Sunday, November 25, 2018

The Promise Ep 8 Part 2

Sebelumnya...


Di Baekdo, Direktur Jang sedang bicara dengan mantan besan dan menantunya.

"Pada suatu titik dimana dua rumah tangga seperti ini, kita tidak bisa membicarakan aliansi lebih jauh. Kami sudah menunjukkan sisi jelek kami, jadi kami tidak bisa berada di perahu yang sama." ucap besannya.

"Baekdo dan Daehwa menaruh banyak upaya pada aliansi ini selama hampir satu tahun. Aku minta maaf." jawab Direktur Jang.

"Itulah yang harus kita katakan. Bukankah lebih baik begitu? Jika kita menandatangani kontrak dan melakukan upacara bersama, hal ini akan menjadi lebih rumit." ucap besannya.

"Begitukah?" tanya Direktur Jang.

"Kita sudah bicara bisnis saat ini. Lihatlah ini." jawab besannya, lalu memberikan amplop putih tebal padanya.


"Karena Se Jin adalah orang yang bertanggung jawab, aku rasa alasan untuk perceraian juga terserahnya. Kami diserang oleh kejutan dari tempat kami duduk dan mereka melihat kami tampak buruk sekarang. Kami akan resmi mengajukan klaim untuk tunjangan dan kompensasi kerusakan atas pencemaran nama baik. Ini adalah hati dari seorang ayah." ucap besannya.

"Apa kau merasakan hal yang sama?" tanya Direktur Jang pada menantunya.

Sang menantu mengiyakan.

"Sejin membuat alasan untuk perceraian dan kau setuju bahwa dia adalah pasangan hidup yang memegang tanggung jawab?" tanya Direktur Jang.

"Itu benar." jawab menantunya.

"Kami telah menyampaikan pesan kami, jadi kami akan pergi sekarang." ucap besannya.


Direktur Jang pun menyuruh besannya mendengarkan sesuatu terlebih dahulu sebelum mereka pergi.

Direktur Jang lalu memutar sebuah rekaman. Terdengar lah suara dua orang wanita disana.

"Eun Jae Hak tidak normal. Dia benar-benar gila. Dia memasang alat pelacak di mobilku. Dia bahkan menamparku karena mengabaikan panggilannya sekali. Mendengar tentang pernikahannya, aku menduga dia akan membuat wanita lain menderita."

"Ketika seorang pria menanyakan arah padaku, ia menuduhku merayu pria itu dan membuatku gila."

Pria bernama Jae Hak itu pun langsung mematikan rekaman itu.


"Wae? Kau harus mendengarkannya sampai selesai. Ayahmu harus tahu persis seperti apa anaknya agar ia tidak melakukan sesuatu yang bisa mempermalukan dirinya nanti."

"Kau jauh lebih menakutkan daripada yang terlihat."

"Ini bukan aku, itu putriku. Dia jauh lebih menakutkan dari yang terlihat dan ia juga bijaksana karena ia masih sangat muda."

"Aku tidak curiga sedikit pun padanya tapi bagaimana kau tahu jika putrimu yang menakutkan itu tidak menyuap wanita ini untuk memberikan kesaksian palsu?"


"Kita lihat nanti di pengadilan. Wanita ini mengaku akan memberikan kesaksian di pengadilan juga. Putriku membutuhkan kesempatan ini untuk mendapatkan kembali reputasinya. Ini adalah hati dari seorang ayah." balas Direktur Jang.

Tuan Eun pun marah dan memukul putranya. Setelah itu keduanya beranjak pergi.


Eun Bong dan sunbae nya kena semprot atasan mereka.

"Kau sebut ini berita? Kalian mengikuti Jang Se Jin beberapa hari dan terjebak di dalam mobil tapi kalian hanya bisa datang dengan artikel beberapa baris?"

"Lee Joong Dae, kau tidak bisa mengambil satu gambar? Jika kau punya waktu untuk mencocokkan warna pakaian, kau harus mengambil beberapa gambar!"

Mendengar itu, Joong Dae pun langsung mendelik tajam pada Eun Bong.

Tak lama kemudian, ia berjanji akan mendapatkan berita soal kekasih Se Jin membuat Eun Bong langsung menginjak kakinya.


Di kamarnya, Na Yeon sedang mematut diri di kaca dengan beberapa bajunya.

Ya, ia membongkar isi lemarinya.

Semua itu lantaran Tae Joon mengajaknya berkencan.


Di kantor, Tae Joon dihubungi Direktur Jang. Sepertinya Direktur Jang mengajaknya bertemu.


Na Yeon akhirnya menemukan baju yang dirasanya pas. Tak lama, Geum Bong datang dan Na Yeon langsung meminta pendapat Geum Bong.

"Bahkan seseorang yang lari dari rumah di tahun 80 tidak akan memakai ini."

"Wae? Apa kelihatan buruk? Ini tampak tua?" tanya Na Yeon.

Geum Bong lantas memberikan Na Yeon paper bag yang dibawanya. Isinya dress berwarna hitam putih yang sangat cantik.

Geum Bong berkata, pria bernama Gil Dong yang menjadi teman kencan butanya yang memberikannya dress itu.

"Kenapa dia memberimu ini?"

"Mungkin dia ingin memberiku kesan yang baik."

"Ini tidak tampak seperti kau akan menikahinya. Apa tidak apa-apa mengambil seperti ini? Ibu akan gila jika tahu."

"Karena itulah dia lebih baik tidak tahu. Jika kau tutup mulut, semua akan baik-baik saja."

"Tapi aku tidak bisa memakainya. Aku lebih nyaman dengan pakaian ini." jawab Na Yeon.


Se Jin sendiri juga sedang mematut dirinya di kaca dengan beberapa baju.

Ia berada di butik. Lalu setelah itu, ia memborong semua baju.


Tak hanya baju, Se Jin juga membeli beberapa kosmetik.


Direktur Jang memberi Tae Joon tiket pesawat. Ia menyuruh Tae Joon pergi dalam dua minggu lagi. Sontak, Tae Joon kaget.

"Kau akan tetap pergi, jadi apa gunanya menunda? Kau dapat pergi dan menyiapkan beberapa hal dan kau akan memerlukan beberapa waktu untuk terbiasa dengan hal-hal disana."

"Baiklah." jawab Tae Joon.

"Bahkan selama kunjunganmu ke Amerika, penghasilanmu akan tetap disimpan. Perusahaan akan mengurus biaya kuliah dan biaya hidup juga."

"Kamsahamnida." jawab Tae Joon.

"Aku memeriksa informasi pribadimu dan sepertinya kau memiliki seorang ibu. Kalian tidak hidup bersama."

"Dia menikah lagi dan kami hidup terpisah." jawab Tae Joon dengan wajah sedikit tidak nyaman.

"Kalau begitu kau harus pergi tanpa ada yang membuatnya batal." ucap Direktur Jang.


Tae Joon diam saja. Direktur Jang lalu menuangkan minuman untuk Tae Joon.

"Sebagai seorang direktur, memanggil seorang pekerja baru secara pribadi, menyerahkan sebuah tiket pesawat dan mengurus jadwalmu. Ini bukan kejadian yang sangat langka. Jika seseorang yang suka gosip kebetulan melihat kita, mereka akan berpikir bahwa aku koneksimu di perusahaan."

"Aku sadar kau menginginkan sesuatu dariku."

"Jadi kita saling memahami. Itu benar. Aku punya permintaan pribadi padamu." jawab Direktur Jang.


Na Yeon sendiri menunggu Tae Joon di restoran. Tak lama kemudian, ia menerima SMS dari Tae Joon yang memintanya menunggu sekitar satu jam lagi karena ia ada urusan.


Tae Joon mengantarkan Direktur Jang pulang.

Direktur Jang menyuruh Tae Joon membawa mobilnya lantaran hari yang sudah malam.

Tapi Tae Joon menolak dan mengaku lebih nyaman naik kereta.


Setelah Direktur Jang masuk, Tae Joon menatap sekeliling rumah Direktur Jang dengan tatapan penuh arti.


Tak lama, sebuah mobil putih datang dan berhenti tepat di kediaman keluarga Jang.

Tae Joon lantas melihat Se Jin turun dari mobil putih itu. Se Jin turun dari mobil sambil bicara dengan seseorang di telepon.


Bersambung...................

No comments:

Post a Comment