Thursday, November 1, 2018

The Princess Man Ep 14

 
Anak buah Myung Hoe menyamar sebagai pelayan di Kediaman Sooyang. Saat Seung Yoo lewat di belakang mereka, mereka tak sadar. Ya, Seung Yoo juga menyamar sebagai pelayan.

Seung Yoo juga berpapasan dengan Jong. Seung Yoo tak melihat Jong, tapi Jong melihat Seung Yoo. Namun, Jong tak yakin dengan penglihatannya.
Lady Yoon menasehati Se Ryung.
“Lupakan dia. Hanya Petugas Shin satu2nya orang yg boleh ada di matamu. Ikuti dia dan jadilah bayangannya. Apa kau mengerti?” tanya Lady Yoon.
Nasihat itu justru mengingatkan Se Ryung pada Seung Yoo, saat dirinya menyamar sebagai Tuan Putri, Seung Yoo mengajarkannya tentang 3 kepatuhan, yang salah satunya adalah wanita yang akan menjadi bayangan pria. Teringat Seung Yoo, membuat Se Ryung sedih.
Seung Yoo mulai menyusup ke Kediaman Sooyang. Tak sulit bagi Seung Yoo menemukan kamar Se Ryung. Se Ryung adalah putri pertama Keluarga Sooyang. Setiap kamar diatur berdasarkan ajaran Konfusianisme, jadi Seung Yoo bisa dengan mudah menemukan kamar Se Ryung.

Myun dan rombongannya akhirnya tiba di Kediaman Sooyang. Pangeran Geum Sung dan Jong saling berpandangan. Sooyang menatap Jong dan pengawal yg menyertai Jong. Ia pun tersenyum licik, karena sudah tahu siapa pengawal2 itu.

Se Ryung duduk sendirian di kamarnya. Ia teringat momen indahnya bersama Seung Yoo di dekat air terjun. Tiba2, seseorang keluar dari balik sekat kamar. Orang itu, SEUNG YOO! Seung Yoo mengeluarkan seutas tali dari balik bajunya. Se Ryung menyadari ada seseorang di belakangnya. Seung Yoo kemudian membungkam mulut Se Ryung dan mengikatnya kuat2, sebelum Se Ryung sempat melihatnya. Kemudian, Seung Yoo memasukkan Se Ryung ke dalam kantong kain.
Sooyang dan istrinya, Myun dan juga para tamu gelisah karena Se Ryung yang belum juga keluar. Sooyang lantas memberikan kode pada istrinya untuk pergi melihat Se Ryung.
“Nona, apa yang anda lakukan di dalam? Meskipun anda tidak suka, anda tidak bisa menghindari pernikahan ini.” ucap Yeo Ri.

Lady Yoon datang dan memarahi Yeo Ri. Ia bilang kalau Se Ryung tidak mau keluar kamar, seharusnya Yeo Ri menyeretnya keluar. Ia lalu menyuruh Se Ryung keluar. Namun karena tak ada jawaban dari Se Ryung, Lady Yoon pun akhirnya membuka pintu kamar dan terkejut melihat kondisi kamar yg berantakan dan Se Ryung tak ada di sana.
Seung Yoo membawa Se Ryung keluar. Seorang pelayan yg melihat kantong yg dibawa Seung Yoo pun curiga. Namun Seung Yoo dengan cepat melumpuhkan pelayan itu dan bergegas pergi.

Lady Yoo dan Yeo Ri menemui Sooyang, Myun dan keluarga lainnya. Yeo Ri menunjukkan sepatu Se Ryung pada Sooyang. Sooyang tanya apa itu sepatu Se Ryung. Yeo Ri membenarkan. Lady Yoon pusing, kemana anak itu. Disaat semuanya pusing mikirin kemana perginya Se Ryung, pelayan yg tadi diserang Seung Yoo datang. Dipapah oleh rekan2nya sesaman pelayan.
“Nyonya, tadi ada pria mencurigakan yg pergi dengan kantong besar. Dia diserang saat mencoba menahan pria itu.”
“Seberapa besar kantongnya?” tanya Myun
“Cukup untuk memuat seseorang di dalam.” Jawab si pelayan.
“Mungkinkah Se Ryung yang ada di dalamnya?” tanya Sooyang.
“Ini penculikan.” Jawab Myun.
“Penculikan? Apa maksudmu penculikan? Siapa… Noonim?” ucap Soong.

Lady Yoon jatuh. Yeo Ri dan Se Jeong langsung lari menolong Lady Yoon.
“Siapa yang berani…. Siapa yang berani menculik putriku!” geram Sooyang.
Myun pun beranjak pergi. Geum Sung mendengar pembicaraan Sooyang di belakang.
Myun mengerahkan pasukannya. Ia berkata, “Ada yang menculik Nona. Dia membawa Nona dalam kantong kain. Dia mungkin pergi dengan kuda atau tandu. Cepat kejar dia!”
Myun dan pasukannya pun pergi mengejar si penculik.
Seung Yoo memacu kudanya dengan kantong kain di depannya.
 
Para tamu bingung karena upacara pernikahan yg belum juga dimulai. Geum Sung menyuruh 3 anak buahnya pergi. Myung Hoe menatap tajam Geum Sung, lalu menyuruh 2 anak buahnya menangkap 3 anak buah Geum Sung. Namun, anak buah Myung Hoe gagal menangkap mereka. Myung Hoe pun kesal.
Jong tidak mengerti apa yg terjadi. Betapa kagetnya Jong, saat Geum Sung memberitahu ttg hilangnya Se Ryung.
Sooyang dan Lady Yoon datang ditemani Soong dan Se Jeong.
“Putriku tiba2 terserang mual2 dan flu. Mungkin dia tahu ayahnya ini belum rela melepaskan kepergiannya. Penyebab sakit putriku, pasti akan kuselidiki.” Ucap Sooyang sambil menatap tajam Geum Sung.
“Kami benar2 minta maaf, sudah membuat kalian datang jauh2. Kami berjanji akan mengundang kalian lagi. Sebelum pergi, silahkan menikmati hidangan yang sudah disediakan.” Ucap Lady Yoon.
Geum Sung dan Jong beranjak pergi. Gak lama setelah kepergiaan Geum Sung dan Jong, Sooyang dan keluarganya juga pergi dikawal Im Woon.
Jae Beon bertanya ke penduduk setempat. Setelah mendapatkan informasi, Jae Beon langsung melapor ke Myun kalau orang itu melihat seseorang yg pergi dengan kuda membawa kantong kain menuju Pelabuhan Mapo. Myun dan pasukannya pun bergegas ke sana.
Seung Yoo membawa Se Ryung ke Bing Ok Gwan. Setelah mengikat kudanya, ia bergegas membawa Se Ryung masuk. Saat melihat No Geol yg sedang mencuci muka, ia bersembunyi. Begitu No Geol pergi, Seung Yoo pun membawa Se Ryung ke gudang.
Seung Yoo mengeluarkan Se Ryung dari dalam kantong. Se Ryung yang dalam kondisi setengah sadar, samar2 melihat Seung Yoo, kemudian pingsan. Seung Yoo lalu mengikat erat Se Ryung. Setelah mengikat Se Ryung, ia memandangi Se Ryung sejenak, lalu pergi keluar dan mengunci pintu gudang.
Muyeong keluar dari dapur membawa sayur. No Geol mencicipi makanan di meja langsung dengan tangannya. Hal itu, membuat tangannya dipukul Muyeong. Muyeong menunjuk sumpit dengan dagunya. No Geol pun mengambil sumpit. Muyeong kemudian memukul pantat No Geol terus pergi sambil tersenyum geli.
“Wanita ini… ah bukan, pria itu.” ucap No Geol.
Seok Joo dan Chohi turun. No Geol langsung menghampiri mereka.
No Geol heran, “Kenapa Noonim dan Hyungnim turun bersama2? Apa semalam kalian….”
Chohi pun langsung memukul bagian belakang kepala No Geol, lalu berkata, “Kalau kau bicara omong kosong lagi, jangan makan!”
Chohi pun pergi. Setelah Chohi pergi, Seok Joo ikut2an memukul bagian belakang kepala No Geol. Seok Joo pun pergi menyusul Chohi. No Geol kesal dan teriak kalau dia tidak akan makan.
Soaeng turun dan No Geol langsung mengajaknya duduk. Soaeng menanyakan Seung Yoo. Tiba2, Seung Yoo datang. Ia sudah memakai pakaian hitam-nya lagi. Seok Joo tanya darimana saja Seung Yoo sepagi itu. Seung Yoo bukannya menjawab malah minta kertas dan tinta. Seok Joo bingung, kertas, tinta… No Geol pun menjelaskan kertas dan tinta yg dimaksud Seung Yoo adalah kertas, kuas… Soaeng pun langsung pergi mencari kertas.
Di kamarnya, Seung Yoo mulai menulis… Sooyang….
Shin Sook Joo menemui Sooyang. Ia tanya apa yang terjadi. Sooyang bilang malu bertemu dengan Shin Sook Joo. Shin Sook Joo bilang mudah2an Myun membawa kabar bagus nantinya.
Mereka lalu berkumpul dengan Myung Hoe, Kwon Ram dan Onyeong.
“Apa mungkin Pangeran Geum Sung yang melakukan semua ini? Dia sengaja membocorkan informasi palsu untuk menikam kita dari belakang.” Ucap Kwon Ram.
“Informasi palsu?” tanya Shin Sook Joo.
“Maafkan aku, Besan. Aku tidak memberitahumu kalau Geum Sung berniat membunuhku.” Jawab Sooyang.
“Aku tahu kau pasti punya alasan merahasiakannya. Tapi menurutmu, apa Pangeran Geum Sung yang melakukan ini?” ucap Shin Sook Joo.
“Ini tidak mungkin rencana Pangeran Geum Sung. Dia tidak mungkin menculik Nona Se Ryung dan membocorkan rencana pemberontakan. Ada orang lain di balik semua ini.” jawab Myung Hoe.
“Apa maksudmu orang lain?” tanya Shin Sook Joo.
“Musuh yang tidak terlihat.” Komentar Onyeong.
Putri mondar mandir di halaman rumahnya. Ia cemas karena belum ada berita dari Jong dan Geum Sung. Eun Geum menenangkan Putri dgn bilang kalau Jong dan Geum Sung pasti baik2 saja. Tak lama, Jong dan Geum Sung pulang.
Putri kaget, “Se Ryung diculik?”
“Seseorang menculik Nona Se Ryung.” Jawab Jong.
“Siapa pelakunya?” tanya Putri.
“Karena pengantin wanitanya menghilang, pernikahan pun ditunda dan kita tidak bisa melanjutkan rencana kita.” jawab Geum Sung.
“Siapa yang melakukan ini?” tanya Putri.
Jong tiba2 inget pelayan yg mirip Seung Yoo di Kediaman Sooyang.
“Tidak mungkin. Ini tidak mungkin.” ucap Jong sambil menggeleng2kan kepalanya.
“Apa yang kau bicarakan?” tanya Putri.
“Di Kediaman Sooyang, aku melihat seseorang yang mirip dengan Seung Yoo.” jawab Jong.
“Itu tidak mungkin. Mungkin karena kau yang terlalu merindukannya, jadi kau salah melihat.” Ucap Putri.
Kwon Ram : Petugas Hanseong sedang mengejarnya, kita tidak punya cara lain selain menunggu.
Myung Hoe : Kita tidak bisa diam saja.
Shin Sook Joo : Dia pasti akan datang lagi untuk menyakiti Pangeran Sooyang.
Myung Hoe : Dalang dibalik semua ini pasti Pangeran Geum Sung. Kita harus menangkapnya.
Sooyang : Perintahkan Petugas Hanseong untuk menangkapnya.
Anak buah Myun mendatangi kediaman Putri Kyung Hee. Putri Kyung Hee dan Jong kaget saat tahu Sooyang memberi perintah untuk menangkap Geum Sung. Geum Sung pun dibawa pergi oleh anak buah Myun. Putri dan Jong tak bisa berbuat apa2.
Putri dan Jong menemui Danjong.
Danjong kaget, “Paman Geum Sung dipenjara?”
Jong menjelaskan kalau Sooyang memberi perintah Petugas Hanseong untuk menangkap Geum Sung.
Danjong kesal, “Sekarang dia sudah berani bertindak tanpa berkonsultasi denganku terlebih dahulu.”
“Yang Mulia, tenanglah dulu.” Jawab Putri.
“Kali ini, aku tidak bisa diam saja. Paman Sooyang menangkap Paman Geum Sung yang tidak bersalah.” Ucap Raja.
Jong dan Putri saling berpandangan. Jong pun akhirnya menjelaskan kalau Geum Sung berencana melakukan pemberontakan di hari pernikahan Se Ryung. Tapi karena pernikahan itu dibatalkan, mereka tidak bisa melanjutkan rencana mereka.
Danjong : Ini berarti Paman Sooyang mengetahui rencana Paman Geum Sung?
Jong membenarkan.
Danjong : Kenapa kalian tidak memberitahuku?
Jong : Maafkan saya.
Danjong : Pertama, kita harus memindahkan Paman Geum Sung ke Biro Penyelidik Kerajaan. Jika dia tetap berada di Hanseong, kita tidak akan bisa tahu apa yang terjadi padanya. Aku tidak mau kehilangan Paman Geum Sung juga. Apapun yang terjadi, aku akan melindungi Paman Geum Sung.
Se Ryung mulai sadar. Ia terkejut menyadari dirinya berada di tempat asing. Ia lalu mencoba melepaskan ikatannya, tapi tidak bisa.

Seung Yoo duduk dan membersihkan pedangnya. Ia lalu teringat kata2 Se Ryung. Se Ryung bilang ingin menjadi bayangan Seung Yoo dan Seung Yoo juga menjadi bayangannya.
Muyeong keluar membawa barang2 yg sudah tidak dipakai lagi. Ia menyuruh No Geol membuang barang itu.
No Geol : Aku?
Muyeong : Lalu kau mau orang lemah seperti aku melakukannya?
No Geol : Lemah katamu? Kita punya barang yang sama.

Muyeong lalu mengeluarkan pisaunya dan mengancam No Geol. No Geol pun mengalah, kemudian tanya kemana barang2 itu harus dibawa. Muyeong menyuruh No Geol membawa barang itu ke gudang. Seung Yoo terkejut. 


Sebelum No Geol pergi, Seung Yoo bangkit dan mengambil barang2 itu lalu membawanya keluar. Muyeong dan No Geol kaget. Tapi Seok Joo curiga.
Seung Yoo meletakkan barang2 itu di depan gudang. Ia kemudian menatap ke arah gudang.
Se Ryung berhasil melepaskan ikatannya. Tiba2, ia mendengar suara2. Ia lalu mencari sesuatu sbg senjata, dan pura2 pingsan.

Seung Yoo masuk ke dalam. Yakin kondisi aman, ia pun berbalik dan mau keluar. Saat itulah Se Ryung bangkit dan hendak menusuk Seung Yoo. Seung Yoo tahu. Dengan reflek ia berbalik dan menahan tangan Se Ryung. Se Ryung kaget setengah mati melihat Seung Yoo. Saat Seung Yoo mengikatnya, ia diam saja.
“Bagaimana… apa ini benar2 kau, Guru? Kau masih hidup? Aku pikir kau sudah mati karena kapalmu tenggelam. Kenapa kau tidak memberitahuku kalau kau masih hidup?”
Seung Yoo berbalik memunggungi Se Ryung. Lalu dengan dingin ia berkata, “Kim Seung Yoo yang kau kenal dulu sudah mati.”
Seung Yoo lalu menatap tajam Se Ryung.

“Putri musuh yang membunuh ayahku, akan menikah dengan teman yg mengkhianatiku….”
Se Ryung menunduk. Ia merasa bersalah.
“Benar2 pasangan yg serasi.” Ucap Seung Yoo.
Se Ryung menatap Seung Yoo.
“Bukankah kau memintaku tetap bertahan dan kembali hidup2 untuk membunuhmu?” tanya Seung Yoo dingin.
“Guru.” Jawab Se Ryung.
“Bukankah kau berkata kau akan menunggu hari dimana aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri?” tanya Seung Yoo.
Se Ryung kaget. Seung Yoo tersenyum menyeringai.
“Apa itu hanya omong kosong? Tunggu saja, aku pasti akan membunuhmu.” Ucap Seung Yoo.

Seung Yoo bersiap pergi. Se Ryung memanggil Seung Yoo, Guru. Seung Yoo murka dan mencekik Se Ryung. 

Seung Yoo mengancam, jika Se Ryung terus memanggilnya seperti itu, ia akan membunuh Se Ryung saat itu juga. Se Ryung berkaca2 menatap Seung Yoo. Seung Yoo kembali mengikat Se Ryung, lalu mendorong Se Ryung hingga jatuh ke tanah.

Seok Joo melihat Seung Yoo keluar dari gudang. Ia pun heran melihat raut muka Seung Yoo.
“Kim Seung Yoo yang kau kenal sudah mati.”
Se Ryung pun menangis mengingat kata2 itu.

Myun dan pasukannya tiba di Bing Ok Gwan. Para gisaeng dan tamu terkejut. Muyeong pun langsung masuk, memanggil Chohi. Jae Beon berkata kalau mereka datang untuk mencari pria mencurigakan. Soaeng berkata tidak ada pria mencurigakan di sana, yg ada hanya pria hidung belang. Soaeng lalu mengajak Myun dan pasukannya masuk untuk mencicipi anggur Bing Ok Gwan. Myun memberi perintah pasukannya untuk masuk ke dalam.
“Jangan bergerak!” teriak Jae Beon.


Myun masuk ke dalam. Chohi langsung mendekat, Apa ada yang bisa dibantu? Jika kalian ingin minum, duduklah. Jika ingin mencari gadis2 kami, maka tunggulah.
Myun berkata, Kami mencari pria mencurigakan.

No Geol gemetaran, Seok Joo pun langsung memegang tangan No Geol.
“Tidak ada orang seperti itu di sini.” Jawab Chohi.
“Periksa tempat ini!” perintah Myun.

Seung Yoo dari atas, melihat Myun dan pasukannya. Ia pun menyelinap keluar dan berhasil menghindari Myun beberapa kali. No Geol berbisik pada Seok Joo, siapa yang dicari oleh mereka. Seok Joo menggeleng. Mereka lalu mendengar percakapan dua tentara ttg Putri tertua Sooyang yang mungkin saja berada di tempat itu. Seok Joo pun langsung menyadari sesuatu.

Se Ryung mengintip keluar melalui celah2 di pintu gudang. Ia lalu melihat Myun yang berjalan mendekat. Se Ryung pun menjauh dari pintu. Saat Myun mencoba masuk ke dalam terdengar teriakan pasukannya yang menyuruh menangkap orang itu. Tampak seseorang yang sedang berlari keluar. Myun dan pasukannya pun langsung mengejar orang itu. Ya, orang itu No Geol yg ditugaskan mengalihkan perhatian.

Seung Yoo langsung mengeluarkan Se Ryung dari gudang. Namun tiba2, langkah mereka ditahan Seok Joo. Keduanya kaget.
Se Ryung menunggu di dalam kamar Seung Yoo. Wajahnya terlihat tegang.
“Apa gadis itu putri Pangeran Sooyang?” tanya Seok Joo.
Seung Yoo diam saja.
“Jawab aku!”
“Itu benar.”
Seok Joo marah dan mencengkram kerah baju Seung Yoo.
“Apa yang kau pikirkan? Jangan bilang ini caramu balas dendam!” ucap Seo Joo, kemudian melepaskan cengkramannya. “… menggunakan wanita yang tidak bersalah sbg umpan, apa kau tidak merasa malu pada ayahmu yang kau hormati itu dan membuatmu sangat berduka?”
“Jaga bicaram!” jawab Seung Yoo marah.
“Kupikir kau berbeda dari yg lain. Pergi. Jangan buat org2 di sini dapat masalah.” Ucap Seok Joo.
Seung Yoo jalan pergi. Bersamaan dengan itu, No Geol masuk. No Geol mengeluh, Hyungnim, kupikir aku bakal mati saat mereka tadi menangkapku. Kenapa kau menyuruhku melakukan hal yang berbahaya seperti itu? Seok Joo diam saja. Ia pusing menghadapi tingkah Seung Yoo.

Seung Yoo masuk ke kamarnya dan menyuruh Se Ryung ganti baju. Se Ryung diam saja dan memandangi Seung Yoo dengan penuh air mata. Seung Yoo lalu membuka baju Se Ryung. Sebuah kantong pun terjatuh. Seung Yoo mengambilnya dan menjatuhkan isinya ke lantai. Isinya, pecahan cincin garakji. Seung Yoo kaget melihatnya.
Seung Yoo gemetaran. Ia ingat kata2 Se Ryung di kuil.
“Itu adalah satu2nya peninggalan dari orang yang kucintai, jadi kumohon, kembalikan.”
Se Ryung memungut pecahan garakjinya satu per satu.

“Kenapa kau mengambil barang yang sudah rusak? Cepat ganti baju!” ucap Seung Yoo.
Se Ryung diam saja. Seung Yoo menarik tangan Se Ryung.
Se Ryung marah, “Meskipun ini sudah hancur, bagiku ini mewakili orang yang memberikan seluruh hatinya yang tidak bercatat padaku.”
“Apa guru ada di Kuil Seung Beop kemarin? Apa kau mengikutiku selama ini? Aku selalu memikirkanmu, dan kau mengikutiku, Guru. Terima kasih banyak. Karena tetap hidup. Terima kasih banyak.” Ucap Se Ryung.
Seung Yoo berkaca2, tapi ia mengeraskan hatinya, kemudian mencengkram kedua bahu Se Ryung. Seung Yoo meminta Se Ryung melakukan apa yang dia suruh, lalu melemparkan Se Ryung ke kasur. Se Ryung menangis, lalu mulai mengganti bajunya. Seung Yoo yg tidak tahan akhirnya pergi keluar.

Seung Yoo membawa Se Ryung pergi keluar. Namun tiba2, Se Ryung menarik Seung Yoo dan mengajak bersembunyi. Ternyata Se Ryung melihat Myun. Myun dan pasukannya masih bertahan di sana. Karena tidak menemukan apa2, akhirnya Myun dan pasukannya pun pergi.
Seung Yoo lalu melihat Se Ryung yang memegang lengannya. Ia pun menghempaskan tangan Se Ryung.
Seung Yoo membawa Se Ryung ke suatu tempat.
Se Ryung tanya, kita mau kemana? Tapi Seung Yoo diam saja, membuat Se Ryung tanya lagi mereka mau kemana. Seung Yoo lagi2 diam dan menarik Se Ryung turun dari kuda. Ia lalu mengikat tangan Se Ryung, lalu membawa Se Ryung masuk ke hutan.

Se Ryung susah payah jalan dalam kegelapan dan dengan tangan terikat. Kemudian, karena tersandung sesuatu, Se Ryung jatuh berguling2 ke bawah. Seung Yoo diam saja menatap Se Ryung dengan tatapan dingin. 


Se Ryung pun tidak mengeluh sedikit pun. Ia mencoba berdiri sendiri. Tapi terus jatuh. Seung Yoo akhirnya mendekati Se Ryung dan membantu Se Ryung berdiri. Ia lalu melepaskan ikatan tangan Se Ryung.
Seung Yoo dan Se Ryung akhirnya tiba di sebuah pondok kecil. Mereka masuk ke dalam dan duduk diam. Seung Yoo memandangi Se Ryung yg seperti kesakitan dengan pandangan cemas.

“Jangan melihatku seperti itu. Aku tidak apa2.” Ucap Se Ryung menyadari Seung Yoo menatapnya dengan cemas.
“Jangan salah paham.” Jawab Seung Yoo.
“Kapan kau akan membunuhku?” tanya Se Ryung.
“Aku digunakan sebagai umpan untuk membunuh ayahku. Kau juga, kugunakan sbg umpan untuk membunuh ayahmu.” Jawab Seung Yoo.
Se Ryung berkaca2.
“Kenapa? Meskipun ayahmu sangat kejam, kau tidak rela dia mati? Apa kau begitu menyayangi ayahmu yang tangannya berlumuran darah orang lan?” tanya Seung Yoo.
Se Ryung diam saja dan menatap Seung Yoo dengan penuh air mata.

“Jangan melihatku seperti itu. Pandangan polos dan terluka yang kau perlihatkan…..” Seung Yoo teriak, Jangan perlihatkan itu padaku!
Namun Se Ryung terus saja menatap Seung Yoo seperti itu.

Seung Yoo marah dan mencengkram kerah baju Se Ryung.
“Apa kau tidak mengerti yang kukatakan! Bagaimana aku… bagaimana aku bisa membuatmu mengerti kata2ku! Kau dan ayahmu sama saja. Aku akan pergi menikam dada ayahmu dengan pedang ini. Dan setelah memenggal kepala seluruh anggota keluargamu, aku akan membunuhmu… dengan kejam. Apa kau mengerti?!”
Se Ryung tiba2 menarik Seung Yoo ke dalam pelukannya. Ia peluk Seung Yoo erat.
“Berapa banyak…. berapa banyak luka yang sudah kau derita? Jika dengan mencabut nyawaku, bisa menyembuhkan lukamu, aku bersedia mati ribuan kali, jutaan kali.” Ucap Se Ryung.

Seung Yoo syok, kemudian menarik diri dari pelukan Se Ryung dan mengarahkan pedangnya ke leher Se Ryung. Lalu, tanpa sengaja Seung Yoo melihat bekas luka di leher Se Ryung. Seung Yoo pun teringat kata2 Myun ttg Se Ryung yang mengancam bunuh diri demi menyelamatkannya.

Seung Yoo pun berlari keluar, meninggalkan Se Ryung yang terduduk di lantai. Seung Yoo duduk di teras pondok dan menenangkan dirinya. Melihat bayangan Seung Yoo di pintu, Se Ryung pun mendekatinya dan membelainya. Seung Yoo yg menyadari itu, segera pergi.
Sooyang kecewa karena belum ada kabar dari penculik Se Ryung. Myun minta maaf dan berjanji akan mencarinya sampai ketemu. Sooyang bilang sebenarnya, dia lah sasarannya dan dia akan menangkap penculiknya dan membuat si penculik membayar mahal karena sudah meremehkannya.
Lady Yoon, Soong dan Se Jeong menunggu dengan gelisah di luar. Lalu, Yeo Ri datang dan berkata kalau belum ada kabar. Lady Yoon mau jatuh, tapi Soong dan Se Jeong dengan cepat memegangnya.
Lady Yoon : Aku tidak apa2. Dia gadis yang kuat. Tidak akan terjadi sesuatu yg buruk padanya.
Se Jeong : Bagaimana kalau sesuatu terjadi pada kakak?
Tiba2, seseorang menembakkan panah dengan pesan. Panah itu menancap di tiang. Lady Yoon, Yeo Ri, Soong dan Se Jeong kaget.
Seung Yoo melarikan diri. Pasukan Sooyang melihatnya dan langsung mengejarnya.
Sooyang, putrimu sekarang ada di tanganku. Besok siang, datangkah ke Batu Karang di Lembah Hwang sendiri. Jika kau mengerahkan pasukan atau bertindak gegabah, putrimu akan mati di sana.
“Kau tidak boleh pergi. Ini jebakan.” Ucap Myung Hoe.
”Nyawa Nona dipertaruhkan di sini. Kita harus menyelamatkan Nona, meski mempertaruhkan nyawa kita.” ucap Myun.
“Myun-ah.” Tegur Shin Sook Joo.
“Bagaimana kalau kita mengerahkan pasukan diam2? Kita tidak bisa membiarkan Pangeran Sooyang pergi ke sana sendirian.” Ucap Onyeong.
“Aku akan pergi sendiri.” Jawab Sooyang.
Seung Yoo kembali ke pondok. Ia duduk dan tidur dan tidak mempedulikan tatapan Se Ryung padanya.
Paginya Seung Yoo terbangun dan panic karena Se Ryung menghilang. Ia bergegas keluar mencari Se Ryung. Se Ryung pun muncul dengan semangkuk air di tangannya. Ia memberikan air itu pada Seung Yoo. Ia melempar mangkuk itu, kemudian mengikat tangan Se Ryung.
“Dendam ini, kumohon akhirilah dengan mengambil nyawaku. Setelah mengambil nyawaku, bangunlah dari mimpi buruk yang mengerikan ini.” ucap Se Ryung.
“Jangan bicara ngawur. Ayahmu, dia harus membayar dosa2nya.” Jawab Seung Yoo.
“Kekejaman ayahku memang tidak bisa dimaafkan, tapi orang yang mencegah guru dipenggal adalah ayah.” ucap Se Ryung.

“Mencegahku dipenggal? Lalu, siapa orang yang menenggelamkan kapal yang membawa banyak nyawa dan mencoba menguburnya di dasar laut?” tanya Seung Yoo.
“Apa maksudmu? Ayahku bilang nyawamu diampuni, tapi kau dikirim ke Pulau Kang Hwa sebagai budak.” Jawab Se Ryung.
“Sepertinya kau masih belum mengetahui wajah ayahmu yang sebenarnya. Menjadikan pengasingan sbg alasan, untuk membunuh semua musuhnya sekaligus, termasuk aku.” ucap Seung Yoo.
Se Ryung pun terbelalak. Seung Yoo lantas menarik Se Ryung pergi.
Sooyang bersiap pergi menemui si penculik. Lady Yoon membantu memasangkan baju besi di balik hanbok Sooyang.
Soong : Aku harus ikut.
Sooyang : Ini berbahaya, kau tetap di sini.
Soong : Tapi ini tentang Noonim.
Sooyang : Aku senang kau begitu peduli pada kakakmu, tapi saat ayahmu tidak ada di rumah, kau harus menjadi kepala keluarga.
Soong : Pastikan kembali dengan selamat bersama kakak.
Sooyang menatap Soong, “Jangan khawatir.”
Sooyang keluar. Diluar, Myun sudah siap dengan pasukannya.

Sooyang : Jangan mengawali penyerangan. Kita bukan hanya harus menyelamatkan Se Ryung, tapi juga harus menangkapnya hidup2, dan mencari tahu siapa dalang dibalik semua ini.
Myun : Tapi nyawa Nona dalam bahaya.
Sooyang : Sampai aku memberi perintah, jangan apa2kan orang itu.
Myun : Baik.
Seung Yoo mengelap anak panahnya. Se Ryung mengamatinya, sambil teringat kata2 Seung Yoo kalau ayahnya penyebab kapal yang menuju Pulau Kang Hwa tenggelam.
Myun dan pasukannya sudah bersiap. Myun berkata kalau ada bahaya sekecil apapun, segera menembak.
“Bukankah tadi Pangeran Sooyang menyuruh kita menangkapnya hidup2?” jawab Jae Beon.
“Aku ini atasanmu, ikuti saja perintahku.” Ucap Myun marah.
“Maafkan saya.” jawab Jae Beon.

Seung Yoo jalan bersama Se Ryung. Se Ryung merasa ini berbahaya, ia takut ada penyergapan oleh pasukan. Seung Yoo tidak peduli, selama ia bisa membunuh Sooyang. Se Ryung tanya apa Seung Yoo tidak mau hidup. Seung Yoo bilang hidupnya tidak penting, selama ia bisa membunuh semua keluarga Se Ryung. Se Ryung pun berseru kalau keluarga Seung Yoo masih hidup. Seung Yoo tidak percaya. Se Ryung bilang keponakan kecil Seung Yoo dan kakak ipar Seung Yoo, menunggu Seung Yoo dengan gelisah.

Seung Yoo tidak percaya. Se Ryung mencoba meyakinkan Seung Yoo, tapi Seung Yoo marah, lalu mengikat mulut Se Ryung dengan tali.

Seung Yoo pun membawa Se Ryung ke lokasi yang sudah ditentukan. Melihat itu, Myun mencabut pedangnya dan mau menyerang Seung Yoo, tapi ditahan Jae Beon.
Se Ryung melihat sekeliling. Ia mencemaskan Seung Yoo.

Seung Yoo mengambil busurnya dan mengarahkannya pada Se Ryung. Melihat itu, Myun merampas busur anak buahnya, dan mengarahkannya ke Seung Yoo.
“Jika ayahmu tidak datang, kau akan mati di sini.” Ancam Seung Yoo.
Tiba2 terdengar suara Sooyang, “Bebaskan putriku yang tidak bersalah!”

Seung Yoo dan Se Ryung sama2 kaget. Mereka tak menyangka, Sooyang datang.
“Pengecut yang menutupi wajahnya di depan orang lain masih berani menantangku?” ucap Sooyang.
“Harga untuk menyelamatkan putrimu adalah nyawamu.” Jawab Seung Yoo sambil mengarahkan busurnya ke Sooyang.
“Ya aku. Cepat dan biarkan dia pergi. Ambil nyawaku. Bukankah itu yang kau inginkan. Kenapa kau ragu2?” ucap Sooyang.
Sooyang perlahan mendekati Seung Yoo. “Kenapa kau tidak menembak!”

Akhirnya, Seung Yoo melepaskan anak panahnya dan mengenai perut Sooyang. Se Ryung kaget dan tampak mencemaskan ayahnya. Sesaat Sooyang seperti kesulitan bernapas, lalu tiba2 dia tersenyum menyeringai.

Seung Yoo pun sadar ada yg tidak beres.

Se Ryung tanpa sengaja melihat Myun yang bersiap menembak Seung Yoo dengan panah. Tepat saat panah itu ditembakkan Myun, Se Ryung berlari ke arah Seung Yoo. 


Panah Myun pun menghujam punggung Se Ryung. Myun, Sooyang dan Seung Yoo syok.

BERSAMBUNG……….

No comments:

Post a Comment