bersembunyi. Namun saputangannya jatuh. Pangeran Sooyang tidak melihat saputangan Se Ryung yg jatuh di kakinya. Lady Yoon lalu keluar, dan tanya ada apa. Pangeran Sooyang berkata tidak ada apa2 dan mengajak Lady Yoon ke dalam.
Tubuh Se Ryung bergetar hebat. Setelah orang tuanya masuk, Se Ryung mengambil saputangannya dan buru2 kembali ke kamarnya. Sesampainya di kamar, Se Ryung jatuh terduduk. Ia tak menyangka orang tuanya merencakan hal sekeji itu. Yeo Ri datang, memberitahu Pangeran Sooyang akan pergi. Se Ryung diam saja. Air matanya menetes.

Yeo Ri cemas, Nona, ada apa? Kenapa anda seperti ini?
Se Ryung : Ayah, tidak, bagaimana bisa ayah…. guru…!
Yeo Ri : Nona.
Se Ryung : Tidak. Tidak boleh terjadi.
Yeo Ri : Nona, saya bilang Pangeran akan pergi.
Yeo Ri lalu membawa Se Ryung keluar. Pangeran Sooyang pamit dengan  keluarganya. Semua mengatakan selamat jalan. Kecuali Se Ryung. Ia diam saja dan menggenggam roknya. Saat sang ayah melewatinya, dengan gemetaran ia bertanya, ayah, kau mau pergi kemana?

Pangeran Sooyang menatap Se Ryung, kemudian tersenyum. “Kau pasti cemas sepanjang malam ini. Hari ini, ayahmu akan menyelesaikan semuanya.”
Pangeran Sooyang lalu menepuk bahu Se Ryung dan jalan pergi.
Se Ryung jatuh. Yeo Ri langsung memegangi Se Ryung. Wajah Se Ryung pucat sekali.

“Ada yang tidak beres dengan Se Ryung.” Ucap Pangeran Sooyang pada Lady Yoon begitu mereka tiba di luar.
“Apa?” tanya Lady Yoon.
“Awasi dia. Jangan sampai dia keluar rumah dan menghancurkan semuanya.” Jawab Pangeran Sooyang.
“Aku mengerti.” Ucap Lady Yoon.

Yeo Ri cemas, “Nona mau kemana? Jika Nona seperti ini, Nona bisa pingsan.”
“Menyingkirlah dariku.” Jawab Se Ryung.
“Nona tidak boleh pergi.” Ucap Yeo Ri sambil merentangkan kedua tangannya, menghalangi Se Ryung pergi.
“Aku harus pergi. Aku harus memberitahunya.” Jawab Se Ryung.
Se Ryung pun pergi, tapi langkahnya tertahan oleh sang ibu. Sambil menatap tajam Se Ryung, Lady Yoon tanya apa yang mau dikatakan Se Ryung pada Seung Yoo. Se Ryung diam. Lady Yoon kemudian memerintahkan pelayan membawa Se Ryung ke kamar. Se Ryung teriak, “Ibu! Ibu!”

Se Ryung dibawa ke kamar. Lady Yoon masuk ke kamar putrinya.
“Ini perintah ayahmu, jangan membantah.” Ucap Lady Yoon.
“Kenapa aku tidak boleh keluar rumah?” tanya Se Ryung.
“Dan kenapa kau memaksa mau pergi?” tanya Lady Yoon balik.
“Apa ayah benar2 akan membunuh Perdana Menteri Kim Jong Seo dan keluarganya?” ucap Se Ryung.
Lady Yoon menghela nafas, kemudian masuk ke kamar Se Ryung dan menutup pintunya.
“Dengarkan baik2. Jika kau pergi menemui Kim Seung Yoo dan memberitahu semuanya, rencana ayahmu akan gagal. Demi menyelamatkan Kim Seung Yoo, apa kau akan membiarkan orang tua dan saudaramu mati?” jawab Lady Yoon.
“Kenapa ayah harus melakukan hal mengerikan ini? Apa dosa keluarga itu?” tanya Se Ryung dengan mata berkaca2.

“Jaga mulutmu! Ini bukan masalah dosa atau tidak. Masalah ini tidak akan selesai sampai salah satu pihak mati.” Ucap Lady Yoon.
Air mata Se Ryung menetes. Lady Yoon keluar dari kamar Se Ryung.

Kim Jong Seo mendapat laporan dari Kepala Pengawal Raja kalau Raja Danjong akan mengunjungi Putri Kyung Hee.
Kim Jong Seo membujuk Raja Danjong agar tidak pergi. Raja Danjong bersikeras mau pergi karena ia mendengar kabar kakaknya sakit. Kim Jong Seo terus membujuk Raja untuk tidak pergi, karena takut menimbulkan rumor Raja Danjong bergantung pada sang kakak. Raja tetap ingin pergi. Ia berjanji akan pergi satu hari saja. Setelah yakin sang kakak baik2 saja, ia akan kembali ke Istana. Kim Jong Seo mengalah dan menyuruh Kepala Pengawal menyiapkan pengamanan.

Seung Yoo di kamarnya, terlihat resah. Ia kemudian beranjak pergi.
Myun merenungkan kata2 ayahnya.
“Hidup dan mati keluarga kita bergantung padamu.”
Kemudian, Jae Beon muncul memberitahu Myun ttg Raja Danjong yang meninggalkan Istana dan menuju kediaman Putri Kyung Hee hari ini.
Myun ingat kata2 Pangeran Sooyang, kalau rencana mereka akan dimulai pada saat Raja Danjong berkunjung ke kediaman Putri Kyung Hee.

Seung Yoo datang berkunjung ke kantor Hanseong. Jae Beon menemui Seung Yoo. Seung Yoo berkata ingin bertemu Myun. Jae Beon mengatakan Myun sedang tugas diluar. Seung Yoo terlihat kecewa. Ia lalu menitipkan pesan bahwa dirinya akan menjadi pendamping Myun saat Myun menikahi putri Pangeran Sooyang. Jae Beon janji akan menyampaikannya pada Myun. Seung Yoo pun pulang. Jae Beon menatap Myun penuh arti.
Saat mau pulang, Seung Yoo berpapasan dengan seorang gisaeng. Seung Yoo heran ada gisaeng ke kantor Myun.

Myun berlatih pedang. Jae Beon lalu datang dan menyampaikan pesan Seung Yoo. Myun tertegun. Gisaeng itu menghampiri Myun.
“Saya Mae Hyang dari Chung Poong Kwan.”
“Ada apa?” tanya Myun.
“Anda diminta datang ke Chung Poong Kwan oleh Tuanku Han Hyung Hoe. Semua sudah berkumpul di sana.”
Semua menunggu kedatangan Myun dengan resah. Kwon Ram cemas Myun akan membocorkan rencana mereka pada Seung Yoo. Onyeong berkata seharusnya Shin Suk Joo tidak percaya begitu saja pada Myun. Shin Suk Joo berkata kalau Myun tidak akan melakukan itu. Tak lama kemudian, pelayan mengumumkan kedatangan Myun.
 
“Kepala Pengawal adalah orang Kim Jong Seo, setelah Pangeran Sooyang berhasil membunuh Kim Jong Seo, kami akan memberitahumu. Petugas Shin, tugasmu adalah mengawasi kediaman Yang Mulia Putri.” Ucap Myung Hoe.
Myun diam saja. Shin Suk Joo menegur, “Kenapa kau diam saja?”
“Aku… akan melakukannya.” Jawab Myun dengan sorot mata tajam.
Seung Yoo duduk di dekat air terjun. Ia teringat kata2 Se Ryung. Se Ryung bilang kalau selama beberapa hari dia tidak ada di kuil. Seung Yoo kemudian teringat saat2 dirinya bersama Se Ryung.
Se Ryung mondar mandir di kamarnya dengan perasaan nyesek. Beberapa kali ia memukul2 dadanya. Yeo Ri datang membawa makanan. Ia membujuk Se Ryung untuk makan, karena Se Ryung belum makan dari pagi. Se Ryung meminta bantuan Yeo Ri agar bisa keluar dari rumah. Yeo Ri menolak.
Se Ryung menangis, “Kumohon. Pikirkanlah kau akan menyelamatkan nyawa dua orang.”
“Apa yang akan Nona lakukan jika bertemu dengannya? Aku mendengar dari Nyonya. Kim Seung Yoo… akan segera mati.” Ucap Yeo Ri.
“Tidak. Kenapa dia harus mati? Dia tidak boleh mati. Aku akan menghentikannya.” Jawab Se Ryung.
“Sadarlah, Nona. Apa anda mampu menghentikan Pangeran? Lupakanlah Tuan Muda Kim.” Ucap Yeo Ri.
Yeo Ri lalu berusaha melepaskan diri dari pegangan Se Ryung. Se Ryung teriak memanggil2 Yeo Ri. Yeo Ri keluar dan mengunci kembali pintu kamar Se Ryung. Se Ryung tampak putus asa.
Myun keluar dari Chung Poong Kwan bersama Jae Beon.
“Jae Beon, malam ini akan ada pemberontakan. Salah satu pihak akan menumpahkan darah. Dan aku sudah memihak salah satunya. Kalau kau tidak ingin ikut denganku, aku bisa membebastugaskanmu malam ini.” ucap Myun.
“Aku akan mengikutimu.” Jawab Jae Beon.
“Segera kumpulkan orang, kita akan berangkat ke kediaman Putri.” Ucap Myun.
“Baik.” Jawab Jae Beon, lalu pergi.
“Kakak tampak sehat. Apa Kakak Ipar berbohong padaku?” tanya Raja.
“Mana berani saya membohongi Yang Mulia. Putri memang sakit seperti ayam lemah, tapi dengan kedatangan Yang Mulia, dia langsung sembuh.” Jawab Jong.
“Ayam lemah?” Putri heran, lalu berkata, “Aku hanya sakit kepala, tapi begitu Yang Mulia datang, sakitku langsung hilang.”
“Itu melegakan. Aku tidak akan bisa jika kakak sakit juga.” jawab Raja Danjong.
“Yang Mulia, bagaimana kalau Yang Mulia segera menikah dan mengangkat seorang ratu. Seorang pria dikatakan pria sejati jika sudah menikah.” Ucap Jong.
“Tolong jaga kata2mu.” Tegur Putri.

“Kakak Ipar selalu kena marah kakak, tapi masih saja membujukku menikah.” Ucap Raja Danjong.
“Dia tidak marah. Kata2nya terdengar seperti nyanyian burung.” Jawab Jong.
Putri Kyung Hee pun tersenyum.

Myun dan Jae Beon akhirnya tiba di kediaman Putri. Jae Beon berkata, di setiap pintu dijaga ketat oleh tentara. Kepala Pengawal datang. Myun dan Jae Beon memberi hormat pada Kepala Pengawal. Kepala Pengawal berkata kenapa Myun baru datang.
Jong datang, “Kenapa kau jaga di dalam? Kau seharusnya jaga diluar.”
Dan Jae Beon pun keluar.
Jong tanya, “Apa kau sudah bertemu Seung Yoo.”
Myun : Belum.
“Kenapa kau seperti ini? Temui dia dan bicaralah.” Jawab Jong.
Myun diam saja.
Jong berkata lagi, “Setelah kehilangan orang tua, mereka lah keluargaku sekarang.”
“Siapa?” tanya Myun.
“Maksudku, Yang Mulia Raja dan Putri. Aku berharap bisa seperti ini setiap hari. Mereka tertawa lepas dan sangat bahagia.” Jawab Jong.
Myun pun menatap Jong dengan perasaan bersalah. Kemudian, Myun beranjak pergi.

Jong heran, “Myun-ah.”
Seung Yoo baru tiba di rumah dan langsung dihampiri Seung Kyu dan Lady Ryu.
“Kau tidak pergi bekerja dan malah mencari wanita itu, benar kan?” tanya Seung Kyu.
“Aku mengambil libur hari ini.” jawab Seung Yoo.
“Pernikahanmu sudah diatur. Kami sudah menemukan yang cocok. Jadi jaga sikapmu.” Ucap Seung Kyu.
“Tidak peduli dari kalangan mana dia berasal, aku akan menikahinya.” Jawab Seung Yoo.

“Apa katamu? Kau menentang ayahmu hanya untuk gadis yang bukan berasal dari kalangan bangsawan?” tanya Seung Kyu.
“Jaga bicaramu kakak!” bentak Seung Yoo.
“Apa?” Seung Kyu malah, lalu mencengkram kerah baju Seung Yoo.
Lady Ryu kaget. Seung Yoo teriak, “Lepaskan aku!”
“Apa yang kalian lakukan? Ayah akan tiba sebentar lagi.” Ucap Lady Ryu.
Seung Kyu pun melepaskan cengkaramannya.
“Jangan temui wanita itu lagi.” Pinta Seung Kyu.
Seung Yoo tidak peduli dan pergi ke kamarnya.
“Adik Ipar.” Panggil Lady Ryu.

Se Ryung masih dikurung di kamarnya. Ia berpikir keras mencari ide gimana supaya ia bisa lari keluar. Ia kemudian melirik makan siangnya dan tiba2 saja ia mendapat ide. Yeo Ri menunggu diluar. 



Tiba2 terdengar suara pecahan mangkuk. Yeo Ri dan beberapa pelayan langsung berdiri di depan kamar Se Ryung. Yeo Ri masuk ke dalam dan kaget menemukan mangkuk2 yang pecah dan jendela yang terbuka lebar.

Yeo Ri bergegas keluar, dan memerintahkan beberapa pelayan mencari Se Ryung.
Se Ryung ternyata masih ada di kamarnya. Ia keluar dari balik sekat dan mengendap2 keluar dari kamarnya.

Semua orang sibuk mencari Se Ryung. Se Ryung kemudian melompati tembok dengan bertumpu pada sebuah guci. Meskipun berhasil melompat, sepatu Se Ryung terlepas dan mata kakinya terkilir. Se Ryung bergegas bangun dan melarikan diri.

Seung Yoo di kamarnya, melamun memikirkan Se Ryung. Kemudian, ia melihat bayangan seorang anak kecil di balik pintu.Ia pun pura2 membaca buku. Ah Kang membuka pintu dan melihat pamannya membaca buku. Ah Kang lalu berdehem. Seung Yoo pun tersenyum lebar menatap gadis kecil itu dan merentangkan kedua tangannya. Ah Kang pun berlari ke dalam pelukan pamannya.
“Apa paman dimarahi ayahku”? tanya Ah Kang.
“Tidak. Kami hanya tidak sependapat.” Jawab Seung Yoo.
“Tidak sependapat?” tanya Ah Kang.

“Ada beberapa hal yang tidak lancar untukku. Aku merindukan seseorang tapi tidak bisa menemuinya.” Jawab Seung Yoo.
“Bukankah orang yang kau rindukan adalah…. aku?” tanya Ah Kang sambil senyum lebar.
Seung Yoo tersenyum geli, lalu mencubit pipi Ah Kang.

Se Ryung berhasil menemukan kediaman Kim Jong Seo setelah bertanya pada seorang wanita. Seung Kyu keluar dari rumahnya dan mendekati Se Ryung.
“Apa ini kediaman Perdana Menteri Kim Jong Seo?” tanya Se Ryung.
Seung Kyu heran, “Ada apa kau mencarinya?”
“Apa Tuan Muda Kim ada di rumah?” tanya Se Ryung.
“Maksudmu Seung Yoo? Kenapa kau mencarinya?” tanya Seung Kyu balik.
“Aku di sini untuk menyampaikan sebuah pesan.” Jawab Se Ryung.
“Bagaimana kau bisa mengenalnya?” tanya Seung Ryu.
Pembicaraan mereka pun terhenti karena Kim Jong Seo pulang. Seung Kyu menghampiri ayahnya. Se Ryung berbalik dan mendekati Kim Jong Seo.
Se Ryung : Apa anda Perdana Menteri Kim Jong Seo?
“Benar. Siapa kau?” tanya Kim Jong Seo.
“Dia mencari Seung Yoo.” jawab Seung Kyu.
“Bagaimana kau bisa mengenal Seung Yoo?” tanya Kim Jong Seo.
“Saya… berhutang budi pada Tuan Kim.” Jawab Se Ryung.
Kim Jong Seo lalu melihat Se Ryung yang hanya memakai sebelah sepatu.
“Lalu ada apa kau mencariku?” tanya Kim Jong Seo.
“Ada yang ingin saya katakan pada anda.” Jawab Se Ryung.
“Seung Kyu, carikan sepatu untuknya. Sambut tamu dengan pantas.” Suruh Kim Jong Seo.
Seung Kyu pun masuk untuk melaksanakan perintah ayahnya. Kim Jong Seo masuk ke dalam. Se Ryung menatap Kim Jong Seo dengan penuh keyakinan.

Di dalam, Ah Kang dan Seung Yoo menyambut kepulangan Kim Jong Seo.
“Ada apa diluar?” tanya Seung Yoo.
“Kita kedatangan tamu.” Jawab Kim Jong Seo.

Ah Kang berlari keluar. Se Ryung memakai sepatu barunya. Ah Kang tertegun melihat Se Ryung. Se Ryung tersenyum pada Ah Kang. Ah Kang pun membalas senyum Se Ryung. Saat mau masuk, tiba2 Yeo Ri datang bersama beberapa pelayan. Pelayan2 itu membawa Se Ryung masuk ke dalam tandu.

“Maaf. Nona kami sedang sakit.” Ucap Yeo Ri pada pelayan keluarga Kim.
Se Ryung pun dibawa pergi. Di dalam tandu, Se Ryung teriak meminta dilepaskan. Seung Yoo keluar dan melihat tandu yang membawa Se Ryung jalan menjauh. Ah Kang menunjuk ke tandu Se Ryung dan berkata kalau kakak itu dibawa pergi. Se Ryung membuka jendela tandu. Ia melihat Seung Yoo.

“Guru!” teriak Se Ryung, namun Yeo Ri lagi2 menghalangi Se Ryung. 




Yeo Ri menutup kaca tandu. Se Ryung panik.

“Apa yang terjadi pada wanita itu?” tanya Kim Jong Seo pada Seung Kyu.
“Sepertinya wanita itu gila. Pelayannya berkata seperti itu.” jawab Seung Kyu.
Tapi Kim Jong Seo tidak merasa seperti itu. Ia ingat tatapan Se Ryung saat Se Ryung berkata berhutang budi pada Seung Yoo.
Se Ryung dibawa menghadap Lady Yoon. Lady Yoon menampar Se Ryung.

“Kau bahkan menemui Kim Jong Seo….? Katakan apa saja yang sudah kau katakan padanya. Apa kau menceritakan rencana ayahmu?” tanya Lady Yoon.
“Tidak.” Jawab Se Ryung.
“LALU?!” bentak Lady Yoon.
“Aku hanya ingin mencegah pertemuan malam ini.” jawab Se Ryung sambil nangis.
“Apa kau pikir kau bisa menyelamatkan Kim Seung Yoo dengan mencegah pertemuan ayahmu dengan Kim Jong Seo? Kenapa kau jadi childish begini? Apa kau tidak tahu kelakuanmu bisa membunuh keluarga kita? Kau sudah dibutakan oleh cinta sehingga tidak lagi memikirkan orang tua dan adik2mu!” ucap Lady Yoon.
Lady Yoon lalu memberikan kode pada pelayan. Dan pelayan pun menarik Se Ryung. Se Ryung teriak memanggil ibunya, tapi sang ibu tidak peduli. Se Ryung dikurung gudang!

Se Ryung teriak, “Ibu!”
Dari celah2 pintu, Lady Yoon menatap Se Ryung.
“Ibu, tolong selamatkan dia! Dia tidak bersalah!” teriak Se Ryung.

Tapi Lady Yoon tidak peduli dan beranjak pergi. Se Ryung terduduk lemas.

Malam pun tiba… Myung Hoe dan Im Woon menemui 3 anak buah Myung Hoe. Myung Hoe tanya apa orang2 dari gunung sudah siap. Salah satu dari anak buahnya meminta Myung Hoe jangan cemas. Myung Hoe tanya lagi apa senjata di tandu Pangeran Sooyang sudah siap. Salah satu anak buahnya lalu menunjukkan pedang yang ditaruh di bawah tempat duduk Pangeran Sooyang. Myung Hoe lalu memberikan rantai pada Im Woon.

Pangeran Sooyang dan antek2nya bertemu lagi untuk membahas rencana mereka.
Onyeong cemas, “Kita akan masung sarang harimau hanya dengan 8 orang. Tidak bisa kah kita menambah pasukan dan menyelesaikan ini sekaligus?”
Myung Hoe : Jika kita melakukan itu, tidak ada jaminan Kim Jong Seo mati. Bisa saja Kim Jong Seo meloloskan diri di tengah2 kekacauan.
Kwon Ram : Meskipun Kim Jong Seo mati, bagaimana dengan keselamatan Pangeran Sooyang?
Myung Hoe : Setelah Pangeran Sooyang masuk ke dalam rumah, orang2 dari gunung akan siap.
Pangeran Sooyang : Aku sudah tahu resikonya. Apapun yang terjadi, aku akan tetap melakukannya. Aku sudah menyiapkannya. Aku akan berpura2 mengalah pada Kim Jong Seo.

Seung Kyu memberikan surat pada ayahnya. Surat dari Pangeran Sooyang!!
Isinya….
Ini sangat mengkhawatirkan. Seung Yoo memiliki hubungan dengan seorang dayang istana. Seorang Petugas di Sekretariat Kerajaan punya hubungan dengan dayang istana. Dia harusnya dihukum mati. Aku akan datang malam ini.
Kim Jong Seo kaget. Seung Kyu penasaran apa isi surat itu. Kim Jong Seo memberitahu Pangeran Sooyang akan datang malam ini. Seung Kyu kaget. Dan ia lebih kaget lagi setelah membaca isi surat itu. Seung Yoo lalu datang. Kim Jong Seo keluar menemui Seung Yoo.
“Dia bukan dari kalangan bangsawan, juga bukan seorang gisaeng.” Ucap Kim Jong Seo.
“Ayah, kumohon temuilah dia sekali saja.” Jawab Seung Yoo.

“Apa identitas gadis itu? Kau bilang dia bukan gadis bangsawan, juga bukan gisaeng. Apa dia seorang dayang istana?” tanya Kim Jong Seo.
“Bagaimana ayah bisa…” Seung Yoo kaget.
“Jadi benar dia seorang dayang istana?” tanya Kim Jong Seo.
“Itu benar. Tapi dia sudah keluar dari istana.” Jawab Seung Yoo.
“Bahkan jika kau mencintai gadis itu dan aku merestui kalian berdua, masyarakat tidak akan tinggal diam.” Ucap Kim Jong Seo.
“Aku tidak peduli omongan orang. Aku akan menunggu sampai ayah memberi restu.” Jawab Seung Yoo.
“Karena wanita itu hidupmu dalam bahaya. Apa kau bisa menanggung itu?” tanya Kim Jong Seo.
“Karena saya mencintai wanita itu, bagaimana saya bisa menghabiskan sisa hidup dengan wanita lain?” jawab Seung Yoo.
“Aku mengerti. Untuk kali ini tinggal lah di rumah. Dan jaga sikapmu.” Pinta Kim Jong Seo.
“Baik, ayah.” jawab Seung Yoo.

Pangeran Sooyang akhirnya pergi ke kediaman Kim Jong Seo bersama Im Woon dan 4 anak buah Myung Hoe yg menyamar sbg tukang tandu.


Se Ryung sibuk memikirkan cara agar bisa menemui Seung Yoo. Tiba2, ia mendapat ide. Ia lalu merobek roknya, melukai jarinya dan menuliskan pesan dengan darahnya pada sobekan roknya.


Yeo Ri datang membawa makanan. Se Ryung memberikan kain itu pada Yeo Ri. Yeo Ri kaget melihat bibir Se Ryung yang berdarah dan melihat tulisan di kain itu ditulis dengan darah.
“Darah…? Bukankah ini darah?” tanya Yeo Ri kaget.

“Setelah malam ini, aku tidak akan memiliki masa depan bersamanya. Itu tidak apa2. Meskipun aku tidak bisa melihatnya lagi. Aku hanya berharap dia tetap hidup.” jawab Se Ryung dengan berkaca2.
“Nona.” Ucap Yeo Ri.
“Aku hanya punya kau. Berikan itu padanya.” Jawab Se Ryung.
Yeo Ri pun iba. Ia mengangguk, kemudian beranjak pergi.

Pangeran Sooyang dan anak buahnya masih di perjalanan. Semetara itu, Seung Kyu membagi tugas pada para pengawal untuk menjaga setiap sudut Kediaman Kim.

Yeo Ri akhirnya tiba di depan Kediaman Kim. Ia memberikan pesan itu pada seorang pengawal.
Seung Yoo heran banyak pengawal di rumahnya. Ia bertemu kakaknya dan tanya apa yang terjadi?

“Pangeran Sooyang akan datang.” Ucap Seung Kyu.
“Pangeran Sooyang?” tanya Seung Yoo kaget.
“Hanya itu yang perlu kau tahu. Masuk lah ke kamarmu.” Jawab Seung Kyu.

Pengawal tadi memberikan kain itu pada Seung Yoo. Ia berkata seorang gadis yang memberikan kain itu. Seung Yoo tanya ciri2 gadis itu. Pengawal itu bilang seperti pelayan. Seung Yoo tanya kemana gadis itu pergi. Pengawal menjawab karena langit gelap, jadi ia tak tahu. Seung Yoo mengerti, kemudian membuka kain itu dan membaca pesannya.
Kuil Seung Bup. Yeo Ri.
Itulah isi pesan Se Ryung. Seung Yoo kaget menyadari pesan itu ditulis dengan darah.

Seung Yoo pun bergegas pergi dan memacu kudanya dengan cepat. Nyaris saja ia berpapasan dengan Pangeran Sooyang. Pangeran Sooyang tiba di Kediaman Kim. Seung Kyu keluar dan memberi salam. Pangeran Sooyang berkata ingin bertemu Kim Jong Seo. 




Seung Kyu memeriksa dengan teliti orang2 yg dibawa Pangeran Sooyang. Setelah yakin tidak ada masalah, Seung Kyu mempersilahkan Pangeran Sooyang masuk. Sayang, Seung Kyu tak melihat senjata yang disembunyikan Im Woon di lengan baju.

“Bagaimana caranya kau tahu gadis yang ditemui anakku adalah seorang dayang istana?” tanya Kim Jong Seo.
Pangeran Sooyang menghela napas, lalu berkata, “Kalau saja dulu kau menerima lamaranku, maka kau dan aku, juga anak2 kita, sudah hidup bahagia. Dan kita juga tidak perlu mencemaskan urusan negara.”
“Seandainya anda tidak memiliki keinginan itu, bukan tidak  mungkin anda dan saya bisa bersatu.” Jawab Kim Jong Seo.
Pangeran Sooyang tertawa, kemudian berkata, “Ini Pangeran Sooyang yang akan segera menjadi Raja. Apa kau pikir itu keinginan yang sia?”
“Raja dipilih oleh langit, bukan manusia.” Jawab Kim Jong Seo.
“Raja yang sesungguhnya adalah seseorang yang mampu menduduki takhta.” Ucap Pangeran Sooyang.
“Jika Pangeran menginginkan takhta, anda akan menumpahkan darah banyak orang, dan pada akhirnya anda akan ketakutan oleh dendam dari keluarga yang dibunuh,dan ini akan menyebabkan lebih banyak darah yang tumpah.” Jawab Kim Jong Seo.
“Hari ini aku tidak datang sebagai Pangeran Sooyang.” Ucap Pangeran Sooyang.
“Apa yang kau rencanakan sebenarnya? Jika kau berencana memakai anakku untuk kejahatanmu, itu sama saja kau menggali kuburanmu sendiri.” Jawab Kim Jong Seo.
“Aku bodoh karena pernah berpikir membunuh Kim Seung Yoo. Tapi itu masa lalu. Alasanku mengunjungimu malam ini tidak lain karena putriku yang sempurna itu.” ucap Pangeran Sooyang.
“Apa maksudmu?” tanya Kim Jong Seo.
“Apa kau tahu identitas dayang istana yang dilindungi mati2an oleh anakmu? Aku juga… kaget saat mengetahuinya.” Jawab Pangeran Sooyang.
“Siapa gadis itu?” tanya Kim Jong Seo.
“Gadis itu tidak lain tidak bukan adalah putriku sendiri.” Jawab Pangeran Sooyang.
Kim Jong Seo kaget.

Se Ryung menangis sambil memandangi bulan purnama.
“Kau pikir aku akan percaya dengan ceritamu?” tanya Kim Jong Seo.
“Memang sulit untuk dipercaya. Tapi inilah yang terjadi. Kim Seung Yoo mengira putriku, Se Ryung, dayang istana yang bernama Yeo Ri. Kenapa kau tidak memastikannya sendiri?” tanya Pangeran Sooyang.

Kim Jong Seo teriak, menyuruh Seung Kyu memanggil Seung Yoo. Seung Kyu mengiyakan, lalu pergi. Sebelum pergi, Seung Kyu dan Im Woon saling menatap tajam.
Sementara itu, Seung Yoo masih di jalan menuju kuil.
“Aku membaca surat yang dikirimkan Seung Yoo untuk putriku, perasaan mereka sangat dalam.” Ucap Pangeran Sooyang.
“Surat apa?” tanya Kim Jong Seo.
“Penuh dengan isi hati Kim Seung Yoo. Apa kau ingin memastikan tulisan putramu?” jawab Pangeran Sooyang.

4 anak buah Myung Hoe, hendak beraksi. Mereka mengeluarkan pedang dari bawah tempat duduk tandu Pangeran Sooyang. Namun mendengar suara Seung Kyu, mereka kembali menyembunyikan pedang itu. Seung Kyu kesal tahu dari pengawal ttg kepergian Seung Yoo.
Pedang itu belum masuk ke bawah tempat duduk dengan sempurna. Saat anak buah Myung Hoe ingin memasukkannya, Seung Kyu menatap mereka dengan pandangan curiga. Seung Kyu pun mendekati mereka.
“Tunjukkan surat itu padaku.” Pinta Kim Jong Seo.
“Woon, bawakan surat itu ke sini.” Ucap Pangeran Sooyang.

Seung Kyu terkejut saat melihat pedang di bawah tempat duduk Pangeran Sooyang. Anak buah Myung Hoe mengambil pedang itu dan melukai lengan Seung Kyu. Seung Kyu sadar ini tipu muslihat Pangeran Sooyang. Ia pun bergegas ke kamar ayahnya sambil berteriak, menyuruh sang ayah bersembunyi.
“Tunjukkan surat itu.” suruh Pangeran Sooyang.
Lalu terdengar teriakan Seung Kyu, “AYAH! SEMBUNYI!”

Im Woon dan Pangeran Sooyang kaget. Im Woon lalu mengeluarkan rantai dari balik lengannya dan memukul kepala Kim Jong Seo. Kim Jong Seo ambruk dengan luka di kepala. Darahnya muncrat mengenai Pangeran Sooyang. Seung Kyu masuk ke kamar sang ayah dan bergegas membawa ayahnya keluar. Namun saat sampai di pintu, Im Woon memukul kepala Seung Kyu dengan rantai itu. Seung Kyu dan Kim Jong Seo terjatuh ke bawah. Seung Kyu tewas!

Seung Yoo tiba di kuil. Ia membuka salah satu kamar. Ternyata itu kamar dua biksu kecil. Seung Yoo menanyakan Yeo Ri pada biksu itu. Biksu itu bingung, siapa Yeo Ri? Seung Yoo juga bingung.

Pangeran Sooyang beranjak keluar. Myung Hoe menyambutnya. Ia menyuruh Pangeran Sooyang bergegas ke kediaman Putri Kyung Hee dan melapor pada Raja atas pengkhianatan yg dilakukan Kim Jong Seo.Pangeran Sooyang menanyakan Seung Yoo. Myung Hoe bilang Kim Jong Seo sudah mati, tidak ada yg bisa dilakukan Seung Yoo. Myung Hoe menyuruh Pangeran Sooyang pergi. Pangeran Sooyang pun pergi dengan kudanya.

Myung Hoe memanggil anak buahnya. Ia menyuruh anak buahnya mencari Seung Yoo dan kembali membawa kepala Seung Yoo.
Dalam perjalanan pulang, Seung Yoo memikirkan Yeo Ri. Ia lalu terperangah melihat beberapa pasukan penunggang kuda dari kediamannya. Seung Yoo pun langsung memacu kudanya menuju rumahnya.

Seung Yoo sampai di rumahnya. Ia terkejut saat salah satu pengawalnya memberitahu mereka masuk jebakan Sooyang. Seung Yoo mencabut pedangnya, kemudian masuk ke dalam. Anak buah Myung Hoe melihatnya. Seung Yoo pun syok melihat yang terjadi. Tampak Lady Ryu dan Ah Kang menangisi Seung Kyu dan Kim Jong Seo.
“Kakak.” Panggil Seung Yoo.

Saat melihat sang ayah, Seung Yoo histeris, “AYAH!!!”
Air mata Seung Yoo mengalir. Di tempat penyekapannya, Se Ryung terkejut. Ia seperti merasakan sesuatu telah terjadi pada Seung Yoo.

BERSAMBUNG…………………

No comments:

Post a Comment