Wednesday, December 5, 2018

The Promise Ep 9 Part 2

Sebelumnya...


Se Jin masuk ke kamarnya dan menemukan tiket penerbangan ke Boston di mejanya.

Ia sontak berlari turun ke bawah dan meminta penjelasan ayahnya soal tiket itu.

"Sudah ayah bilang, beristirahat lah di Boston."

"Aku juga sudah bilang tidak mau melarikan diri." jawab Se Jin.

"Jadi kau mau diremehkan oleh kakekmu terus menerus?" tanya Yoo Kyung yang keluar dari kamarnya.

"Eomma, kenapa tidak membantuku?"

"Bagaimana bisa kau bersikap seperti ini setelah diperlakukan seperti itu oleh kakekmu? Pergilah keluar. Tidak peduli butuh waktu 3 atau 4 tahun, coba saja. Seperti yang dikatakan kakekmu, jadilah seseorang yang berpotensi besar."

"Eomma."


Kyung Wan lantas mengajak Se Jin bicara berdua. Se Jin mengaku, bahwa ia takut memulai sesuatu yang baru dan takut pada dunia meski ia tak menunjukkannya.

"Tidak ada yang bisa kukatakan. Aku harus menghentikan pernikahan ini."

"Appa, jika aku sangat membencinya, aku tidak akan menikah. Jujur saja, Eun Jae Hak sangat tampan. Dan dia memenuhi syarat untuk dinikahi. Itu bukan salah ayah jadi berhentilah memasang wajah seperti itu."

"Karena itulah, mari kita memulainya lagi. Ayah janji tidak akan membiarkanmu menangis lagi."

Mendengar itu, Se Jin terharu dan mengaku senang punya ayah yang mengagumkan seperti Kyung Wan.


Kyung Wan lantas bertanya, Se Jin minum dengan siapa tadi.

Dengan wajah berseri-seri, Se Jin memberitahu bahwa tadi ia minum dengan Tae Joon.

Kyung Wan tertawa mendengarnya.

"Jadi ayah sudah tahu? Kenapa tidak memberitahuku?" tanyanya.

Tapi kemudian, Se Jin meralat ucapannya. Ia berkata, itu tidak ada gunanya karena ia adalah wanita yang sudah bercerai.

"Pergilah ke Boston dan mulai lah awal yang baru."

"Appa."


Kyung Wan lalu memegang tangan Se Jin.

"Pergilah dan jangan khawatirkan apapun. Kau tidak akan menyesal. Aku pastikan hal itu. Percaya lah padaku."


Tae Joon mengantarkan Na Yeon pulang.

"Kau tidak mau mendengarkanku? Banyak orang mendaftarkan pernikahan duluan baru kemudian menikah." ucap Tae Joon.

"Aku tahu tapi perusahaanmu mengira kau masih lajang. Apa yang akan mereka katakan jika tahu kau punya istri tanpa menikah? Kau sangat disukai dan akan belajar diluar negeri, jadi aku yakin orang akan bergosip dan bicara di belakangmu. Kita menikah setelah kau kembali dan mendaftarkan pernikahan kita."

"Kau sangat percaya diri. Bagaimana jika aku berpaling darimu?"

"Kau pikir aku tidak mengenalmu? Kita sudah 15 tahun. Kau tidak akan pernah melakukan itu."

"Bagaimana bisa kau seyakin itu?"


"Selama 15 tahun, aku...." Na Yeon lantas menyentuh dada Tae Joon, "... menempatkan banyak hal disini. Kang Tae Joon, setengah dirimu adalah milikku dan setengah diriku, milikmu juga. Kita sudah membagi setengah dari hidup kita selama ini."

Na Yeon lantas menyuruh Tae Joon pergi. Ia lalu berkata, meski Tae Joon berusaha lari, Tae Joon tidak akan bisa pergi jauh.

"Kau agak dingin, tapi kau bukan orang yang buruk." ucap Na Yeon lagi.

Tae Joon lalu menyuruh Na Yeon masuk dan beranjak pergi.

"Jangan perlakukan ibumu dengan dingin. Kau akan menyesal nanti." ucap Na Yeon.


Nyonya Oh lagi bertengkar dengan ahjumma tetangga. Ahjumma tetangga kesal karena Nyonya Oh mendengarkan musik kelewat keras.

Mereka kemudian adu mulut dan si ahjumma tetangga meragukan Nyonya Oh sebagai ibu Tae Joon karena tahu Tae Joon pria yang baik.

Tak lama kemudian, Tae Joon datang dan si ahjumma tetangga langsung mengadu pada Tae Joon.

Tae Joon pun meminta maaf atas nama ibunya.

"Seharusnya aku tidak mengatakan ini, tapi kau akan menderita di masa depan karena ibu seperti itu." ucap si ahjumma tetangga, lalu pergi.

Kesal, Tae Joon pun mengambil barang-barang sang ibu dan mengusirnya.

Tak mau diusir, Nyonya Oh berusaha membujuk Tae Joon. Tapi Tae Joon tak mau mendengarkan.


Nyonya Oh juga berusaha membuka pintu tapi Tae Joon mengunci pintunya.

Tae Joon kemudian duduk di mejanya. Ia memutar kaset Na Yeon, lalu memejamkan matanya sambil mendengarkan dentingan piano Na Yeon seperti yang sering dilakukannya dulu.

Tae Joon lalu ingat permintaan Kyung Wan. Kyung Wan ingin dia menjaga Se Jin di boston.


Flashback...

Kyung Wan menceritakan, bahwa Se Jin bisa menikah dengan Jae Hak lantaran ditekan Pimpinan Park. Ia cerita, bahwa Baekdo sangat membutuhkan bantuan Dae Hwa saat itu, jadi ia tak bisa melakukan apapun dan membiarkan Se Jin menikah dengan Jae Hak. Ia juga mengaku, diam-diam ingin Se Jin menikah dengan Jae Hak demi perusahaan.

"Aku akan mengirimnya ke Boston. Bisakah kau menemaninya?"

"A.. aku memiliki seorang kekasih yang akan segera kunikahi."

Sontak, Kyung Wan terkejut tapi ia kemudian tertawa mendengarnya.

"Aku tidak memintamu menikahinya. Kau sedikit berlebihan. Kalian akan kesepian di negara asing jadi aku ingin kalian berteman."

Flashback end...


Tae Joon lalu membuka lacinya dan melihat kumpulan surat serta payung kuning dari Na Yeon.

Sementara Na Yeon, di tempat tidurnya, terus menatap buku rekening Tae Joon.


Nyonya Oh duduk diluar sambil menyelimuti diri dengan selimut tebal.

"Mereka bilang tidak ada orang tua yang bisa menang melawan anaknya tapi sekarang akan kutunjukkan bahwa tidak ada anak yang bisa menang melawan orang tuanya."


Ia lalu mengingat kata-kata peramal tentang nasib cintanya. Si peramal bilang, bahwa Nyonya Oh hanyalah stasiun bus bagi seorang pria.

Nyonya Oh kemudian bertanya, apa ia akan hidup sendiri sampai ia mati.

"Aku melihat seorang anak yang ditinggalkan. Kau membuang keberuntunganmu. Anak ini akan menjadikanmu seperti raja. Jika kau ingin hidup mewah, melekat lah padanya seperti lintah."

Itulah alasan Nyonya Oh mendatangi Tae Joon.


Tak lama, Tae Joon keluar dan menyuruh Nyonya Oh masuk.

"Aku akan pindah jadi kuberikan waktu satu minggu untuk menemukan tempat baru."

"Kau mau kemana?"

"Tidak perlu tahu."

"Kau mau kemana!"

"Aku akan ke Amerika. Perusahaan mengirimku keluar negeri. Puas?"

Sontak, Nyonya Oh senang mendengar putranya akan belajar keluar negeri.


Tae Joon lantas memberitahu ibunya bahwa ia memberikan uangnya pada Na Yeon dan menyuruh ibunya menemukan tempat baru.

"Aku akan tetap disini jadi kenapa kau memberikannya pada si jalang itu?"

"Jika kau menyebutnya jalang atau sesuatu semacamnya sekali lagi, aku tidak akan diam."

"Baiklah aku mengerti. Tapi apakah kalian putus? Kalian putus jadi kau memberikan si jalang itu, ani, maksudku Na Yeon kompensasi?"

"Na Yeon memberiku uang deposit untuk tempat ini. Aku akan pindah jadi aku harus mengembalikan deposit pada pemiliknya kan?"

"Kupikir kalian menikah. Jadi begini saja. Selama kau di Amerika, aku akan mengurus hal-hal disini. Na Yeon pasti mengizinkanku, kan?"

Tae Joon diam saja dan menghela nafas kesal.


Na Yeon mencampurkan kecap asin dan telur mentah ke dalam nasinya. Setelah itu, ia mengaduknya dan langsung melahapnya dengan kimchi.

Tak lama, ibunya keluar kamar dan terkejut melihatnya makan.

Na Yeon beralasan, bahwa ia hanya ingin makan saja.


Lagi asyik makan, Na Yeon tiba-tiba mual lagi dan langsung ke kamar mandi.

Na Yeon muntah-muntah.

Curiga, Na Yeon pun akhirnya memakai test pack itu.

Ia sontak terkejut melihat garis dua yang muncul di sana.

Ya, Na Yeon hamil!!


Bersambung.................

No comments:

Post a Comment