The Promise Ep 6 Part 2

All Content From : KBS2
Penulis : Catatan-Iza
Sinopsis Lengkap : The Promise
Sebelumnya : The Promise Eps 6 Part 1
Selanjutnya : The Promise Eps 6 Part 3



Part kedua ini dibuka dengan adegan Tae Joon dan Na Yeon yang makan bersama.

Na Yeon menunjukkan paprika yang dibentuk love.

"Eottae? Mal Sook seperti membuat karya seni makanan, kan?" tanya Na Yeon.


"Tentu saja, makanan Mal Sook selalu yang terbaik. Aku selalu tersentuh oleh ini." jawab Tae Joon. Tae Joon lalu membuka sebuah surat.

"Tentu saja. Kau tahu sulit untuk menulis surat itu daripada membuat semua makanan ini, kan?" ucap Na Yeon.

"Tentu saja aku tahu. Pesan ini tidak terbatas." jawab Tae Joon, lalu membaca pesan di kertas itu.

Mari kita lihat. Hari paling bahagia di dunia. Ketika hari ini berakhir, kau akan berjuang dengan kesedihan.


Na Yeon kemudian membetulkan dasi Tae Joon. Setelah itu, ia mengatakan bahwa Tae Joon terlihat seperti seorang model.

"Kenapa kau membuat sindirian sebagai pujian?"

"Aku punya hak untuk mengguruimu. Aku membeli dasi di sebuah pusat perbelanjaan dan kau dipekerjakan di Ilkang Grup meskipun persaingan sengit. Kau setidaknya harus memakai dasi merek terkenal." jawab Na Yeon.

Wajah Tae Joon langsung berubah saat Na Yeon menyebut dirinya bekerja di Ilkang Grup.


Tae Joon lantas hendak memberitahu Nayeon sesuatu tapi Na Yeon tidak mau mendengar dan malah menyentuh Tae Joon bergegas pergi karena tidak mau Tae Joon terlambat di hari pertama bekerja.

Tae Joon menyuruh Na Yeon duduk. Ia mengaku, ingin mengatakan sesuatu.


Sambil melajukan mobilnya, Se Jin bicara dengan seseorang di telepon.

"Aku harus memberitahumu sekarang. Ini orang sombong yang menikahimu karena uangmu dan ketampananmu. Aku tertipu oleh penampilanmu dan tidak bisa melihat sifat burukmu. Baik. Aku benar-benar akan berperan jadi istri yang selingkuh jadi kau berperan sebagai suami pecundang yang kehilangan istrinya karena pria lain. Dan kau! Pastikan kau pergi ke rumah sakit! Jika kau tidak diobati, kau akan hidup sebagai seseorang yang saiko dan mati sendirian! Jangan lupakan perkataanku, Saiko!"

Kesal, Se Jin pun memutuskan panggilannya. Ternyata itu dari suaminya.


Tak lama berselang, ponselnya kembali berbunyi. Telepon dari Yoo Kyung tapi Se Jin tidak menjawabnya dan Yoo Kyung dialihkan ke pesan suara.

Yoo Kyung cemas. Tapi ponselnya kemudian berdering tak lama berselang.

"Apa ini Se Jin?" tanya Yoo Kyung.

"Makhluk apa sebenarnya kau ini?" teriak seseorang di seberang sana. Suara sang ayah.

Yoo Kyung sontak menjauhkan ponselnya dari kupingnya.

"Pagi-pagi kenapa sudah begini? Kau akan pingsan lagi jika tetap begitu. Aku mengerti. Aku pergi. Aku akan pergi!"

Yoo Kyung menutup teleponnya.


Na Yeon berdiri di luar rumah Tae Joon dengan wajah kesal.

Tak lama kemudian, Tae Joon datang dan mengatakan bahwa ia sedang menunggu waktu yang tepat untuk memberitahu Na Yeon.

"Kau yakin karena itu atau karena kau tidak mau? Ini sudah dua bulan sejak kau mulai bekerja. Itu berarti kau menyembunyikan sesuatu dariku selama dua bulan." ucap Na Yeon kecewa.

"Karena ini aku tidak bisa memberitahumu. Karena aku tahu hubunganmu dengan Baekdo Group tidak baik."

"Apa kau mengira ini hanya tentang kau mendapatkan pekerjaan di Baekdo Group? Ani! Aku terkejut karena kau menipuku. Kau menipuku selama dua bulan dan bersandiwa di depanku!"


"Sandiwara? Apa kau benar-benar harus bicara seperti itu?"

"Lalu apa yang harus kulakukan? Kau ingin aku menghiburmu untuk kesulitan dalam menipuku?"

"Apa yang kau maksud? Aku tidak pernah menyembunyikan apa-apa! Aku hanya tidak ingin kau khawatir. Kenapa kau tidak mengerti?"

"Baik. Aku tidak memiliki kesan yang sangat baik dari Baekdo Grup. Ibuku terluka karena perusahaan itu. Tapi kau tahu? Jika kau bilang kau dapat pekerjaan disana, aku tidak akan menghentikanmu. Ini masa lalu dan aku sudah melupakan mereka juga. Tapi kau.. pernahkah aku menghentikanmu melakukan apa yang kau mau? Pernahkah aku bilang tidak untuk sesuatu yang sudah kau putuskan?"

"Tidak pernah."

"Jika kau menyukai sesuatu, maka aku menyukainya juga! Aku menyukainya dan aku akan berusaha untuk menyukainya juga!"

Tae Joon pun memeluk Na Yeon. Ia meminta Na Yeon agar berusaha memahaminya sedikit saja.

"Jangan kira kau bisa lolos dengan yang satu ini. Aku benar-benar gila!" jawab Na Yeon.

"Aku akan mencari waktu yang tepat untuk memberitahu Mal Sook." ucap Tae Joon.

Singkat cerita Na Yeon memaafkan Tae Joon.


Na Yeon lalu meminta Tae Joon fokus pada pekerjaan agar bisa mengambil alih Baekdo Group.

"Aku pasti akan sukses dan membeli semua saham mereka. Selain itu.... ayo menikah akhir tahun ini."

Na Yeon terkejut, "Benarkah?"


"Sebenarnya aku ingin menabung untuk dua tahun dan menyewa sebuah apartemen kecil. Tapi aku tidak tahan. Kita harus hidup bersama. Apakah tidak apa-apa jika setelah menikah kita tinggal disini?"

Na Yeon pun tidak sanggup berkata apa-apa. Ia menangis haru.

Tae Joon lalu meminta maaf karena tidak bisa membelikan cincin lamaran.


Tapi Na Yeon mengaku tidak masalah.

Dan mereka pun kembali berpelukan.


Setelah itu, Na Yeon mengantarkan Tae Joon ke Baekdo.

Tae Joon hendak turun, tapi Na Yeon menahannya.

Na Yeon memajukan bibirnya, seperti hendak mencium Tae Joon.

Tae Joon pun melakukan hal yang sama dan Na Yeon langsung memoleskan pelembab ke bibir Tae Joon.

Tae Joon kecewa karena mengira Na Yeon ingin dicium.

Tae Joon kemudian turun dan melambaikan tangannya ke Na Yeon sebelum masuk ke gedung Baekdo.


Tae Joon berlari menuju lift.

Setelah tiba di ruangannya, ia disuruh rekannya ke kantor direktur. Sontak Tae Joon kaget mendengar dirinya dipanggil direktur.


Tae Joon langsung ke kantor Direktur Jang.

Di depan ruangan, ia bertemu seketaris Direktur Jang.

Seketaris Direktur Jang pun langsung memberitahu Direktur Jang kalau Tae Joon dari Tim Manajemen Strategi ingin bertemu.

Setelah itu, Tae Joon diantarkan masuk ke ruang Direktur Jang.


"Apa ini pertemuan kedua kita setelah wawancara akhir?" tanya Direktur Jang.

"Tepatnya itu adalah kedua kalinya sejak saya mulai bekerja disini." jawab Tae Joon. Direktur Jang tertawa.

"Setelah kupikir-pikir kita memiliki sejarah yang agak panjang. Apa mungkin kau melamar disini untuk membalas dendam soal beasiswa yang dibatalkan sebelumnya? Dengan resume mu, setiap perusahaan akan mempekerjakanmu."

"Itu benar-benar diluar dari itu, bukan balas dendam. Tunggu dan lihatlah. Saya akan menunjukkan pada mereka orang seperti apa saya ini."

"Aku tidak tahan dengan kekalahan. Ya itulah. Mata yang semangat. Jika bukan karena matamu, aku tidak akan mengenalimu. Tentang proposal strategi Global Compani's M & A. Kau menyiapkan banyak untuk itu."

"Kamsahamnida. Ini adalah sesuatu yang membuat saya tertarik jadi saya senang melakukannya."

"Proposalmu terpilih dengan suara bulat dewan direksi dan ada sekitar tiga direktur yang memberimu nilai sempurna. Aku punya hadiah untukmu. Aku ingin kau pergi keluar negeri selama beberapa tahun." ucap Direktur Jang.

Inilah awal hancurnya hubungan Na Yeon dan Tae Joon gaes....


Nyonya Yang sedang menjaga stan mereka di supermarket.

Tak lama kemudian, Na Yeon datang dan menunjukkan selebaran stan mereka.

Na Yeon berkata, bahwa mereka harus mengiklankan stan mereka.

"Bagaimana jika kita jadi kaya dengan semua ini?" tanya Na Yeon.

"Jika kita jadi kaya, aku akan dirikan sebuah perusahaan makanan untukmu!" jawab Nyonya Yang.

"Perusahaan makanan? Ibu janji ya?"

"Ibu, aku akan membagikan selebaran, membersihkan tempat Tae Joon lalu gantian dengan ibu."

"Jangan khawatirkan aku dan pergilah istirahat."

"Aku benar-benar tidak lelah sama sekali. Sepertinya aku lahir untuk bekerja."

"Ya, benar. Aku yakin kau senang tentang itu."


Nyonya Yang lantas mengomeli Na Yeon karena Na Yeon tidak mau kuliah dan malah membiayai kuliah Tae Joon.

"Bagaimana kau bisa mengulangi kalimat yang sama selama delapan tahun kata demi kata?" tanya Na Yeon.

"Aku tidak sengang dengan itu. Sangat tidak senang." jawab Nyonya Yang.

Nyonya Yang lalu bertanya, kapan Na Yeon dan Tae Joon akan menikah.


Na Yeon pun mengatakan, bahwa mereka akan menikah sebelum akhir tahun.

"Apa kau berharap aku percaya itu?" tanya Nyonya Yang.

"Aku serius. Tae Joon ingin menikah akhir tahun ini. Kita akan mulai pernikahan kami di atap dan pindah ke tempat yang lebih baik setelah kami menyimpan cukup uang." jawab Na Yeon.

"Ckckckc, kau pasti sangat senang sekarang. Tutup mulutmu jika tidak kemasukan lalat."

"Aku pergi sekarang." jawab Na Yeon sambil membuka mulutnya lebar-lebar.

"Pastikan kau tidak melewatkan makan!" ucap Nyonya Yang.


Tae Joon membasuh wajahnya dan memikirkan kata-kata Direktur Jang yang menyuruhnya studi diluar negeri.

Flashback...


"Kami biasanya hanya mengirim orang yang berpengalaman setidaknya tiga tahun tapi ini adalah kesempatanmu dalam dua bulan bekerja. Pergilah menyelesaikan MBA-mu."

"Mengapa anda memberi saya kesempatan ini?"

"Aku melihat potensimu. Memilih individu berbakat dan berinvestasi di dalamnya, itu adalah bagian dari bisnis yang sebagian besar orang lakukan. Sebenarnya setelah kejadian itu, aku selalu merasa seperti ada sesuatu yang menekan hatiku. Pikirkan ini sebagai ganti rugi atas kejadian sebelumnya juga dan melihat resume mu, aku lihat kau masih lajang. Kau belum menikah kan?"

Flashback end...


Tae Joon pun resah karena ia sudah melamar Na Yeon dan akan menikah akhir tahun nanti.


Na Yeon sedang membagikan brosur di jalanan.


Se Jin yang hampir sampai di rumahnya terkejut melihat wartawan berdiri di depan pagar rumahnya.

Begitu melihat mobil Se Jin, wartawan2 itu langsung mengerubunginya.

Dua wartawan tadi ikut mengerubungi Se Jin. Wartawan yang perempuan, nemplok di kap mobil Se Jin dan menyuruh sunbae nya mengambil foto Se Jin.

Se Jin pun kesal dan membunyikan klakson. Setelah si wartawan perempuan turun dari mobilnya, ia langsung pergi dan dua wartawan itu bergegas mengikutinya.


Yoo Kyung sewot karena masih tidak bisa menghubungi Se Jin.

Tapi baru masuk ke rumah, ia sudah ditimpuk dengan koran yang memberitakan perceraian Se Jin.

Yoo Kyung pun protes, abeoji!

Pimpinan Park yang kini duduk di kursi roda marah karena Yoo Kyung tidak bisa mengawasi Se Jin.

"Lalu ayah mau mau aku untuk memaksa anakku bertahan dalam pernikahan yang membuatnya tidak bahagia?"

"Jadi kau hanya menonton sementara putrimu selingkuh diluar?"

"Selingkuk apa? Kenapa kau bisa bilang begitu?" tanya Yoo Kyung.


Young Sook pun mendekati Yoo Kyung dan memberitahu apa yang terjadi.

Ia mengatakan, berita perselingkuhan dan perceraian Se Jin sudah heboh di internet.

"Mantan suami Se Jin itu sangat pencemburu dan pada tingkat yang parah." jawab Yoo Kyung.

"Artikel baru mengatakan bahwa Se Jin mengaku selingkuh." ucap Young Sook.

Yoo Kyung kaget, apa?

Pimpinan Park pun menyuruh Yoo Kyung memanggil Se Jin sekarang.


Tak lama kemudian, Direktur Jang datang dan Yoo Kyung sebal karena ayahnya ikut-ikutan melibatkan suaminya.

Young Sook menyuruh semuanya duduk dan bersikap tenang.

"Banyak yang harus dibicarakan. Aku akan membuatkan teh." ucap Young Sook, lalu pergi ke dapur.


Pimpinan Park memarahi Direktur Jang. Ia mengaku mempercayai Direktur Jang daripada Yoo Kyung yang putrinya sendiri tapi Direktur Jang malah diam saja menyaksikan semuanya hancur.

Direktur Jang minta maaf.

"Kenapa kau minta maaf? Kita tidak salah. Perceraian antara pasangan. Orang tua seharusnya tidak ikut campur dalam hal itu."


Young Sook pun datang membawa teh. Young Sook bilang, Pimpinan Park berhak marah karena masalahnya bukan hanya soal perceraian saja, tapi soal perselingkuhan juga.

"Aku bilang mantan suami Se Jin itu benar-benar gila. Menuduh Se Jin, membuntutinya dan mengawasinya. Dia bisa membuat Se Jin gila sampai mati." jawab Yoo Kyung.

"Cukup dengan omong kosong ini! Ini karena perilaku Se Jin yang tidak pantas!" jawab Pimpinan Park.


"Se Jin sudah cukup baik menahannya daripada orang lain. Menelpon setiaj jam, memeriksa dimana dia, apa yang dia lakukan, bertanya siapa yang dia temui dan mengapa. Berapa banyak orang yang dia kencani sebelum menikah, seberapa jauh hubungannya dengan mereka, sangat curiga dengan banyak hal!"

"Lalu jika kau sebagai ibu sudah tahu banyak begitu, kenapa kau tidak melakukan apa-apa sampai jadi begini!"

"Ini salah ayah karena memaksa mereka untuk menikah! Apa kau tidak ingat menekan kami menjadi besan dengan Daehwa Konstruksi?"


Kesal, Pimpinan Park melempari Yoo Kyung dengan buku.

"Abeoji!"

"Kau tidak bisa mengurus putrimu dan sekarang kau menyalahkanku untuk itu?"

"Jika kau sangat baik menjaga anakmu, bagaimana bisa kau membuat anakmu bercerai dalam setahun? Bagaimana? Dia punya istri, jadi kenapa kau mengininkan dia selingkuh dengan wanita lain dan bercerai?"


Yoo Kyung lantas berdiri. Ia kemudian menegaskan bahwa Se Jin putrinya dan dirinya lah sebagai ibu Se Jin yang paling patah hati dengan masalah perceraian Se Jin.

"Kau bukan peduli pada Se Jin, kau hanya peduli pada citra perusahaanmu." tuduh Yoo Kyung.

Pimpinan Park yang emosi, akhirnya mengusir Yoo Kyung.

Yoo Kyung pun pergi dengan wajah kesal.


Direktur Jang minta maaf atas sikap istrinya dan perceraian Se Jin.

Ia lantas menjamin bahwa Se Jin tidak selingkuh dan akan menuntut orang-orang yang mencemarkan nama baik Se Jin.

Pimpinan Park lalu menyuruh Direktur Jang pergi tapi sebelum pergi ia menanyakan soal pegawai yang ikut dalam Global Talent Project.

"Kudengar dia baru bekerja dua bulan. Direktur Kim menelponku dan memujinya tanpa henti. Siapa dia?"

"Namanya Kang Tae Joon."


"Pastikan kau melakukan pekerjaan dengan baik karena tubuhku masih kacau!" ucap Pimpinan Park.

Young Sook lantas membawa suaminya itu ke kamar.

Bersambung ke part 3.........

Begitulah gaes....  Direktur Jang sengaja mengirim Tae Joon keluar negeri dengan tujuan mendekatkan Se Jin dengan Tae Joon. Inilah awal hancurnya hubungan Tae Joon dan Na Yeon.

0 Comments:

Post a Comment