Thursday, November 8, 2018

The Promise ep 5 Part 1

Sebelumnya...

Lanjut ya gaes,, di episode ini Na Yeon akhirnya terusir dari rumah Presdir Jang. Ia dituduh mencuri dan dikirim Presdir Jang ke panti asuhan. Bagaimana kah hari-hari Na Yeon di panti asuhan nanti?


Na Yeon yang baru tiba di rumah terkejut melihat sepeda motor yang tadi menyerempetnya parkir di depan kediaman Presdir Jang.

Tak lama kemudian, Hwi Gyeong keluar dan mendekati Na Yeon. Ia bertanya apa ada masalah dengan sepeda motornya?

"Kau yang tadi ngebut di pasar, kan?" tanya Na Yeon.

"Kota ini sudah berubah banyak. Aku tidak yakin dimana pasar yang kau maksud. Ada apa sebenarnya? Jika itu sesuatu yang bisa kubantu, aku akan melakukannya." jawab Hwi Gyeong.

"Kenapa kau berbohong seperti itu?" tanya Na Yeon.

"Apa maksudmu?" balas Hwi Gyeong.

"Tidak peduli sesopan apa kau bicara, kebohongan tetap kebohongan." jawab Na Yeon.


"Katakan apa yang terjadi? Apa karena aku berbohong kepadamu? Atau karena aku bersikap baik kepadamu?" tanya Hwi Gyeong.

"Baru kali ini seseorang baik kepadaku, tapi mengapa dalam bentuk kebohongan? Kata-kata bagus yang belum pernah aku dengar selama ini. Kenapa itu hanya kebohongan? Kenapa?" ucap Na Yeon.

Hwi Gyeong pun baru mengerti setelah ia melihat buah-buahan Na Yeon yang hancur.


Ia lantas menyingkirkan plastik itu dan menyuruh Na Yeon naik ke motornya.

Na Yeon tidak mau.

Karena Na Yeon menolak, Hwi Gyeong pun tidak punya pilihan lain selain menggendong Na Yeon ke atas motornya.

Hwi Gyeong lalu membawa Na Yeon pergi.


Di dalam, Se Jin dan Tae Joon belajar bersama. Se Jin tampak nyaman di dekat Tae Joon.


Hwi Gyeong mengantar Na Yeon pulang.

Na Yeon berterima kasih karena Hwi Gyeong sudah mengganti buah-buahan itu. Hwi Gyeong tersenyum mendengarnya.

"Anggap saja kau kadang-kadang bisa bertemu dengan orang yang aneh." ucap Na Yeon.

Hwi Gyeong lantas membantu Na Yeon membuka helm.

"Bahkan jika kita bertemu lagi, aku tidak akan memberitahu siapa pun tentang ini." jawab Hwi Gyeong.


Hwi Gyeong lantas menyuruh Na Yeon pergi. Namun ia terkejut melihat Na Yeon masuk ke kediaman kakaknya.

"Jadi dia tinggal dengan Kak Yoo Kyung." ucapnya.


Yoo Kyung memarahi Na Yeon yang pulang terlambat. Na Yeon minta maaf dan mengaku sesuatu terjadi saat dia hendak pulang tadi.

Yoo Kyung kemudian melihat lutut Na Yeon terluka.

"Dan apa yang terjadi pada lututmu?" tanya Yoo Kyung.


Presdir Jang pun datang dan cemas melihat Na Yeon terluka.

Ia langsung memarahi Yoo Kyung karena menyuruh Na Yeon membeli buah-buahan.

Na Yeon pun langsung berkata, kalau dirinya lah yang mengajukan diri.

Yoo Kyung membela diri, ia berbohong dan balik memarahi Na Yeon karena tidak mau mendengarkannya. Ia mengaku sudah meminta Na Yeon menggunakan jasa layanan antar.

Yoo Kyung kemudian meninggalkan mereka dengan wajah kesal.

Presdir Jang menyusul Yoo Kyung setelah meminta Na Yeon mendengarkan kata-kata bibi.

Setelah Presdir Jang pergi, Tae Joon muncul dan tertegun melihat Na Yeon.


Na Yeon terkejut melihat Tae Joon.

Mereka saling bertatapan, sebelum akhirnya Se Jin datang dan memberitahu Tae Joon bahwa toilet juga ada di lantai dua.

Se Jin lalu melihat Na Yeon dan meminta Na Yeon membawakan camilan untuk mereka.


Na Yeon membawakan camilan untuk Se Jin dan Tae Joon.

Se Jin kesal karena Na Yeon tidak mengetuk pintu kamarnya terlebih dahulu.

Na Yeon diam saja dan terus menatap Tae Joon.

Tae Joon lalu melihat luka Na Yeon.

Se Jin kemudian menyuruh Na Yeon keluar. Setelah Na Yeon keluar, Se Jin memberitahu Tae Joon bahwa Na Yeon bekerja di rumahnya.


Tae Joon keluar dari kamarnya dan pergi lagi sambil membawa paper bag berwarna kuning.

Ia tidak peduli dengan teriakan bibinya yang marah-marah karena ia pergi lagi.

Tae Joon terus mengayuh sepedanya dengan senyum merekah lebar.


Di kamar, Na Yeon sedang melihat lukanya. Tak lama kemudian, bibi datang sambil menepuk-nepuk tengkuknya yang terasa pegal.

Bibi mengeluh badannya pegal semua setelah bekerja seharian.

Mendengar itu, Na Yeon pun langsung memijat bibi. Bibi pun terkejut karena pijatan Na Yeon sangat enak.

"Dulu aku juga sering memijat ibuku dan ibuku menyukainya." jawab Na Yeon.

Tak lama kemudian, bibi teringat paper bag kuning yang dibawanya. Ia pun memberinya pada Na Yeon dan berkata, bahwa Tae Joon lah yang menitipkan itu padanya dan memintanya memberikan paper bag itu pada Na Yeon saat ia keluar membuang sampah.


Na Yeon pun membuka paper bag itu yang isinya, payung kuningnya, obat dan sebuah surat.

"Antibiotik untuk luka dan bekas luka. Pastikan kau memakainya pada lukamu. Jika meninggalkan bekas luka di kaki jelekmu, aku tidak akan tahan lagi. Aku sangat terkejut sampai tidak bisa mengatakan apa-apa. Aku terpilih sebagai penerima beasiswa di perusahaan Tuan Jang. Sepertinya aku beruntung bisa menemukanmu. Itulah sebabnya aku diundang kesana." tulis Tae Joon pada suratnya.


Na Yeon lantas keluar, mencari Tae Joon tapi Tae Joon nya sudah pergi.


Na Yeon pun kembali ke kamarnya dan kembali membaca surat Tae Joon.

"Aku sudah mendengar apa yang terjadi pada ibumu. Saat aku mencarimu, kau selalu tersenyum. Aku sedih karena tidak bisa melihat senyummu hari ini."

Na Yeon lalu melirik payungnya. Ia mengambil payung itu dan mendekapnya di dada bersama surat Tae Joon.


Paginya di kantor, Pimpinan Park mengamuk setelah membaca resume Kang Young Dae.

"Melihatmu tidak terkejut, kau tahu segalanya selama ini. Jadi kau tahu dan masih menipuku?"

"Aku tidak menipumu." jawab Presdir Jang.

"Lalu kenapa kau tidak bilang dia putra Kang Young Dae? Yang meninggal sebelum pembangungan Gaepo-dong? Apa kau tidak tahu dia hampir menghancurkan kontrak yang sudah selesai? Kenapa dia datang ke lokasi pembangungan kita dan membakar diri? Apa hanya ia satu-satunya yang tidak dibayar? Setiap kali memikirkan itu, aku bisa merasakan darahku naik ke kepala bahkan di malam hari!" ucap Pimpinan Park.

"Ini tidak ada hubungannya dengan Kang Young Dae. Jangan lihat dia sebagai anak Kang Young Dae tapi sebagai penerima beasiswa yang kita butuhkan." jawab Presdir Jang, membuat Pimpinan Park tambah marah.

Presdir Jang terus membela Tae Joon. Ia berkata, jika kecelakaan itu tidak ada, Tae Joon pasti sudah hidup bahagia dengan orang tuanya.

Tapi Pimpinan Park tidak peduli dan minta beasiswa Tae Joon dibatalkan.


Tae Joon keluar dari ruangan kepala sekolah dengan wajah lemas.


Ia lalu pulang ke rumah dan melihat bibinya sedang bicara dengan Presir Jang.

Melihat Tae Joon pulang, sang bibi kaget dan buru-buru menyembunyikan amplop tebal yang sudah jelas dari Presdir Jang.

Presdir Jang lantas berdiri dan meminta maaf pada Tae Joon lantaran beasiswa itu.

Tae Joon pun mengerti meski ia kecewa.


Presdir Jang lantas pamit. Bibi Tae Joon berusaha menahan kepergian Presdir Jang.

Saat itulah, Tae Joon melihat amplop itu di saku bibinya.

Tae Joon marah. Ia mengambil kembali amplop itu dan mengembalikannya pada Presdir Jang.

Bibi Tae Joon mengejar Tae Joon. Ia mencoba mengambil kembali amplop itu.

Tae Joon marah besar pada bibinya. Ia mengaku tidak butuh uang itu dan menyuruh Presdir Jang pergi.

Presdir Jang pun pergi. Bibi Tae Joon marah-marah.


Se Jin melihat tanggal yang ia beri tanda di kalendernya. Entah apa yang terjadi, tapi Se Jin terlihat sedih dan marah.

Saking marahnya, ia sampai memukul pianonya.


Nyonya Yoon yang baru sampai di rumah terkejut melihat Yoo Kyung di rumahnya.

Yoo Kyung sendiri heran, kenapa Nyonya Yoon yang punya banyak waktu berleha-leha di rumah, malah terlihat sibuk.

Nyonya Yoon berkata, harusnya Yoo Kyung menghubunginya jika mau datang agar ia bisa membuat sup favorit Yoo Kyung.

Yoo Kyung pun kesal melihat Nyonya Yoon yang bersikap sebagai ibunya. Ia lalu meminta Nyonya Yoon cerita apa rahasia Nyonya Yoon sampai bisa membuat ayahnya tergila-gila padanya begitu.


Nyonya Yoon berusaha tidak memasukkan omongan Yoo Kyung ke dalam hatinya.

Yoo Kyung lalu menanyakan soal yayasan beasiswa yang didirikan ayahnya. Ia lantas menuding Nyonya Yoon yang memaksa ayahnya mendirikan yayasan beasiswa agar bisa menjadi ketua.

"Jika kau begitu pintar kenapa kau mau menjadi selir ayahku? Kupikir, kau bisa menjadi sesuatu karena kepintaranmu."

Tapi Nyonya Yoon lagi-lagi tidak membalas sindiran Yoo Kyung dan terus tersenyum.

Yoo Kyung pun kesal melihat senyum Nyonya Yoon. Ia lalu berkata, kalau posisi ketua di yayasan beasiswa itu adalah miliknya dan memperingatkan Nyonya Yoon untuk tidak merebutnya.


Setelah mengatakan itu, Yoo Kyung berniat pergi tapi Nyonya Yoon menyinggung soal kematian Yoon Ae. Nyonya Yoon mengaku, ada teman SMA mereka yang menghubunginya dan mengabari kematian Yoon Ae.

"Dia sangat pendendam. Kupikir dia akan hidup sampai usia tua. Maksudku Yoon Ae. Apa kau bertemu dia baru-baru ini?" tanya Nyonya Yoon.

Sontak Yoo Kyung kaget dan menyangkal kalau dirinya bertemu Yoon Ae sebelum kecelakaan.

Nyonya Yoon pun merasa menyesal karena tidak menemui Yoon Ae secepatnya. Ia mengaku akan segera menemui Yoon Ae jika saja tahu hal macam itu akan terjadi.

"Jika kau begitu marah, kenapa kau tidak mendoakannya di kuil!" sentak Yoo Kyung lalu beranjak pergi.


Na Yeon masuk ke kamar mandi Yoo Kyung dan membersihkan toilet.

Saat itulah, ia melihat sobekan foto ibunya di lantai kamar mandi.

Na Yeon pun terkejut foto ibunya dirobek.


Tak lama kemudian, ia berlari keluar dan mencari foto ibunya di laci Yoo Kyung.

Saat tengah mencari foto ibunya, ia menemukan anting Yoo Kyung itu.


Tepat saat itu, Yoo Kyung pulang dan terkejut melihat Na Yeon memeriksa barang-barangnya.

Na Yeon pun meminta penjelasan soal anting itu dan juga meminta foto ibunya dikembalikan.

Tapi Yoo Kyung tidak mau mendengar dan malah mengusir Na Yeon dari kamarnya.

Bersambung ke part 2...............

Begitulah gaes, ayahnya Tae Joon meninggal karena Baekdo Group. Tapi Tae Joon gak tahu dan nantinya malah menikah dengan Se Jin untuk menaikkan statusnya.

Dan Nyonya Yoon kayaknya tahu Yoo Kyung penyebab kematian Yoon Ae.

Saya juga curiga, Nyonya Yoon lah yang memberikan hasil tes DNA itu pada Yoon Ae sebelum Yoon Ae meninggal.

Di part selanjutnya, Na Yeon dibawa ke panti asuhan.

No comments:

Post a Comment