Sunday, November 25, 2018

The Promise Ep 8 Part 1

Sebelumnya...

Lanjut gaes.... Disini, udah mulai kelihatan tanda-tanda Tae Joon akan berpaling dari Na Yeon.

Di episode sebelumnya, Tae Joon mendapatkan tawaran study ke Amerika dari Direktur Jang. Tae Joon pun ragu-ragu menerimanya, karena ia sudah melamar Na Yeon.

Lalu keputusan apakah yang diambil Tae Joon? Akankah dia menolak tawaran Direktur Jang atau justru menerimanya?


Paginya, Tae Joon menemui Direktur Jang. Ia memutuskan menerima tawaran Direktur Jang.

Direktur Jang lantas memberikan dokumen study Tae Joon. Sontak, Tae Joon terkejut melihatnya.

"Aku orang yang tidak sabaran jadi aku membuat rencana terlebih dahulu. Sekolah ini terletak di Boston. Kau memiliki keterampilan yang hebat jadi sekolahnya senang menerimamu. Pergilah secepatnya saat visamu sudah keluar."

"Apa anda sudah tahu kalau saya akan pergi?"

"Di usiaku, kau dapat membaca pikiran orang dengan baik. Kau sudah memutuskan untuk pergi. Tetapi kau hanya mencari alasan terbaik untuk melakukannya. Untungnya, kau menemukan alasanmu lebih awal. Pokoknya selamat."


Sekarang, Tae Joon berdiri di atap Baekdo, melihat dokumen sekolahnya dengan senyum bangga.


Mobil Na Yeon berhenti di sebuah alamat. Saat hendak turun untuk mengantarkan pesanan, tiba-tiba saja ia merasa perutnya mual.

Na Yeon pun bertanya-tanya, ada apa dengannya.


Na Yeon masuk ke sebuah gedung. Saat hendak naik lift, ia melihat tulisan di pintu lift bahwa lift sedang dalam perbaikan.

Na Yeon pun tak punya pilihan lain selain menggunakan tangga menuju lantai sembilan.


Tapi sampai di atas, pihak gedung mengaku tidak membuat pesanan makanan sama sekali.

"Aku cukup yakin ini tempatnya." ucap Na Yeon lalu memeriksa catatan pesanannya.

"Gedung Daehyung, lantai 9. Clear Heart Academy. Mereka bilang makan siang untuk para guru." ucap Na Yeon.

Tapi pihak sekolah kekeuh tidak melakukan pemesanan.

Na Yeon tak menyerah. Ia menunjukkan nomor si pemesan. Dengan wajah merasa bersalah, wanita itu pun menyangkal sudah memesan makanan dan beranjak pergi.


Wanita itu masuk ke sebuah ruangan. Ada rekannya disana, seorang pria dan ia meminta rekannya agar tidak memintanya melakukan pemesanan seperti itu lagi.

"Makanan Oppa di persimpangan lebih murah. Jika aku tahu, aku akan minta mereka sebagai gantinya."

"Tapi tetap saja. Kita bahkan mengkonfirmasinya!"


Tak lama kemudian, Na Yeon masuk dan memberikan makanannya secara gratis.

Wanita itu langsung menolak karena merasa bersalah tapi rekannya tanpa perasaan bersalah sedikit pun, langsung menerima makanan Na Yeon dengan alasan Na Yeon memaksa mereka menerimanya.


Na Yeon kembali ke mobilnya. Baru masuk mobil, Nyonya Oh sudah menelponnya meminta dibawain makanan.

Na Yeon pun berkata, di dalam kulkas ada kimchi dan telur dan ada nasi di dalam rice cooker.

Tapi Nyonya Oh menolak memakanan itu karena tidak mau mulutnya bau unggas.

Nyonya Oh lalu meminta Na Yeon mengantarkan makan siang untuknya. Na Yeon pun berkata, ia harus gantian dengan ibunya menjaga stan makanan mereka di pasar.

Nyonya Oh pun langsung meminta alamat stan Na Yeon.


Tae Joon bicara dengan kliennya dalam Bahasa Inggris. Ketiga rekannya pun tercengang mendengarnya.

Selesai bicara dengan klien, Tae Joon memberitahu rekannya bahwa itu telepon dari Bruni Tabald.

"Dia ingin menjelajahi perusahaan kita dan ingin mendengar pendapat kita. Aku rasa kita harus melakukan evaluasi pertama kali. Jadi aku bilang, kita akan mengabari mereka setelah itu."

"Aku tahu. Aku mengerti semua yang dia katakan. Aku akan menyampaikan berita tentang masalah itu jadi kau harus membuat laporan." jawab atasannya.

"Tapi Kang Tae Joon-ssi, Bahasa Inggrismu fasih sekali." puji rekannya yang pria.

"Kau pasti menghabiskan banyak uang bepergian keluar negeri dan melatih bahasa." ucap yang wanita.


"Aniyo. Seorang teman dari luar negeri sesekali datang ke sekolahku. Jadi aku terus mengganggunya. Dia sudah banyak membantuku." jawab Tae Joon.

"Berarti yang dipekerjakan pertama kali terjadi karena suatu alasan." ucap atasan Tae Joon.

Sang atasan lantas mengajak mereka semua makan siang, tapi Tae Joon menolak dengan alasan mau menyelesaikan laporannya dulu.

"Kang Tae Joon pasti masih kenyang tanpa makan siang. Dia akan makan banyak steak di Amerika. Jadi bagaimana bisa kantin bau kita menjadi standarnya?" jawab si rekan wanita.


Setelah rekan-rekannya pergi, Tae Joon pun mendapat telepon tentang visanya yang sudah keluar.

Tae Joon langsung teringat saat dirinya melamar Na Yeon.

Teringat Na Yeon, Tae Joon pun langsung pergi.


Di pasar, Nyonya Yang sedang membuat pancake. Tak lama kemudian, Na Yeon datang dan menyuruh sang ibu makan siang.

Awalnya Nyonya Yang tak mau digantikan, tapi lantaran Na Yeon memaksa, Nyonya Yang menurut dan pergi makan.

Saat menjaga stan, Na Yeon mual lagi dan berpikiran untuk membeli obat pencernaan.


Tak lama kemudian, para pelanggan datang ingin mencoba pancake Na Yeon.

Dari kejauhan, Tae Joon menatap lirih Na Yeon yang sedang melayani pelanggan.

Setelah menatap Na Yeon sejenak, Tae Joon pun akhirnya pergi.


Tanpa Tae Joon sadari, ibunya melintas di belakangnya saat ia berjalan pergi.

Nyonya Oh langsung mencibir tempat jualan Na Yeon.

Nyonya Oh kemudian bertabrakan dengan Nyonya Yang.

Nyonya Yang yang mengenali Nyonya Oh, langsung diam sembari menatap kesal Nyonya Oh.

Tapi Nyonya Oh yang lupa pada Nyonya Yang, langsung menanyakan tempat Na Yeon berjualan dengan wajah sombong.

Kesal karena diabaikan, Nyonya Oh beranjak pergi tapi Nyonya Yang menghentikannya.


"Apa mungkin kau mengenalku sebelumnya?" tanya Nyonya Yang.

Mendengar itu, Nyonya Oh pun melepaskan kacamatanya dan menatap bingung Nyonya Yang.

"Apa mungkin kau, 30 puluh tahun lalu, bekerja di sebuah pabrik kaus kaki di Bucheon?"

"Kurasa kau salah." jawab Nyonya Oh, lalu memakai kacamatanya dan buru-buru pergi.

"Oh Man Jung-ie! Oh Man Jung ma chi?" tanya Nyonya Yang.

"Sudah kubilang kau salah orang!"

"Aku benar, bokong bebek itu. Oh Man Jung!"

Nyonya Yang pun langsung mengejar Nyonya Oh.


Sementara itu, Na Yeon yang baru selesai melayani pengunjung, heran karena Nyonya Oh belum datang juga.

*Sekali lagi, mendengar lagu Genie SNSD di part ini.


Ponsel Na Yeon kemudian berdering. SMS dari Tae Joon, yang menanyakan Na Yeon sudah makan siang atau belum.

Sambil makan kimbap di toserba, Tae Joon membalas pesan Na Yeon yang juga menanyakan hal yang sama.


Saat asyik berbalas pesan dengan Tae Joon, Nyonya Yang datang sambil marah-marah.

Na Yeon pun langsung meletakkan hp nya dan bertanya ada apa.

"30 tahun yang lalu, aku mengejarnya saat dia lari dengan uangku. Dia begitu cepat, jadi aku kehilangan dia."

"Ibu ketemu dia dimana?"

"Dia datang ke pasar kita. Dia berpakaian begitu memalukan dan menjengkelkan. Melihat dirinya yang makin menyedihkan saat itu dan sekarang hanya membuatku makin membencinya."

"Berapa banyak yang dia curi?"

"500 ribu won. Aku bekerja keras di pabrik kaus kaki dan menyimpannya. Dia bilang, adiknya harus segera dioperasi. Aku meminjamkannya karena kasihan tapi dia malah membawa lari uangku."


"Daebak. Orang itu sungguh kelewatan. Jika itu 500 ribu won 30 tahun lalu, bukankah jumlahnya cukup besar?"

"Kau benar. Aku sangat marah sampai merasa wajahku ini akan lumpuh. Jika aku menangkapnya, aku akan menghabisinya!"

"Kita lebih baik menangkapnya." ucap Na Yeon.

*Jadi di masa lalu, Nyonya Oh ini bawa kabur duit Nyonya Yang. Dan sekarang, itu kejadian lagi pada Na Yeon. Dia bawa kabur uang Na Yeon 4 tahun lalu.


Se Jin dan ibunya lagi di spa saat sang ibu menerima telepon dari seseorang.

"Apa kau berteriak setelah meminum obat tekanan darahmu? Jangan terus kehilangan kesabaranmu."

Mendengar itu, Se Jin langsung menoleh pada ibunya.

"Harabeoji?" tanya Se Jin.

Yoo Kyung mengangguk.

"Biarkan Se Jin sendirian untuk sementara waktu. Dia juga pasti banyak menderita. Aku mengerti. Aku akan bicara padanya." jawab Yoo Kyung lagi, lalu menutup teleponnya.


Mendengar itu, Se Jin langsung turun dari ranjangnya dan pergi mengambil bajunya.

"Sudah kubilang tidak perlu." ucap Yoo Kyung.

"Cepat atau lambat, kita akan menghadapi kakek. Jika ibu tidak mau, aku bisa pergi sendiri." jawab Se Jin.


Yoo Kyung protes saat Pimpinan Park menyuruh Se Jin minta maaf pada besan mereka.

Pimpinan Park juga menyuruh Se Jin tinggal kembali bersama mantan suaminya selama setahun. Ia berjanji, jika selama setahun itu, Se Jin masih tetap tak bisa bertahan, ia tak akan lagi menghentikan Se Jin.

"Kakek ingin aku masuk kembali ke dalam neraka itu?" tanya Se Jin.

"Lalu kau ingin merusak yang hampir selesai? Kau tahu berapa banyak pekerjaan yang telah dimasukkan ke Daehwa? Kami sudah menyusun memorandum aliansi modal dan yang harus kita lakukan adalah menandatangani kontrak. Dan kau akan merusaknya?"


"Jebal-yo harabeoji. Aku tidak mau menjadi korban lagi atas kesepakatan bisnismu."

"Sebuah pernikahan tidak hanya antara kau dan suamimu. Ini adalah janji dan kontrak antara dua rumah tangga. Tapi bagaimana bisa kau mematahkan kontrak penting ini dan memutuskan hubungan kalian?"

"Kakek tidak melihatku, kan? Sebelum memperlakukanku sebagai cucu, untuk mengembangkan Baekdo, kau hanya melihatku sebagai seseorang yang untuk dikorbankan."

"Sama seperti aku memainkan peran sebagai kakekmu, kau melakukan bagianmu dengan setia sebagai cucuku."


Yoo Kyung yang sudah tidak tahan lagi, akhirnya mengajak Se Jin pergi.

Nyonya Yoon berusaha mencegah mereka pergi. Ia bilang, Yoo Kyung tak bisa pergi begitu saja.

Se Jin pun menyuruh ibunya diam.

Se Jin lalu bilang pada kakeknya, ia setuju melakukan apapun yang disuruh kakeknya asalkan kakeknya berjanji untuk mewariskan Baekdo padanya, bukan pada Hwi Kyung.


Sontak, Nyonya Yoon marah karena Se Jin berani membuat kesepakatan dengan Pimpinan Park.

Tak lama kemudian, Pimpinan Park tertawa dan mengatakan bahwa Se Jin terlihat lebih mirip Yoo Kyung ketimbang Kyung Wan.

"Ibumu juga seperti itu. Dia terus saja meningkatkan keserakahannya tanpa berpikir untuk meningkatkan dirinya. Bahkan saat dia tahu hal itu bukan miliknya, dia terus berusaha mengambil hal yang bukan miliknya dan membuat korban." jawab Pimpinan Park.

Yoo Kyung pun sewot, abeoji!


"Jawabanku tergantung padamu, Se Jin-ah. Apa kau memiliki kemampuan untuk menangani Baekdo. Tanyakan pada dirimu pertanyaan itu." ucap Pimpinan Park lagi, membuat Se Jin diam.

"Apa kau tahu kenapa aku membuat Kyung Wan tetap di sisiku? Dia adalah seseorang yang menyadari kemampuannya. Dia hanya mencoba mengambil apa yang bisa dia ambil. Jadi itulah sebabnya, aku menyukainya. Dan kau, aku melihatmu sebagai orang yang terlalu mudah, Se Jin-ah. Kau berani membuat kesepakatan dengan kakekmu ." ucap Pimpinan Park.


Pimpinan Park lalu memutar kursi rodanya. Melihat itu, Nyonya Yoon membantu Pimpinan Park dan segera mendorong kursi roda Pimpinan Park ke kamar. Tapi Se Jin bicara lagi.

"Kenapa Paman Hwi Kyung boleh, sedangkan aku tidak padahal kakek tahu dia tidak punya niat dan ketertarikan pada Baekdo."

"Hwi Kyung akan segera kembali. Jangan membuat pamanmu menjadi musuh seperti yang ibumu lakukan." jawab Pimpinan Park.

Pimpinan Park lantas masuk ke kamarnya, meninggalkan Se Jin yang kesal luar biasa.

Bersambung ke part 2.......

No comments:

Post a Comment