Thursday, March 24, 2016

I Have a Lover Ep 15 Part 1

 
 
 
Hae Gang terkejut ketika Jin Eon tiba-tiba memeluknya. Sementara itu, di kantornya. Baek Seok menatap ke arah bangku Hae Gang sambil memegangi cincin yang akan dipakainya untuk melamar Hae Gang. Baek Seok lalu teringat saat Hae Gang pingsan, Jin Eon begitu panic dan berteriak memanggil Hae Gang. Baek Seok juga teringat kata-kata Hae Gang di rumah sakit.
“Choi Jin Eon, dia melarangku memakannya dan menyuruhku hanya memakan bola-bola nasi saja. Ini cuma kebetulan, kan?” ucap Hae Gang.
Baek Seok pun menghela napas. Ia mulai merasa khawatir.


Jin Eon dan Hae Gang duduk di kedai kopi. Jin Eon diam saja dan terus menatap Hae Gang. Ditatap seperti itu membuat Hae Gang risih. Hae Gang lalu bertanya apa yang ingin dibicarakan Jin Eon dengannya. Tapi Jin Eon tetap diam. Diamnya Jin Eon membuat Hae Gang kesal dan ingin pergi. Namun Jin Eon melarangnya pergi.
“Apa aku benar-benar mirip dengannya? Mantan istrimu. Seol Ri yang memberitahunya padaku.” Ucap Hae Gang.
Jin Eon masih diam dan terus menatap Hae Gang dalam-dalam. Hae Gang pun teringat dengan kata-kata Baek Seok bahwa mantan istri Jin Eon sudah meninggal tak lama setelah mereka bercerai dan Seol Ri tidak mengetahui hal itu. Hae Gang pun mulai merasa kasihan pada Jin Eon.
“Lupakan dia. Mantan istrimu pasti juga menghendaki hal yang sama. Jika aku menjadi dia, aku pun akan mengharapkan dirimu benar-benar melupakanku.” Ucap Hae Gang.
Jin Eon pun tertawa tidak percaya dengan ucapan Hae Gang. Tawa Jin Eon membuat Hae Gang kesal. Ia mengira Jin Eon sedang mengejeknya. Ia lalu bertanya kenapa Jin Eon berselingkuh kalau Jin Eon tidak bisa melupakan Hae Gang. Hae Gang juga berkata seharusnya Jin Eon memperlakukan Hae Gang dengan baik saat masih memiliki Hae Gang. Kata-kata Hae Gang membuat mata Jin Eon berkaca-kaca.

Seol Ri sedang menatap passport Hae Gang sambil memikirkan sesuatu. Pikirannya pun buyar saat tiba-tiba terdengar bunyi bel. Ia pun langsung menyembunyikan passport Hae Gang di lacinya begitu mengetahui siapa yang datang. Baek Seok yang datang. Baek Seok datang karena ingin menanyakan sesuatu.

“Aku tahu kenapa kau datang. Kau penasaran soal kemarin kan?” tanya Seol Ri.
“Sebelum dompetnya dicuri, dia menelpon ke kantorku. Yang pertama kali ia tanyakan adalah Do Hae Gang, bukan Yong Gi. Do Hae Gang nama istrinya kan?” ucap Baek Seok.
Seol Ri sedikit kaget dengan kata-kata Baek Seok.
“Apa mereka sangat mirip?” tanya Baek Seok.
“Mereka sangat mirip, tapi mereka orang yang berbeda. Dia tak tertandingi untuk Yong Gi Eonni. Dia berhati dingin dan kejam.” Jawab Seol Ri.
“Kau tidak memiliki fotonya?” tanya Baek Seok.
“Tentu saja tidak.” Jawab Seol Ri. Seol Ri lalu bertanya apa Yong Gi memiliki saudara kembar.
“Sejak kecil dia hanya tinggal dengan neneknya.” Jawab Baek Seok.


Baek Seok lalu meminta Seol Ri memutuskan Jin Eon. Ia berkata Jin Eon bukan pria yang cocok untuk Seol Ri. Seol Ri pun menolaknya. Ia berkata dirinya mencintai Jin Eon dan mereka akan segera menikah. Ia juga berkata ibunya Jin Eon sudah menyuruh mereka menetapkan tanggal pernikahan.
“Apa kau yakin?” tanya Baek Seok.
“Sebenarnya aku tidak yakin. Aku tidak memiliki keyakinan untuk hidup dengan Jin Eon Sunbae. Selain keluarga kita, dialah orang pertama yang mencuri hatiku. Aku benar-benar mencintainya, Oppa.” Jawab Seol Ri.

Sementara itu, Hae Gang masih bersama dengan Jin Eon. Jin Eon bertanya tentang amnesia-nya Hae Gang. Hae Gang pun merasa heran karena Jin Eon mengetahuinya. Tapi beberapa detik kemudian ia berkata Jin Eon pasti mengetahuinya dari Seol Ri. Hae Gang pun mengatakan ia amnesia sejak empat tahun yang lalu dan ia tidak tahu kenapa.
“Kau tidak ingin memulihkan ingatanmu?” tanya Jin Eon.
“Aku hampir gila mencari ingatanku beberapa bulan pertama, tapi setelah itu aku menyerah. Seseorang mengatakan padaku untuk berhati-hati berjalan di malam hari. Dengan mata yang penuh dengan kebencian, dia bilang dia akan membunuhku jika melihatku lagi. Aku tidak memiliki kepercayaan diri untuk mencari ingatanku. Aku suka dengan kehidupanku sekarang.” Jawab Hae Gang yang membuat Jin Eon kaget.

Seol Ri juga masih bersama Baek Seok. Ia terkejut saat Baek Seok memberitahunya kalau Yong Gi adalah karyawan Cheon Nyeon Farmasi. Baek Seok berkata Yong Gi tidak bekerja di kantor pusat, tapi di sebuah pabrik yang terletak di Guri. Seol Ri pun bertanya kenapa Baek Seok menyembunyikan hal itu dari Yong Gi.
“Karena dia pengungkap masalah. Dia dan tunangannya. Dia disiksa dan mengalami kekerasan.” Jawab Baek Seok.
Seol Ri terkejut mendengarnya.
“Lalu dia putus dengan tunangannya?” tanya Seol Ri.
“Tunangannya bunuh diri.” Jawab Baek Seok.

Seol Ri pun semakin terkejut mendengarnya.
“Aku berharap dia tidak akan pernah mengetahuinya sampai dia mati.” Ucap Baek Seok lagi.
“Apakah Yong Gi Eonni benar-benar memiliki KTP Yong Gi?” tanya Seol Ri.
“Tentu saja itu miliknya.” Jawab Baek Seok.
“Kau bertemu dengan teman kerja Yong Gi Eonni. Boleh aku tahu siapa dia?” pinta Seol Ri.
“Untuk apa?” tanya Baek Seok heran.
“Aku hanya penasaran apakah dia pengungkap masalah. Jin Eon Sunbae harus tahu kalau perusahaannya melakukan korupsi.” Jawab Seol Ri.
“Bagaimana jika aku melawan Cheon Nyeon Farmasi? Apa kau akan mengalami kesulitan?” tanya Baek Seok.
“Kenapa? Apa kau menerima gugatan?” tanya Seol Ri balik.
“Aku hanya bertanya.” Jawab Baek Seok.
“Aku akan berada dalam situasi yang sulit tapi itu masalahku. Lakukan apa yang menurutmu benar. Jangan menyerah karena diriku. Aku tidak menyukainya.” Ucap Seol Ri.

Jin Eon mengantar Hae Gang pulang ke rumah Baek Seok. Hae Gang masih terlihat tidak nyaman di dekat Jin Eon. Jin Eon lalu memecah kebisuan mereka dengan bertanya apa Hae Gang menyimpan nomornya. Hae Gang pun kesal dan meminta Jin Eon bicara dengan bahasa formal. Jin Eon pun mengulangi pertanyaannya dengan bahasa formal. Hae Gang pun mengangguk. Jin Eon lalu meminta Hae Gang menghubunginya jika terjadi sesuatu. Perkataan Jin Eon langsung membuat Hae Gang menatapnya dengan kesal.
“Bisakah kau menghentikan semua ini? Tidak peduli dengan kesalahpahamanmu atau kau sedang merayuku, tolong hentikan semua ini. Aku bukan mantan istrimu. Kita tidak mungkin tidak saling bicara karena Seol Ri, tapi kau tidak seharusnya bersikap begini.” Ucap Hae Gang.
Jin Eon pun kembali menatap lirih Hae Gang.
“Jangan menatapku seperti itu! Setiap kali kau bertindak seperti ini….”
“Apa maksudmu setiak kali aku bertindak begini?” tanya Jin Eon.
Hae Gang pun mendengus kesal.
“Jika kau terus melakukan ini, aku akan mengadukannya pada Seol Ri.” Ancam Hae Gang.
“Apa yang mau kau katakan padanya? Aku menatapmu seperti istriku? Mengkhawatirkanmu dan menjadi bingung karenamu? Penyesalanku? Merindukan dirimu?” ucap Jin Eon dengan mata berkaca-kaca.
“Pulanglah ke rumah, Dokgo Yong Gi-ssi. Aku tidak memintamu menelponku setiap hari. Aku hanya memintamu menelponku jika terjadi sesuatu padamu.” Ucap Jin Eon lagi.

Hae Gang pun mendengus kesal dan beranjak masuk ke rumah Baek Seok. Jin Eon menatap kepergian Hae Gang dengan mata lirih. Tanpa disadarinya, Baek Seok menatapnya dengan wajah kesal tak jauh dari tempatnya berdiri. Baek Seok lalu menghampiri Jin Eon. Ia bertanya apa yang dilakukan Jin Eon di sana tanpa Seol Ri. Jin Eon diam saja.
“Karena kau sudah di sini, temuilah ayahku dan makan malam lah dengan kami.” Ucap Baek Seok lagi.
Namun Jin Eon menolak. Tapi Baek Seok memaksa. Baek Seok pun beranjak duluan. Jin Eon diam saja sambil menatap lirih ke arah rumah Baek Seok. Baek Seok kesal dan menyuruh Jin Eon masuk.
Hae Gang menyambut Baek Seok, namun mulutnya terdiam begitu melihat Jin Eon ikut masuk bersama Baek Seok. Baek Seok pun memanggil ayahnya. Tak lama kemudian, Tuan Baek bersama anak-anak yang lain keluar dari kamar mereka. Anak yang paling kecil merengek minta dibelikan ayam goring pada Hae Gang. Hae Gang pun berjanji akan membelikan ayam goreng setelah anak itu menciumnya. Anak itu pun mencium bibir Hae Gang. Jin Eon terus menatap Hae Gang dengan lirih. Tuan Baek mengajak Jin Eon masuk ke kamarnya. Anak-anak terkejut mengetahui Jin Eon adalah pacar Seol Ri.

“Apa yang membawamu ke sini?” tanya Tuan Baek.
“Aku ke sini untuk mengantar Baek Ji pulang. Dia datang ke kantorku untuk meminta tanda tanganku atas catatan yang dia buat.” Jawab Jin Eon.

Baek Seok tiba-tiba masuk dan memberitahu ayahnya kalau Jin Eon dan Seol Ri akan menikah di Bulan November. Baek Seok meminta sang ayah merestui keduanya, tidak peduli sang ayah menyukai Jin Eon atau tidak, Jin Eon akan segera menjadi suami Seol Ri. Hae Gang masuk ke dalam mengantarkan minuman. Jin Eon kembali menatap Hae Gang. Namun Hae Gang tak sedikit pun menatap Jin Eon dan pergi keluar setelah meletakkan minuman. Baek Seok kembali menatap Jin Eon dengan tajam.
“November berarti bulan depan. Apa ada alasan terburu-buru melaksanakan pernikahan? Bahkan jika kau memutuskan untuk menikah, aku ingin kau memikirkannya masak-masak.” ucap Tuan Baek.

Jin Eon pun terdiam. Sedangkan Baek Seok semakin merasa khawatir.

Sementara itu, Seol Ri sedang makan malam bersama Presdir Choi dan Nyonya Hong. Nyonya Hong mengatakan Seol Ri dan Jin Eon akan menikah tanggal 29 November. Presdir Choi langsung menatap Seol Ri dengan tajam. Seol Ri pun meminta Presdir Choi merestui pernikahannya. Presdir Choi lantas menanyakan dimana Jin Eon. Nyonya Hong memberitahu kalau Jin Eon pergi bekerja bahkan meskipun itu Hari Sabtu.  Ketegangan masih terlihat di wajah Seol Ri.
“Seol Ri bilang setelah menikah, dia ingin tinggal dengan kita. Karena kau tidak memberi ruangan untuknya, dia berusaha datang untuk menemuimu di waktu makan siangmu. Dia sangat baik. Bicaralah padanya.” Ucap Nyonya Hong.
Tak lama kemudian, pelayan datang dan memberitahu Presdir Choi kalau dia tidak berhasil menemukan passport itu. Nyonya Hong pun bertanya apa Presdir Choi akan pergi keluar negeri. Nyonya Hong lalu memberitahu Presdir Choi kalau passport Presdir Choi ada padanya. Seol Ri yang tahu passport yang dicari Presdir Choi, langsung berubah tegang. Presdir Choi pun menyuruh Nyonya Hong diam. Presdir Choi hendak bangkit meninggalkan ruang makan, namun Seol Ri menahannya dan menyuruhnya makan.
“Jika kau ingin menjadi menantuku, luluhkan hati Jin Eon terlebih dahulu.” Jawab Presdir Choi yang langsung diiyakan Seol Ri.
Anak-anak tampak asyik melahap ayam goreng kesukaan mereka. Sambil makan, salah satu anak berkata akan membuka restoran ayam kalau sudah besar nanti agar dirinya bisa makan ayam setiap hari. Anak yang paling tua berkata anak itu bisa bangkrut jika ayamnya dimakan sendiri. Anak yang paling kecil pun berkata akan memesan semua ayam anak itu.
Tak lama kemudian, Jin Eon keluar dan tersenyum melihat kepolosan anak-anak itu. Baek Ji menawari Jin Eon sepotong ayamnya. Namun Jin Eon menolaknya dengan lembut. Baek Ji pun tampak mulai menyukai Jin Eon. Jin Eon lalu memperhatikan sekeliling rumah Baek Seok dengan wajah lirih. Hae Gang lalu keluar menghampiri mereka dengan senyum cerianya. Namun senyumnya menghilang begitu melihat Jin Eon.
Hae Gang lalu duduk di tengah-tengah anak-anak itu. Hae Gang meminta anak-anak itu menulis karangan tentang kegiatan mereka di pasar hari itu. Hae Gang juga ingin melihat catatan sekolah Baek Ji dan nilai ujian anak yang paling tua. Jin Eon lagi-lagi menatap Hae Gang dengan tatapan lirih. Baek Seok pun datang mengajak Jin Eon minum diluar. Sebelum keluar, Baek Seok menyuruh Hae Gang menyiapkan beberapa cemilan. Hae Gang mengangguk, lalu beranjak dari duduknya dan memberikan sweater pada Baek Seok. Jin Eon hanya diam saja dan menatap Hae Gang dengan lirih.
Di dapur, Hae Gang mengomel atas perkataan Jin Eon tadi. Hae Gang lalu mendengus kesal begitu teringat Jin Eon yang akan menikah di Bulan November. Ia bahkan memaki Jin Eon.

Tae Seok yang baru pulang bertemu Presdir Choi di depan pintu. Ia menyapa Presdir Choi dengan ramah. Namun Presdir Choi tidak membalas sapaan Tae Seok dan beranjak pergi dengan wajah dingin. Tae Seok pun mengikuti Presdir Choi. Seol Ri yang datang membawakan minuman menatap mereka dengan curiga. Seol Ri lantas mengikuti mereka.
“Bagaimana dengan passport nya? Kau sudah menemukannya?” tanya Tae Seok pada Presdir Choi.
Presdir Choi diam saja dan terlihat tegang.
“Tidak ada cara untuk menemukannya karena seseorang sudah mengambilnya.” Ucap Tae Seok lagi.
Presdir Choi tetap diam dan menatap Tae Seok dengan tegang.
“Itulah alasanku menyuruhmu menghancurkan passport itu. Sekarang apa yang akan kau lakukan? Jika dia bertanya kenapa kau memiliki passport Hae Gang, apa yang akan kau katakan? Jika dia bertanya kenapa Hae Gang tidak pergi ke China, apa yang akan kau katakan? Karena kau percaya Hae Gang akan kembali. Kau percaya Hae Gang berada di suatu tempat. Itulah kenapa kau tidak membuang passport nya. Pengacara Do sudah tiada, ayah mertua. Pengacara Do tidak akan pernah kembali. Aku sudah mencarinya kemana pun.” Ucap Tae Seok.

Seol Ri yang menguping pembicaraan mereka kaget. Tae Seok dan Presdir Choi pun semakin tegang saat terdengar ketukan pintu diiringi oleh suara Seol Ri. Seol Ri berkata membawakan teh dan buah untuk Presdir Choi. Namun Presdir Choi menolak. Seol Ri pun akhirnya pergi. Tae Seok dan Presdir Choi terlihat khawatir.

Seol Ri kembali ke ruang makan sambil memikirkan kata-kata Tae Seok ke Presdir Choi. Melihat buah-buahan itu masih utuh di tangan Seol Ri, membuat Nyonya Jo heran dan bertanya kenapa Seol Ri membawa kembali buah-buahan itu. Seol Ri pun berkata kalau Presdir Choi tidak ingin memakannya. Nyonya Hong pun kesal dan mengatakan Presdir Choi keras kepala. Nyonya Hong lalu menyuruh Seol Ri duduk bersama mereka. Seol Ri pun duduk sambil memikirkan kata-kata Tae Seok tadi. Melihat raut wajah Seol Ri, membuat Jin Ri yang duduk di depannya pun menjadi kesal.
“Apa kau buta? Kau tidak melihatku? Atau meskipun kau melihatku kau mengabaikanku?” protes Jin Ri.
“Kau sudah pulang. Aku minta maaf karena tidak melihatmu.”  Jawab Seol Ri.
“Ah, aku lupa kau melarangku memanggilmu dengan kata-kata ‘kau’. Haruskah aku memanggilmu dengan kata ‘sayang’ bukan hanya dengan kata-kata ‘kau’ atau haruskah aku memanggilmu dengan cara yang lebih tinggi seperti Yang Mulia? Yang Mulia Kang Seol Ri?” tanya Jin Ri.

“Yang Mulia? Yang Mulia apa? Bukankah itu panggilan untuk seekor kucing? Atau itu Bahasa Perancis?” tanya Nyonya Hong bingung.
“Yang satu begitu bodoh, yang satunya lagi begitu sombong. Sangat baik memiliki dua lubang hidung. Aku merasa seperti dicekik. Aku benar-benar tidak menyukainya.” Jawab Jin Ri.
Dan dengan bodohnya Nyonya Hong malah berkata, “Apa kau ingin aku membuatkan mu lubang hidung yang lain agar kau bisa bernapas?”

Sementara Seol Ri terus memikirkan maksud perkataan Tae Seok ke Presdir Choi.

Baek Seok dan Jin Eon duduk diluar sambil minum soju. Namun Jin Eon tak menyentuh soju nya sedikit pun. Baek Seok pun bertanya apa Jin Eon tak nyaman minum soju dengannya. Jin Eon pun berkata jika ia minum sekali saja, ia akan merasa mabuk. Jin Eon juga berkata dirinya tak boleh mabuk.
“Tidak peduli bagaimana aku minum, aku pikir aku tidak akan mabuk. Bahkan jika aku ingin mabuk, aku tidak akan melakukannya hari ini.” Jawab Baek Seok.
Jin Eon pun menatap Baek Seok. Jin Eon lalu ingin menuangkan soju untuk Baek Seok. Namun Baek Seok buru-buru merampas botol soju itu dari tangan Jin Eon. Baek Seok pun berkata dia akan minum sendiri.
“Minumanku dan wanitaku….” Ucap Baek Seok kemudian.

Keduanya lantas saling melemparkan tatapan tajam.
“Bersikaplah dengan baik. Adikku dan wanitaku… jangan lakukan apapun. Apa kau mengerti?” ucap Baek Seok lagi.
Jin Eon diam saja dan hanya menghela napas. Baek Seok pun berkata lagi dengan wajah kesal.
“Yong Gi dan mantan istrimu begitu mirip? Memangnya kenapa! Jika dia mirip dengannya, apa kau akan terpengaruh dan meninggalkan adikku? Jika dia mirip dengannya, meskipun kau memiliki Seol Ri dan ada aku di sini, apakah benar bagimu menatapnya terlalu lama, memanggilnya dan melakukan apapun yang kau inginkan?” ucap Baek Seok dengan nada yang tinggi.

Jin Eon masih diam. Wajahnya terlihat kacau. Baek Seok pun menurunkan volume suaranya dan meminta  Jin Eon tidak mengganggu Yong Gi. Baek Seok juga berkata wanita yang dihancurkan Jin Eon, tidak cukupkah Hae Gang saja. Keduanya pun kembali bertatapan tajam. Jin Eon tampaknya sudah tidak tahan lagi.

Tae Seok mencari passport Hae Gang di kamar Jin Eon. Ia pun kesal karena tidak menemukannya. Ia lalu menemukan kartu nama Yong Gi. Tae Seok pun ingin menghubungi Yong Gi, namun tiba-tiba Seol Ri datang. Seol Ri meminta Tae Seok mengatakan padanya jika mau mencari sesuatu. Tae Seok pun berkata ia sedang mencari laporan perusahaan. Seol Ri yang mengerti apa yang dicari Tae Seok sebenarnya, menatap Tae Seok dengan curiga sambil memberikan laporan perusahaan yang terletak di atas meja.

Tae Seok kembali ke kamarnya dan marah-marah. Bukan karena passport Hae Gang yang tidak berhasil ia temukan, tapi karena kartu nama Yong Gi yang ditemukannya. Ia bertanya-tanya kapan dan bagaimana Yong Gi kembali ke Korea. Tae Seok pun langsung menelpon Yong Gi memakai telepon di kamarnya.
Hae Gang yang saat itu sedang memasak mengernyit heran karena mendapat telepon dari nomor yang tidak dikenal. Tapi ia tetap mengangkatnya. Tae Seok yang tidak tahu Hae Gang lah yang menjawab teleponnya pun menjadi syok.
“Apa ini nomor telepon Dokgo Yong Gi?” tanya Tae Seok.
“Ya, aku Dokgo Yong Gi. Ada keperluan apa?” jawab Hae Gang yang membuat Tae Seok syok.
“Mohon maaf atas kelancanganku, tapi bagaimana kau bisa mengenal Choi Jin Eon?” tanya Tae Seok.
“Apa? Choi Jin Eon? Kau ingin bicara dengannya?” jawab Hae Gang kaget.

Tae Seok pun langsung mematikan teleponnya dan mencampakkan teleponnya. Ia merasa terancam oleh Yong Gi.

Sementara itu, Hae Gang pergi keluar membawakan cemilan yang diminta Baek Seok. Langkahnya pun terhenti saat Baek Seok menanyakan pada Jin Eon bagaimana Jin Eon bisa tahu Yong Gi aleri udang. Jin Eon tetap membisu. Baek Seok meminta Jin Eon menjawab pertanyaannya. Hae Gang pun menatap Jin Eon dengan wajah penasaran.
“Aku melihat bintik-bintik di wajahnya.” Jawab Jin Eon lesu.
“Tidak, kau sudah tahu sebelumnya. Karena itulah kau melarang Yong Gi memakannya. Bagaimana kau tahu?” tanya Baek Seok.
Jin Eon tetap tidak mau mengatakannya. Baek Seok pun memaksa. Akhirnya Jin Eon mengatakannya. Jin Eon bilang Yong Gi adalah istrinya. Karena Yong Gi adalah istrinya. Baek Seok terkejut. Jin Eon lalu menatap Baek Seok dan bangkit dari duduknya. Hae Gang pun langsung bersembunyi agar tak terlihat oleh mereka.
“Kau bilang Yong Gi adalah cinta pertamamu. Aku tidak tahu dia siapa dan tidak tertarik padanya. Semua yang kutahu adalah istriku. Wanita yang bersamamu bukan Dokgo Yong Gi, tapi istriku. Bahkan meskipun seseorang berbohong. Bahkan jika dia berbohong, aku tahu. Aku tahu istriku. Dia istriku.” Ucap Jin Eon.

Hae Gang tertegun mendengarnya. Sedangkan Baek Seok menatap Jin Eon dengan kesal.

“… karena dia tidak ingat padaku, itu melegakan.” Ucap Jin Eon lagi, kali ini dengan mata yang berkaca-kaca.

Jin Eon pun beranjak pergi. Hae Gang menatap kepergian Jin Eon dengan tatapan lirih. Sedangkan Baek Seok menatap kepergian Jin Eon dengan tatapan kesal.
“Bajingan gila. Istrimu sudah mati.” Gumam Baek Seok pelan.
Keesokan harinya, Jin Eon tampak melamun di kamarnya. Lamunannya pun buyar karena kehadiran sang ibu. Sang ibu membawakannya segelas air. Jin Eon berkata bahwa dirinya tidak akan menikah. Nyonya Hong terkejut dan menanyakan alasannya. Jin Eon pun berkata satu kegagalannya dalam pernikahan sudah cukup. Dia tidak ingin mengulanginya lagi. Nyonya Hong kaget. Jin Eon lalu meletakkan minumannya di atas meja dan beranjak pergi. Nyonya Hong pun kesal karena Jin Eon tidak mau menikah.

Jin Eon sedang berolahraga. Kata-kata Baek Seok pun terngiang-ngiang di telinganya.
“Jika dia mirip dengannya, apa kau akan terpengaruh dan meninggalkan adikku? Jika dia mirip dengannya, bahkan meskipun kau memiliki Seol Ri dan ada aku di sini, apakah benar bagimu menatapnya terlalu lama, memanggilnya dan melakukan apapun yang kau inginkan? Jangan ganggu Yong Gi. Jangan ganggu wanitaku. Wanita yang kau hancurkan, tidak cukupkah hanya istrimu?” ucap Baek Seok.
Jin Eon sudah mulai berkeringat. Namun ia terus dan terus berlari diatas treadmill nya.

Produser Kim yang tahu soal ‘Yong Gi’ dari Tae Seok tidak percaya Yong Gi bisa kembali ke Korea. Ia curiga hanya nama mereka yang sama. Tae Seok pun berteriak marah dan memberitahu Produser Kim kalau kartu nama itu ia temukan di laci Jin Eon. Tae Seok juga memberitahu Produser Kim kalau Jin Eon menyuruhnya mengecek keberadaan Hae Gang begitu kembali ke rumah.
“Jin Eon menanyakan tentang Do Hae Gang segera setelah ia kembali dan memiliki kartu nama Dokgo Yong Gi. Tidak mungkin hanya mereka yang sama. Jin Eon sedang mengejarku. Itu hanya masalah waktu sampai dia mengetahui kematian Do Hae Gang.” Ucap Tae Seok.

Pembicaraan mereka pun terhenti lantaran kehadiran Manajer Byeon. Tae Seok terkejut melihat Manajer Byeon yang datang ke kantor dengan pakaian olahraga. Manajer Byeon yang menyadari hal itu meminta maaf. Ia berkata sedang mengikuti pertandingan bola dan langsung berlari ke kantor begitu Tae Seok memanggilnya.
“Apa yang dikerjakan Presdir Choi kemarin?” tanya Tae Seok.
“Dia hanya bekerja.” Jawab Manajer Byeon.
“Apa seseorang datang mencarinya?” tanya Tae Seok.
“Seorang murid perempuan datang mencarinya. Tapi aku tidak yakin. Dia keluar dari ruangan Presdir Choi dengan wajah kaget jadi aku merasa aneh.” Jawab Manajer Byeon.
“Tetap awasi Presdir Choi. Laporkan setiap gerak geriknya padaku. Jangan sampai melupakan sedetail pun dengan siapa dia meeting, siapa yang menelponnya dan rencananya.” Ucap Tae Seok.

Nyonya Hong mendatangi rumah Baek Seok. Tuan Baek mengajak Nyonya Hong berbicara di luar. Saat mereka sedang bercakap-cakap, Hae Gang muncul dan pamit pada Tuan Baek. Sayangnya, Nyonya Hong tidak melihat wajah Hae Gang. Tuan Baek pun memberitahu bahwa Hae Gang adalah calon menantunya.

Tak lama kemudian, Baek Seok pun datang membawakan minuman kaleng. Baek Seok bahkan membukakan minuman kaleng itu untuk Nyonya Hong. Baek Seok lalu meminta Nyonya Hong menjaga Seol Ri dengan baik. Nyonya Hong tersenyum dan berjanji akan melakukannya. Baek Seok lantas masuk ke dalam. Namun baru beberapa langkah, ia menoleh ke belakang dan menatap Nyonya Hong. Kata-kata Nyonya Hong dulu terngiang di telinganya.
“Kau seorang pengacara? Menantu perempuanku juga seorang pengacara. Pengacara nomor satu di Korea.” Ucap Nyonya Hong.

Baek Seok lalu menyadari sesuatu dan bergegas masuk ke dalam. Sementara itu, Nyonya Hong memberitahu tanggal pernikahan Jin Eon dan Seol Ri. Nyonya Hong meminta Tuan Baek menemui Seol Ri dan Jin Eon. Tuan Baek pun meminta Nyonya Hong memberitahu Jin Eon dan Seol Ri tentang kematian Hae Gang. Namun Nyonya Hong menolak. Ia khawatir sesuatu akan terjadi jika Jin Eon dan Seol Ri mengetahui kematian Hae Gang.
“Akan lebih baik jika mereka mengetahunya lebih dulu. Jika mereka putus karena hal ini, bukankah itu lebih baik karena mereka belum menikah?” jawab Tuan Baek.

Sementara itu di dalam, Baek Seok mengambil buku yang berisi nama-nama seluruh pengacara di Korea. Betapa terkejutnya ia saat melihat foto Hae Gang.
 
Bersambung ke part 2

No comments:

Post a Comment