Thursday, November 15, 2018

The Promise Ep 7 Part 1

Sebelumnya...

Kita lanjut gaes....

Di part ini, Se Jin dan Tae Joon akhirnya bertemu... Seperti apa pertemuan mereka??


Na Yeon yang sedang membaca artikel perceraian Se Jin di koran, dikejutkan dengan gedoran di pintu yang cukup keras.

Begitu pintu dibuka, Nyonya Oh pun menerobos masuk ke dalam langsung menanyakan dimana kamar mandi.

Na Yeon yang kaget dan juga bingung diam saja.

"Apa kau tuli! Aku tanya dimana kamar mandi! Aku bisa ngompol di celanaku!" teriak Nyonya Oh.

Na Yeon pun membukakan pintu kamar mandi dengan wajah kaget sekaligus bingung.


Tak lama kemudian, Nyonya Oh keluar dari kamar mandi dan berkata, bahwa dirinya hampir saja pipis di celana.

"Kau masih muda, tapi kenapa reaksimu sangat lambat? Kau hampir merusak pakaianku!" semprot Nyonya Oh.

"Aku minta maaf." jawab Na Yeon.

"Kau tahu betapa sulitnya aku menemukan tempat ini? Aku pergi ke rumah lama Tae Joon dan mempermalukan diriku sendiri. Dia juga merubah nomornya jadi aku tidak bisa menghubunginya." ucap Nyonya Oh.

Nyonya Oh lantas bertanya, apa Na Yeon tahu siapa dirinya.

"Ah, ne. Kau ibunya Tae Joon. Aku ingat pernah melihatmu 4 tahun yang lalu. Bagaimana kabarmu?"

"Sekarang kau baru menanyakan kabarku. Kalian berdua sudah lama pacaran. Aku kira kalian sudah putus. Kau lebih tangguh dari yang terlihat."

Nyonya Oh lalu duduk di kasur Tae Joon dan memasang kaus kakinya sembari menatap Na Yeon dan bertanya apa Na Yeon tidak tahu cara memperlakukan tamu dengan baik.


 Na Yeon pun mengerti dan langsung ke dapur untuk mengambil minum.

"Aku harus bagaimana? Tae Joon bisa marah jika tahu soal ini."

Nyonya Oh mengambil cerminnya, lalu melepas kacamatanya dan melihat luka lebam di dekat matanya.

"Ah, aku seharusnya membunuh pria itu." ucapnya, lalu kembali memakai kacamatanya.


Se Jin sedang membaca artikel perceraiannya di internet.

Ia pun menangis karena kesal membaca artikel itu.

Sementara orang-orang di sekelilingnya tampak kasak kusuk membicarakannya.

Saat itu, Se Jin tengah duduk di kedai kopi.


Tak jauh dari meja yang diduduki Se Jin, Tae Joon berdiri di depan meja kasir.

Ia terkejut mengetahui harga kopinya 25 dollar.

"Lalu berapa harga per cangkirnya?"

"Satu cangkir harganya 5 dollar."

"5 dollar? Bagaimana bisa secangkir kopi harganya begitu mahal?"


Tae Joon memeriksa dompetnya. Uangnya tak cukup, akhirnya Tae Joon hanya meminta kotak pembawa kopinya saja dan mengatakan dirinya karyawan Baekdo Group.

Se Jin yang mendengarkan itu, tersenyum sinis dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


Tae Joon kembali ke Baekdo dan membawa 5 cangkir kopi. Sepertinya ia membeli kopi yang harganya lebih murah.

Ia terus berjalan menuju lift.


Saat pintu lift hendak menutup, Se Jin muncul dan masuk ke lift.

Para karyawan yang ada di dalam lift sontak kaget dan terus memperhatikannya.

"Kenapa kau tidak berhenti melirikku?" tanya Tae Joon.

Tae Joon yang bingung, langsung menatap sekelilingnya dan sadar orang-orang sedang memperhatikan Se Jin.

"Aku punya topi dan kacamata hitam juga.  Kalian membuat usahaku jadi sia-sia." ucap Se Jin.

Mendengar itu, Tae Joon sontak tertawa.

Mengetahui ada yang menertawakannya, Se Jin pun meletakkan kopinya di bagian kosong kotak pembawa kopi yang Tae Joon bawa.

Tae Joon pun langsung berhenti tertawa dan menghela napas kesal.


Pintu lift terbuka. Se Jin keluar duluan. Tae Joon menyusul Se Jin dan mengembalikan kopi Se Jin.

"Disana ada tempat sampah. Habiskan kopimu dulu lalu buang cangkirnya kesana."


"Kau tidak tahu siapa aku?" tanya Se Jin dan melepaskan kacamatanya. Terlihat lah mata Se Jin yang belepotan maskara.

"Koran pagi ini ada foto besarku di covernya."

"Lalu apa?" Tae Joon tertawa.

"Tertawa? Kau menertawakanku, kan?" tanya Se Jin.

Se Jin lantas kembali meletakkan cangkir kopinya di kotak Tae Joon dan mengaku akan menyerang siapa saja yang menghalanginya sekarang.

"Jadi jangan menertawakanku, jangan main-main denganku dan jalan saja dengan gembira."

Se Jin lalu berjalan pergi.


Tae Jon pun berkata, bahwa itu cara terbaik untuk menghindari anjing jika Se Jin tidak mau digigit.

Se Jin yang kesal, kembali menoleh pada Tae Joon.

"Aku akan mengingatnya. Aku hanya akan membuangnya." ucap Tae Joon lagi sambil menunjukkan kopi Se Jin.


Se Jin mendekati Tae Joon. Ia membuka dompetnya, lalu mengeluarkan sejumlah uang dan memasukkannya ke saku jas Tae Joon

"Itu untuk sampah kopinya. Kau bisa beli lima americano dengan uang itu. Apa kau tidak malu saat kau bekerja di Baekdo? Aku tidak akan membiarkanmu lolos jika kau bertindak seperti itu diluar kantor." ancam Se Jin.


Tae Joon yang mulai kesal, lantas meremas uang Se Jin.

Se Jin kemudian berjalan pergi, tapi Tae Joon lagi-lagi membuat langkahnya terhenti.

"Jadi kau masih menggertak dengan uangmu?" tanya Tae Joon.

"Apa kau bilang!"


Tae Joon ingin menyahut lagi tapi ponselnya tiba-tiba berdering.

"Mianhae, aku sedang dalam suasana tidak baik menjawab telepon. Bagaimana aku bisa pulang jika banyak wartawan di luaran. Aku baik-baik saja." jawab Se Jin dan berlalu dari hadapan Tae Joon.

*Jika Tae Joon tidak memiliki Na Yeon, mungkin sy akan mendukung Tae Joon bersama Se Jin.


Direktur Jang sedang membaca artikel perceraian Se Jin.

Tak lama kemudian, ia menutup laptopnya dan membaca resume Tae Joon.

Ia lalu teringat jawaban Tae Joon saat dirinya menawarkan Tae Joon studi keluar negeri.


"Apa saya harus segera memutuskan?" tanya Tae Joon.

Sontak Presdir Jang tertawa mendengarnya.

"Sebuah kesempatan yang luar biasa telah menemukan jalan untukmu. Aku sedikit kecewa dengan reaksimu. Kupikir kau akan sangat senang."

"Ini adalah kesempatan sekali dalam seumur hidup jadi tentu saja saya senang."

"Kau sangat baik dalam menangkap peluang tapi timing-mu tidak begitu bagus."

"Jujur saja ini sangat mengejutkan, saya bingung. Saya akan memikirkan lagi tentang itu. Maafkan saya."

Flashback end....


Direktur Jang terlihat memikirkan sesuatu.

Ia lantas menutup resume Tae Joon dan menghubungi bawahannya.

"Ini aku. Cepat siapkan rencana Kang Tae Joon dari Tim Manajemen Strategi untuk belajar keluar negeri dan jangan bilang apa-apa padanya." suruhnya.


Se Jin masuk ruangan sang ayah. Melihat Se Jin, Direktur Jang langsung memarahinya karena ia tidak menjawab telepon seharian.

Se Jin memeluk ayahnya dan meminta maaf. Ia berkata hanya cara itu yang ia punya.


Direktur Jang lantas melepaskan pelukan Se Jin dan terkejut melihat wajah Se Jin.

"Ada apa dengan wajahku?" tanya Se Jin, lalu menyentuh matanya.

Ia terkejut melihat noda hitam di tangannya.

"Mataku berubah jadi mata panda?" paniknya.

"Anak ini." Direktur Jang mendengus kesal.

Se Jin pun tertawa.


Nyonya Oh makan dengan lahap. Na Yeon melongo melihatnya.

Nyonya Oh lantas memuji keterampilan memasak Na Yeon. Dan Na Yeon berkata, ibunya lah yang memasak semua makanan itu dan yang ia lakukan hanyalah membantu sang ibu.

"Kupikir ibumu sudah meninggal. Apa ibu yang mengadopsimu?"

"Dia sudah seperti ibu kandungku."

"Baguslah, lalu apa pekerjaan ibu angkatmu?"


"Ibu, sebut saja dia ibuku, jangan ibu angkatku."

"Kau sangat pemilik. Tapi kenapa kau bisa memperlakukanku seperti ibu mertua begitu cepat?"

"Kenapa? Ibu tidak suka?"

"Kau benar-benar sesuatu. Kau benar-benar akan membuat Tae Joon bertekuk lutut padamu. Wajar saja. Itu satu-satunya cara lulusan SMA sepertimu bisa berkencan dengan Tae Joon. Kau pasti sangat lihat jadi tak heran Tae Joon bisa jatuh cinta padamu. Lalu ibu angkatmu... maksudku, ibumu. Kutanya apa pekerjaannya?"

"Dekat rumah, dia bekerja di pasar bagian makanan kecil. Dia juga menjual makan siang kemasan."

"Makan siang atau makanan kecil, itu sama saja. Seberapa besar tokonya?"

"Tidak begitu besar tapi cukup memberi makan keluarga kami."

"Berarti sekarang tidak seperti orang kelaparan, kan?"


Na Yeon kemudian heran melihat Nyonya Oh masih memakai kacamata. Nyonya Oh beralasan, matanya sedang sakit. Na Yeon lantas bertanya apa ada sesuatu yang terjadi.

"Anda datang tiba-tiba." ucap Na Yeon.

Nyonya Oh yang kesal mendengar pertanyaan Na Yeon, langsung membanting sumpitnya ke mangkuk.

Ia mengomeli Na Yeon.

"Apa aku harus punya alasan untuk mengunjungi anakku dan melaporkannya padamu!"

"Aniyo, maksudku, aku hanya ingin tahu karena anda membawa semua tas anda."

"Sekarang kau memberiku makan sekali, jadi kau ingin bertindak seperti tempat ini milikmu? Akan kumuntahkan semuanya!"


Nyonya Oh bangkit dari duduknya sampai membuat kursi jatuh dan beranjak ke tempat tidur.

"Lakukan apapun yang kau mau dan aku akan tidur siang."


Se Jin membersihkan maskaranya yang luntur dan memberitahu sang ayah bahwa ia tidak akan menuntut media yang menjelek-jelekkannya. Sontak, sang ayah tidak terima. Se Jin punmenjelaskan, bahwa mantan suaminya setuju memberikan perceraian yang bersih sebagai gantinya.

"Daripada aku stres, lebih baik mencemarkan nama baik sementara dan menjauh darinya."

"Se Jin-ah, kau tidak merasa kalau kau sudah dirugikan?"

"Kenapa harus merasa dirugikan? Aku benar-benar merasa begitu ringan dan bahagia. Aroma yang mengelilingiku adalah bau kebebasan.


Dua wartawan itu masih mematai Se Jin. Kali ini mereka menunggu di basement Baekdo.

Tak lama kemudian, Se Jin keluar dan wartawan pria langsung memotret Se Jin.

Seorang pria tiba-tiba mendekati Se Jin. Si wartawan wanita terkejut melihat pria itu.


Pria itu tak lain tak bukan adalah Tae Joon. Ia menghampiri Se Jin hanya untuk mengembalikan uang Se Jin.

"Jangan main-main denganku dan menjauh dariku." ucap Tae Joon.

"Mwo? Jangan main-main denganku dan menjauh dariku? Apa kau bicara secara informal padaku?" balas Se Jin.

Se Jin lantas menduga Tae Joon tertarik padanya.

"Tidak mungkin. Seperti penampilanmu, kau tidak hebat dan kualitasmu buruk."

"Kau tahu aku cucu pimpinan jadi kau menggangguku untuk memulai sesuatu."

"Apa kau tahu sebutan untuk orang yang suka meremehkan orang lain? Dan selain itu, hal yang paling penting adalah, aku sama sekali tidak tertaik pada wanita yang sudah bercerai."

Tae Joon beranjak pergi. Se Jin yang kesal, menyuruh Tae Joon berhenti dan mendekati Se Jin.

"Kau mengenalku?"

"Kau sendiri yang bilang kau ada di koran hari ini."


"Jadi berapa banyak yang kau tahu tentang aku?"

"Entahlah. Kau masuk ke sebuah perguruan tinggi yang baik melalui les privat, menghabiskan empat tahun ke clubbing, menciptakan skandal dan akhirnya kau ambil lima tahun untuk lulus karena IPK rendah. Dan juga bertindak seperti wanita sopan, kau dijodohkan dengan putra kedua Daehwa Group karena skandal tak berujung dan gosop bahkan setelah menikah. Kau selalu merupakan sasaran empuk untuk wartawan dan akhirnya karena selingkuh kau menghadapi perceraian."

"Kau tahu lebih baik daripada orang tuaku. Tapi apakah kau benar-benar tertarik padaku?"

"Ini bukan ketertarikan. Ini adalah akal sehat. Akal sehat yang diajarkan pada pegawai Baekdo."

"Apa kau melihatku? Aku tanya apa kau melihatku pergi clubbing sepanjang waktu di perguruan tinggi? Atau kau melihatku keluar dari sebuah hotel dengan seorang pria? Siapa kau berani menilaiku dengan beberapa rumor yang mengapung di sekitarmu dan dengan mudah menilaiku dan merendahkanku berdasarkan pada beberapa artikel."


Se Jin lalu menuju ke mobilnya tapi tak lama ia balik lagi hanya untuk menampar dan memperingatkan Tae Joon.

"Apakah ini juga hak istimewa menjadi cucu pimpinan?"

"Masih belum. Kau akan melihat kekuatanku. Jadi jangan main-main jika kau tidak ingin menderita."

Se Jin lantas pergi meninggalkan Tae Joon yang menatapnya dengan kesal.

Tiba-tiba, ponsel Tae Joon berdering dan Tae Joon pun beranjak pergi.


Si wartawan pria tidak menyangka bahwa selingkuhan Se Jin adalah karyawan Baekdo.

Mendengar itu, si wartawan wanita pun sewot dan meminta sunbae nya tidak mengambil kesimpulan berdasarkan asumsi yang lemah.

"Kenapa denganmu? Situasinya sudah jelas."

"Jika arugem dan tamparan berarti mereka adalah kekasih, artinya setiap pria dan wanita berdebat pasti ada sesuatu antara mereka."


Wanita itu juga mengambil memory card kamera sunbae nya dan berkata, akan memegang memory itu untuk sementara.

Si wartawan pria tidak terima dan berusaha merebut kartu memorinya tapi si wartawan wanita tiba-tiba menamparnya.

"Kau menyentuh bagianku!" sentaknya.

"Aku tidak menyentuhmu."

"Kalau begitu, apakah kita punya hubungan?"

"Kau bodoh? Situasinya tidak sama jadi berhenti bicara omong kosong dan kembalikan kartunya."

"Aku akan memegang ini. Kau pulang lah duluan karena kau ingin ke suatu tempat." jawab wanita itu.


Di tangga darurat, Tae Joon lagi bicara dengan Na Yeon.

Ya, Na Yeon lah yang menghubungi Tae Joon. Na Yeon memberitahukan soal kedatangan Nyonya Oh.

Tae Joon menyuruh Na Yeon mengusir Nyonya Oh.

"Memangnya seburuk apa jika dia datang kemari?" tanya Na Yeon.

"Oke, aku mengerti. Tunggu aku." jawab Tae Joon.

Usai bicara dengan Na Yeon, si wartawan wanita memanggil Tae Joon.


Melihat wanita itu, Tae Joon terkejut dan memanggilnya 'Noona'.

"Aku kesini untuk meliput berita. Dari pakaianmu, sepertinya kau bukan tamu. Kau bekerja disini?"

Tae Joon mengiyakan.

"Apa Na Yeon tahu?"

"Aku sudah mengatakannya. Noona, jangan katakan apapun pada ibumu. Aku akan memberitahunya nanti dan harus pergi sekarang karena ada yang harus kuurus."

"Tae Joon-ah, kau dan Na Yeon baik-baik saja?"

"Tentu saja."

"Kau punya waktu minum teh?"

"Tidak sekarang karena aku harus pergi mengurus beberapa hal."

Siapakah wanita itu? Dialah Eun Bong gaes, kakak Na Yeon.

Bersambung ke part 2.......

No comments:

Post a Comment