Thursday, November 1, 2018

The Princess Man Ep 15


Se Ryung tertembak panah Myun! Myun, Sooyang dan Seung Yoo kaget. Se Ryung menatap Seung Yoo dengan pandangan memohon agar Seung Yoo mengakhiri semuanya. Tubuh Se Ryung merosot ke bawah. Seung Yoo menahan tubuh Se Ryung.
“Bagaimana bisa kau merasakan luka yang begitu dalam? Jika dengan kematianku bisa menghapus lukamu, aku bersedia mati ribuan kali.” Batin Se Ryung.
Se Ryung lalu menatap ke sekelilingnya. Tangannya terulur hendak menyentuh wajah Seung Yoo. Tapi sebelum sempat tangannya menyentuh wajah Seung Yoo, ia pingsan. Myun dan pasukannya langsung bergerak ke arah Seung Yoo.


Seok Joo dan No Geol yang juga menutupi wajah mereka, muncul dan menarik Seung Yoo pergi dari sana. Seung Yoo terus menatap Se Ryung yang pingsan dengan pandangan syok. Pasukan Myun mengejar Seung Yoo.
Myun teriak, “Nona! Nona!”

Sooyang memeluk Se Ryung dan berusaha menyadarkan putrinya. Ia lalu menangis.

Pasukan Myun terus mengejar Seung Yoo, Seok Joo dan No Geol. Seok Joo dan No Geol pun bersembunyi di balik batu dan berhasil menghindari pasukan Myun. Seung Yoo melepaskan kain yang menutupi wajahnya. Ia masih syok dengan apa yang terjadi tadi.
Lady Yoon dibantu Yeo Ri merawat Se Ryung. Se Ryung masih belum sadar.
“Nona, sadarlah.” Ucap Yeo Ri.

Myun yang berdiri di depan kamar Se Ryung mendengar suara Yeo Ri. Penyesalan tampak di wajahnya. Ia lalu pergi dari sana dan bertemu Sooyang. Sooyang menghibur Myun dengan mengatakan kalau kejadian ini terjadi karena Myun berusaha menyelamatkan Se Ryung, jadi ini bukan salah Myun. Myun berpendapat kalau Se Ryung berusaha melindungi orang itu. Sooyang menyangkalnya dengan berkata kalau Se Ryung berlari karena ketakutan melihat anak panah berterbangan. Myun pun bertekad menangkap penculik Se Ryung dengan tangannya sendiri. Sooyang bilang itu harus, karena orang itu bukan saja menyelinap ke dalam kediamannya, tapi juga menculik dan mengancam jiwa Se Ryung. Sooyang pun meminta Myun mengungkap identitas penculik Se Ryung. Myun mengangguk.
Jae Beon lalu datang membawa baju pengantin Se Ryung. Betapa kagetnya Sooyang dan Myun saat Jae Beon bilang menemukan baju itu di dekat Pelabuhan Mapo.
Kini, gaun itu ada di tangan Lady Yoon. Myun menghadap Lady Yoon. Lady Yoon minta maaf pada Myun karena pernikahan Myun dan Se Ryung yang tidak berjalan lancar. Lady Yoon menangis. Ia berkata seharusnya dirinya tak menangis, tapi melihat gaun pengantin Se Ryung membuat hatinya sakit. Myun pun bertanya apa gaun itu benar2 gaun Se Ryung. Lady Yoon membenarkan. Lady Yoon juga menyayangkan Myun yang belum sempat melihat betapa cantiknya Se Ryung dalam balutan gaun pengantin itu.

Seok Joo bersembunyi di depan kediaman Sooyang. Ia mendengar pembicaraan Myun dan Jae Beon. Myun bilang mereka akan dapat mengungkap identitas penculik Se Ryung setelah Se Ryung sadar.

Seung Yoo minum2. Ia stress teringat Se Ryung yang menolongnya. Seok Joo datang, jadi kau di sini.
Seok Joo : Sebenarnya ada apa denganmu? Kau kesal karena rencana balas dendammu gagal atau kau takut wanita yang tertembak panah tadi mati?
Seung Yoo tertegun mendengarnya. Seok Joo menghela napas, lalu berkata, “Dia masih hidup. Aku mendengarnya sendiri dari petugas di sana.”

“Mau hidup atau mati, tidak ada hubungannya denganku.” Jawab Seung Yoo, padahal hatinya lega Se Ryung baik2 saja.
“Apa kau menculiknya untuk balas dendam atau karena kau tidak rela dia menjadi istri orang lain?” tanya Seok Joo.
Seung Yoo marah dan mau mencengkram kerah baju Seung Yoo, namun Seok Joo mendorong Seung Yoo.
“Pikirkan baik2! Kau bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya kau inginkan, tapi kau masih bisa bicara balas dendam.” Jawab Seok Joo.
Seok Joo pun pergi. Seung Yoo diam saja.
Myun dan pasukannya pergi ke lokasi dimana gaun pengantin Se Ryung ditemukan.
“Kau bilang gaunnya ditemukan di sini?” tanya Myun.
“Ya.” jawab Jae Beon.
“Gibang mana?” tanya Myun.
“Kami belum tahu. Ada lusinan gibang dan distrik gisaeng di dekat pelabuhan Mapo.” Jawab Jae Beon.
“Cari tahu Ketua Geng daerah ini. Mencari orang akan lebih mudah lewat dia.” ucap Myun.
“Baik.” Jawab Jae Beon.
Seorang petugas datang, memberitahu Myun kalau Sooyang ingin bertemu.
Myun menghadap Sooyang. Di sana juga ada antek2 Sooyang.
“Pelakunya sudah jelas Pangeran Geum Sung.” Tuduh Myung Hoe.
“Kita harus menunggu Nona sadar, untuk mengetahui siapa pelakunya.” Jawab Myun.
“Tidak peduli kita menangkap penjahat yg sebenarnya atau tidak. Itu tidak penting. Bahkan jika kau menemukan orang itu, kau bisa memaksanya mengatakan kalau Pangeran Geum Sung lah yang ada di balik semua ini.” ucap Myung Hoe.
“Bukankah ini yg dinamakan keberuntungan.” Jawab Kwon Ram.
“Lalu, dimana Geum Sung sekarang?” tanya Onyeong.
“Sekretariat Kerajaan sudah menerima perintah Raja untuk Nae Geum Bu, agar dia ditahan di Kantor Hanseong.” Jawab Shin Sook Joo.
Onyeong tertawa geli, lalu berkata, “Meskipun dia berusaha keras, Geum Sung tidak akan bisa lolos dari Pangeran Sooyang.”

“Kita juga harus menangkap Pangeran Pendamping.” Ucap Myung Hoe.
Myun terperanjat, “Jong. Jangan ganggu Pangeran Pendamping.”
“Myun-ah.” Tegur Shin Sook Joo.
“Pangeran Pendamping juga ikut berpartisipasi dalam rencana pemberontakan Pangeran Geum Sung.” Ucap Myung Hoe.
“Dia adalah temanku. Dia datang sebagai Hu Haeng-ku.” Jawab Myun.
“Kau bisa tanyakan langsung pada Pangeran Pendamping. Saat pernikahan, orang yang dia bawa sebagai Hu Haeng-mu, adalah tentara yang dipimpin Pangeran Geum Sung.” Ucap Myung Hoe.
“Bagaimana bisa….” Myun tidak percaya.
“Apa kau masih menganggap Pangeran Pendamping temanmu?” tanya Sooyang.
Eun Geum memberitahu Jong dan Putri perihal Se Ryung yang sudah dibawa pulang dan tertembak panah. Putri kaget. Tiba2, terdengar seruan dari luar yang menyatakan kalau Jong adalah penjahat yang harus ditahan.
Putri dan Jong keluar menemui Myun dan pasukannya.
Jae Beon : Karena menculik putri Pangeran Sooyang dan bekerja sama dengan Pangeran Geum Sung untuk membunuh Pangeran Sooyang, kami diperintahkan untuk menangkap Pangeran Pendamping.

Putri : Apa? Penculikan? Beraninya kau datang ke sini dan menjebaknya. Waktu itu kau datang sebagai teman dan sekarang kau mau membawa Pangeran Pendamping sebagai penjahat?!

Jong : Aku akan ikut denganmu. Tapi tolong berikan aku waktu.
Putri : Tidak, kau tidak boleh pergi.
Jong : Ikutlah denganku.

Jong membawa Putri ke kamarnya. Putri menatap Jong sedih. Jong malah tersenyum dan meminta Putri tetap di sini. Putri marah dan berkata tidak akan membiarkan Jong pergi. Putri mau keluar kamar, tapi Jong menahannya dengan memegang tangannya. Jong tersenyum dan meyakinkan Putri kalau dia akan kembali.
Jong lalu memanggil Eun Geum. Jong meminta Eun Geum untuk menjaga dan jangan meninggalkan Putri. Eun Geum dari luar berkata, saya mengerti.
Jong tersenyum pada Putri, lalu berbalik dan mau pergi. Tapi Putri menahan Jong dengan memegang lengan baju Jong. Jong berbalik dan menatap istrinya itu. Air mata Putri berjatuhan. Jong tertegun melihat istrinya menangis. Lalu dengan tangan bergetar, ia menghapus air mata istrinya.
 
Jong keluar. Jae Beon hendak mengikat Jong, tapi Jong mendorongnya dan membentak.
“Aku tidak melakukan kejahatan apapun yang membuatku pantas diikat!”
Mereka pun jalan bersama.
Myun : Apa kau bersedia menjadi Hu Haeng-ku untuk membantu rencana Pangeran Geum Sung?
Jong diam saja.
Myun membentak, “Katakan sesuatu!”
“Tidak seperti saat aku menjadi Hu Haeng-mu, kau datang ke pernikahanku tidak dengan hati yang senang. Apa itu benar?” tanya Myun.
“Apa kau merasa dikhianati untuk masalah sekecil itu? Dibandingkan dengan Seung Yoo yang kehilangan keluarganya dan mati dengan tragis, pengkhianatan yang kau rasakan belumlah apa2.” Jawab Jong.
“Setidaknya kau… aku selalu berpikir setidaknya kau bisa mengerti diriku walaupun hanya sedikit. Tapi aku salah. Kau bahkan berpikir aku lebih buruk dari binatang buas.” Ucap Myun.
“Bukankah itu pilihanmu menjadi binatang buas?” tanya Jong.
“Mulai sekarang kau bukan lagi temanku.” Jawab Myun.

“Dan kau, siapa yang mengatakan itu, bagaimana bisa memperlakukanku seperti ini? Kau tahu dengan baik aku tidak terlibat dalam penculikan Nona Se Ryung. Kau tahu Sooyang ingin membunuhku. Orang yang mengaku sebagai temanku, sekarang menangkapku, ya kan? Jika kita saling membunuh, bagaimana kita bisa disebut teman?” ucap Jong berkaca2.
“Ayo pergi!” perintah Myun.

Jong dijebloskan ke dalam penjara. Pangeran Geum Sung yang sudah ada di sana duluan kaget. Jong bilang kalau Sooyang sudah membuat keputusan. Geum Sung pun mencemaskan Putri.
Putri ada di kamar Jong. Ia meratapi Jong. Eun Geum meminta Putri istirahat. Putri bilang ia tak bisa tidur dalam kondisi seperti itu.

Se Ryung yang masih belum sadar, teringat saat Seung Yoo mencoba membunuhnya. Dan ia pun bangun. 



Ia lalu merasakan sakit di tubuhnya. Yeo Ri berlari menghampiri Se Ryung.
“Nona, kau sudah sadar?” tanya Yeo Ri.
Se Ryung tidak menjawan dan bertanya, “Orang itu? Dimana orang itu?”
“Nona…” jawab Yeo Ri bingung.

Lady Yoon membantu suaminya siap2. Mereka sepakat menunda pernikahan sampai Se Ryung pulih. Yeo Ri lalu datang menghadap Sooyang dan Lady Yoon. Sooyang dan Lady Yoon sama2 menarik napas lega saat Yeo Ri melaporkan ttg Se Ryung yang sudah sadar. Lady Yoon ingin menemui Se Ryung, tapi Sooyang berkata kalau ia dulu yang akan menemui Se Ryung.




Se Ryung teringat saat panah itu menghujam punggungnya. Tiba2, pintu kamarnya terbuka. Masuklah Sooyang. Se Ryung ingin duduk, memberi hormat tapi Sooyang melarangnya.


Sooyang : Kumohon jangan bergerak. Kau harus berhati2 agar lukamu tidak terbuka.
Sooyang duduk disamping Se Ryung. Se Ryung ingat kata2 Seung Yoo ttg Sooyang.
“Sepertinya kau belum benar2 mengetahui wajah ayahmu yang sesungguhnya. Menggunakan pengasingan sebagai alasan untuk membunuh semua musuhnya, termasuk aku, sekaligus.”
Sooyang : Lukamu pasti sangat sakit. Penjahat itu menyeretmu kesana kemari selama 2 hari. Kau pasti ketakutan. Apa kau melihat wajah orang itu? Apa kau ingat sesuatu?
Se Ryung : Karena mata saya ditutup, saya tidak bisa melihat apapun.
Sooyang : Sebagai ayahmu, tidak seharusnya aku mengingatkanmu tentang hal ini. Kita bisa membahasnya nanti.
Se Ryung : Orang itu. Apa yang terjadi padanya? Apa dia tertangkap?
Sooyang heran, tapi ia tetap menjawab pertanyaan Se Ryung, “Teman orang itu muncul dan mereka kabur. Petugas Shin pasti akan menangkap mereka. Kau tidak perlu cemas.

Sooyang lalu membelai kepala Se Ryung dan berkata, “Ayah pikir ayah sudah kehilanganmu. Jika aku kehilangan anakku, tidak ada artinya lagi meski aku mendapatkan seluruh dunia. Istirahat lah, aku akan pergi sekarang.”
Se Ryung diam saja. Setelah ayahnya kluar, ia menarik napas lega.

Jae Beon memberitahu Myun kalau Se Ryung sudah sadar. Myun tanya apa Se Ryung baik2 saja. Jae Beon mengiyakan, lalu melapor kalau Se Ryung tidak ingat apa2 ttg kejadian itu. Jae Beon tanya apa Myun ingin pergi ke Kediaman Sooyang. Myun bilang tidak dan lebih penting melacak jejak penculik Se Ryung. Ia lalu tanya apa Jae Beon sudah menemukan pimpinan geng di sana. Jae Beon pun memberitahu pimpinannya adalah Gong Chil Goo. Sebagian besar gibang dan lokalisasi gisaeng dibawah pimpinan Chil Goo. Myun pun ingin bertemu Chil Goo. Jae Beon mengerti.

Soaeng masuk ke kamar Seung Yoo. Seung Yoo tidur sambil duduk.
“Orabeoni, tuliskan beberapa kata untukku. Hanya sekali. Ya?” pinta Soaeng.

Seung Yoo mimpi saat Se Ryung bilang, “Bunuhlah aku, dan bangunlah dari mimpi buruk ini.”

Soaeng hendak menyentuh wajah Seung Yoo. Seung Yoo pun terbangun dan memegang tangan Soaeng. Seung Yoo tak sadar. Di matanya, ia melihat Soaeng sebagai Se Ryung yang mau menikamnya. Soaeng meletakkan tangan Seung Yoo di dadanya. Gadis itu terlihat senang sekali.

Soaeng lalu memeluk Seung Yoo. Tapi Seung Yoo merasa Se Ryung yang memeluknya.

Seung Yoo pun akhirnya sadar dan mendorong Soaeng, kemudian beranjak pergi.
Soaeng teriak, “Sekarang aku adalah wanita milik Orabeoni.”

Seung Yoo keluar. Dibawah tampak Chil Goo dan anak buahnya menyandera Chohi dan Muyeong. Seung Yoo pun langsung kembali ke kamarnya. Chil Goo teriak2 memanggil Seok Joo. Chohi bilang Seok Joo pergi pagi2 sekali. Namun Chil Goo gak percaya dan mengancam akan melukai Chohi.

Seok Joo pun keluar. Chil Goo : Kau benar2 hidup.
Seok Joo : Kau itu seperti anjing yang menggigit tuanmu.

Chil Goo murka dan menyuruh anak buahnya menyerang Seok Joo. Seok Joo berhasil menjatuhkan anak buah Chil Goo satu per satu. Melihat itu, Chil Goo pun ambil tindakan. Ia mengambil bedak gisaeng dan melemparkannya ke mata Seok Joo. Seok Joo pun meringis kesakitan memegangi matanya. Chil Goo menjatuhkan pedang Seok Joo. Chil Goo lalu mengarahkan pedangnya ke leher Seok Joo.

Saat itulah, Seung Yoo melompat dari atas dan menjatuhkan salah satu anak buah Chil Goo. Chil Goo dan anak buahnya pun menyerang Seung Yoo, tapi Seung Yoo berhasil menjatuhkan mereka. Chil Goo dan anak buahnya lalu kabur. No Geol yang sedari tadi bersembunyi di balik meja, keluar dan bertingkah seolah2 dirinya lah yg mengusir preman2 itu.
No Geol mendekati Seok Joo. “Kalau bukan karena aku, kau mungkin sudah mati.”

No Geol dan Muyeong pun membantu Seok Joo berdiri. Chohi mencemaskan Seok Joo, tapi tidak mau mengaku dan malah menyuruh Seok Joo mengganti kerusakan yg ada. Seok Joo mendekati Seung Yoo, kemudian menepuk pundak Seung Yoo dan mengucapkan terima kasih.
Rombongan Chil Goo dicegat Myun dan pasukannya. Tadinya, Chil Goo bersikap sok hebat tapi setelah Jae Beon mengenalkan siapa Myun, Chil Goo dan anak buahnya pun langsung memberi hormat pada Myun.
“Kudengar daerah ini, seluruh gibang, lokalisasi gisaeng dan bar di Mapo berada dibawah kendalimu.” Ucap Myun.
“Apa maumu?” tanya Chil Goo.
“Cari orang2 yang menentang Pangeran Sooyang di sekitar Pelabuhan Mapo. Jika kau menangkap mereka dan memberikan informasi padaku, bukan hanya Mapo, tapi ibukota akan menjadi milikmu.” Jawab Myun.
Chil Goo tertawa, lalu berkata, “Orang2 seperti kami hanya mendapatkan uang untuk kebutuhan sehari2, jadi apa gunanya kami menentang bangsawan? Baiklah, aku akan mencarinya. Tapi apa maksudmu dengan ibu kota akan menjadi milikku? Tolong lebih spesifik lagi.”
Myun merasa diatas angin. Chil Goo menyeringai.
No Geol masih saja menyombongkan diri. Chohi mengobati luka2 Seok Joo. Soaeng semakin mengagumi Seung Yoo. Muyeong heran dan tanya dariman Seung Yoo mempelajari ilmu bela diri. Apakah Seung Yoo dulu seorang jenderal? Seung Yoo diam saja.
No Geol kembali menyombongkan diri, “Ayahku selalu mengajarkanku untuk hati2 menggunakan pedang. Ayahku berkata hanya seseorang yang selalu siap yang bisa disebut pria sejati.”
Mu Yeong : Lalu siapa ayahmu?
No Geol : Kalian harus merahasiakannya. Ayahku adalah…. Harimau besar, Jenderal Kim Jong Seo.

Seung Yoo pun langsung menatap tajam No Geol. Seok Joo menatap Seung Yoo curiga.
“Siapa Kim Jong Seo?” tanya Soaeng.
“Dia bilang ayahnya.” Jawab Muyeong.
“Jadi namamu bukan Wang No Geol, tapi Kim No Geol?” tanya Seok Joo.
“Itu namaku yang sebenarnya.” Jawab No Geol.

Seung Yoo tak tahan lagi, akhirnya pergi. Soaeng tanya, Seung Yoo mau kemana. Tapi Seung Yoo diam saja dan pergi dengan hati resah. Muyeong lalu memberitahu tentang Pangeran Pendamping yang dituduh menculik putri Pangeran Sooyang. Seung Yoo kaget mendengarnya dan bergegas pergi. Seok Joo mulai curiga pada Seung Yoo.
Geum Sung dan Jong dibawa ke tempat penyiksaan.
Geum Sung marah, “Beraninya kalian melakukan hal ini pada Pangeran Pendamping!”
Petugas bilang ini perintah dari Sooyang.
Geum Sung : Apa perintah Sooyang lebih penting dari perintah Raja!
Petugas : Pangeran Sooyang memerintah agar kami tidak melukai Pangeran Geum Sung dan Pangeran Pendamping.
Jong menyindir, “Menampar pipi yang satu dan mengelus pipi yang lain?”
Petugas : Kami memiliki saksi yang bisa membuktikan kejahatan Pangeran Geum Sung dan Pangeran Pendamping. Setelah melihatnya, kalian tidak akan bisa menyangkal lagi.

Jong dan Geum Sung saling berpandangan. Petugas menyuruh Tentara Chong Tong Wi itu masuk. Geum Sung dan Jong kaget.
“Beraninya kau melakukan ini padaku! Dasar anjing!” teriak Geum Sung.

Putri Kyung Hee menunggu Eun Geum di depan Kantor Hanseong. Ia terlihat gelisah. Tak lama, Eun Geum datang. Putri Kyung Hee pun syok dan hampir pingsan saat diberitahu Eun Geum ttg Geum Sung dan Jong yang disiksa. Seung Yoo ternyata juga ada di sana. Ia kaget dan merasa bersalah atas penyiksaan yang dialami Geum Sung dan Jong.
 
“Paman Geum Sung dan Kakak Ipar disiksa di Kantor Hanseong?” tanya Danjong pada Sooyang kaget.
“Geum Sung dan Pangeran Pendamping harus dieksekusi dengan meminum racun.” Jawab Sooyang.
“Bukankah aku sudah memberi perintah memindahkan Paman Geum Sung dan Kakak Ipar ke Nae Geum Bu?” tanya Danjong ke Kasim.

“Aku pikir mereka lebih baik bersama Yang Mulia jadi aku membatalkan pemindahan itu.” jawab Sooyang.
“Perdana Menteri, kau bilang mereka merencanakan pemberontakan. Aku tidak percaya hal itu.” ucap Danjong.
“Yang Mulia, apa anda benar2 tidak tahu Pangeran Geum Sung, Pangeran Pendamping bahkan Tuan Putri pun terlibat.” Jawab Sooyang.
“Jadi kau tidak berniat melepaskan Paman Geum Sung dan Kakak Ipar?” tanya Danjong.
“Pelayan anda, sudah melepaskan Tuan Putri demi Yang Mulia. Jika anda tetap seperti ini, aku tidak punya pilihan lain selain bertindak sesuai prinsipku.” Jawab Sooyang.
“Kim Jong Seo, Paman Anpyung, Paman Geum Sung bahkan Kakak Ipar, setelah membunuh mereka semua, apa berikutnya giliranku?” tanya Danjong.
“Pamanmu ini menemukan ketakutan di dalam kata2mu.” Jawab Sooyang.
“Paman, kenapa kau tidak mempercayaiku kemampuanku sebagai Raja? Meski aku masih muda, aku bisa melanjutkan warisan kakek dan ayahku. Kenapa paman tidak memberiku kesempatan?” ucap Danjong.
“Anda mungkin bisa melakukannya. Tapi kita tidak bisa hanya mengandalkan harapan saja. Memikul beban dari kekuasaan negeri ini tidaklah mudah.” Jawab Sooyang.
Danjong pun terdiam. Sooyang tersenyum penuh kemenangan.
Sooyang tiba di rumah. Pengawal memberitahu ttg kedatangan Putri Kyung Hee. Sooyang dan Im Woon kaget.
Di kamarnya, Se Ryung kembali ingat perkataan Seung Yoo.
“Kurasa kau belum benar2 tahu wajah ayahmu yang sesungguhnya. Menjadikan pengasingan sebagai alasan untuk membunuh semua musuhnya, termasuk aku, sekaligus.”

Yeo Ri masuk. Se Ryung pun langsung menanyakan ayahnya. Yeo Ri melarang Se Ryung pergi. Se Ryung tanya lagi apa ayahnya sudah pulang. Yeo Ri memberitahu kalau Sooyang sudah pulang bersama Tuan Putri. Se Ryung heran.
“Ini sudah larut malam. Pulang lah.” Suruh Sooyang.

Putri tiba2 berlutut. Sooyang kaget. Putri memohon agar Sooyang menyelamatkan Geum Sung dan Jong.
Sooyang : Bagaimana bisa seorang Putri yang arogan melakukan hal ini?
Putri : Tolong maafkan kekurangajaran saya dulu. Jika kau menyelamatkannya, aku tidak akan melawanmu lagi.
Sooyang : Aku tersentuh dengan pengorbananmu untuk suamimu, tapi kita harus mematuhi hukum negeri ini. Jadi pulanglah.

Sooyang pun masuk ke rumahnya. Putri menangis. Se Ryung menghampiri Putri.
“Yang Mulia, bagaimana bisa anda seperti ini?” ucap Se Ryung.
“Se Ryung-ah.” Jawab Putri.
“Ikut ke kamarku.” Ucap Se Ryung.
Se Ryung menghadap ayahnya. Ia langsung tanya, “Apa ayah akan memanfaatkan saya lagi untuk menyingkirkan Paman Geum Sung dan Pangeran Pendamping? Mereka tidak terlibat penculikan.
Sooyang : Bukankah kau berkata tidak mengingat apapun, bagaimana kau tahu itu bukan mereka?
Se Ryung : Saya sangat mengenal Paman Geum Sung dan Pangeran Pendamping.
Sooyang : Mungkin memang benar, tapi bagaimana jika orang2 itu disewa oleh mereka?
Se Ryung : Orang itu memiliki dendam yang besar padamu ayah.
Sooyang : Apa?
Se Ryung : Demi menghukum dosa2 ayah, dia bilang akan membunuh keluarga kita.
Sooyang : Apa kau mengenalnya?
Se Ryung : Dia bukan satu2nya orang yang memiliki dendam padamu ayah. Roh2 dari orang yang tidak bersalah yang dibunuh dengan tidak adil, orang yang memiliki dendam yang begitu besar, tidak terhitung jumlahnya.
Sooyang : Tutup mulutmu!

Se Ryung menatap tajam ayahnya, “Kenapa kau menenggelamkan kapal yang menuju Pulau Kanghwa?”
Sooyang : Apa maksudmu?



Se Ryung : Saya ditipu oleh ayah, sekali lagi. Mempercayai janji ayah yang akan menyelamatkannya, saya benar2 bodoh.
Sooyang : Menenggalamkan kapal? Darimana kau mendengar cerita bodoh itu?
Se Ryung : Satu2nya orang yang telah membunuhnya adalah ayah. Ayah membunuhnya! Saya tidak bisa lagi mempercayai ayah. Saya pasti tidak akan mempercayai ayah!
Sooyang marah, Se Ryung-ah.

Se Ryung : Pernikahan dengan Petugas Shin, aku tidak bisa menerimanya. Jika ayah memaksa saya masuk ke dalam pernikahan ini, ayah akan melihat saya mati dalam gaun pengantin karena menggigit lidah saya.
Sooyang tertegun dengan kata2 putrinya. Se Ryung lalu pamit dan pergi.
Diluar, Se Ryung bertemu Myun. Myun menghalangi langkah Se Ryung.
“Siapa sebenarnya seseorang yang menculik Nona? Kata2mu menunjukkan kau mengetahui siapa dia. Kau seharusnya memberikan petunjuk siapa dia.” ucap Myun.
“Aku hanya tahu dia seseorang yang memiliki kebencian lebih besar daripada orang lain.” Jawab Se Ryung.
Se Ryung pergi, tapi Myun menghentikan langkah Se Ryung dengan kata2nya.

Myun : Kenapa Nona melindungi orang itu? Aku pasti akan menemukan siapa dia.
Se Ryung : Tidak peduli apapun yang kau lakukan, aku tidak akan menikah denganmu.
Se Ryung pergi. Myun tampak terluka.

Se Ryung kembali ke kamarnya. Langkahnya terhenti melihat Putri duduk di kamarnya. Ia pun bergegas mendekati Putri. Putri tanya bagaimana hasilnya. Se Ryung diam saja. Melihat ekspresi Se Ryung, Putri pun mengerti dan beranjak pergi. Se Ryung memanggil Putri, membuat langkah Putri terhenti.
Se Ryung : Saya bahkan tidak bisa mengatakan permintaan maaf.
Putri : Ayahmu harus membayar dosa2nya. Aku harap kau tidak akan ikut tersakiti.
Se Ryung : Saya akan membantu Yang Mulia dan Tuan Putri.
Putri : Meskipun kau harus melawan ayahmu?
Se Ryung terdiam. Putri tersenyum pahit.
Putri : Terima kasih karena kau mempunyai pikiran membantuku. Jangan ikuti aku. Aku akan pulang sendiri.
Danjong mengamati bulan bersama para kasim. Kasim mengajak Danjong masuk karena angin malam yg tidak bagus untuk kesehatan. Danjong diam saja dan teringat kata2 Sooyang tadi. Ia lalu menyuruh Kasim memanggil Sooyang besok pagi2 sekali.

Paginya, Sooyang dianter oleh antek2nya menemui Raja. Sooyang tampak percaya diri.
“Paman, kuizinkan kau mengambil takhta.” Ucap Danjong.
Sooyang dan Para Kasim kaget.
“Kumohon hentikan pembunuhannya.” Ucap Danjong lagi.
“Apa maksud Yang Mulia?” tanya Sooyang.
“Aku percaya pada paman. Tolong lindungi Istana Raja dan negeri ini.” jawab Danjong.
“Yang Mulia saya mohon tarik keputusan Yang Mulia.” Ucap Sooyang pura2 menolak.
Danjong tidak menjawab dan hanya mengepalkan tangannya.

Myun di penjara, melihat Jong dengan wajah kecewa. Lalu petugas datang memberitahu Myun kalau Raja sudah memberikan takhta pada Sooyang. Geum Sung dan Jong kaget. Myun dan Jae Beon beranjak pergi.

Geum Sung teriak, “Yang Mulia! Anda tidak boleh melakukannya!”
Jong menangis, “Yang Mulia! Tidak bisa!”
Putri Kyung Hee histeris. Ia teriak memanggil2 ayahnya, “Ayah! Ayah! Apa yang dilakukan Yang Mulia! Tidak boleh! Tidak boleh!”
Eun Geum mencoba menenangkan Putri.
“Sampai mati ini tidak bisa.” Ucap Putri.
Dan Putri pun pingsan. Eun Geum dan pelayan lain panic.


Sooyang berlutut di depan Kediaman Raja. Rupanya ini nasihat Shin Sook Joo.
Shin Sook Joo : Pertama, kau harus menolak dengan kuat. Jika ini tidak dilakukan dengan benar, akan muncul gossip Pangeran merampas takhta dari keponakannya yang masih muda.
Kwon Ram cemas, “Bagaimana jika Yang Mulia mencabut keputusannya?”
Myung Hoe : Selama nyawa Pangeran Geum Sung dan Pangeran Pendamping ada di tangan kita, kita tidak perlu terburu2.
Shin Sook Joo : Kita harus membuat seolah2 Yang Mulia memaksa Pangeran Sooyang mengambil takhta.
Onyeong tertawa, “Akhirnya! Akhirnya!”
Yang lain pun ikut tertawa.
Sementara itu, Danjong menangis… “Ayah, saya minta maaf… Ayah…”
Seung Yoo ada di depan kediaman Putri. Ia pun melihat Jong berlari masuk ke dalam.
Jong membuka pintu kamar istrinya. Tampaklah sang istri yang duduk sambil menangis.


“Kenapa kau menangis? Ini bukan dirimu, Tuan Putri.” Ucap Jong dengan mata yg berkaca2 pula.
Putri diam saja, menahan tangisnya.
“Aku mengerti. Bahkan tanpa kau bilang sekalipun, aku tau isi hatimu.” Ucap Jong.

Tangis Putri pun pecah. Jong memeluk Putri.
“Apa yang harus kita lakukan?” tanya Putri dengan air mata yang terus mengucur.
Jong menangis, “Tuan Putri…”
“Kumohon, Yang Mulia….” Ucap Putri.
“Maafkan aku. Aku ini Pangeran Pendamping yang tidak becus dan tidak punya kekuatan.” Jawab Jong.
Jong minum2 karena stress. Tiba2, ia mendengar suara orang. Jong pun keluar untuk memeriksa.
Jong : Siapa di sana? Keluarlah.
Terdengarlah suara, “Jong-ah.”

“Siapa itu?” tanya Jong.
“Ini aku.” jawab sosok itu sambil menampakkan dirinya.
“Siapa? Tidak bisa kah kau menampakkan dirimu?” tanya Jong.

Sosok itu pun mulai menampakkan dirinya. Dia Seung Yoo. Jong jatuh karena syok.
“Ini aku.” ucap Seung Yoo.
“Apa itu benar2 kau? Apa aku sudah mati atau kau masih hidup?” tanya Jong gemetar.
Seung Yoo pun berjalan ke arah Jong. Jong menangis haru.
“Aku kembali.” Ucap Seung Yoo.
“Ini benar2 kau?” tanya Jong sambil memegangi Seung Yoo.
Seung Yoo pun menangis haru. Mereka lalu berpelukan.

Seung Yoo dan Jong pun minum2 di dalam.
“Maafkan aku. Karena aku, kau hampir mati.” Ucap Seung Yoo.
“Tidak. Meskipun kau mengakui penculikan itu, mereka tinggal berkata kalau Pangeran Geum Sung dan aku bekerja sama denganmu. Sooyang sanggup melakukan apapun.” Jawab Jong.
Jong lalu kembali minum dan Seung Yoo diam saja menatap Jong.
“Lebih baik seperti ini. Mereka yang berpikir kau sudah mati dan tidak tau siapa kau, tidak akan pernah tenang. Bukankah musuh yang tidak kelihatan itu lebih menakutkankan.” Ucap Jong lagi.
Sooyang dan antek2nya merayakan kemenangan mereka dengan berpesta di gibang.
“Kalau kau tidak minum sekarang, kau akan rugi.” Ucap Onyeong.
“Ini masih belum selesai.” Jawab Sooyang.
“Situasi ini sama baiknya dengan menerima pernyataan menyerah.” Ujar Kwon Ram.
“Ayo minum2. Jangan biarkan gelas kalian kosong.” Ucap Onyeong, lalu berkata ke Sooyang, “Tolong berikan saya anggur kerajaan.”
“Anggur kerajaan?” tanya Sooyang.
“Kalau bukan anggur kerajaan apalagi namanya. Pangeran Sooyang akan segera menjadi Raja.” Jawab Onyeong.
“Benar juga.” ucap Myung Hoe.
Dan mereka pun tertawa puas.
Di kamarnya, Seung Yoo merenungkan kata2 Jong.
“Mereka yang berpikir kau sudah mati dan tidak tau siapa kau, tidak akan hidup tenang. Bukankah musuh yang tidak kelihatan lebih menakutkan?”
Seung Yoo lalu ingat kata2 ayahnya.
“Kau tidak boleh berlutut pada seseorang dengan mudah. Kelak, kau yang akan menggantikanku melawan Sooyang.”
Seung Yoo lantas menyiapkan pedangnya.
Sooyang dan antek2nya masih di gibang. Onyeong yang sudah mabuk berat menari2 dengan gisaeng.
Seung Yoo menyusup ke kediaman seseorang.
Onyeong akhirnya tiba di rumahnya. Ia mulai mengganti baju. Tiba2, muncul seseorang di belakang Onyeong dengan pedang mengkilat di tangan. Orang itu mengarahkan pedangnya ke leher Onyeong. Onyeong terkejut. Orang itu berjalan ke depan Onyeong.
“Aku datang untuk membunuhmu, Pangeran Onyeong.” Ucap orang itu.
“Siapa kau!” tanya Onyeong ketakutan.
Orang itu pun membuka topengnya. Dia, Seung Yoo!

Onyeong kaget, Kim Seung Yoo!
BERSAMBUNG…………..

No comments:

Post a Comment