Thursday, November 1, 2018

The Princess Man Ep 13


Seung Yoo berdiri di depan kediaman Sooyang. Tangannya mengepal, menahan rasa marah. Seung Yoo lalu sembunyi karena ada orang yang datang. Yang datang, Myun dan Se Ryung.

“Dia menyuruhku menyampaikan rasa terima kasihnya padamu.” Ucap Se Ryung.
“Kalau dia tahu siapa aku, dia pasti akan memakiku.” Jawab Myun.
“Aku minta maaf atas kesalahpahaman yg terjadi. Seharusnya kau bilang dari awal….” Ucap Se Ryung.
“Apa kau akan percaya kalau aku mengatakannya dari awal? Kau menuduhku membawa mereka ke suatu tempat untuk dibunuh. Seburuk itu kah aku di matamu, Nona? Seorang pria berdarah dingin yang sanggup membunuh temannya sendiri. Bukankah begitu?” jawab Myun.
“Sebaiknya kau pulang.” Ucap Se Ryung, lalu berbalik dan siap masuk.
“Berapa lama lagi!” teriak Myun, membuat Se Ryung terkejut.
“Sampai kapan aku harus menunggu sampai kau melihatku?” tanya Myun.
“Pergilah.” Jawab Se Ryung, kemudian beranjak masuk.

Myun mendekati Se Ryung, dan menarik paksa Se Ryung ke dalam pelukannya. Se Ryung berontak. Tapi Myun mengencangkan pelukannya. Seung Yoo dari balik pohon kaget melihatnya. Seung Yoo pun akhirnya pergi. Tepat setelah kepergian Seung Yoo, Se Ryung menarik dirinya dari pelukan Myun.
“Meskipun kita akan menikah, bagaimana bisa kau bersikap buruk seperti ini? Jangan pernah berharap untuk mendapatkan hatiku.” Ucap Se Ryung dingin, lalu berbalik.

“Sisa hidupmu akan kau habiskan denganku. Perlahan2 aku akan mendapatkan hatimu.” Jawab Myun, lalu pergi.
Se Ryung menatap kepergian Myun dengan perasaan marah dan terluka.

Di jalan, Seung Yoo teringat kata2 Jong ttg Myun yg akan menikah dgn putri Sooyang. Sementara Se Ryung teringat kata2 Myun tadi kalau hidupnya akan ia habiskan dgn Myun. Se Ryung menghela napas. Lalu, Yeo Ri datang memberitahu Se Ryung kalau Pangeran Sooyang sudah menunggu Se Ryung sejak tadi.
“Apa kau yang membantu keluarga Kim Jong Seo melarikan diri? Bagaimana bisa kau melakukan hal seberani itu? Apa kau tidak tahu itu melanggar hukum?” tanya Sooyang.
“Membuat para wanita malang itu bekerja sbg budak di kediaman orang yang sudah membunuh keluarga mereka, apa itu hukum negeri ini? Seharusnya kita tidak mematuhi hukum sekejam itu.” jawab Se Ryung.
“Apa kau mencoba berdiskusi masalah politik denganku sekarang?” tanya Sooyang.
“Ini bukan masalah politik, saya hanya bicara ttg hal yang benar.” Jawab Se Ryung.
Pangeran Sooyang menghela napas. Selama beberapa saat ia tak bisa menjawab perkataan Se Ryung. Sooyang lalu berkata kalau nanti Se Ryung akan mengerti apa yang ia lakukan demi kebaikan keluarga mereka.

Dengan dingin Se Ryung berkata, “Jika salah saat ini, bagaimana bisa menjadi benar di masa mendatang?”
“Kata2 dinginmu benar2 melukai hati ayahmu. Sebagai kepala keluarga, jika aku tidak bisa memenangkan hati anakku, bagaimana aku bisa menjadi ayah yg baik?” ucap Sooyang.
Se Ryung diam saja. Tak tampak penyesalan di wajahnya setelah mengatakan hal itu pada sang ayah. Sang ayah lalu bangkit dan keluar dari kamarnya.
Sooyang berjalan keluar, lalu berdiri di depan kamar putrinya dan menatap kamar putrinya. Ia benar2 terpukul dengan sikap Se Ryung.

Langkah Seung Yoo tiba di tempat dimana kepala ayah dan kakaknya digantung. Seung Yoo lalu mendekati seorang pedagang dan bertanya apa yang terjadi pada kepala2 yg digantung di sana. Si pedagang berkata tidak ada yg berani mengubur kepala2 itu karena itu kepala2 penjahat. Ia juga bilang kalau kepala2 itu dilempar ke hutan belantara dan menjadi santapan binatang buas. Seung Yoo terpukul mendengarnya.

Seung Yoo jalan keluar. Hatinya benar2 hancur. Tiba2, ada suara anak perempuan memanggil paman. Seung Yoo menoleh dan melihat seorang anak perempuan berlari menyambut pamannya dan mereka masuk ke dalam rumah. Seung Yoo pun ingat saat Ah Kang melakukan hal yang sama.
Seok Joo masuk ke kamar Seung Yoo. Ia resah karena tak mendapati Seung Yoo di sana. No Geol yg ikut ke kamar Seung Yoo, berkata Seung Yoo tak tahu terima kasih karena pergi begitu saja. Seok Joo cemas, takut kalau terjadi sesuatu pada Seung Yoo.

Di luar, Muyeong sedang merayu para pria. Tapi pria itu tidak tertarik. Muyeong pun berkaca dan bertanya apa ada yg aneh dengan riasannya. Muyeong lalu terkejut melihat sesuatu di cermin. Ia berbalik dan menjatuhkan cerminnya. Beberapa org preman mendekati Muyeong.
“Apa kabar pria cantik?” tanya salah satu preman.
Muyeong ketakutan.
“Hey, lihatlah bagaimana dia ketakutan seperti wanita.” Preman itu menertawakan Muyeong.
“Jadi Jo Seok Joo sudah kembali hidup2? Dimana dia? Apa dia bersembunyi di bawah rokmu?” tanya preman itu.
Muyeong mengeluarkan pisaunya dan mengarahkannya pada mereka. Mereka tersenyum geli lalu menunjukkan pedang mereka. Muyeong pun lari ketakutan.
Di dalam, Chohi sedang mencampur air dengan anggur. Seok Joo heran, kenapa kau mencampurnya? Chohi bilang orang mabuk tidak akan bisa membedakan rasa air dan anggur, aku tidak peduli mereka akan mengutukku. Uang yang harus disetor pada Gong Chil Goo… jumlahnya tak sedikit.
Mu Yeong lalu datang, “Eonni, anak buah Gong Chil Goo datang dan mencari Orabeoni.”
Seok Joo mau keluar, tapi ditahan Chohi.
“Jangan kemana2. Aku tidak akan membiarkan tempat ini rusak lagi.” Ucap Chohi.
Chohi keluar, diikuti Muyeong. Tampak anak buah Chil Goo sedang mengacak2 isi tempat Chohi.
Chohi teriak, “Apa yang kalian lakukan?!”

“Chihi Noonim, kudengar Seok Joo dan anjing2nya bersembunyi di sini. Chil Goo Hyung marah sekali.” Jawab preman itu.
“Omong kosong apa ini? Kenapa kalian mencari Seok Joo di sini? Jangan ganggu bisnisku dan pergilah sekarang!” ucap Chohi.
Preman itu lalu menarik Soaeng dan mengarahkan pedangnya ke leher Soaeng.
“Jo Seok Joo, keluarlah! Jgn sembunyi seperti pengecut!” teriaknya.

Seung Yoo pulang dan jalan di tengah kekacauan itu. Preman itu tanya, Dimana Seok Joo? Aku belum pernah melihatmu di sini. Apa kau salah satu orang nya Seok Joo?
Seung Yoo diam saja dan jalan pergi, tapi preman itu kemudian mengarahkan pedang ke leher Seung Yoo. Chohi mulai cemas. Dengan kecepatan kilat, Seung Yoo merebut pedang itu dan melumpuhkan preman itu satu per satu. Saat mau melumpuhkan si kepala preman, Seok Joo keluar dan mencegah Seung Yoo. Kepala preman lari ketakutan. Seok Joo cemas menatap Seung Yoo.
“Jika kau membunuh banyak orang, apa kau pikir kemarahanmu bisa lenyap? Orang seperti apa kau ini?” tanya Seok Joo.
“Kau punya nama?” tanya Chohi.
“Tidak. Aku tidak punya nama.” Jawab Seung Yoo.
“Kenapa kau kembali?” tanya Seok Joo.
“Aku tidak punya tujuan.” Jawab Seung Yoo.
Chohi tersenyum, lalu berkata, “Aku suka keterusteranganmu. Kau boleh tinggal di sini, tapi jangan berpikir kau akan makan dan minum dengan gratis. Kau terlihat seperti pendekar pedang yang tangguh. Kalau kau ingin makan, mulai besok kau bisa bekerja melindungi gadis2 kami.”
“Apa kau gila? Kau ingin dia menggunakan pedangnya terus?” tanya Seok Joo.
“Kalau tidak mau, pergilah.” Jawab Chohi.
“Aku harus melakukan sesuatu siang hari.” Ucap Seung Yoo.
“Tidur siang hari, menjual senyuman di malam hari. Ini lah yang kami lakukan. Apapun yang terjadi, kau tidak boleh menghunus pedangmu. Pekerjaanmu adalah menjaga Bing Ok Gwan dan para gisaeng.” Jawab Chohi.
Seung Yoo pun beranjak keluar. Sesampainya diluar, No Geol merangkul Seung Yoo dan berkata kalau ia tak punya tujuan dan ingin tinggal dengan Seung Yoo. Seung Yoo diam saja. Soaeng berkata karena Seung Yoo sudah menyelamatkannya, maka Seung Yoo adalah miliknya. Seung Yoo diam saja dan jalan pergi. No Geol mengeluhkan sikap dingin Seung Yoo.

Chil Goo ngamuk. Ia memukuli anak buahnya habis2an. Anak buahnya minta ampun, tapi Chil Goo tidak peduli dan terus memukuli anak buahnya. Chil Goo marah karena anak buahnya tidak berhasil membawa Seok Joo. Anak buahnya pun melapor ttg seseorang (Seung Yoo) yang dibawa Seok Joo yang menghajar mereka membabi buta. Chil Goo pun penasaran siapa orang yang dibawa Seok Joo.

Seung Yoo masuk kamarnya dan ingat kata2 Se Ryung.
“Namaku Lee Se Ryung. Kembali lah hidup2 untuk membunuhku. Aku akan menunggu hari itu, hari dimana aku akan mati di tangan Guru.”
Se Ryung di kamarnya juga teringat kata2 sang ayah.
“Kelak kau akan mengerti aku melakukan ini demi kebaikan keluarga kita.” ucap Sooyang.
Ia juga ingat ancaman Seung Yoo.
“Dengan tanganku sendiri… aku akan membunuhmu dan juga ayahmu.”
Ia juga ingat kata2 Lady Ryu ttg berita tenggelamnya kapal yang membawa para tahanan ke Pulau Gang Hwa dan tidak ada satu pun penumpang yang selamat.

Seok Joo ke kamar Seung Yoo dan melihat Seung Yoo dengan cemas.
Paginya, Se Ryung menghadap ibunya.
“Pernikahanmu ditunda, tapi ayahmu tidak bisa menundanya terlalu lama. Sebagai ibumu, aku berharap kau bisa menenangkan hatimu dan menjadi istri yang baik yang mendukung suaminya. Sekarang, temui lah Tuan Putri dan sampaikan penundaan jadwal pernikahan.”
“Ya.” jawab Se Ryung tanpa semangat.
Pangeran Geum Sung menemui Putri dan Jong.
“Tanggal pernikahan sudah ditetapkan. Kita harus menjalankan rencana kita pada acara besar seperti ini.” ucap Geum Sung.
“Haruskah kita memanfaatkan pernikahan ini?” tanya Jong.
“Kita bahkan tidak diizinkan memasuki istana. Kesempatan tidak akan datang dua kali.” Jawab Geum Sung.
“Bantuanmu sangat diperlukan.” Ucap Geum Sung lagi.
“Bantuanku?” tanya Jong.
“Bukankah Shin Myun memintamu menjadi Hu Haengnya? Kudengar kau dan Shin Myun adalah teman baik.” Jawab Geum Sung.
“Ya tapi aku sudah menolaknya.” Ucap Jong.
“Kau harus menjadi Hu Haeng-nya.” Jawab Geum Sung.
“Apa maksudmu?” tanya Jong.

Geum Sung tidak menjawab, tapi menyuruh dayang membuka pintu. Begitu pintu dibuka, tampaklah 3 orang pria berseragam pelayan duduk di lantai.
“Saat kau menjadi Hu Haeng-nya, bawalah mereka.” Ucap Geum Sung.
“Mereka….?” Tanya Jong yang mulai mengerti.
“Mereka adalah anggota Chong Tong Wi yang menyamar sbg pengawalku.” Jawab Geum Sung.
Jong kaget, lalu saling bertukar pandang dengan Putri.

Se Ryung dan Yeo Ri yang mau ke kediaman Putri, bertemu Geum Sung. Geum Sung dengan dingin mengucapkan selamat untuk pernikahan Se Ryung dan Myun. Se Ryung diam saja. Geum Sung menatap tajam Se Ryung. Se Ryung lalu membungkuk memberi hormat dan jalan pergi.
Geum Sung menyuruh dua tentara-nya mengawasi kediaman Sooyang. Sedangkan tentara yg satunya mengawasi Gibang Chong Pung Gwan. Sementara itu ia mau menemui Park Hong Su, pemimpin Chong Tong Wi.


Se Ryung menemui Putri. Putri teringat kata2 Geum Sung kalau mereka akan melakukan pemberontakan di hari pernikahan Se Ryung. Se Ryung memberitahu kalau tanggal pernikahannya sudah ditetapkan. Putri berkata kalau ia dan Se Ryung sekarang mirip karena mereka sama2 harus menikah dgn orang yang tidak mereka cintai. Putri lalu bilang ada sesuatu yg ingin ia berikan pada Se Ryung.

Putri mengambil sebuah kantong dari dalam laci dan meletakkannya di meja.
“Beberapa waktu lalu, Jikgang Kim memberikan cincin ini untukku. Tapi cincin ini sebenarnya untukmu. Aku tidak bisa menyimpannya lebih lama lagi. Ini aku berikan padamu, sebagai hadiah terakhirku.” Ucap Putri.
Putri dan Se Ryung sama2 berkaca2. Se Ryung mengambil kantong itu dengan tangan gemetar. Air matanya pun menetes.

Di jalan, Se Ryung membuka kantong itu dan mengeluarkan isinya. Sepasang cincin garakji. Se Ryung pun langsung mengenakan cincin itu di jarinya.
“Aku tahu ini bukan keputusan yg mudah.” Ucap Putri pada Jong.
“Jangan bilang kau ingin memutuskan hubunganmu dengan Nona Se Ryung?” tanya Jong sambil berbalik dan menatap Putri.
“Aku harus bisa menghapusnya.” Jawab Putri.
“Aku… tidak bisa melakukannya. Seung Yoo meninggal dgn cara tragis. Aku tidak bisa membiarkan Myun….”
“Jika aku bisa melindungi Yang Mulia, aku siap mengorbankan nyawaku. Kau harus bisa.”
Salah satu anak buah Geum Sung, menuju ke suatu tempat.

Eun Geum menemui Myun.
“Apa yang membuatmu datang ke sini?” tanya Myun.
“Saya datang untuk menyampaikan pesan dari Pangeran Pendamping. Pangeran Pendamping setuju menjadi Hu Haeng anda.” Jawab Eun Geum.
“Benarkah begitu?”
“Benar.”
Myun pun tersenyum lebar.

Salah satu anak buah Geum Sung ternyata tidak setia. Ia menemui Myung Hoe dan memberitahukan rencana pemberontakan yang akan dilakukan pada saat pernikahan Se Ryung. Myung Hoe tertawa puas. Ia lalu memberikan anak buah Geum Sung uang dalam jumlah banyak.
Myung Hoe menemui Sooyang. Sooyang kaget, Pernikahan Se Ryung?
“Benar. Orang yang menjadi Hu Haeng Petugas Shin, akan membunuh anda.” Jawab Myung Hoe.
“Jadi ini rencana Geum Sung.” Ucap Sooyang.
“Tuan Putri dan Pangeran Pendamping juga ikut terlibat. Apa rencana anda? Ini adalah kesempatan emas untuk menyapu habis mereka.” Jawab Myung Hoe.
“Biarkan saja dulu.” Ucap Sooyang.
“Aku cemas pernikahan Nona Se Ryung akan menumpahkan banyak darah.” Jawab Myung Hoe.
“Tahan siapapun tamu yang ingin menghancurkan hari bahagia itu.” ucap Sooyang.
Lalu, Shin Sook Joo datang. Sooyang pun meminta Myung Hoe merahasiakan hal itu dari Shin Sook Joo.
Chohi memperingatkan No Geol dan Seung Yoo, Ingat. Kalian tidak boleh menghunus pedang itu.
“Apa ini? Para pemabuk menghunus pedang seperti memegang sumpit, dan kau mau kami berdiri diam dan terluka karena pedang?” jawab No Geol.
“Kalian pikir ini pekerjaan mudah. Saat kalian menghunus pedang di sini, saat itu pula bisnis ini berakhir.” Ucap Chohi.
No Geol kesal. Chohi lalu menatap tajam Seung Yoo dan memperingatkannya, Dengarkan aku. Tidak peduli itu pisau atau sendok yang mengancammu, kau tidak boleh bertindak tanpa perintahku. Mengerti? Seung Yoo mengangguk.

Chohi dan Seok Joo duduk bersama. Mereka memperhatikan Seung Yoo yang diam mematung. Seok Joo bilang kalau apa yang dilakukan Chohi sia2 saja. Chohi merasa dirinya benar. Seok Joo berkata lagi kalau Seung Yoo memiliki dendam yang begitu besar. Chohi lalu menyuruh Seok Joo bersembunyi dari Chil Goo. Tapi Seok Joo menolak.
Malam harinya, No Geol dan Seung Yoo mulai bekerja sbg bodyguard. Di meja, para bangsawan lagi senang2 dgn para gisaeng. Salah satu bangsawan ingin memeluk Soaeng, tapi Soaeng menolak. Soaeng lalu memperhatikan Seung Yoo. Bangsawan itu kesal, kemudian memanggil dan menyuruh Seung Yoo menuangkan minuman ke gelasnya. Seung Yoo diam saja.
Chohi : Dia baru di sini dan ini kali pertama dia bekerja, jadi mohon dimengerti.
“Kalau begitu baiklah, aku yang akan menuangkan minum untuknya.” Jawab bangsawan itu.
Bangsawan itu mendekati Seung Yoo dan memberikan Seung Yoo minum. Tapi Seung Yoo diam saja. Bangsawan itu marah dan menyiramkan air ke wajah Seung Yoo. Seung Yoo tetap diam. Teman bangsawan itu marah dan ikut melempar Seung Yoo dengan cawan. Tapi Seung Yoo masih diam. Bangsawan itu semakin marah, kemudian mencabut pisaunya dan melemparkannya ke arah Seung Yoo. Pisau itu menancap di tiang yang hanya beberapa senti dari kepala Seung Yoo. Semua syok melihatnya. Namun Seung Yoo masih diam.
Bangsawan itu pun murka. Dia mencabut pisaunya dan mengacung2kannya pada Seung Yoo. Chohi pun mulai cemas. Seung Yoo yg sudah habis kesabaran akhirnya merebut pisau itu dan membuat pria itu jatuh dengan hidung berdarah. Semua kaget, tapi Soaeng dan Muyeong terpesona melihatnya.
Pria itu marah, Kau tidak tahu siapa aku? Aku tidak akan membiarkanmu!
Ia pun pergi bersama teman2nya.
Shin Shuk Joo menemui Myun.
“Tanggal pernikahanmu dengan putri Pangeran Sooyang sudah ditetapkan. Apa kau masih merasa tidak enak?” tanya Shin Shuk Joo.
“Tidak lagi. Ayah, kenapa kau sangat tertarik dengan pernikahan ini?” tanya Myun.
“Apa pendapatmu tentang Pangeran Sooyang?” tanya Shin Shuk Joo.
Myun diam saja.
“Pangeran Sooyang tidak takut menumpahkan banyak darah. Ia akan menjadi monarki yang kuat kalau ia menjalankan negeri ini. Tapi, selama transisi ini, ia tak segan2 menyingkirkan siapapun penghalangnya. Kau harus menunjukkan kesetiaanmu pada Pangeran Sooyang.” ucap Shin Shuk Joo.

Seung Yoo pergi ke kantor Myun. Ia tanya pada penjaga apa yang terjadi pada wanita dan anak2 yg ditangkap selama pemberontakan. Penjaga yg heran untuk apa Seung Yoo menanyakan itu. Seung Yoo bilang ada wanita yang dikenalnya. Penjaga pun bilang kalau mereka dikirim sebagai budak ke rumah pejabat yg berjasa.
Seung Yoo lalu disuruh pergi karena Myun keluar. Myun dan ayahnya keluar. Seung Yoo menutupi wajahnya dan melihat Myun. Shin Shuk Joo pergi. Setelah sang ayah pergi, Myun masuk begitu saja tanpa melihat Seung Yoo. Seung Yoo mendengar pembicaraan penjaga ttg pernikahan Myun dengan Se Ryung. Ia pun teringat saat Myun memeluk Se Ryung dengan paksa. Ia kesal, kemudian beranjak pergi.
Seung Yoo pergi ke rumah salah satu pejabat. Ia tanya pada pelayan wanita yg kebetulan keluar dar rumah itu.
“Apa ada anggota keluarga para pemberontak yg tinggal di sini?”

“Kenapa kau tanya itu? Itu aku. Bekerja di kediaman orang yang membunuh suamiku secara brutal, aku bahkan tidak bisa hidup atau mati.”
“Apa kau tahu dimana anggota keluarga Kim Jong Seo?”
Seung Yoo lalu dibawa ke kediaman Onyeong. Seorang pelayan wanita lalu menemui Seung Yoo. Betapa kagetnya Seung Yoo saat pelayan itu bilang Lady Ryu dan Ah Kang bunuh diri dengan cara menenggelamkan diri ke sungai. Seung Yoo tidak percaya. Wanita itu menyuruh Seung Yoo pergi, lalu masuk ke dalam. Seung Yoo yang tidak percaya lalu menggedor2 pintu kediaman Onyeong.

Beberapa pelayan Onyeong keluar, lalu melemparkan Seung Yoo ke tanah dan memukulinya. Tepat saat itu, Onyeong pulang. Ia turun dari tandu dan tanya ada apa. Seung Yoo langsung menutupi wajahnya. Onyeong pun percaya saat pelayannya berkata Seung Yoo adalah orang gila. Onyeong pun masuk ke kediamannya tanpa melihat Seung Yoo.

Seung Yoo berjalan dengan gontai. Ia lalu duduk di pinggir jalan dan menangis.
“Ada hubungan apa antara Seok Joo Hyung dengan Gong Chil Goo?” tanya No Geol pada Muyeong.
“Sebenarnya Gong Chil Goo adalah tangan kanan Orabeoni.” Jawab Muyeong.
“Lalu bagaimana bisa berakhir seperti ini?” tanya No Geol yg terpesona pada Muyeong.
“Seperti anjing yang mengigit tuannya.” Jawab Muyeong.
“Tapi aku rasa Seok Joo Hyung bukanlah org yg mudah dikalahkan.” Ucap No Geol.
“Untuk mengalahkan Seok Joo Orabeoni, Gong Chil Goo harus memancingnya dengan menculik Chohi Eonnie.” Jawab Muyeong.
“Benar2 rendahan. Memancing musuh dengan menyandera wanita yg dicintai.” Ucap No Geol.
Seung Yoo pulang dan mendengarkan percakapan Muyeong dan No Geol. Soaeng datang dan merangkul Seung Yoo. Tapi Seung Yoo tak peduli dan beranjak masuk ke kamarnya.
Di kamarnya, Seung Yoo teringat kata2 pelayan Onyeong ttg Lady Ryu dan Ah Kang yg mati bunuh diri.



Seung Yoo lalu mengambil pedang dan berlatih pedang diluar. Flashback—Saat Sooyang yg baru pulang disambut hangat oleh keluarganya. Saat Se Ryung membungkuk memberi hormat pada Sooyang—flashback end. 


Seung Yoo terus berlatih pedang. Ia lalu ingat pengkhianatan Myun.


Juga ingat kisah cintanya dengan Se Ryung dan ingat saat Se Ryung mengakui identitasnya.

Seung Yoo lalu mengguyur badannya dengan air dingin.
Soaeng masuk ke kamar Seung Yoo dan mengajaknya makan. Tapi Seung Yoo tak ada di kamarnya.

Se Ryung memandangi cincin garakji-nya dengan penuh cinta. Yeo Ri meminta Se Ryung melupakan Seung Yoo.
Myun menemui Jong.
“Kupikir kau tidak mau (menjadi Hu Haeng).” Ucap Myun.
“Aku terpaksa melakukannya, karena orang itu yang sudah terkubur dalam hatiku. Dia kekasih orang itu kan? Apa kau benar2 tidak peduli?” jawab Jong.
“Aku akan melindungi wanita itu untuk membayar dosa2ku.” Ucap Myun.
Jong lalu mengantar Myun keluar dengan wajah sedih. Setelah Myun pergi, Putri menghampiri Jong dan tanya apa Jong berubah pikiran. Jong menghela napas lalu berkata, “Aku sangat sedih karena teman2ku. Orang itu, orang ini dan aku. Kenapa bisa berakhir begini, tapi aku akan melindungi Yang Mulia dan Tuan Putri. Jadi jangan cemas.”




Seung Yoo mengawasi kediaman Seung Yoo. Se Ryung lalu keluar. Seung Yoo mau mengikuti Se Ryung tapi gak jadi karena Myun yang tiba2 muncul.

Myun ingin bertemu Se Ryung, tapi Yeo Ri berkata kalau Se Ryung pergi berdoa ke kuil. Yeo Ri lalu melirik bungkusan di tangan Myun. Ia pun tanya apa Myun ingin memberikan itu pada Se Ryung. Myun tidak menjawab dan menanyakan kuil tempat Se Ryung berdoa.

Se Ryung berhenti di depan gibang dan mengenang pertemuannya dengan Seung Yoo. Dari kejauhan, Seung Yoo mengamati Se Ryung. Se Ryung lalu beranjak pergi. Seung Yoo mengikutinya.
Myun sudah tiba di kuil. Ia melihat hadiahnya untuk Se Ryung. Binyeo/tusuk konde yg ingin ia berikan pada Se Ryung.

Se Ryung jalan menuju kuil. Seung Yoo mengikutinya. Ia mengeluarkan tali dari balik bajunya dan bersiap menjerat Se Ryung. Tapi tiba2, terdengar suara Myun. Seung Yoo sembunyi lagi.
“Kenapa kau di sini?” tanya Se Ryung heran.
“Aku memberikan ini untukmu. Ini memang kecil, tapi mewakili isi hatiku. Ambil dan lihatlah.” Jawab Myun.
Se Ryung mengambil hadiah dari Myun dan melihat isinya. Se Ryung lalu berkata kalau ia mau berdoa dulu.

Se Ryung meletakkan cincinnya di atas tumpukan batu, lalu berdoa….
“Aku akan memikirkan tempat ini sebagai tempat kau berdoa. Kumohon, istirahat lah dengan tenang.” Ucap Se Ryung.

 Dari balik pohon, Seung Yoo mengamati Se Ryung. Se Ryung lalu pergi. Setelah Se Ryung pergi, Seung Yoo mendekati tumpukan batu itu dan mengambil cincinnya. Ia pun terkejut melihat cincin itu. Ya, cincin itu dulu ia beli di pasar bersama Jong. Jong pun menggoda Seung Yoo saat itu.

Se Ryung jalan keluar dari kuil. Tiba2, ia teringat saat Seung Yoo memeluknya di kuil itu. Ia pun berbalik dan kembali ke tumpukan batu itu. 

Betapa kagetnya ia saat tak menemukan cincinnya di sana. Ia pun mencari2 cincinnya.
Saat Se Ryung sedang mencari2 cincinnya, Seung Yoo melihatnya. Seung Yoo pun berbalik tepat sebelum Se Ryung melihatnya. Se Ryung melihat Seung Yoo.
“Aku tidak tahu siapa kau, tapi jika kau yang mengambil cincinku, tolong kembalikan. Cincin itu sangat berharga bagiku.” Ucap Se Ryung.


Seung Yoo beranjak pergi. Se Ryung menyusulnya.
“Cincin itu satu2nya peninggalan dari orang yang kucintai. Cincin itu lebih berharga dari nyawaku, jadi tolong kembalikan.” Pinta Se Ryung.

Seung Yoo berhenti melangkah. Dendam dan cinta terlihat jelas di wajahnya. Seung Yoo pun akhirnya pergi. Se Ryung menghela napas. Ia kemudian menunduk dan tanpa sengaja melihat pecahan cincinnya. Ia pun kaget, kemudian memungut pecahan cincinnya.

Se Ryung jalan pulang dengan Myun. Tanpa mereka sadari, Seung Yoo mengawasi mereka dari kejauhan.
Seung Yoo kembali ke gibang. Seok Joo dan Chohi menegurnya karena datang terlambat. Tapi Seung Yoo tak peduli dan pergi begitu saja ke kamarnya. Di kamarnya, ia minum2.

Paginya, Kediaman Sooyang mulai disibukkan dengan persiapan upacara pernikahan.
Se Ryung memberi hormat pada ayah dan ibunya, disaksikan oleh kedua adiknya.
“Akhirnya hari ini putri tertua kita akan menikah. Sejak kau dilahirkan, aku sudah memikirkan hari ini lebih dari ratusan kali. Sebagai ayah, perasaanku campur aduk. Tolong, hiduplah dengan bahagia setelah pergi dari sisi ayahmu.” Ucap Sooyang.
“Ya.” jawab Se Ryung dingin.
“Noonim, kuharap kau bahagia dengan pernikahanmu.” Ucap Soong cemas.

Jong tengah bersiap2 menjemput Myun. Putri meminta Jong jaga diri. Jong heran, apa kau mencemaskanku? Putri bilang kalau yang ia cemaskan adalah Danjong dan meminta Jong jangan salah paham. Jong lalu, memeluk Putri! Putri kaget. Ia ingin marah, tapi tidak bisa.
“Tidak terhitung berapa kali aku membayangkan bisa memelukmu. Apapun yang terjadi, aku akan kembali hidup2 dan memelukmu sekali lagi.” Ucap Jong.
Putri tersentuh. Ia bahkan meneteskan air matanya.
“Ketika pengantin wanita masuk, semua mata akan tertuju padanya, saat itulah kalian harus menyerah orang yang berada di dekat Sooyang Hyungnim. Jika kita membunuh orang yang berada di dekat Sooyang Hyungnim duluan, maka semua akan lancar. Mengerti.” Ucap Geum Sung memberikan arahan pada ketiga anak buahnya, tanpa tahu salah satu dari anak buahnya berkhianat.


Jong menemui Geum Sung. Ia minta pada Geum Sung untuk mengampuni Myun jika rencana pemberontakan mereka berhasil. Geum Sung kesal. Jong bilang ia tak akan ikut dalam rencana itu kalau Myun tidak diampuni. Geum Sung menghela napas, dan mengalah.


Jong yang dalam perjalanan ke tempat Myun, teringat saat Myun menjemputnya saat dia mau menikah dulu dengan Putri. Jong akhirnya sampai di Kediaman Myun. Myun merasa senang dengan kehadiran Jong. Mereka pun berangkat ke Kediaman Sooyang. Myun terlihat bahagia, dan Jong sikapnya dingin.
Anak buah Myung Hoe menyamar menjadi pelayan.
Myung Hoe berkata sudah punya rencana untuk menangkap basah Geum Sung. Sooyang pun minta Myung Hoe memastikan kalau keluarganya tidak terluka sedikit pun.
Anak buah Myung Hoe sedang berpura2 menjadi pelayan. Seung Yoo datang dan berjalan di belakang mereka. Kedua anak buah Myung Hoe tidak sadar dengan kehadiran Seung Yoo. Seung Yoo menyamar sbg pelayan.

“Apa kau masih menyalahkan ibumu?” tanya Lady Yoon pada Se Ryung.
Se Ryung menggeleng.
“Se Ryung, hapus dia dari hatimu. Hanya ada Petugas Shin di matamu. Mengikutinya dan jadi bayangannya. Apa kau mengerti?” ucap Lady Yoon.
Nasihat ini pun mengingatkan Se Ryung pada Seung Yoo. Saat itu Se Ryung menyamar sbg Putri dan Seung Yoo mengajarnya. Tiga Kepatuhan mengajarkan kita, kalau wanita hanyalah bayangan pria. Saat itu, Se Ryung merasa kesal. Sekarang, Se Rung menangis mengingat itu.

Se Ryung mulai bersiap2. Beberapa pelayan membantunya memakai baju pengantin. Wajah Se Ryung terlihat sedih. Saat sedang didandani Yeo Ri, air matanya jatuh.
“Aku ingin menjadi bayangannya dan dia menjadi bayanganku.” Ucap Se Ryung.

“Nona.” Jawab Yeo Ri berkaca2.
Pangeran Geum Sung tiba di Kediaman Sooyang. Bersamaan dengan itu, Myun juga tiba.
“Selamat kakak. Kulihat kau senang sekali hari ini.” ucap Geum Sung.

“Aku mengucapkan terima kasih karena kau memberikan hadiah padaku. Karena ini hari bahagia, kuharap kau mendukungku untuk kelancaran acara ini.” jawab Sooyang.
“Baik.” Ucap Geum Sung.

Se Ryung sekarang duduk sendirian di kamarnya. Ia teringat kenangan manisnya bersama Seung Yoo di dekat air terjun. Tiba2, seseorang muncul dengan seutas tali di belakang Se Ryung. Orang itu, Seung Yoo. Se Ryung yg sadar ada orang di belakangnya, mencoba melihat ke belakang. Tapi sebelum sempat Se Ryung melihat, Seung Yoo menutup mulut Se Ryung dengan tali. Kaki Se Ryung menendang meja rias.

BERSAMBUNG

No comments:

Post a Comment