Thursday, March 24, 2016

Temptation Of An Angel Ep 5

Sebelumnya <<<


Ah Ran terkejut karena tidak mendapati Hyun Woo di kamarnya.

"Aku sudah bilang jangan keluar rumah. Kemana mereka pergi? Apa dia sudah sadar?"

Ah Ran lalu berlari dan mengecek Hyun Woo di setiap kamar, namun ia tak dapat menemukan Hyun Woo. Ia pun panik. Di tengah2 kepanikannya, Hyun Woo dan Jae Hee pun kembali. Hyun Woo berpura2 koma untuk mengelabui Ah Ran.


"Darimana saja kalian? Apa yang terjadi?" tanya Ah Ran sambil menatap tajam Jae Hee.

"Aku merasa bosan jadi aku pergi mencari udara segar. Karena aku takut keluargamu akan datang dan melihat dia sendirian, jadi aku terpaksa membawanya." jawab Jae Hee.

"Lalu kenapa dia terlihat begitu lelah?" tanya Ah Ran.

"Aku membuatnya melakukan beberapa latihan, itulah kenapa dia terlihat lelah." jawab Jae Hee.

"Apa kau pergi keluar hari ini?" tanya Ah Ran.

"Tidak." jawab Jae Hee.

Namun Ah Ran tak langsung mempercayai kata2 Jae Hee. Tapi walaupun begitu, ia tak lagi bicara panjang lebar pada Jae Hee. Ia menyuruh Jae Hee menyiapkan peralatan mandi Hyun Woo. Jae Hee pun mengangguk dan langsung melaksanakan perintah Ah Ran. Begitu Jae Hee pergi, Ah Ran langsung mendekati Hyun Woo.


"Katakan padaku! Apa kau yang menyuruh Suster Yoon pergi?" tanya Ah Ran marah.

"Benar. Aku yang menyuruhnya. Permainan yang sesungguhnya baru akan dimulai." batin Hyun Woo.

"Apa yang kau sembunyikan? Apa kau yang mengambil stempel perusahaan!" tanya Ah Ran lagi.

"Benar. Stempel perusahaan ada di tanganku." batin Hyun Woo.

"Kau sudah mati atau masih hidup! Kau ingin membuatku gila! Beritahu aku kalau kau masih hidup!" teriak Ah Ran.

Ah Ran lalu mengguncang2kan tubuh Hyun Woo, katakan! Katakan!

Namun Hyun Woo tetap diam saja, membuat Ah Ran makin kesal.

"Baiklah kalau begitu. Aku tidak peduli kau sadar atau tidak. Aku hanya ingin mengambil apa yang kuinginkan." ucap Ah Ran.


Hyun Woo kini sudah berbaring di ranjangnya. Ah Ran duduk disamping Hyun Woo. Ah Ran mengeluarkan sebuah dokumen dan berkata dia membutuhkan sidik jari Hyun Woo. Setelah mendapatkan sidik jari Hyun Woo, ia tersenyum puas dan berkata pemilik Soul Furniture sekarang dirinya. Ia kemudian menelpon Joo Seung dan berkata semua sudah selesai sekarang. Namun Joo Seung mengatakan sesuatu yang mengejutkan Ah Ran. Joo Seung berkata Ah Ran hamil.

Ah Ran pun kaget, apa? Aku hamil? Aku hamil anak Shin Hyun Woo?

Hyun Woo yang mendengar itu juga kaget.

"Aku akan menggugurkan janin ini. Hanya memikirkannya saja, bahwa aku mengandung darah daging Shin Hyun Woo, membuatku ingin mati. Tolong bantu aku." jawab Ah Ran.


Ah Ran lalu menatap tajam ke arah Hyun Woo.

"Takdir kita begitu rumit. Aku bahkan mengandung anakmu sekarang. Tapi jangan cemas. Aku tidak akan melahirkan anak ini yang orang tuanya saling membenci sampai mati." ucap Ah Ran.


Ah Ran lalu beranjak pergi. Begitu Ah Ran pergi, Hyun Woo langsung mengamuk. Ia berteriak dan membanting semua barang di sekelilingnya. Sementara itu, Jae Hee mengantar Ah Ran keluar. Sebuah mobil hitam tiba2 datang dan dua orang pria turun dari mobil.


"Mulai hari ini mereka akan menjaga tempat ini. Jangan berpikir kau bisa pergi tanpa izin dariku." ucap Ah Ran.

"Kenapa kau melakukan ini? Ini terlalu berlebihan." protes Jae Hee.

"Jika kau merasa tidak nyaman, kau boleh keluar sekarang." jawab Ah Ran.


Jae Hee pun terdiam..

"Jika ada sesuatu yang penting, kau bisa meminjam ponsel mereka." ucap Ah Ran lagi.


Ah Ran lalu beranjak pergi. Jae Hee terlihat kesal. Ia lantas melaporkan hal itu pada Hyun Woo. Hyun Woo pun langsung memutar otaknya. Jae Hee mengusulkan melaporkan mereka pada polisi. Namun ditolak Hyun Woo.

"Kalau kita memberitahukan ini pada keluargamu, aku takut mereka akan terluka. Kita tidak pernah tahu apa yang sanggup dilakukan istrimu." ucap Jae Hee lagi.

Hyun Woo tetap diam. Matanya memancarkan sinar kemarahan yang begitu besar. Ia bertekad membongkar satu per satu kejahatan yang dilakukan Ah Ran. Ia juga berkata tidak akan pernah memaafkan Ah Ran.


Ah Ran menyerahkan dokumen dengan cap Hyun Woo pada Joo Seung. Ia menyuruh Joo Seung menyerahkan dokumen itu pada pengacara.

"Setelah Presdir kembali, dia akan melihat ini. Apa yang akan kau lakukan?" tanya Joo Seung.

"Aku yakin Tuhan akan menolong kita. Stempel Hyun Woo sudah hilang, akan sulit bagi ayah untuk melakukan apapun." jawab Ah Ran.


Presdir Shin dan istrinya akhirnya kembali dari liburan mereka. Begitu tiba di rumah, hal yang pertama kali ditanyakan Nyonya Jo adalah Hyun Woo. Presdir Shin pun kesal karena Nyonya Jo selalu menanyakan hal yang sama berulang2.

"Jangan cemas, ibu. Tidak ada hal buruk yang terjadi." jawab Ah Ran.

"Ah Ran, kau tahu dimana stempel Hyun Woo?" tanya Presdir Shin.

"Stempel Hyun Woo? Sebenarnya aku juga mencarinya, tapi aku tidak bisa menemukannya. Sepertinya Hyun Woo menyimpannya di tempat lain." jawab Ah Ran.

"Apa? Lalu bagaimana? Aku ingin perusahaanku kembali, kenapa jadi begitu rumit." ucap Presdir Shin.

Hyun Min pun kaget, apa maksud ayah?


"Kita tidak tahu kapan Hyun Woo akan sadar. Atau mungkin dia tidak akan pernah sadar. Jadi aku yang akan mengurus perusahaan." jawab Presdir Shin.

Presdir Shin lalu meminta Ah Ran memberikan semua yang berhubungan dengan perusahaan padanya. Ah Ran langsung memasang tampang sedih.

"Aku akan memang akan mengembalikannya padamu, tapi hatiku sedih karena kau memaksaku seperti ini. Aku sudah banyak menolongmu, ayah." ucap Ah Ran.


"Benar ayah, berikan Hyungsoo-nim waktu." pinta Hyun Min.

"Apa ayah mau menendangnya keluar?" tanya Hyun Ji.

"Kalian berdua, apa yang kalian ketahui! Aku bisa saja memberikan uangku pada menantuku, tapi aku tidak bisa menyerahkan perusahaan." jawab Presdir Shin, lalu pergi.


Ah Ran menangis. Nyonya Jo langsung mendekati Ah Ran. Ia merasa tidak enak pada Ah Ran. Namun Ah Ran terus berpura2 sedih. Ia berkata tidak peduli seberapa keras ia mencoba, dirinya tetaplah menantu yang tidak memiliki hubungan darah dengan mereka.


"Tanpa Shin Hyun Woo di rumah ini, aku bukanlah siapa2." ucap Ah Ran lalu berlari ke dapur.
Nyonya Jo pun langsung menyusul Ah Ran, ditemani Hyun Ji. Ah Ran pun mual lagi. Hyun Ji langsung yakin kalau Ah Ran sedang hamil. Ah Ran menyangkal. Ia berkata tidak memiliki waktu banyak dengan Hyun Woo.

"Kenapa tidak? Banyak pasangan memiliki anak hanya dalam semalam." jawab Hyun Ji.


Presdir Shin pun datang, apa yang kalian bicarakan? Ah Ran hamil? Kau harus membawanya ke klinik, tidak peduli berita baik atau buruk.

"Aku tidak...."

"Lakukan saja apa yang kukatakan. Siapa tahu kau benar2 mengandung pewaris Shin." jawab Presdir Shin.


Ah Ran pun menemui Joo Seung. Joo Seung sangat marah, apa kau akan melahirkan anak itu! Apa kau akan menggunakannya untuk merebut warisan keluarga Shin!

"Jangan salah paham! Aku tidak pernah bilang kan akan melahirkan anak ini. Yang aku butuhkan hanyalah surat keterangan kalau aku hamil." jawab Ah Ran.

"Setelah itu kau akan melakukan aborsi dan berpura2 mengandung anak Shin Hyun Woo?" tanya Joo Seung.

"Yang mereka inginkan hanyalah anak ini. Bukankah ini kesempatan yang bagus? Aku akan menggunakan anak ini untuk mengambil kepercayaan mereka. Setelah itu, aku akan menghancurkan mereka ketika mereka lengah." jawab Ah Ran.


Ah Ran ditemani ibu mertuanya pergi ke dokter kandungan. Ah Ran pura2 senang saat dokter memberitahu dirinya hamil. Dokter lantas memberikan foto hasil USG Ah Ran ke Nyonya Jo.
Setibanya di rumah, Nyonya Jo memberikan foto hasil USG itu ke Presdir Shin. Presdir Shin menatap foto hasil USG itu tidak percaya. Ah Ran lantas memberikan semua dokumen perusahaan ke Presdir Shin.


"Mulai sekarang, jangan pikirkan apapun. Pikirkan saja anak yang ada di kandunganmu." ucap Presdir Shin.

"Hyun Woo pasti akan senang dengan kabar baik ini. Aku akan ke villa dan memberikan foto ini padanya. Walaupun dia masih belum sadar, tapi dia pasti bisa merasakan ini darah dagingnya." jawab Nyonya Jo.

Ah Ran pun tersenyum senang karena berhasil menipu mereka.


Sekarang Nyonya Jo sedang memperlihatkan foto hasil USG itu ke Hyun Woo. Ah Ran yang berdiri di belakang menatap Nyonya Jo dengan kesal. Air mata Nyonya Jo pun mengalir saat memberitahu kehamilan Ah Ran pada Hyun Woo. Nyonya Jo berkata masih ada keajaiban di dunia ini, di dunia yang gelap ini....

"Ibu, jangan menangis. Hyun Woo pasti akan sadar. Dia akan memeluk bayinya sendiri, memberikan nama pada bayinya dan menjadi ayah terhangat dunia." ucap Ah Ran.


Ah Ran lalu melepas kalungnya dan menatap Hyun Woo.

"Hyun Woo-ssi, kalung yang kau berikan sebagai hadiah ulang tahunku adalah membawa banyak keberuntungan buatku. Sekarang aku akan membagikan keberuntungan itu padamu. Jadi bangunlah." ucap Ah Ran sambil memasangkan kalung itu di leher Hyun Woo.

"Apa kau tidak bisa melihat bagaimana hancurnya hatiku saat ini? Kau bisa melihatku kan? Kau bisa mendengarku? Kau tidak melupakanku? Meskipun hanya sekali, aku mohon panggil aku ibu."


Tangis Nyonya Jo pun pecah. Ah Ran langsung memegangi Nyonya Jo.

"Ibu, kau bisa sakit kalau begini. Sebaiknya kita pulang sekarang." ucap Ah Ran.

Ah Ran pun memapah Nyonya Jo keluar. Begitu mereka pergi, Hyun Woo menangis dan memanggil2 ibunya. Perhatiannya lalu teralih pada foto hasil USG yang diletakkan sang ibu di tangannya. Sinar kemarahan kembali terlihat di matanya.


"Aku tidak akan memaafkannya! Dia harus membayar semua ini!" batin Hyun Woo sambil meremas foto hasil USG itu.


Sekarang... Hyun Woo kembali latihan berjalan. Dengan susah payah ia menggerakkan kakinya.


Waktu terus berlalu.. Para pengawal tampak berjaga2 di depan pintu. Jae Hee mengendap2 membawa Hyun Woo ke ruang latihan. Dengan susah payah Hyun Woo berusaha menggerakkan otot2 lengannya.


Hyun Woo tak membutuhkan waktu lama untuk memulihkan kesehatannya.

Tak hanya memulihkan kesehatannya, Hyun Woo juga mempelajari semuanya.

--- 1 Bulan Kemudian ----


Hyun Woo sudah pulih total! Ia berdiri menghadap jendela ketika Jae Hee datang membawakan makanan untuknya. Hyun Woo tersenyum menatap Jae Hee.

"Kenapa kau membawakan ini lagi padahal aku baru saja makan." protes Hyun Woo lembut.

"Ini hanya buah." jawab Jae Hee.


"Hari ini aku akan pergi ke Seoul." ucap Hyun Woo.

Jae Hee kaget, Seoul?

"Aku rasa lebih baik bagiku untuk pergi sendiran ke sana. Aku tidak bisa membuang2 waktu lagi. Aku akan menemui Hyun Min hari ini dan menceritakan semuanya." jawab Hyun Woo.

"Kalau begitu aku akan ikut denganmu." ucap Jae Hee.

"Jangan. Kita tidak tahu kapan orang itu akan datang ke sini, jadi lebih baik kalau satu dari kita berada di sini. Aku akan ke sana sendirian." ucap Hyun Woo.


Hyun Woo lalu memegang kedua tangan Jae Hee dan mengucapkan terima kasih. Ia berkata berkat Jae Hee, ia bangun dari komanya.

"Aku tidak akan melupakan jasamu. Kau sudah menyelamatkanku. Dan kau selalu ada untukku." ucap Hyun Woo.

Jae Hee tersenyum simpul dan berkaca2 menatap Hyun Woo.


"Kau akan kembali dengan selamat kan? Jangan kehilangan apapun, walaupun hanya sehelai rambutmu. Jika sesuatu terjadi padamu, aku mungkin tidak akan bisa melanjutkan hidupku lagi. Kembalilah dengan selamat." batin Jae Hee.


Jae Hee lalu bertanya bagaimana caranya Hyun Woo bisa keluar dari sana. Hyun Woo pun menunjukkan sebuah jalan rahasia yang bisa membawanya keluar dari sana. Ia berkata tidak ada seorang pun yang tahu jalan rahasia itu kecuali anggota keluarga. Hyun Woo pun beranjak pergi.
Sementara itu, Jae Hee mengalihkan perhatian para pengawal dengan memberi mereka minuman. Disaat pengawal yang disewa Ah Ran lengah, Hyun Woo melarikan diri.


Sekarang Hyun Woo berada di dalam taksi. Ia mengeluarkan tangannya dari jendela dan merasakan hembusan angin.


Adegan lalu berpindah ke toko Hyun Min. Yeon Jae duduk dan berbaring di salah satu sofa. Ia lalu berkata sofa itu adalah cinta pertamanya. Setelah itu ia berdiri dan berbicara sendiri seolah2 sedang melayani costumer.

"Selera anda sangat bagus, Nyonya. Sofa ini adalah produk terbaik di toko kami."


Yeon Jae pun langsung berhenti main2 ketika Hyun Woo datang. Hyun Woo mencari Hyun Min. Yeon Jae pun bilang kalau Hyun Woo bisa menitipkan pesan padanya karena Hyun Min belum datang.

"Aku akan melihat2 dulu. Kau bisa kembali ke pekerjaanmu." jawab Hyun Woo.


Hyun Woo lantas pura2 membaca koran. Ketika Yeon Jae lengah, ia menuliskan sesuatu di kertas. Beberapa menit kemudian, ia dikejutkan dengan kedatangan Ah Ran. Ia pun buru2 merobek pesan yang ditulisnya untuk Hyun Min.


"Ah Ran, kenapa kau datang sepagi ini?" sapa Yeon Jae.

"Aku ingin meminta sesuatu darimu. Sejak suamiku kecelakaan, adik iparku terus saja mencari tahu latar belakangku. Mungin dia takut berbagi warisan denganku. Jadi bisakah kau memberitahuku angka penjualan produk kita minggu ini?" ucap Ah Ran.


Yeon Jae pun kaget. Sementara itu, Hyun Woo kembali memakai maskernya dan mendengarkan pembicaraan mereka diam2. Ah Ran berkata kalau dia sangat peduli pada perusahaan, tapi ayah mertua dan kakak iparnya tidak mempercayainya.

"Ini bukan karena aku serakah. Aku benar2 ingin mengurus perusahaan sampai suamiku bangun." ucap Ah Ran lagi.

Yeon Jae pun percaya! (alamaaak!!)

"Kau baik sekali. Jangan khawatir. Aku akan membantumu. Ini masalah kecil buatku. Kau mendapat banyak masalah karena suamimu koma." ucap Yeon Jae.

Ah Ran berseru senang, terima kasih Yeon Jae!

Disaat Ah Ran sibuk dengan urusannya, Hyun Woo menggunakan kesempatan itu untuk pergi. Ah Ran sama sekali tidak melihat Hyun Woo, saat Hyun Woo berjalan melewatinya. Yeon Jae lah yang melihat Hyun Woo.

"Kenapa dia pergi? Dia customer pertama kita hari ini. Tapi wajahnya tidak begitu asing." ucap Yeon Jae.

Hyun Woo ternyata belum pergi. Ia terus memata2i Ah Ran. Ah Ran melihat Hyun Woo saat ia hendak masuk ke mobilnya. Hyun Woo langsung pergi. Ah Ran mengejar Hyun Woo. Hyun Woo pun berlari dengan kaki yang masih pincang.

Hyun Woo melompat ke salah satu gang sempit. Sialnya, ada seekor anjing yang diikat di sana. Anjing itu menyalak pada Hyun Woo.


Hyun Woo lalu pergi ke lokernya. Ia mengambil dokumen dan benda2 berharga miliknya di sana. Setelah itu, Hyun Woo membawa dokumen dan berkonsultasi dengan seorang pengacara.
Setelah itu, Hyun Woo pergi ke klub tempat Ah Ran dulu pernah bekerja. Hyun Woo memohon pada pelayan, agar pelayan memberinya sesuatu yang berhubungan dengan Ah Ran. Pelayan itu awalnya keberatan, tapi akhirnya ia bersedia membantu Hyun Woo. Ia berkata managernya memiliki CD saat Ah Ran menari.

Hyun Woo juga menelpon seseorang.

"Aku saksi dari kecelakaan yang terjadi tanggal 13 Oktober lalu. Aku punya hadiah untukmu." ucap Hyun Woo.


Hyun Woo kemudian pergi ke rumah sakit Joo Seung. Ia berdiri di depan rumah sakit Joo Seung. Matanya menatap rumah sakit itu dengan tajam. Lalu ketika terdengar suara Joo Seung dan Ah Ran, ia buru2 bersembunyi.

"Bagaimana mungkin kau bisa tiba2 melihat Hyun Woo di Seol." ucap Joo Seung tidak percaya.

"Apa aku akan di operasi hari ini? Aku sangat sibuk sehingga tidak bisa mengurus diriku." ucap Ah Ran.

"Itu akan sangat berbahaya." jawab Joo Seung.

Ah Ran pun terdiam, membuat Joo Seung curiga.

"Apa kau berencana melahirkan anak itu?"


Ah Ran marah, jangan pernah berpikir kalau aku akan melahirkan darah daging Shin Hyun Woo. Hidup Shin Hyun Woo akan sangat menyedihkan seperti pengemis. Tidak akan ada yang menangisinya. Tidak akan ada yang mengasihaninya. Melahirkan anak ini hanya akan menciptakan tragedi baru."

"Aku mengerti, maafkan aku."


Lalu tiba2, Ah Ran merasakan sesuatu di perutnya. Ia pun langsung memegangi perutnya.

"Ada apa?" tanya Joo Seung.

"Kurasa dia sedang bergerak. Ini pertama kalinya aku merasakan hal ini." jawab Ah Ran.


Wajah Joo Seung pun berubah kesal. Joo Seung lalu mengajak Ah Ran pergi menemui dokter. Begitu mereka pergi, Hyun Woo langsung keluar dari persembunyiannya dan menatap mereka dengan panik. Hyun Woo pun mencari taksi dan mengikuti mereka.


Ah Ran dan Joo Seung masuk ke rumah sakit tanpa sadari diikuti oleh Hyun Woo. Hyun Woo menatap Ah Ran yang masuk ke ruangan operasi dengan mata berkaca2.

"Anakku, maafkan aku. Aku tidak bisa melindungimu." ucap Hyun Woo.

Beberapa saat kemudian, pandangan Hyun Woo pun berubah menjadi tajam.

"Joo Ah Ran, kau akan membayar semua inii. Kau akan mendapatkan hukuman." batinnya.

Ia pun beranjak pergi. Saat menuruni tangga, ia berpapasan dengan Joo Seung. Joo Seung melihat ke arah Hyun Woo namun ia tak sadar kalau pria yang berpapasan dengannya adalah Hyun Woo. Sementara Hyun Woo sendiri tidak sadar dirinya berpapasan dengan Joo Seung.


Hyun Woo lantas pulang ke rumahnya. Ia pun tertegun melihat plang nama ayahnya di depan rumah. Matanya pun mulai berkaca. "Ayah, ibu. Aku disini." ucapnya.


Sementara itu Joo Seung dan Ah Ran masih di perjalanan. Ah Ran tampak lemas. Joo Seung menyuruh Ah Ran istirahat di rumahnya, tapi Ah Ran menolak. Ah Ran juga melarang Joo Seung menurunkannya di depan rumah Hyun Woo. Ia takut ada yg melihat mereka nanti. Joo Seung pun menurunkan Ah Ran di pinggiran jalan tak jauh dari rumah Hyun Woo.

"Jangan pikirkan apapun dan istirahatlah." suruh Joo Seung.


Ah Ran pun tersenyum. Ia lalu turun dari mobil Joo Seung. Dengan tubuhnya yang lemas, ia berjalan menuju rumah Hyun Woo. Langkahnya pun terhenti melihat seseorang berdiri di pintu pagar.

"Siapa kau?" tanya sambil mendekati Hyun Woo.

Perlahan Hyun Woo mengenakan maskernya dan... KABUR.

Ah Ran pun kaget, Shin Hyun Woo!


Ah Ran lalu berlari mengejar Hyun Woo. Hyun Woo berlari kencang sambil memegangi kakinya yang masih terasa sakit. Sebuah sepeda nyaris menabrak Hyun Woo. Hyun Woo terus berlari ke jalan. Ia pun nyaris saja ditabrak sebuah mobil. Sebuah taksi pun lewat. Saat Hyun Woo hendak masuk ke taksi, Ah Ran menahannya.

"Siapa kau? Perlihatkan wajahmu!" pinta Ah Ran.

Hyun Woo menghempaskan tangan Ah Ran. Saat itulah, tanpa sengaja Ah Ran mencakar tangan Hyun Woo. Hyun Woo buru2 masuk ke taksi. Begitu taksi berjalan, ia menutupi wajahnya dengan lengannya.

"Aku sangat yakin itu Shin Hyun Woo." ucap Ah Ran sambil menatap kepergian Hyun Woo.


Ah Ran lalu menyetop taksi lain dan berusaha mengejar Hyun Woo. Mereka pun saling berkejar2an di jalanan.


"Tolong cepatlah! Aku akan memberitahumu jalan pintas!" ucap Hyun Woo pada sang supir.
Taksi Hyun Woo dan Ah Ran sama2 melaju kencang di jalanan. Ketika di lampu merah, Hyun Woo berhasil lolos. Taksinya terus melaju beberapa detik sebelum lampu merah menyala. Ah Ran mendengus kesal karena dirinya terjebak di lampu merah. Ia pun menelpon Joo Seung.

"Aku melihat Shin Hyun Woo. Aku tidak bohong! Aku melihat dia di berdiri di depan pintu! Aku akan ke villa sekarang. Aku yakin Hyun Woo sudah sadar." ucap Ah Ran.


Presdir Shin berbicara dengan Seketaris Kang. Ia bertanya siapa yang lebih pantas mengurus perusahaan? Apakah dirinya lebih pantas daripada Ah Ran? Seketaris Kang mengiyakan. Presdir Shin pun berkata lagi kalau Ah Ran tidak akan menusuknya dari belakang.

"Dia bahkan sedang mengandung cucuku. Dia bagian dari keluarga ini sekarang." ucap Presdir.

Tak lama kemudian, Hyun Ji datang membawakan secangkir minuman. Presdir Shin menyuruh Hyun Ji meletakkan dokumen yang diperiksanya tadi ke kamar Ah Ran.

Saat meletakkan dokumen itu atas meja, Hyun Ji tidak sengaja menendang tong sampah Ah Ran. Sampah2 kertas pun berserakan. Ia pun terkejut saat menemukan resep obat diantara sampah2 itu.
"Bukankah wanita hamil tidak boleh minum obat sembarangan?" ucapnya heran.

Ia pun semakin terkejut saat menemukan robekan hasil foto USG.


Ah Ran sudah sampai di villa. Ia heran saat pengawal yang disewanya berkata tidak ada seorang pun yang keluar meninggalkan villa. Yakin kalau yang dilihatnya adalah Hyun Woo, ia pun mengendap2 masuk ke villa. Ia ingin memastikannya sendiri. Betapa kagetnya ia saat membuka pintu, ia menemukan Jae Hee sedang mengurus Hyun Woo.

"Ada apa ini? Jika laki2 itu memang Hyun Woo, dimana topi dan pakaian yang ia kenakan tadi?" batin Ah Ran.


Ah Ran lalu ingat ketika dirinya tidak sengaja mencakar tangan Hyun Woo. Ia pun langsung memeriksa tangan Hyun Woo.

"Apa ini? Ada dia terluka?" tanya Ah Ran menemukan plester di tangan Hyun Woo.

"Dia terluka saat aku memberinya suntikan.' jawab Jae Hee.

Tak percaya dengan Jae Hee, Ah Ran pun membuka plester itu dan terkejut melihat luka cakaran di tangan Hyun Woo. Ah Ran langsung menatap Jae Hee.

"Apa kau yakin? Tidak ada yang kau sembunyikan dariku?" tanya Ah Ran.

"Tentu saja. Aku kan sudah berjanji akan mematuhi perintahmu." jawab Jae Hee gugup.

"Baiklah, aku percaya padamu." ucap Ah Ran.


Ah Ran pun beranjak pergi. Begitu Ah Ran pergi, Jae Hee langsung terduduk lemas. Ah Ran lantas menengok keluar jendela. Yakin Ah Ran sudah pergi, ia pun memberitahu Hyun Woo.

"Terima kasih." ucap Hyun Woo ke Jae Hee.

"Kau tidak akan pergi lagi kan? Aku sangat cemas. Jantungku rasanya seperti melompat2." jawab Jae Hee.

"Maafkan aku karena sudah membuat cemas." ucap Hyun Woo.


Jae Hee lalu memapah Hyun Woo keluar. Tanpa mereka sadari, seseorang mengintip mereka dari balik jendela. Orang itu, AH RAN! Ah Ran terkejut melihat Hyun Woo yang sudah pulih. Ah Ran lantas dikejutkan oleh Joo Seung. Ah Ran pun mengajak Joo Seung mengikuti Hyun Woo.


Jae Hee membawa Hyun Woo ke ruang latihan. Mereka tak sadar, di belakang Ah Ran dan Joo Seung melihat mereka. Tanpa sengaja, Ah Ran dan Joo Seung membuat keributan. Hyun Woo pun kaget. Jae Hee lantas pergi memeriksa keluar.

"Tidak ada siapa2. Hanya ada orang2 yang menjaga pintu gerbang." ucap Jae Hee.


Sementara itu di luar, Joo Seung dan Ah Ran sedang membahas Hyun Woo.

"Apa yang harus kita lakukan? Mereka sudah menipu kita. Aku yakin mereka punya rencana besar." ucap Ah Ran.

"Lalu Suster Yoon tahu rencana ini dan dia merahasiakannya dari kita?" tanya Joo Seung.

"Seharusnya aku memecatnya dari awal saat aku mencurigainya." jawab Ah Ran.

Tanpa sengaja Joo Seung menemukan 'jalan rahasia' yang selama ini digunakan Hyun Woo untuk keluar masuk villa. Mereka terkejut bukan main. Joo Seung tidak menyangka ada jalan rahasia di villa itu. Ia mengaku tidak mengetahui jalan rahasia itu.

"Jangan sampai dia menghubungi keluarganya." ucap Joo Seung.

Joo Seung lalu memberikan alat penyadap pada Ah Ran.

"Aku sengaja membawanya karena takut kalau2 dia sadar. Selama kita bisa mengetahui apa yang terjadi di dalam, kita bisa menyiapkan serangan balasan." ucap Joo Seung.

"Kau benar. Kenapa tidak terpikirkan olehku." jawab Ah Ran.


Ah Ran dan Joo Seung lantas mengendap2 masuk ke kamar Hyun Woo. Joo Seung memasang alat penyadap itu di sisi tempat tidur Hyun Woo.


Sekarang... Joo Seung sudah berada di apartemennya. Ia duduk bersama Ah Ran mendengarkan percakapan Hyun Woo dan Jae Hee.

"Istirahat lah. Akan kumatikan lampunya." ucap Jae Hee.

"Jangan matikan lampunya. Berbaring seperti ini membuatku ingat kecelakaan yang terjadi malam itu. Aku takut." jawab Hyun Woo.

"Aku akan menemanimu sampai kau tertidur. Jangan cemas dan tutuplah matamu." ucap Jae Hee.


Adegan pun berpindah pada Hyun Woo dan Jae Hee.

"Aku sudah melapor pada polisi tentang kecelakaan malam itu. Mereka akan segera memeriksa Joo Ah Ran." ucap Hyun Woo.

"Benarkah?" tanya Jae Hee.

"Aku bilang aku mendengar nama Joo Ah Ran hari itu. Aku yakin dia akan menjadi tersangka. Aku juga pergi ke klub tempat dia bekerja dulu. Aku akan membongkar kejahatannya satu per satu." jawab Hyun Woo.

"Kau melakukannya dengan baik. Lalu kau akan kembali ke rumah mu?" tanya Jae Hee.

"Sebelum kembali ke rumah, ada satu hal yang harus kupastikan. Aku penasaran kenapa wanita itu menginginkan kematianku." jawab Hyun Woo.


Sekarang kita kembali ke Joo Seung dan Ah Ran. Keduanya kaget mendengar kata2 Hyun Woo.

"Hal yang lebih buruk dari yang kita duga. Polisi akan segera menangkapmu." ucap Joo Seung.

"Dia menipu kita. Dia bahkan memiliki CD masa laluku. Orang2 akan segera tahu latar belakangku. Joo Seung-sii, apa yang harus kulakukan" jawab Ah Ran.

Joo Seung lantas memeluk Ah Ran erat2.

"Kita tidak boleh putus asa. Kita sudah tahu rencana Hyun Woo sekarang, jika kita memikirkannya dengan hati2, kita pasti menemukan jalan keluar." ucap Joo Seung.

"Aku takut. Bagaimana kalau polisi menangkapku?" tanya Ah Ran.


Keesokan paginya... Hyun Ji dan Nyonya Jo berniat menjenguk Hyun Woo. Presdir Shin pun melarang istrinya pergi jika istrinya hanya akan menangis. Nyonya Jo pun berkata hal itu tidak akan terulang lagi. Hyun Min juga ingin ikut mengunjungi kakaknya.


Hyun Woo sedang membuat sesuatu. Begitu tahu Jae Hee datang, ia langsung menyembunyikannya dibawah selimut. Jae Hee datang membawakan makanan untuk Hyun Woo. Hyun Woo lalu memberikan hadiah pada Jae Hee. Sebuah boneka kayu.

"Bukankah ini boneka kayu? Aku ingat. Saat aku masih kecil, kau sering membuatkan diriku boneka seperti ini." ucap Jae Hee girang.

Hyun Woo pun tersenyum menatap Jae Hee.

"Tubuhku terasa lebih baik setelah aku tidur. Aku juga dapat melakukan latihan lebih banyak dan lebih banyak makan makanan yang padat." ucap Hyun Woo.

"Itu bagus. Sekarang habiskan sarapanmu. Setelah itu, kita akan pergi ke ruang bawah tanah." jawab Jae Hee.


Ah Ran sedang di kantor, seketarisnya melaporkan tentang penjualan mereka yang meningkat dua kali lipat.

"Benarkah?" tanya Ah Ran.

Ah Ran lalu berkata lagi, jika ada yang ingin melihat buku keuangan ini, tunjukkan buku yang pertama. Karena ada sedikit masalah jadi kita membutuhkan dua buku.

Seketaris pun mengiyakan sambil menatap aneh Ah Ran. Setelah seketarisnya pergi, Ah Ran langsung menyimpan buku keuangan itu di dalam brankasnya.


Nyonya Jo, Hyun Ji dan Hyun Min sudah sampai di villa. Namun mereka dilarang masuk oleh pengawal yang disewa Ah Ran. Hyun Min pun marah. Salah seorang pengawal berkata mereka tidak boleh masuk tanpa seizin Ah Ran.

"Tidak boleh masuk? Apa maksudmu? Kami keluarga pasien. Menantuku ada di dalam kan? Cepat panggil dia." ucap Nyonya Jo.

"Hanya ada pasien dan perawatnya di dalam." jawab pengawal itu.

Hyun Ji pun heran, tidak mungkin. Bukankah Eonni bilang akan bermalam di sini?

"Apa ada dokter di dalam?" tanya Hyun Min.

"Dokter? Tidak ada dokter disini." jawab pengawal itu.

"Apa maksudmu? Kakak iparku tidak ada di sini. Dan dokter juga tidak ada?" ucap Hyun Min kaget.
Hyun Min lantas menelpon Ah Ran. Ah Ran yang masih berada di kantor pun kaget mengetahui mereka ada di villa.



"Hyungsoo-nim, dimana kau sekarang. Bukankah kau bilang akan bermalam disini?" tanya Hyun Min.

Ah Ran pun kaget mengetahui keluarga Hyun Woo datang ke villa.

"Ada sedikit masalah di toko, jadi aku kesini pagi2 sekali. Dan orang2 itu adalah pengawal yang aku sewa untuk membantu Suster Yoon. Bisakah aku bicara dengan mereka?" jawab Ah Ran.


Sementara itu di dalam, Hyun Woo masih latihan ditemani Jae Hee. Tiba2, Hyun Woo mengiris kesakitan sambil memegangi dadanya membuat Jae Hee panik. Hyun Woo kemudian tertawa, membuat Jae Hee bingung. Beberapa saat kemudian barulah ia menyadari Hyun Woo sedang mengerjainya.

Tiba2, terdengar sebuah suara. Keduanya pun panik...

"Ada yang datang. Apa yang harus kita lakukan?" tanya Jae Hee.

"Jangan keluar. Akan sangat berbahaya kalau kita keluar." jawab Hyun Woo.


Hyun Min, Hyun Ji dan Nyonya Jo masuk ke kamar Hyun Woo. Para pengawal menyertai mereka. Mereka pun kaget karena tidak mendapati Hyun Woo di kamar itu.

"Dimana Hyun Woo? Dia bahkan tidak bisa bergerak, kenapa dia tidak ada di tempat tidurnya!" tanya Nyonya Jo marah.

"Dia pasti ada di kamar mandi. Suster Yoon bilang akan membawanya ke kamar mandi." jawab salah seorang pengawal.
 
Mereka pun mengecek ke kamar mandi, namun tetap tidak menemukan Hyun Woo di sana. Mereka pun cemas. Sementara itu di kantor, Ah Ran juga cemas. Ia takut rahasianya terbongkar jika mereka melihat Hyun Woo sudah sadar.


 Para pengawal tidak dapat menemukan Hyun Woo. Nyonya Jo pun panik. Ia takut terjadi sesuatu yang buruk pada Hyun Woo. Hyun Min pun merasa ada yang aneh. Tidak ada dokter disana, ditambah dengan Ah Ran yang juga tidak disana.


Hyun Ji lantas menelpon Ah Ran (aiiih, gemes ah! Ngapa dikit2 nelpon Ah Ran sih!)

"Dimana kakakku? Apa yang terjadi?" tanya Hyun Ji.

"Suster Yoon tadi menelponku. Dia bilang dia membawa Hyun Woo pergi jalan2. Dia tidak mengatakan apapun padaku sebelumnya." jawab Ah Ran.

Usai bicara dengan Ah Ran, Hyun Ji pun marah. Ia berkata bagaimana bisa Jae Hee membawa Hyun Woo pergi keluar tanpa izin dari mereka. Nyonya Jo pun mengajak anak2nya pulang. Nyonya Jo juga menyuruh anak2nya menelpon Ah Ran agar Ah Ran segera pulang.


Setelah mereka semua pergi, Jae Hee mengendap2 membawa Hyun Woo kembali ke dalam. Ia pun terkejut karena tiba2 para pengawal itu muncul di hadapannya. Pengawal itu marah2.

"Jangan pergi kemana pun sampai nyonya tiba di sini!" teriak pengawal itu.

"Apa yang harus kita lakukan? Kita sudah keluar beberapa jam. Aku yakin istrimu akan menyadarinya sekarang." ucap Jae Hee ketika sudah berdua dengan Hyun Woo di kamar.

"Cepat atau lambat dia pasti akan mengetahuinya." jawab Hyun Woo.

"Seandainya kita tahu yang datang keluargamu, kita bisa menceritakan kalau kau sudah sadar." ucap Jae Hee.


Sementara itu, Ah Ran dan Joo Seung sedang mendengarkan percakapan Jae Hee dan Hyun Woo.

"Bagaimana caranya agar kita bisa keluar dari sini? Aku punya teman dekat di Seol. Kita bisa melanjutkan pengobatanmu di sana dan kau bisa kembali ke rumahmu." ucap Jae Hee.

Ah Ran pun kaget mendengarnya. Ia marah2. Joo Seung pun berusaha menenangkan Ah Ran. Joo Seung bilang yang terpenting sekarang menenangkan keluarga Hyun Woo.

"Villa itu sudah tidak aman sekarang! Mereka bisa kapan saja keluar lewat jalan rahasia dan keluarganya bisa datang sewaktu2!" ucap Ah Ran.

"Berikan aku sedikit waktu. Aku akan membuat rencana baru." jawab Joo Seung.


Sekarang.... Ah Ran sedang disidang oleh keluarga Hyun Woo.

"Apa yang terjadi? Tidak ada dokter disana dan kau tiba2 menyewa pengawal. Apa ada sesuatu yang tidak kami ketahui?" tanya Presdir Shin.


"Jelaskan pada kami sekarang! Kakakku tidak mungkin pergi sejauh itu!" bentak Hyun Min.

Sementara Hyun Ji menatap tajam Ah Ran.

"Aku minta maaf karena tidak mengatakannya padamu dari awal. Sebenarnya Dokter dari Amerika sudah menyerah mengobati Hyun Woo. Dia sudah kembali ke USA. " jawab Ah Ran.

"Apa? Dia pergi? Jadi kau meninggalkan Hyun Woo sendirian di villa tanpa dokter?" ucap Nyonya Jo kaget.


"Eonni, kenapa kau melakukan ini? Apa kau benar2 menginginkan kesembuhan kakakku? Kenapa kau meninggalkan kakakku di kota terpencil!" ucap Hyun Ji.

"Aku tidak tahu akan begini jadinya! Tapi aku tidak akan menyerah. Meskipun para dokter menyerah, aku percaya pada Hyun Woo. Sekarang aku sedang mengandung darah dagingnya jadi bagaimana mungkin aku menyerah." jawab Ah Ran.


"Lalu apa rencanamu sekarang? Apa kau akan tetap membiarkan Hyun Woo sendirian disana?" tanya Presdir Shin.

"Aku akan membawa Hyun Woo ke Amerika." jawab Ah Ran.

"Apa? Amerika?" kaget Nyonya Jo.
 
"Benar. Tidak peduli seberapa cemasnya kau pada Hyun Woo, aku lebih mencemaskannya. Dia suamiku, ayah dari anakku. Tanpa dia, anak ini dan bahkan Soul tidak berarti apa2. Aku sudah mencari rumah sakit terbaik di Amerika. Aku akan membawanya ke sana." jawab Ah Ran.

"Tidak boleh. Bahkan jika ayah Hyun Woo mengizinkannya, aku tidak mengizinkannya. Bawa dia kembali ke rumah." ucap Nyonya Jo."

"Aku juga tidak setuju!" jawab Hyun Min.

"Jadi kau ingin menyerah? Aku tidak akan membiarkan anakku melihat wajah ayahnya yang hanya tidur. Aku akan membiarkan dia melihat Hyun Woo tersenyum dan berbicara." ucap Ah Ran.


"Aku penasaran satu hal? Bukankah orang hamil tidak boleh minum sembarangan obat? Lalu kenapa kau meminumnya? Aku menemukan resep obat di kamarmu." tanya Hyun Ji.

"Aku meminumnya karena aku sakit kepala. Apa ada yang salah?" jawab Ah Ran.

"Lalu apa ini?" tanya Hyun Ji sambil menunjukkan robekan foto hasil USG.

Semua mata pun langsung tertuju pada Ah Ran. Ah Ran berkilah. Ia berkata ada yang salah dengan foto itu.Hyun Ji kecewa. Ia pun curiga kalau Ah Ran berencana meninggalkan Hyun Woo. Wajah Ah Ran pun langsung berubah. Ia gugup, tidak tahu harus mengatakan apa.


Sementara itu, Hyun Woo dan Jae Hee sedang menyusun sebuah rencana. Hyun Woo bilang mereka harus menemukan bukti kejahatan Ah Ran.

"Bukti?" tanya Jae Hee heran.

"Mereka menemukan cincin couple di mobilku. Cincin itu milik Joo Ah Ran. Dan cincin yang lain milik Nam Joo Seung. Kita harus menemukan cincin couple itu bagaimana pun caranya." jawab Hyun Woo.

"Cincin couple? Tapi Dokter Nam tidak memakai cincin apapun." ucap Jae Hee.

Jae Hee lalu teringat saat ia menemukan cincin couple milik Joo Seung ketika ia membuang sampah milik Joo Seung. Jae Hee pun langsung memberitahu Hyun Woo soal cincin yang ia temukan. Hyun Woo pun bertanya dimana cincin itu. Jae Hee bilang cincin itu ia simpan di dompetnya. Jae Hee beralasan karena cincin itu sangat cantik jadi ia menyimpannya.


Ah Ran yang mendengar percakapan mereka dari kamarnya pun panik. Di tengah kepanikannya, ponselnya berdering. Telepon dari kantor polisi. Polisi menyuruh Ah Ran datang ke kantor polisi. Ah Ran pun terkejut. Polisi itu bilang ada seorang saksi yang memberikan bukti terkait kecelakaan yang dialami Hyun Woo.

"Sampai aku menemukan Kyeong Ran. Sampai dendamku terbalaskan, aku tidak akan membiarkan siapa pun menghalangi langkahku." ucapnya berapi2.
 
Ah Ran pun beranjak pergi. Sambil berjalan ke mobilnya, ia menelpon Joo Seung. Ia memberitahu Joo Seung kalau semua bukti ada di villa. Cincin couple milik Joo Seung juga CD masa lalunya.

"Kita harus menemukannya sebelum mereka." ucap Ah Ran.


Di kamarnya, Hyun Woo sedang membuat sesuatu. Begitu mendengar suara seseorang, ia langsung menyembunyikan sesuatu yang dibuatnya dan berpura2 koma. Yang datang adalah Ah Ran. Ah Ran menatap tajam Hyun Woo.

"Teruslah membodohiku! Tidak peduli seberapa kerasnya kau berlari kesana kesini, kau tidak akan pernah bisa melawanku.” Ucap Ah Ran dalam hati.


Ah Ran lalu mengacak2 kamar Hyun Woo. Ia memeriksa laci, mencari cincin couple Joo Seung dan CD masa lalunya. Tapi ia tak dapat menemukannya. Ah Ran lalu pergi ke kamar Jae Hee. Ia mengacak2 seluruh barang2 Jae Hee untuk mencari cincin itu Tapi sama saja, ia tak menemukan cincin itu di sana.


Ah Ran lalu pergi ke dapur dan mencari cincin itu, tapi ia juga tak dapat menemukannya. Perhatian Ah Ran pun teralih ke pintu ‘jalan rahasia’. Pintu itu tiba2 terbuka dan Jae Hee keluar dari sana. Ah Ran langsung menyergap Jae Hee. Jae Hee pun kaget.

“Suster Yoon, darimana kau?” tanya Ah Ran.

“Itu… ibuku sakit.” Jawab Jae Hee gugup.

“Jadi kau keluar lewat jalan rahasia?” tanya Ah Ran.

Jae Hee pun gugup.

“… karena ibumu sedang sakit, kau harus merawatnya. Kau kupecat.” Ucap Ah Ran.
 
Jae Hee pun menangis. Ah Ran lalu memeriksa tas Jae Hee. Tapi lagi2 ia tidak menemukan cincin itu. Dengan berat hati, Jae Hee pun terpaksa pergi. Namun sebelum pergi, ia ingin mengucapkan selamat tinggal pada Hyun Woo. Ah Ran tidak mengizinkannya. Ah Ran berkata Hyun Woo tidak bisa bicara, bahkan membuka matanya. Ah Ran pun akhirnya mengizinkan Jae Hee menemui Hyun Woo.


Jae Hee memegang erat tangan Hyun Woo. Matanya berkaca2 menatap Hyun Woo.

“Kau harus hidup dengan baik. Kau harus berjuang sampai akhir. Meskipun aku pergi seperti ini meninggalkanmu, aku akan kembali padamu. Aku janji.” Ucap Jae Hee.

Jae Hee lalu menyelipkan kartu namanya di tangan Hyun Woo.

“Jika terjadi sesuatu hubungi aku.” ucap Jae Hee.


Jae Hee pun beranjak pergi, namun tiba2 Hyun Woo memegang tangannya. Hyun Woo menatap Jae Hee dalam2. Ia berbicara dalam hatinya, kau harus hidup dengan baik sampai kita bertemu lagi nantinya.

Ah Ran pun datang mengacaukan momen perpisahan Hyun Woo dan Jae Hee. Begitu Ah Ran datang, Jae Hee langsung keluar. Ah Ran lalu mengantarkan Jae Hee keluar. Setelah Jae Hee pergi, Ah Ran pun menelpon Joo Seung. Ah Ran menyuruh Joo Seung mencari tempat untuk menyembunyikan Hyun Woo. Ah Ran juga memberitahu Joo Seung kalau ia sudah memecat Jae Hee. Ah Ran berkata sangat berbahaya membiarkan Jae Hee berada di sisi Hyun Woo.


Pembicaraan mereka pun terhenti karena kehadiran Nyonya Jo. Nyonya Jo berkata akan mengepak barang2 Hyun Woo dan membawa Hyun Woo pulang ke rumah. Ah Ran pun kaget dan berusaha membujuk Nyonya Jo. Tapi Nyonya Jo tetap pada keputusannya. Ah Ran pun stress.

“Karena Suster Yoon sudah pergi, jadi aku putuskan untuk bermalam di sini.” Ucap Nyonya Jo.


Ah Ran berusaha membujuk Nyonya Jo. Tapi lagi2 Nyonya Jo tetap pada keputusannya. Nyonya Jo lalu beranjak pergi. Ah Ran mengikuti Nyonya Jo. Begitu mereka pergi, Hyun Woo membuka matanya dan mengepalkan tangannya.


Nyonya Jo sedang merebus gingseng untuk Hyun Woo. Begitu rebusannya selesai, ia mematikan kompor dan beranjak pergi. Begitu Nyonya Jo pergi, Ah Ran masuk ke dapur. Mata Ah Ran lalu terarah pada kompor.

“Benar. Ada satu tempat untuk menyembunyikan Hyun Woo. Kau dan aku, satu diantara kita harus mati. Jadi tidak ada jalan lain. Ini takdirmu.” Ucap Ah Ran dalam hati.


Ah Ran mengecek keluar. Setelah yakin keadaan aman, ia menutup jendela dan membuka selang gas! Setelah itu, ia menyalakan api kompor.


Ah Ran lalu pergi mengantar Nyonya Jo ke pasar. Ia menurunkan Nyonya Jo di pasar dan berkata akan kembali ke kantor. Begitu Nyonya Jo pergi, Ah Ran pun menghubungi Joo Seung. Ah Ran berkata sudah menyuruh pengawal pergi ke tempat yang jauh dan sudah menutup pintu menuju jalan rahasia.


“Cincin dan CD itu ada bersama Hyun Woo. Biarkan mereka lenyap bersama Hyun Woo.” Ucap Ah Ran.


Ah Ran lantas kembali ke villa. Ia mengunci semua jendela di kamar Hyun Woo. Setelah itu ia keluar dari kamar Hyun Woo dan mengunci Hyun Woo dari luar. Kemudian, ia menyalakan korek api. Sebelum menjatuhkan korek api itu, ia teringat pernikahan dan bulan madunya dengan Hyun Woo. Hal itu membuat ia menangis. Namun ingatannya tentang Hyun Woo tak mengurungkan niat balas dendamnya. Ia menjatuhkan korek api itu dan berlari keluar. Villa pun meledak!


 Bersambung ke epi 6

No comments:

Post a Comment