Wednesday, November 21, 2018

The Promise Ep 7 Part 3

Sebelumnya...

Kita lanjut yah gaes....


Na Yeon menyusul sang ibu ke kamar.

Tapi sang ibu tidak mau bicara lagi dengannya.

Na Yeon pun memegang tangan Nyonya Yang dan meminta Nyonya Yang mendengarkan kata-katanya karena ia tidak akan bicara dua kali.

"Ibu ingat yang ibu katakan saat ibu datang ke panti asuhan dan mengatakan ibu adalah istri sopir yang kecelakaan? Aku benar-benar takut saat itu. Apa ibu tahu alasan aku mau ikut dengan ibu? Aku mencium aroma ibuku dalam dirimu. Memasak sup pasta kacang, memotong kimchi segar dan campuran sayur wangi, kau berbau seperti ibuku. Kalau aku mengikutimu, aku bisa mencium aroma ibuku setiap hari. Aku tidak akan sendiri lagi. " ucap Na Yeon.


Na Yeon kemudian memeluk Nyonya Yang.

"Kau tahu betapa bahagianya aku saat bertemu denganmu. Ibuku juga akan berterima kasih dari langit. Sekarang kau ibuku." ucap Na Yeon.


Flashback--ketika Na Yeon dan Nyonya Yang berpelukan di panti asuhan.


Na Yeon lalu meminta ibunya mengerti dirinya dan mengatakan bahwa Nyonya Oh adalah seseorang yang benar-benar harus dikasihani.

"Sama seperti ibu yang berharga bagiku, Nyonya Oh juga berharga bagi Tae Joon."

Ponsel Na Yeon tiba-tiba berdering. SMS dari Geum Bong yang menyuruhnya membuka pintu.

Na Yeon pun melarang ibunya cemas dan menyuruh ibunya tidur.

Ia lantas membantu sang ibu berbaring, menyelimutinya dan mencium pipinya.


Setelah itu, Na Yeon langsung membukakan pintu untuk Geum Bong.

"Kau tahu ini jam berapa?" omel Na Yeon pelan.

"Ibu sudah tidur?" tanya Geum Bong.


Geum Bong lalu masuk ke kamar, diikuti Na Yeon. Ia memberitahu Na Yeon pria yang kencan buta dengannya hari ini adalah mantan pacar seorang model.

"Aku mencoba untuk berdandan sedikit karena tidak mau dibandingkan."

"Orang macam apa dia?" tanya Na Yeon sambil menepuk-nepuk kaki Geum Bong.

"Ayahnya adalah Direktur Eksekutif J Group dan dia anak tunggal. Dia tinggal di Cheondamdong. Pendapatan tahunan ayahnya jutaan dollar. Dia mengajakku ke hotel jadi aku bilang tidak dan hanya pulang. Aku baru bertemu dengannya hari ini, jadi kalau ke kasur sedikit..."


Nyonya Yang tiba-tiba masuk. Geum Bong sontak melompat dari tempat tidurnya.

Nyonya Yang yang mendengarkan cerita Geum Bong itu langsung memarahi Geum Bong.

"Berhenti! Hidup dengan ibu bodoh yang selalu bersumpah dan rumah yang berbau lauk, aku muak dan bosan!"

Mendengar itu, Nyonya Yang tambah sewot dan berniat memukul Geum Bong tapi Na Yeon menahannya.

Nyonya Yang lantas menyuruh Geum Bong pergi.

"Baik, aku akan pergi! Akan kuakhiri disini!" teriak Geum Bong.

Geum Bong yang ngambek, kemudian naik ke lantai atas rumahnya.


Nyonya Yang berniat menyusul Geum Bong ke atas, tapi Na Yeon menahannya.

"Anak itu, kepalanya dipenuhi sampah! Apa yang harus kita lakukan padanya?"

"Dia lebih memilih bertengkar dengan ibu." jawab Na Yeon geli. Na Yeon lalu menyuruh ibunya tidur.

"Dia bukan anakku, dia musuhku." ucap Nyonya Yang, lalu masuk ke kamar.


Kehebohan di rumah itu semakin menjadi saat Eun Bong pulang dalam keadaan mabuk.

Takut sang ibu mengomel lagi, Na Yeon pun langsung menutup mulut Eun Bong.

Tapi Eun Bong menyingkirkan tangan Na Yeon dan terus teriak-teriak.

"Lee Na Yeon, neun saranghaneun dongsaeng." teriak Eun Bong.

"Eonni, diamlah. Ibu baru masuk ke kamar." pinta Na Yeon.

"Memangnya kenapa? Aku bahkan tidak bisa mengatakan apapun yang kuinginkan." jawab Eun Bong.

Eun Bong lalu membahas Tae Joon. Ia menyuruh Na Yeon mengawasi Tae Joon jika Na Yeon benar-benar akan menikah dengan Tae Joon.


Tak lama kemudian, Nyonya Yang keluar lagi dan langsung mengomeli Eun Bong.

"Yang kecil pulang malam karena habis main-main dengan pria. Yang tua, merangkak karena mabuk!"

"Itu ibuku. Eomma, kau tahu aku mencintaimu kan?" jawab Eun Bong lalu mengarahkan napasnya ke Nyonya Yang.

Nyonya Yang sontak menjauhkan Eun Bong darinya karena tidak tahan napas Eun Bong yang bau alkohol.

Ia lalu menyuruh Na Yeon membawa Eun Bong ke kamar.


Se Jin kaget disuruh ayahnya pergi ke Boston. Sang ayah bilang, rumor perselingkuhan Se Jin akan berakhir setelah satu atau dua bulan lagi. Se Jin tidak mengerti kenapa ia harus lari.


Tak lama kemudian, Nyonya Park datang membawa teh. Ia terkejut suaminya menyuruh Se Jin pergi.

"Tidak ada bagusnya bagi Se Jin tinggal di negara ini."

Direktur Jang menyuruh Se Jin belajar manajemen bisnis dan mendapatkan pengalaman di sana.

"Banyak pekerjaan untuk Hwi Kyung untuk memimpin bisnisnya sendiri. Kau harus membantunya."

"Dangsin, wae geurae? Hwi Kyung pergi atas kehendaknya sendiri. Dia masih belum sadar bahkan setelah bercerai." jawab Nyonya Park.

"Tidak peduli berapa banyak kau menentangnya, kau tidak dapat mengubah fakta bahwa Hwi Kyung adalah penerus Baekdo. Meskipun Se Jin tidak menjadi penerus, tetap saja dia tidak bisa melakukannya sendiri."

"Baiklah, Se Jin-ah. Pergilah mendapatkan gelar dan beberapa pengalaman. Kakekmu tidak akan mengabaikanmu jika kau memiliki beberapa gelar." ucap Nyonya Park.

"Ayah, aku paham maksudmu. Tapi tidak sekarang. Pergi keluar negeri seolah-olah melarikan diri bukan gayaku. Aku lelah. Aku akan pergi ke kamarku." jawab Se Jin.


Se Jin lantas bangkit tapi ia kemudian bertanya kenapa dirinya harus ke Boston.

"Bukankah Hwi Kyung Samchoon di New York?" tanya Se Jin.


Tae Joon mendengarkan kaset Na Yeon lagi. Sang ibu sudah tertidur lelap di kasur.


Tae Joon lalu membuka lacinya dan melihat buku rekening serta stempelnya.

Bersambung........

No comments:

Post a Comment