Thursday, March 24, 2016

I Have a Lover Ep 8

Sebelumnya <<<


Hae Gang keluar dari sebuah ruangan. Ia berjalan di koridor kampus sambil memikirkan percakapannya dengan seseorang.

"Jin Eon adalah putra pemilik Perusahaan Farmasi Cheon Nyeon? Anak itu, dia tidak memberitahukan saya. Jika saya mengeluarkan Kang Seol Ri dari tim penelitian kami, apakah itu akan memuaskan?"  

Flashback....


Ketika Hae Gang sedang berbicara dengan Direktur Kampus.

 "Ya. Sebagai imbalan, penelitian yang sedang anda kerjakan, akan didukung Perusahaan Farmasi Cheon Nyeon. Sampai tahun 2015, satu juta per tahun." jawab Hae Gang.

"Saya akan melakukannya. Tidak sulit bagi saya melakukannya." ucap Direktur Kampus.

Flashback end


Hae Gang lalu keluar dan berjalan di taman kampus. Saat itulah ia melihat Seol Ri berjalan keluar dari kampus dan menuju ke arah lain. Hae Gang menatap dingin Seol Ri. Seol Ri tidak melihat Hae Gang dan terus berjalan ke bangku taman.


Hae Gang masuk ke lab Jin Eon dan menemukan sebuah amplop cokelat disana. Hae Gang hendak melihat isinya, namun belum sempat tangannya menyentuh amplop, seseorang datang. Hae Gang memperkenalkan dirinya sebagai istri Jin Eon. Junior Jin Eon kaget. Hae Gang heran dan bertanya kenapa gadis itu kaget mengetahui ia istri Jin Eon.


"Bukan apa2. Sunbae pergi ke lab imunologi, setidaknya akan memakan waktu 3 jam. Mungkin dia agak lama." jawab gadis itu.

"Tidak apa2. Aku datang bukan untuk menemuinya." ucap Hae Gang.

"Oh begitu. Dompet saya ketinggalan disini, jadi saya datang untuk mengambilnya." jawab gadis itu gugup, lalu mengambil dompetnya dan beranjak pergi.


Sekarang kita beralih ke scene Seol Ri dan Jin Ri yang bicara di taman. Jin Ri berkata kalau Jin Eon bukanlah tipe orang yang akan memulai duluan.
"Kau yang menggodakan kan? Begitu tau dia putra pemilik Perusahaan Farmasi Cheon Nyeon?" tanya Jin Ri sambil menatap sinis Seol Ri.

"Apa? Perusahaan Farmasi Cheon Nyeon?" ucap Seol Ri terkejut.

"Aktingmu lumayan bagus. Reaksimu sama seperti Do Hae Gang saat pertama kali aku bertemu dengannya." jawab Jin Ri.


Seol Ri benar2 terkejut. Ia tidak menyangka Jin Eon adalah putra pemilik Perusahaan Farmasi Cheon Nyeon.

"Apa rencanamu sekarang?" tanya Jin Ri.

Seol Ri menatap Jin Ri dan berkata ia tidak memiliki rencana apapun.

"Bagaimana bisa kau tidak memiliki rencana padahal aku bergantung padamu." ucap Jin Ri membuat Seol Ri kaget.

Jin Ri pun tersenyum puas lalu bertanya Seol Ri ingin menjadi bagian dari keluarganya kan? Bukan sebagai peselingkuh, tapi sebagai istri Jin Eon.

Seol Ri kaget. Jin Ri lalu berkata akan membantu Seol Ri sepenuhnya jika Seol Ri mau bekerja sama dengannya.
"Jika kau bersikap tidak pantas padaku dan bersikap kasar pada Do Hae Gang, aku akan mendorongmu dari bibir jurang." ucap Jin Ri lagi.

Seol Ri diam saja dan menelan ludahnya. Bersamaan dengan itu, Hae Gang keluar dan melihat Jin Ri mengobrol dengan Seol Ri. Hae Gang pun menarik napas kesal dan beranjak pergi.

"Tanpa rencana, tanpa diriku, kau tak akan pernah bisa mengalahkan Do Hae Gang. Dia tak akan pernah setuju bercerai. Sekalipun kalian tinggal bersama, dia akan setuju dan menunggu. Dia begitu gigih. Perempuan mana yang mau melepaskan putra tunggal pemilik Perusahaan Farmasi Cheon Nyeon?" ucap Jin Ri.

"Lalu apa yang harus saya lakukan?" tanya Seol Ri.

"Apa yang harus kau lakukan? Tentu saja memegang erat Jin Eon. Lakukan apa saja agar dia tidak pernah meninggalkanmu. Aku akan menyingkirkan Do Hae Gang dan kau mencengkram Choi Jin Eon." jawab Jin Ri.

Seol Ri pun mengangguk setuju. Sementara itu Jin Eon masuk ke lab. Ia meletakkan setumpuk berkas di mejanya. Saat berbalik, ia melihat tas yang dibawa Hae Gang tadi di sebuah meja. Dengan wajah dingin, ia membuka tas itu dan melihat isinya. Isinya pakaian dan beberapa barang yang dipakainya saat menginap dengan Seol Ri. Jin Eon menghela napas dan menutup kembali tas itu. Saat ia mau pergi, tanpa sengaja matanya menangkap amplop itu. Jin Eon membuka amplop itu dan terkejut melihat isinya.


"Tak mungkin dirimu..." ucapnya sambil melihat foto kemesraannya dengan Seol Ri, "... Teganya? Bukan, bukan kau kan? Bukan kau, tidak mungkin dirimu! DO HAE GANG!"


Bersamaan dengan itu, terjadi ledakan besar. Seol Ri dan Jin Ri yang tengah duduk di taman kaget. Begitu pula dengan mahasiswa lainnya. Seol Ri yang menyadari darimana ledakan itu berasal langsung berlari dan berteriak memanggil Jin Eon. Jin Ri sendiri kaget. Ia berkata tidak mungkin itu Jin Eon. Tapi sejurus kemudian, tatapan matanya berubah menjadi tajam. Sepertinya ia berharap Jin Eon mati.


Seol Ri terus berlari menuju lab. Sementara Hae Gang yang hendak pulang heran melihat kerumunan di depannya. Hae Gang turun dari mobil dan melihat ke arah ledakan. Ia pun panik dan berusaha mencari tahu lab siapa yang terbakar. Tapi sayangnya orang yang ditanyainya tidak tahu. Hae Gang pun mengambil ponselnya dan berusaha menghubungi Jin Eon. Tapi tidak diangkat. Wajah Hae Gang pucat dan cemas.

Jin Ri yang melihat Hae Gang langsung ngumpet dibalik pohon.

Hae Gang terus berusaha menghubungi Jin Eon, tapi kemudian ia teringat kata junior Jin Eon kalau Jin Eon pergi ke lab lain dan akan memakan waktu 3 jam. Hae Gang pun makin cemas. Sedangkan Jin Ri diam2 merekam Hae Gang dan kejadian itu.


Seol Ri terus berlari ke arah lab. Tiba2, ledakan kembali terjadi membuat ia terjatuh. Tapi hal itu tak mematahkan semangatnya mencari Jin Eon. Akhirnya ia tiba di lab dan menemukan Jin Eon tergeletak di lantai. Seol Ri pun menutup sebagian wajah Jin Eon agar Jin Eon tidak menghirup asap dan berusaha membawa Jin Eon keluar.

Diluar, Hae Gang menelpon Jin Eon. Ia sangat ketakutan. Hae Gang pun tertegun mendengar petugas damkar berkata seorang wanita 20 tahunan pergi mencari pria 30 tahunan. Hae Gang panik dan ingin masuk ke dalam tapi dihalangi petugas damkar.


"Lepaskan! Suamiku disana!" teriak Hae Gang sambil berusaha menerobos masuk ke dalam.

"Dia sudah diselamatkan!" teriak petugas damkar.


Hae Gang pun syok. Tak lama kemudian, petugas medis membawa keluar Jin Eon dan Seol Ri yang terbaring tak sadarkan diri. Hae Gang langsung mendekati Jin Eon. Tapi petugas medis menghalanginya, bahkan mendorongnya. Hae Gang pun hanya bisa diam saat melihat mobil ambulance membawa pergi suaminya. Hae Gang lalu terduduk lemas. Ia syok dan menangis.

Di rumah sakit, dokter sedang berusaha menyelamatkan nyawa Jin Eon dan Seol Ri.


Jin Ri tiba di rumah dan langsung memperlihatkan video itu pada Nyonya Hong. Nyonya Hong terbelalak melihat video di ponsel Seol Ri.


"Apakah kau begitu mencintai wanita muda? Jawab! 25 tahun? Kau pikir aku tak pernah berumur 25 tahun? Aduh, telingaku. Setidaknya, aku mendengarnya ratusan kali." olok seorang bocah laki2.


Bocah perempuan yang duduk di sebelahnya bertanya pada Baek Joo dengan mimik sedih. Ia bertanya apakah ayahnya menyukai wanita muda?
"25 tahun seumuran dengan Seol Ri Eonni." ucap bocah itu sedih.
Baek Joo hanya tersenyum dan mengelus2 kepala bocah itu. Ternyata yang sedang mereka olok2 adalah Nyonya Kim. Mereka duduk di depan Nyonya Kim yang masih tertidur pulas. Tiba2, Nyonya Kim kentut. Anak2 itu pun kebauan. Tak hanya mengolok2 Nyonya Kim, anak2 itu juga mencoret2 wajah Nyonya Kim dengan spidol.


Tuan Baek yang sedang memasak sup mendengar keributan anak2. Tuan Baek pun masuk ke kamar dan menyuruh anak2 mencuci tangan dan makan. Anak2 itu pun pergi. Tak lama setelah anak2 pergi, Nyonya Kim bangun. Tuan Baek hampir ketawa melihat wajah Nyonya Kim. Sedangkan Nyonya Kim panik dan menutupi tubuhnya dengan selimut. Tuan Baek mengajak Nyonya Kim makan. Nyonya Kim mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Tuan Baek lagi2 menahan tawanya. Nyonya Kim bingung kenapa dia ada disana.

Perlahan2 Nyonya Kim bangun dan ingin ke kamar mandi. Tuan Baek berusaha memberitahu Nyonya Kim tentang wajahnya, tapi gak jadi. Akhirnya Tuan Baek menyuruh Nyonya Kim ke dapur. Begitu Nyonya Kim ke dapur, Tuan Baek kembali menahan tawa. Tepat saat itu, Baek Seok pulang. Tuan Baek menyusul Nyonya Kim ke dapur.


"Ajumma mabuk itu pasti sudah pulang. Dia tidak tidur semalaman dan terus menjerit2. Suaranya pasti habis." teriak Baek Seok sambil melihat ke arah kasur yang tadi ditiduri Nyonya Kim.

Nyonya Kim yang mendengarnya di dapur terkejut. Tuan Baek merasa tidak enak pada Nyonya Kim, dan Baek Seok terus mengoceh.
"Benar, Ayah. Kupikir rahangku akan patah kemarin. Dia memukuli wajahku mengira aku menantunya. Aku harus menemukan si menantu itu dan membalasnya karena membuat diriku dipukuli." oceh Baek Seok.


Nyonya Kim yang mendengar dari dapur merasa bersalah. Baek Seok terus mengomel karena dipukuli Nyonya Kim. Tuan Baek mendekati Baek Seok dan berusaha memberitahu Baek Seok, tapi Baek Seok masih terus mengoceh. Baek Seok baru diam saat ia melihat punggung Nyonya Kim di dapur. Tuan Baek pun menyuruh Baek Seok minta maaf pada Nyonya Kim. Baek Seok mendekati Nyonya Kim dan meminta maaf. Tapi saat melihat wajah Nyonya Kim, Baek Seok terkejut dan tertawa keras2.

Yong Gi berjalan diluar kantor dengan wajah ketakutan dan terus2an melihat ke belakang. Sepertinya ia menyadari ada yang mengikutinya. Tapi saat ia memberanikan dirinya melihat ke belakang, hanya ada seorang pria tua yang sedang menelpon. Tapi itu tak lantas bisa membuatnya bernapas lega.

"Seorang pendaki tewas saat melakukan pendakian. Talinya putus dan dia jatuh hingga tewas. Tapi orang yang sudah meninggal selama 15 hari, memindahkan hak patennya di hari ke-16?" pikir Tae Seok sambil membaca berita tentang pendaki yang tewas itu di tabletnya.

Tae Seok lalu melihat surat persetujuan pemindahan hak paten. Ia pun menyadari sesuatu dan senyum sinis.

"Bahan yang terkandung pada Pudoxin dan videonya, tolong kirimkan padaku lewat kurir. Aku ingin memperlihatkannya pada penulis yang bekerja sama denganku. USB-nya ada di loker perpustakaan di lingkungan tempat tinggalku."  pinta Produser Kim.

Yong Gi pun melihat USB yang dipegangnya, lalu berkata.. "Lindungi aku dan anakku."

Setelah mengatakan itu, Yong Gi masuk ke gedung itu. Tanpa disadarinya, anak buah Tae Seok mengikutinya. Anak buah Tae Seok lalu melihat ke belakang. Ternyata sedari tadi, Tae Seok ada di mobil dan mengawasi Yong Gi. Tae Seok pun menyuruh anak buahnya mengikuti Yong Gi.

"Seharusnya kau mengawasi Ssangwhasan, bukan Pudoxin. Mestinya kau kejar Choi Man Ho, bukan aku. Dasar perempuan bodoh. Sebaiknya membawamu hidup2 atau mati?"  batin Tae Seok sambil menatap Yong Gi.


Ternyata Yong Gi ada di perpustakaan, bukan kantor. Yong Gi membuka sebuah loker dan menemukan USB disana. Tiba2, dari belakang orang suruhan Tae Seok membekap Yong Gi. Orang itu mengancam akan menusuk Yong Gi jika Yong Gi berteriak. Yong Gi berusaha melepaskan diri. USB itu jatuh. Saat pria itu hendak mengambil USBnya, Yong Gi mengejar pria itu dan menyemprotkan bubuk cabe ke mata pria itu.


Pria itu langsung mengerjap2kan matanya karena kepedihan. Yong Gi kabur. Ia menuruni tangga sambil memegangi perutnya dan berlari masuk ke ruang baca. Yong Gi duduk di salah satu meja dengan wajah sangat ketakutan.

Anak buah Tae Seok melaporkan pada Tae Seok tentang apa yang dilakukan Yong Gi padanya. Tae Seok pun kesal.


Di rumah sakit, Hae Gang sedang menunggui Jin Eon. Hae Gang memegang tangan Jin Eon dan wajahnya terlihat cemas.


Seol Ri yang juga belum sadar ditunggui oleh Jin Ri. Jin Ri tersenyum puas menatap Seol Ri.


"Buka matamu. Buka matamu sayang. Apa2an ini? Apa2an semua ini? Kenapa? Kenapa kita bisa jadi begini? Aku hanya bisa memegangmu seperti ini. Bila aku tak bisa memegangmu dengan satu tangan, aku bisa memegangmu dengan kedua tangan. Aku benar2 minta maaf. Aku merasa kasihan pada Eun Seol jadi aku mengabaikannya dan bertingkah seolah2 aku baik2 saja. Aku jahat. Aku yang salah sayang. Jadi tolong bangun sayang." ucap Hae Gang berkaca2.

Nyonya Hong datang dan berkaca2 melihat Jin Eon. Hae Gang menjelaskan kondisi Jin Eon pada Nyonya Hong. Hae Gang berkata paru2 Jin Eon baik, tapi tenggorokannya rusak. Air mata Nyonya Hong seketika tumpah. Nyonya Hong menatap tajam Hae Gang. Hae Gang minta maaf pada Nyonya Hong. Nyonya Hong menampar Hae Gang. Hae Gang terkejut. Nyonya Hong lalu mengusir Hae Gang.


"Teganya kau melakukan ini. Apakah hanya hidupmu yang penting? Suamimu sedang sekarat. Putraku sekarat! Teganya kau melakukan ini! Bisa2nya kau menelpon dalam keadaan seperti itu!" ucap Nyonya Hong marah.

Hae Gang tidak mengerti ucapan ibu mertuanya.

"Apakah kau berharap dia mati? Lantaran putraku menghina dan melukaimu? Kenapa kau tega pada putraku!"

"Bukan seperti itu."

"Apa maksudmu bukan seperti itu? Aku melihatnya sendiri. Aku mendengarnya sendiri! Kau tidak normal, kau bukan manusia! Kau tak bisa hidup kalau kau kalah! Kau tak bisa hidup kalau kau hancur! Tidak peduli orang mati atau tidak, kau harus menang. Kau harus menghancurkan orang lain! Kau kejam, berhati dingin, jahat dan arogan! Tetap saja karena putraku mencintaimu, meskipun aku tidak suka, lantaran putraku menganggap kau cantik, aku menerima dan membiarkanmu. Tapi, apa ini? Apa2an ini!"


Hae Gang syok dengan perkataan ibu mertuanya.

"Pantas saja.... betapa sulitnya hidup yang dilalui Jin Eon. Anakku yang baik." ucap Nyonya Hong sambil mendekat ke arah Jin Eon.

Hae Gang syok melihatnya. Nyonya Hong lalu mengusir Hae Gang. Tepat saat itu, Jin Ri keluar dari kamar Seol Ri. Ia tersenyum melihat Hae Gang diperlakukan seperti itu. Lalu, ia mendekati Hae Gang dan bersikap peduli padanya.


"Kenapa kau hanya berdiri di sana? Apa Jin Eon sudah sadar?" tanya Jin Ri.

"Kenapa kau keluar dari sana?" tanya Hae Gang dingin.

"Aku sengaja memindahkan Kang Seol Ri ke kamar VIP. Dia sudah menyelamatkan nyawa Jin Eon." jawab Seol Ri.

Hae Gang lalu teringat saat melihat Jin Ri bicara dengan Seol Ri.

"Apakah kau yang melaporkan kejadian ini pada ibu?" tanya Hae Gang.

"Tentu saja. Kenapa? Apa kau mau menyembunyikannya dari kami? Kau hanya akan menghubunginya untuk pemakaman Jin Eon?" jawab Jin Ri sambil menatap tajam Hae Gang.

"Cukup Eonni! Jangan lebih dari ini! Jangan main2 denganku! Denganku, Jin Eon ataupun Kang Seol Ri! Jangan main2!"


"Memangnya kenapa? Kau yang duluan mengacungkan pedang. Kau membuatku malu, kau buat orang berbicara buruk tentangku, kau hancurkan diriku. Apa kau sudah lupa? Cicipilah siksaan yang kuberikan padamu. Lihat bagaimana rasanya."

 "Kau ingin menghancurkan ku dan suamiku? Kau ingin mendudukkan suamimu di kursi  lama mu? Tapi mau bagaimana? Aku sudah menerima jabatan sebagai Wakil Presdir langsung dari Presdir."

"Apa?"


"Tidak seperti orang yang kukenal. Aku tidak mendapatkannya secara cuma2, dengan berasosiasi, dengan sendok perak di mulutku. Aku bekerja seperti anjing dan berjuang agar maju dan memperoleh tempatku selagi orang menyebutku jahat. Tak mudah menjatuhkanku dengan pedangmu."

"Tidak mungkin. Jika kau bercerai, permainan selesai. Do Hae Gang tanpa Choi Jin Eon, bukankah seperti layang2 tanpa tali? Siapa peduli betapa tingginya kau terbang jika kau tidak mampu terbang lagi. Aku merekam videonya. Aku tahu kau akan bersikap kurang ajar. Jika Jin Eon sadar, akan kuperlihatkan padanya dan pada ayah juga. Dirimu yang sebenarnya sangat berbeda dari Kang Seol Ri."

"Pudoxin! Jika kau ingin menghancurkan suamimu juga, lakukanlah sesukamu. Tanyakan padanya tentang Pudoxin. Tanyakan apa yang telah suamimu lakukan. Hancur total. Bukankah itu keahlikanku?"

Jin Ri terkejut dengan perkataan Hae Gang. Ia lalu beranjak pergi.
 
Yong Gi menenangkan dirinya di sebuah kafe.

"Maafkan aku. Kau pasti terkejut kan. Aku akan melindungimu. Ibumu... akan selalu melindungimu." ucap Yong Gi dengan wajah cemas.


Tak lama Produser Kim datang. Produser Kim sangat mengkhawatirkan Yong Gi. Yong Gi berkaca menatap Produser Kim. Produser Kim lega karena Yong Gi tidak apa2. Ia juga merasa bersalah karena menyuruh Yong Gi pergi ke sana sendirian. Yong Gi lalu menyerahkan kacamata hitam milik anak buah Tae Seok.

"Meskipun kita melapor, mereka tidak akan melakukan apa2 kalau tidak terjadi hal besar. Lebih baik kita menggunakan jasa detektif yang kukenal. Kuharap sidik jari si brengsek itu ada di sini." ucap Produser Kim.

"Ada yang lebih brengsek lagi dari si brengsek ini. Pada akhirnya kita tak akan selamat sampai orang itu kita tangkap." jawab Yong Gi lelah.


"Kita pasti bisa menangkapnya. Sepertinya Pudoxin laku keras. Pemalsuan klinis dan pembunuhan. Jika acaranya kita tayangkan, mereka tidak akan bisa melakukan apa2. " ucap Produser Kim.

"Tapi aku ragu. Yang harus kulindungi saat ini adalah bayiku. Aku merasa seperti sedang membahayakan bayiku. Mungkin aku harus berhenti. Aku ingin berhenti sekarang. Mereka bilang berbuat baik itu bagus. Jika kututup saja mata dan telingaku, aku bisa hidup dengan tenang." jawab Yong Gi.

Tapi Produser Kim tidak setuju. Yong Gi pun menangis.

"Baiklah Nona Yong Gi. Serahkan urusan ini padaku." ucap Produser Kim lagi.


Produser Kim lalu mengantarkan Yong Gi pulang. Produser Kim berkata akan menghubungi Yong Gi lagi jika keadaan sudah aman. Yong Gi mengangguk. Produser Kim beranjak pergi. Yong Gi menatap kepergian Produser Kim dengan berkaca2.


Di dalam, Tae Seok sedang membantu nenek Yong Gi mengupas kastanye. Tae Seok berkata setelah ini dia akan membantu nenek Yong Gi mengupas bawang putih. Nenek Yong Gi merasa tidak enak karena sudah membuat Tae Seok membantunya mengupas kastanye. Tae Seok berkata saat melihat nenek Yong Gi, ia teringat ibunya yang sudah meninggal. Ia juga berkata tidak pernah membantu ibunya mengupas bawang putih.

"Ngomong2 ini belum waktunya membuat kimchi, jadi untuk apa bawang putih sebanyak ini?" tanya Tae Seok.

"Aku ingin membuat kimchi lebih awal. Membuatnya banyak2 agar bisa dimakan tahun depan dan setahun setelahnya dan setelahnya." jawab nenek Yong Gi sambil terisak.

Tae Seok tertegun.


"Bagaimana, selama 80 tahun dalam masa hidupku, ketika aku sudah bekerja keras dan tak pernah malas, tak ada yang kutinggalkan pada anak2ku selain kimchi."

"Apa putramu tidak meninggalkan apa2 sebelum meninggal?" tanya Tae Seok berusaha mengorek informasi.

"Ada tapi aku buta huruf jadi aku tak bisa membacanya. Aku tak sempat memberitahu siapa2." jawab nenek Yong Gi.

"Apakah putramu pernah mengatakan sesuatu?" tanya Tae Seok.

"Dia bukan anak kandungku. Dia menyewa sebuah kamar dan kami memutuskan untuk saling bersikap seperti ibu dan anak." jawab nenek Yong Gi.

Yong Gi yang tadinya ingin masuk, tidak jadi masuk dan terdiam mendengarkan kata2 neneknya.

"Kami tidak sedarah tapi kami saling berbagi makanan dan saling menyayangi." ucap nenek Yong Gi lagi.

"Nona Dokgo Yong Gi bukan cucu kandung nenek?" tanya Tae Seok.

"Bukan. Dia sudah tahu. Setelah ayahnya meninggal, dia tak punya siapa2. Aku juga tak punya siapa2. Apa yang bisa diketahui anak berumur 5 tahun? Setelah ayahnya dimakamkan, dia mengepalkan tangan dan tidak mencari orang tuanya. Saat aku bernyanyi untuknya malam hari, dia terbiasa membenamkan dirinya padaku dan itu membuat hatiku hancur. Mereka ingin mengirimkannya ke panti asuhan jadi aku menampungnya tanpa ragu2." jawab nenek Yong Gi.

"Lalu ibunya?" tanya Tae Seok.

"Aku memberitahunya bahwa ibunya sudah meninggal. Kupikir dia mungkin akan mencarinya. Lantaran merasa khawatir dia akan mengambil Yong Gi dariku." jawab nenek Yong Gi.


Yong Gi terkejut mengetahui ibu kandungnya masih hidup.


Tae Seok membelikan Yong Gi perlengkapan bayi. Yong Gi merasa tidak enak. Tae Seok lalu meminta segelas air. Begitu Yong Gi pergi, Tae Seok langsung memeriksa tas Yong Gi. Di dapur, Yong Gi mendapati neneknya sedang menahan sakit. Begitu Yong Gi datang, sang nenek pura2 tidak terjadi apa2. Dengan gugup, ia bertanya apa mau Yong Gi. Yong Gi dengan gugup pula, menyindir sang nenek, menjawab ia ingin air dingin.

"Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya Yong Gi.

"Me... menyembunyikan apa?" sangkal nenek Yong Gi gugup.

"Saranghae." ucap Yong Gi membuat neneknya terkejut.

"Aku tidak bisa hidup tanpamu." ucap Yong Gi lagi berkaca2.

"Apa maksudmu? Kau harus hidup dengan baik." jawab nenek Yong Gi sambil menangis.


Yong Gi pun mendekat dan memeluk neneknya. Sang nenek menangis dengan hebat di pelukan Yong Gi. Yong Gi berkata kalau ia sangat mencintai dan menyayangi neneknya. Tangis nenek Yong Gi makin kencang. Mata Yong Gi berkaca2.


Tae Seok langsung kembali ke tempat duduknya begitu menyadari Yong Gi datang. Yong Gi masuk dan memberikan segelas air pada Tae Seok. Tae Seok lalu memberikan sejumlah uang pada Yong Gi sebagai uang pesangon dan ganti rugi untuk ayah dari bayi yang dikandung Yong Gi. Yong Gi kaget. Tae Seok bertanya apa dua juta cukup?

"Aku berjanji akan membersihkan namamu. Maaf karena begitu lama dan tidak melindunginya." ucap Tae Seok lalu berlutut dan meminta maaf pada Yong Gi.

"Kalau begitu uang ini akan kuberikan pada orang tua Sun Yeong." jawab Yong Gi.

"Tidak, uang ini untukmu. Perusahaanku akan memberikan ganti rugi pada orang tua Sun Yeong secara tersendiri. Jadi gunakan ini untuk bayimu dan nenekmu." ucap Tae Seok.

Yong Gi kaget.

"Tapi berjanjilah kau tidak akan pernah berhubungan dengan pers. Sekali saja menjadi Pengungkap Masalah Perusahaan Farmasi Cheon Nyeon lewat berita investigasi sudah cukup." ucap Tae Seok lagi.

"Jadi anda sudah tahu?" tanya Yong Gi.

"Lain kali, aku tak bisa melindungimu, Nona Dokgo Yong Gi." jawab Tae Seok lagi.


Nyonya Hong masih menunggui Jin Eon. Ia bahkan sampai tertidur. Jin Eon pun mulai sadar. Begitu sadar, yang pertama diingatnya adalah saat2 dirinya bertengkar dengan Hae Gang. Ia juga ingat saat Hae Gang mencoba bunuh diri dengan menceburkan diri ke sungai. Ia ingat perkataannya pada Hae Gang, bahwa ia tidak peduli pada Hae Gang sekalipun Hae Gang mati. Ia juga ingat saat menemukan foto2 kemesraan dirinya dengan Seol Ri dan saat ledakan terjadi. Jin Eon pun terbangun.


Seol Ri juga sudah sadar. Dengan tubuh yang masih lemas, ia berjalan keluar kamarnya. Ia ingin menemui Jin Eon. Tapi begitu keluar dari kamarnya, langkahnya terhenti saat melihat Hae Gang duduk di depan kamar Jin Eon.

"Apakah Jin Eon Sunbae sudah sadar? Apa yang dikatakan dokter?" tanya Seol Ri cemas.

Hae Gang diam saja, membuat Seol Ri makin cemas. Karena Hae Gang tak kunjung menjawab pertanyaannya. ia pun akhirnya menuju ke kamar Jin Eon. Hae Gang bangkit dari duduknya dan menghalangi Seol Ri ke kamar Jin Eon.


"Aku tidak percaya aku telah mencuri sesuatu dari orang lain. Aku tahu ini tidak baik, tapi cinta ini datang begitu saja. Cinta ini, aku tidak bisa melepaskannya." ucap Seol Ri.

"Pada akhirnya tetap saja selingkuh." jawab Hae Gang.

"Apa itu selingkuh? Mencintai seseorang yang tidak semestinya kau cintai? Orang2 yang mestinya saling mencintai tapi ternyata tidak? Bukankah orang2 ini yang tidak setia? Aku ingin mencintai selagi aku bisa. Bagaimana dunia memandangku, itu tidak penting. Yang penting adalah bagaimana orang yang aku cintai memandangku." ucap Seol Ri.

Hae Gang terpukul. Seol Ri minta maaf pada Hae Gang dan masuk ke kamar Jin Eon.


"Kau sudah sadar? Syukurlah." ucap Nyonya Hong menghampiri Seol Ri. Jin Eon kaget melihat Seol Ri. Nyonya Hong berterima kasih karena Seol Ri sudah menyelamatkan nyawa Jin Eon. Jin Eon lalu melirik ke tangan Seol Ri yang diperban. Nyonya Hong berkata akan melakukan apapun yang diinginkan Seol Ri. Seol Ri kaget. Jin Eon lalu meminta ibunya meninggalkan mereka berdua.

"Kenapa kau melakukannya?" tanya Jin Eon cemas.


"Karena dirimu, Sunbae." jawab Seol Ri.

Begitu Nyonya Hong keluar, Hae Gang langsung mengejarnya. Hae Gang bertanya apa Jin Eon sudah sadar. Nyonya Hong mengangguk. Hae Gang pun menarik napas lega. Nyonya Hong melarang Hae Gang masuk karena Jin Eon ingin bersama Seol Ri. Hae Gang kaget. Hae Gang lalu ingin menjelaskan semuanya, tapi Nyonya Hong tidak mau mendengar.


"Saat Eun Seol meninggal, aku diam saja. Meskipun aku merasa seluruh dunia seperti akan hancur, aku menahannya dan terus menahannya. Karena aku tahu ini lebih menyakitkan bagi dirimu. Aku berusaha keras memahami dirimu. Tapi mulai sekarang aku hanya akan peduli pada putraku dan kebahagiaannya. Dia kembali dari ambang kematian. Akan kulakukan apapun keinginannya. Mulai sekarang akan kubiarkan dia hidup bahagia, mencintai dan dicintai oleh seorang wanita yang hangat. Jadi uruslah perceraian kalian."

Hae Gang pucat mendengarnya.

"Maafkan aku ibu. Aku yang salah. Tolong bantu aku ibu." pinta Hae Gang dengan mata berkaca2.

Nyonya Hong menatap Hae Gang sinis dan beranjak pergi. Hae Gang memohon pada Nyonya Hong. Ia berkata sangat mencintai Jin Eon. Tapi Nyonya Hong tetap pada keputusannya dan beranjak pergi. Hae Gang syok.

Seol Ri keluar dari kamar Jin Eon dan bertemu dengan Hae Gang di depan. Ia menatap Hae Gang dengan pandangan bersalah. Hae Gang tidak mempedulikan Seol Ri dan berlari masuk ke kamar Jin Eon.


 "Apa kau baik2 saja, sayang?" tanya Hae Gang.

"Jangan memanggilku begitu. Aku menyesal mencintaimu. Aku bertemu dirimu ketika masih berumur 20 tahun. Tak pernah sekejap pun aku tak mencintaimu. Setelah kita kehilangan Eun Seol, bahkan di saat2 itu aku marah dan membencimu, aku masih mencintaimu. Kau mengejar uang status, dan menginjak yang lemah agar menjadi kuat. Tiap hari ketika kulihat kau berubah, kupikir aku harus melindungimu. Aku tahu betapa cantik dan tulusnya dirimu. Aku ingat. Kupikir aku harus menjaganya agar tidak menjadi lebih hancur lagi. Tapi kau...."

Kata2 Jin Eon terputus. Hae Gang menangis. Begitupula Jin Eon.


"Yang tersisa hanya kebencian." ucap Jin Eon lagi.

"Aku akan menunggumu. Aku ingin menunggumu. Sampai amarahmu mereda, aku akan menunggu sampai kau kembali padaku. Aku akan menunggumu sayang. Aku bisa melakukannya. Aku akan menunggumu sayang." jawab Hae Gang.

"Lakukan saja sesukamu. Sekarang aku yakin aku bisa hidup tanpamu." ucap Jin Eon lagi.

Hae Gang syok. Jin Eon lalu memalingkan wajahnya dan mengusir Hae Gang. Hae Gang pun pergi dengan air mata berlinang. Jin Eon menatap kepergian Hae Gang dengan menangis.


"Keinginan nenek adalah duduk di atas tumpukan uang. Keinginanku adalah menang lotere. Mari wujudkan keinginan kita hari ini, Nek." ucap Yong Gi.

Sang nenek pun tersenyum. Di lantai ada tumpukan uang yang disusun Yong Gi menyerupai bantal. Yong Gi menyuruh neneknya duduk di atas tumpukan uang itu. Sang nenek pun duduk disana dan tertawa bahagia. Yong Gi ikut duduk.

"Tidak ada yang kusesali jika aku harus meninggal hari ini." ucap sang nenek.


Yong Gi tersenyum bahagia menatap neneknya. Nenek Nam lalu menyuruh Yong Gi makan. Yong Gi mengambilkan sepotong ayam rebus untuk neneknya, kemudian mengajak neneknya menyanyi. Yong Gi terisak, begitu pula sang nenek. Mereka lalu bernyanyi bersama.

"Yong Gi-ya. Nenekmu akan meninggal, mereka bilang kanker perut. Semua orang pasti akan meninggal, jadi ini bukan masalah besar. Jangan bersedih atau terluka. Ingat saja satu hal. Nenek ini merasa bahagia setiap hari karena bertemu denganmu. Tak pernah sehari pun tidak berharga karena dirimu. Hidupku berarti karenamu. Mari kita bertemu lagi setelah kau menjalani kehidupan yang lebih baik lagi...." batin sang nenek menatap Yong Gi berkaca2.

Yong Gi terus bernyanyi dan menggoyangkan badannya.

 "... hampiri diriku setelah menjalani kehidupan yang bahagia dan menyenangkan." batin sang nenek sambil menatap Yong Gi berkaca2.


Yong Gi melemparkan uangnya dan tersenyum bahagia.


Esok harinya.. Di kamar, Tae Seok memuji Jin Ri sambil melihat foto2 kemesraan Jin Eon dan Seol Ri. Tiba2, Tae Seok berteriak kesakitan karena dilempari botol obat oleh Jin Ri. Jin Ri marah.
"Kau memalsukan hasil uji klinis? Kenapa kau melakukan itu? Bagaimana kalau ayah tahu? Bagaimana kalau dunia tahu!"

"Kemungkinan timbulnya patah tulang sangat rendah. Persentasenya sangat rendah sehingga bisa kita abaikan. Pernahkah kau melihat obat tanpa efek samping apapun?" jawab Tae Seok.

"Tapi memanipulasinya untuk mendapatkan hasil yang kau inginkan itu tidak benar!" ucap Jin Ri.


"Lalu? Lalu! Haruskah kita membuang obat yang kita buat hingga menghabiskan uang jutaan untuk mengembangkannya lantaran efek samping yang berpeluang kecil? Kau tahu dengan baik, Yeobo. Pudoxin manjur mengobati gastritis kronis. Bagi pasien penderita penyakit itu, Perusahaan Farmasi Cheon Nyeon dan Pudoxin seperti oasis di padang pasir." jawab Tae Seok.

"Mungkin itu benar, tapi apa kau tahu kalau itu racun bagimu? Kau sedang memegang bom." ucap Jin Ri.

"Bom bisa dijinakkan." jawab Tae Seok enteng.

"Bagaimana? Bagaimana caranya? Bagaimana kau bisa mencegah omongan orang kecuali kau bawa mereka ke suatu tempat dan pasang bom waktunya!" jawab Jin Ri.

Tae Seok menghela napas.

"Ayah, dia menyisihkanmu dan memutuskan Do Hae Gang yang mengisi jabatan lamaku. Begitu diumumkan, semua orang yang berpihak pada kita akan menyebrang pada Do Hae Gang. Seluruh kerja keras kita akan menguntungkan orang lain dan apa? Hasil manipulasi?" ucap Jin Ri lagi.

Tae Seok kaget. Jin Ri berkata lagi kalau mereka harus menyingkirkan Hae Gang. Bagaimana pun caranya mereka harus membuat Hae Gang dan Jin Eon bercerai.

"Jangan khawatir. Meskipun dia memberitahu ayah mertua aku yang melakukannya, sudah pasti aku yang menjadi Wakil Presdir." jawab Tae Seok.

"Apa? Bagaimana caranya?" tanya Jin Ri sambil menatap heran ke arah Tae Seok. Tae Seok hanya tersenyum licik.


Presdir Choi dan Nyonya Hong sedang makan. Nyonya Hong bertanya apa Presdir Choi tidak akan menjenguk Jin Eon? Presdir Choi mengutuk Jin Eon.
"Dasar pengecut! Apa? Selingkuh? Kita membesarkannya dalam kemewahan dan dia mengotori dirinya."

"Ceret mengejek ceret hitam." sindir Nyonya Hong, maksudnya bermuka dua, menyebut orang selingkuh tapi sendirinya selingkuh.

Presdir Choi kesal. Ia menggebrak meja dan meminta Nyonya Hong diam saja.

"Jin Eon akan bercerai." ucap Nyonya Hong lagi, membuat Presdir Choi kaget.

"Apa dia sudah gila? Sebagai ibunya, kenapa kau malah mendukungnya?" protes Presdir Choi.

"Apa pedulimu soal perceraian Jin Eon sedangkan kau tidak peduli dia hidup atau mati." jawab Nyonya Hong.

"Kau pikir aku menentangnya karena si pengecut brengsek itu? Ini karena menantuku. Aku tak peduli dengan si idiot itu, tapi aku tak bisa tanpa Hae Gang. Demi diriku dan Perusahaan Farmasi Cheon Nyeon, aku akan membantunya meneruskan warisanku." ucap Presdir Choi.

Jin Ri yang hendak turun kaget mendengar kata2 ayahnya.

"Lupakan soal perceraian dan awasi putramu." ucap Presdir Choi lagi.

"Apa katamu? Orang yang sudah gila itu bukan aku, tapi kau Choi Man Ho! Mentang2 aku diam, apa kau tahu betapa menakutkannya menantumu itu? Tahu suaminya terjebak, dia malah menelpon dan menyaksikan api." jawab Presdir Choi.


Lalu terdengar suara Jin Ri.
"Kalau hanya itu saja, Jin Eon akan bahagia. Anak menantu ayah mengambil foto perselingkuhan Jin Eon dan menyebarkannya di kampus."

"Apa?" kaget Presdir Choi dan Nyonya Hong.

"Kabarnya sudah menyebar ke seluruh penjuru kampus, jadi peluang Jin Eon menjadi Profesor akan lenyap. Gadis itu juga tak memiliki masa depan di kampus. Menurut adik ipar, ayah menawarkannya jabatan Wakil Presdir. Mungkin itu sebabnya dia bertingkah sangat putus asa. Tapi tetap saja menghancurkan hidup suaminya hanya untuk memisahkan mereka adalah tidak baik." jawab Jin Ri.


Nyonya Hong semakin kesal. Presdir Choi menghela napas frustasi. Jin Ri memasang wajah puas.


Hae Gang duduk melamun di kasurnya. Kata2 Jin Eon terngiang di telinganya.

"Melihatmu berubah hari demi hari, kupikir aku harus melindungimu. Kupikir aku harus membantumu agar tidak lebih hancur lagi. Tapi kau.... yang tersisa hanya kebencian." ucap Jin Eon.

Lamunan Hae Gang buyar ketika ponselnya berbunyi. Saat melihat ponselnya, ia teringat kata2 Nyonya Hong kalau ia dan Jin Eon harus bercerai. Hae Gang lalu menjawab teleponnya yang ternyata dari Nyonya Hong. Nyonya Hong menyuruhnya datang. Ia pun kaget.



Hyun Woo menjenguk Jin Eon di rumah sakit. Hyun Woo protes karena Seol Ri dipecat dari kampus. Hyun Woo berkata, Jin Eon dan Seol Ri sama2 saling mencintai dan berbuat salah, jadi kenapa hanya Seol Ri yang dipecat? Hyun Woo juga berkata sudah tahu siapa Jin Eon. Dan ia memberitahu Jin Eon tentang dana yang akan diberikan Perusahaan Farmasi Cheon Nyeon, jika kampus memecat Seol Ri. Jin Eon kaget. Hyun Woo juga menyatakan kecurigannya kalau Seol Ri memang sengaja dipecat. Jin Eon sepertinya curiga itu perbuatan Hae Gang.


Hae Gang tiba di rumah Jin Eon dan langsung diolok2 Jin Ri. Hae Gang diam saja dan menghampiri ibu mertuanya yang sudah menunggunya dari tadi. Nyonya Hong menyuruh Hae Gang menandatangani surat perceraian. Hae Gang kaget dan menolak. Jin Ri pun memaksa Hae Gang membubuhkan cap stempelnya. Hae Gang menolaknya dengan keras, hingga akhirnya Presdir Choi datang membuat usaha Jin Ri terhenti. Hae Gang langsung menghadap ayah mertuanya. Wajahnya sangat pucat.


"Maafkan aku, ayah. Aku benar2 minta maaf." ucap Hae Gang.

Tepat saat itu, Jin Eon datang. Ia terdiam menatap Hae Gang.

"Ini salahku, aku terlalu arogan. Karena suamiku, kupikir dia akan mengerti. Sekali pun aku berkata tidak, kupikir dia akan tahu perasaanku, bahwa aku segala2nya baginya. Bahwa dia akan selalu menungguku. Aku mencintainya, ayah. Dia akan kembali. Dia akan kembali padaku, aku mengenalnya. Jadi jangan biarkan kami bercerai. Aku akan menunggu. Setahu, dua tahun aku akan menunggu sampai ia kembali." ucap Hae Gang sambil menitikkan air mata.

"Aku mengerti. Akan kulakukan sebisaku agar kalian tidak bercerai." jawab Presdir Choi kasihan melihat Hae Gang.


Jin Eon pun masuk dan menghadap ayahnya. Ia membuat pernyataan mengejutkan. Ia berkata akan bekerja untuk perusahaan. Tidak hanya itu, ia lalu berlutut dan mengatakan sesuatu yang menyakitkan.
"Tolong singkirkan orang ini ayah. Agar dia lenyap dari pandanganku. Agar aku tak perlu melihatnya lagi dan mengingatnya lagi. Kumohon, orang ini.. singkirkan dia ayah." pinta Jin Eon.


 Hae Gang syok mendengarnya. Lalu, dengan langkah gontai ia beranjak ke meja dan membubuhkan stempelnya di surat perceraian. Ya, ia menyerah. Nyonya Hong dan Presdir Choi kaget melihatnya. Setelah membubuhkan stempelnya, Hae Gang pergi tanpa berkata apa2. Sedangkan Jin Eon menangis.


Hae Gang berjalan ke mobilnya dengan langkah gontai. Dengan tangan bergetar, ia pun melajukan mobilnya. Namun baru sebentar ia memberhentikan mobilnya. Wajahnya pucat, napasnya tersengal2 dan dadanya terasa sesak. Hae Gang terus menarik napasnya sambil memegangi dadanya.

Bersambung ke episode 9

Komentar :
Satu kata buat episode kali ini.. so sad... mewek pas adegan Yong Gi dengan neneknya. Mewek pas adegan terakhir, saat Jin Eon memohon pada ayahnya, agar ayahnya menyingkirkan Hae Gang. Ia bilang tidak mau melihat Hae Gang lagi. Ia bahkan menyebut Hae Gang dengan sebutan orang ini.. sungguh teganya kau Choi Jin Eon.
Hae Gang dan Jin Eon ini sebenarnya saling mencintai... terlihat dari mata mereka... Tapi kenapa ya Jin Eon kekeuh mau cerein Hae Gang? Kalau sama Seol Ri mah bukan cinta itu namanya, Jin Eon bisa welcome gitu kan karena Seol Ri mirip dengan Hae Gang di masa lalu.
Dan terakhir gw penasaran hubungan Presdir Choi dengan Hae Gang.. kenapa Presdir Choi begitu kekeuh mempertahankan Hae Gang? Apa dia tau Hae Gang anaknya Ji Hoon? 

No comments:

Post a Comment