Thursday, March 24, 2016

The Princess Man Ep 2

Sebelumnya <<<

Se Ryung mulai kehilangan kendali atas kudanya. Ia ngeri membayangkan apa yang akan terjadi. Seung Yoo terus memacu kudanya mengejar Se Ryung dan berhasil mendekati kuda Se Ryung. Ia lalu melompat ke kuda Se Ryung. Saat kuda mereka akan jatuh ke jurang, Seung Yoo memeluk2 Se Ryung erat2 dan melompat dari kuda.

 
Sementara itu, Raja Munjong sudah menetapkan pilihan siapa yang akan menjadi pendamping Putri Kyung Hee. Dia adalah Kim Seung Yoo! Pangeran Sooyang dan Kim Jong Seo kaget mendengarnya.

Putri sedang merias diri. Dayang Putri lari2, Yang Mulia! Yang Mulia!
Putri heran, Apa yang membuatmu panik?
Dayang memberitahu kalau Baginda Raja sudah memilih Seung Yoo sebagai pendamping Putri.
Putri kaget, Profesor Kim Seung Yoo?!

Seung Yoo dan Se Ryung berguling2 di tanah. Se Ryung langsung berdiri dan melihat ke jurang. Seung Yoo menarik Se Ryung menjauh dari tebing dan berkata kalau Se Ryung hampir kehilangan nyawanya. Se Ryung diam saja.
Seung Yoo marah, Apa Yang Mulia punya dua nyawa! Kenapa seorang wanita bisa begitu ceroboh!

Menteri Onnyeong protes, “Anda tidak bisa membuat keputusan seperti ini. Memilih Pangeran Pendamping tanpa mengikuti prosedur pemilihan, ini melanggar aturan kerajaan!”
Raja bertanya, “Apa keinginanku memilih Pangeran Pendamping melanggar aturan kerajaan?”
Pejabat Kwon Ram berkata, “Bagaimana mungkin seseorang yang belum lulus tes bisa menjadi Pangeran Pendamping?”
Pihak Kim Jong Seo kesal, “Apa maksudmu putra Penasehat Kim tidak memenuhi persyaratan untuk menjadi Putra Pendamping!”
Pangeran Sooyang angkat bicara, “Jika Paduka Raja sudah memilih Kim Seung Yoo sebagai Pangeran Pendamping, bagaimana bisa kita tidak mengikutinya? Yang saya ketahui, Kim Seung Yoo memiliki karakter dan pengetahuan yang sama dengan ayahnya. Dia tidak memiliki kekurangan apapun untuk masuk ke dalam keluarga kerajaan. Tapi kita tidak bisa mengabaikan aturan kerajaan. Kita bisa memasukkan nama Kim Seung Yoo dan memprosesnya sampai selesai. Jika Paduka Raja menunjuk saya sebagai orang yang bertanggung jawab atas masalah ini, saya akan merasa gembira dan terhormat.”
Raja setuju dengan pendapat Sooyang.
Selesai rapat, Pangeran Sooyang menemui Kim Jong Seo.
“Aku mengerti jawabanmu atas perjodohan anak2 kita. Kau memilih Yang Mulia dan membuangku. Selamat.”
Pangeran Sooyang pun beranjak pergi dengan wajah penuh emosi. Kim Jong Seo menatap tajam kepergian Pangeran Sooyang.

Seung Yoo mengecek kudanya, kemudian melihat Se Ryung yang duduk membersihkan diri. Se Ryung kaget melihat roknya yang sobek. Ia kemudian merasakan sakit di kakinya. Tiba2, Seung Yoo datang.
“Kenapa anda begitu sembrono? Bagaimana pun juga anda tetap seorang wanita. Wanita di Josen tidak akan menunggangi kuda di jalan raya di tengah hari seperti ini!” ucap Seung Yoo marah.
“Kau berani bicara seperti itu?” tanya Se Ryung.
“Saya akan kembali ke istana untuk menghukum penjaga dan dayang yang membiarkan anda keluar istana sendirian.” Jawab Seung Yoo.
Se Ryung berdiri dan berkata, “Kau juga salah. Kau berani memakai bahasa yang tidak sopan seperti “manja” dan “berani” pada seorang putri.”
“Apa?” jawab Seung Yoo.
“Jika kau tidak mau terseret dalam masalah ini, maka diam dan pergilah.” Ucap Se Ryung.
Seung Yoo kaget lalu berkata, “Meskipun aku menginginkannya, aku tidak bisa mengabaikan tugasku sebagai seorang guru. Jadi naiklah.”
“Pinjamkan punggungmu.” Ucap Se Ryung.
“Punggung?” tanya Seung Yoo.
“Bukannya kau menyuruhku menaiki kuda ini.” Jawab Se Ryung.

Seung Yoo tidak percaya, “Jadi kau mau menginjak punggungku untuk naik ke atas kuda?”
“Kenapa? Apa karena harga dirimu? Di depan seorang putri kau masih memikirkan harga diri?”
Seung Yoo pun dengan terpaksa meminjamkan punggungnya. Saat Se Ryung mulai menginjak punggung Seung Yoo, Seung Yoo meringis kesakitan. Se Ryung tersenyum geli.

Seung Yoo jalan sambil memegang kekang kuda. Se Ryung terus menatap Seung Yoo. Tanpa sengaja, Se Ryung membuat kuda berontak. Seung Yoo menenangkan kuda itu. Se Ryung tampak takut. Seung Yoo heran dan bertanya kenapa Se Ryung coba2 naik kuda padahal takut.
Se Ryung menjawab, “Bagaimana pria bisa mengerti perasaan wanita?”
“Jika dia berpikir sebagai guru, bukan laki2, mungkin dia bisa mengerti.” Jawab Seung Yoo.
“Benarkah? Jika kau mengendarai kuda, apa kau akan merasa bebas? Itulah kenapa aku ingin tahu.” Ucap Se Ryung.
“Kau harus berpacu secepat mungkin untuk merasakan angin.” Jawab Seung Yoo.
“Bahkan setakut apapun diriku, aku benar2 ingin merasakannya. Setelah menikah, wanita akan sulit melakukan kontak dengan dunia luar. Itulah alasannya aku membutuhkan kenangan yang indah agar aku bisa melawan kehidupan yang sulit dan membosankan.” Ucap Se Ryung.
Seung Yoo tertegun mendengar kata2 Se Ryung.

Putri Kyung Hee ingin menghadap ayahnya, namun sang ayah sedang berbicara dengan Kim Jong Seo.
Raja Munjung berkata kalau Putri Kyung Hee dan Seung Yoo adalah pasangan yang serasi. Kim Jong Seo berkata kalau putranya masih banyak kekurangan, namun akan memberikan bantuan yang cukup besar untuk Raja. Raja bilang bukan untuknya, tapi untuk Putra Mahkota. Kim Jong Seo membenarkan.

Seung Yoo membawa Se Ryung ke gibang. Se Ryung kaget, Dimana ini? Kata Seung Yoo, Anda tidak bisa kembali ke istana dengan penampilan seperti itu. Kita ke sini untuk meminjam baju. Setelah berganti baju, kita akan kembali ke istana.
Se Ryung tampak ragu Seung Yoo tanya, Anda tidak turun?

Se Ryung akhirnya mengikuti Seung Yoo masuk ke gibang. Sampai di dalam, mereka disambut hangat oleh para gisaeng. Sebenarnya yang disambut cuma Seung Yoo doang sih. Hehhehehe. Seung Yoo berkata kalau ia datang untuk meminjam baju bersih. Gisaeng bertanya, Untuk apa? Seung Yoo melirik Se Ryung. Gisaeng itu tanya lagi, Siapa wanita yang terlihat membosankan ini?


Para gisaeng mengejek, Wajahnya terlihat polos, aku ingin tahu dia habis bergulingan dimana.
Mereka lantas menyadari baju Seung Yoo yang juga kotor dan bertanya apa Seung Yoo dan Se Ryung habis bergulingan bersama.

Seung Yoo menegur gisaeng2 itu, “Kalian semua! Dia bukan orang yang bisa kalian jadikan bahan lelucon. Cepat tunjukkan kamar untuknya.”
Dari kamarnya, Se Ryung mengamati Seung Yoo yang dikerubungi gisaeng. Se Ryung menutup jendela dengan kesal, lalu ngomel2 sendiri, memaki2 Seung Yoo.


Seorang pria mabuk masuk ke kamar Se Ryung. Ia mengira Se Ryung gisaeng. Se Ryung menghindar dari kejaran pria itu sambil berkata kalau pria itu salah kamar. Tapi pria itu terus saja mengejar2 Se Ryung. Untunglah, seorang gisaeng masuk dan membawa pria itu pergi.


Seung Yoo sedang memilih2 hanbok. Tapi gak ada satu pun hanbok yang layak dipakai Se Ryung. Itu membuat Seung Yoo stress. Semua hanbok gisaeng2 itu transparan. Seung Yoo akhirnya memilih satu set hanbok dan masuk ke kamar Se Ryung.


Sesampainya di sana, ia heran tidak mendapati Se Ryung. Saat mau keluar, ia melihat rok Se Ryung dari balik sekat kamar. Tampak Se Ryung tertidur di balik sekat kamar. Seung Yoo tersenyum geli melihatnya. Ia lantas membungkukkan badannya dan melihat wajah Se Ryung dari dekat. Senyumnya pun mengembang.

Seung Yoo lalu meletakkan hanbok di meja. Saat mau pergi, ia melihat pergelangan kaki Se Ryung yang bengkak. Se Ryung akhirnya bangun dari tidurnya. Dan ia heran melihat kompresan di kakinya. Ia mengambil bahan kompres yang terbuat dari daun yang ditumbuk.

Se Ryung lalu melihat hanbok yang dibawa Seung Yoo. Ia heran melihat hanbok yang transparan.
Se Ryung akhirnya memakai hanbok itu juga. Ia teringat kata2 Seung Yoo kalau mereka tidak bisa kembali ke istana dengan pakaian seperti itu. Se Ryung pun pergi dengan mengendap2, tapi ia bertemu dengan Seung Yoo. Seung Yoo tanya Se Ryung mau kemana. Se Ryung bilang kalau dia mau mencari kudanya. Seung Yoo bilang kalau kudanya sudah terlalu lelah, jadi ia menyiapkan tandu untuk Se Ryung.

Se Ryung protes, “Kenapa kau menyuruhku memakai pakaian seperti ini? Apa tidak ada pakaian yang lebih terhormat?”
“Terhormat? Saya tidak pernah mengira kata2 itu akan diucapkan oleh seorang wanita yang tidur dengan kaki terjulur keluar seperti tadi. Sekarang istana pasti gempar mencari anda, Yang Mulia Putri.” Ayo kembali.”

Ternyata, ada gisaeng yang menguping pembicaraan mereka. “Yang Mulia Putri?” tanya gisaeng itu heran.
Saat tiba diluar, tukang tandu tidak ada. Se Ryung pun sadar kalau norigae pemberian Putri hilang. Ia menyuruh Seung Yoo mencarinya di dalam. Seung Yoo pun kembali ke dalam.

Saat kembali tukang tandu sudah siap. Seung Yoo berkata, “Aku sudah mendapatkannya.”
Tidak ada jawaban. Seung Yoo mengetuk tandu, dan bertanya, “Apa anda sedang tidur?”
Tidak ada jawaban. Akhirnya Seung Yoo membuka jendela dan terkejut mendapati tandu yang kosong.
Seung Yoo berputar2 di pasar mencari Se Ryung. Dari kejauhan, Se Ryung melihat Seung Yoo sambil tersenyum. Ia pun beranjak pergi.

Seung Yoo pergi ke istana. Penjaga istana heran Seung Yoo datang malam2. Seung Yoo bilang ia datang untuk memeriksa apakah penjaga istana bekerja dengan baik menjaga gerbang istana. Penjaga itu tertawa geli dan berkata kalau Seung Yoo sangat konyol. Seung Yoo lalu bilang kedatangannya untuk mengambil bukunya yang sangat penting.

Penjaga mengizinkan Seung Yoo masuk. Sampai di dalam, Seung Yoo langsung bergegas ke kediaman Putri. Dayang Putri menemui Seung Yoo dan tanya alasan Seung Yoo datang malam2. Seung Yoo langsung menanyakan Putri. Dayang tanya kenapa Seung Yoo menanyakan Putri. Seung Yoo bilang kalau dia harus mengetahuinya.
Dayang : Yang Mulia Putri sedang menghadap Paduka Raja.

Seung Yoo lega, berarti dia sudah kembali.
Dayang Putri tanya maksud Seung Yoo. Seung Yoo menasehati dayang Putri untuk menjaga Putri dengan baik jika tidak mau mendapat masalah. Saat hendak pergi, Seung Yoo teringat sesuatu. Ia pun mengeluarkan sesuatu dari lengannya dan memberikannya ke dayang Putri. Setelah Seung Yoo pergi, dayang membuka kain pembungkus dan kaget mengetahui isinya adalah norigae Putri.


“Apa kau membenci Kim Seung Yoo?” tanya Raja pada Putri.
“Tidak ada alasan untuk menyukai atau pun membencinya.” Jawab Putri.
“Kudengar kau sudah mengikuti pelajaran Kim Seung Yoo dengan baik, itu sebabnya aku yakin kau tidak akan menolaknya.” Ucap Raja.
“Saya masih ingin berada di sisi Putra Mahkota. Tolong tunda pemilihan calon pendamping.” Pinta Putri.
“Kalau kau benar2 mencemaskan Putra Mahkota, menikahlah dengan Kim Seung Yoo. Sampai berapa lama kau akan ada di sisinya? Sampai dia dewasa? Sampai dia naik tahta?” jawab Raja.
“Ayah.” Ucap Putri dengan mata berkaca2.
“Orang yang bisa melindungi Putra Mahkota bukanlah ayahnya yang sakit2an, bukan juga kakaknya tidak tahu apa2 soal politik. Hanya ada Kim Jong Seo.” Ucap Raja.
“Jika ayah hidup dengan sehat....”
“Sampai kapan kau membiarkan adikmu hidup dengan harapan2 kosong seperti itu? Ayahmu tidak lagi punya energi mendengarkan keluhan2mu. Ada banyak yang harus dilakukan.” Ucap Raja.



Putri Kyung Hee beranjak menuju kediamannya. Pada dayangnya ia berkata, “Calon suami Se Ryung akan menjadi Pangeran Pendamping. Apa kau pernah mendengar hal seaneh ini?”
“Yang Mulia.” Jawab dayang.
“Aku bertanya2, apa Se Ryung tahu soal ini. Ini tidak boleh terjadi. Aku harus menemui Profesor Kim Seung Yoo besok dan menceritakan semuanya.” Ucap Putri.
“Dia baru saja pergi.” Ucap dayang.
“Siapa?” tanya Putri.
“Profesor Kim Seung Yoo.” Jawab dayang.
“Profesor Kim Seung Yoo? Mau apa dia malam2 begini?” tanya Putri.
“Dia meninggalkan ini untukmu.” Jawab dayang sambil memberikan bungkusan itu.

Putri membuka bungkusan yang isinya norigae-nya. Dayang bilang kalau norigae itu diberikan Putri untuk Se Ryung. Putri tertegun.

  
Di rumahnya, Se Ryung dihukum sang ibunda. Kakinya dipukuli hingga berdarah. Lady Yoon marah, “Kau bukan hanya naik kuda, tapi juga pulang dengan baju gisaeng! Apa kau tidak punya otak!”
Se Ryung yang tak kuat lagi menahan sakit, akhirnya jatuh. Pelayan Se Ryung langsung mendekati Se Ryung, Nona!
“Janji padaku kau tidak akan melakukannya lagi!”
Se Ryung diam saja, sehingga ibunya berteriak, “Janji padaku!”
“Aku janji tidak akan naik kuda lagi.”
“Jika kau melakukannya lagi, maka kau akan melihatku mati.”
“Iya.”

Pelayan Se Ryung mengobati kaki Se Ryung. Se Ryung meringis kesakitan menahan perih. Pelayan lalu berkata kalau memar di pergelangan kaki Se Ryung sudah sembuh.
Se Ryung teringat kata2 Seung Yoo, “Terhormat? Saya tidak menyangka kata2 itu akan keluar dari mulut wanita yang tidur dengan kaki terjulur seperti tadi.”
“Apa dia yang membubuhkan obatnya?” tanya Se Ryung.
“Apa?” tanya pelayan Se Ryung.
“Ah, bukan apa2.” Jawab Se Ryung.

Kim Jong Seo minum2 dengan rekan politiknya. Rekan politiknya memberi selamat untuk pernikahan Seung Yoo dan Putri. Ia bilang kalau Pangeran Sooyang sudah kalah dari Raja dan Kim Jong Seo. Rekan politik Kim Jong Seo yang lain heran Pangeran Sooyang menerima begitu saja perjodohan itu. Kim Jong Seo resah karena Sooyang sudah menjadi Juhon, yang artinya proses seleksi Pangeran Pendamping ada di tangan Sooyang.

Pangeran Sooyang juga sedang bertemu dengan antek2nya. Menteri Onnyeong kesal, “Dia menolak lamaran anda dan mengajukan putranya untuk menjadi Pangeran Pendamping. Ini jelas deklarasi dari Baginda Raja dan Kim Jong Seo.”
“Anda tidak boleh hanya duduk diam dan membiarkan mereka membunuh anda.” Tambah Kwon Ram.
Sooyang tersenyum tipis. Menteri Onnyeong berkata kalau Sooyang terlalu baik menawarkan diri jadi Juhon. Kwon Ram tanya rencana Sooyang. Sooyang bilang kalau dia akan mencarikan calon lain untuk Pangeran Pendamping menggantikan Seung Yoo. Menteri Onnyeong dan Kwon Ram terperangah mendengarnya.

Paginya petugas menempelkan pemberitahuan. Semua orang penasaran dengan isinya. Pelayan Se Ryung ikut melihatnya. Ia bertanya apa isinya pada seorang pria. Pria itu bilang kalau Putri Kyung Hee akan segera menikah, sehingga dilarang ada pernikahan di kalangan pemuda bangsawan.
Pelayan Se Ryung langsung memberitahu Se Ryung, Nona, Yang Mulia Putri akan segera menikah.

Se Ryung mengenakan hanbok Putri dengan bantuan para dayang. Ia tanya dimana Putri. Dayang Putri bilang, “Yang Mulia Putri pergi sendirian dan tidak mengizinkan siapapun mengikutinya. Kurasa dia menjadi sensitif karena rencana pernikahannya.”
Se Ryung bilang kalau dia sudah mendengar rencana pernikahan Putri.
Dayang lalu tanya norigae yang diberikan Putri pada Se Ryung. Se Ryung terkejut, lalu menjawab kalau ia meninggalkan norigae itu di rumah.

Putri sedang menatap norigae-nya. Dayang datang menghampiri Putri.
“Yang Mulia, Nona Se Ryung sudah pergi belajar.” Ucap dayang.
“Seorang pria menyimpan norigae. Apa yang kau pikirkan?” tanya Putri.
“Itu....”
“Aku harus mencari tahu semuanya.” Jawab Putri.

Kim Seung Yoo bersiap2 mengajar. Kepala Profesor tanya, “Apa tidak ada masalah?”
“Maksudmu dengan pelajaran Yang Mulia Putri? Aku heran, kenapa para pengajar selalu bermasalah dengannya.” Jawab Seung Yoo, lalu ketawa ngakak.
Para profesor berdehem, kesal menatap Seung Yoo.
“Aku saja sulit menaklukkannya. Lalu bagaimana Yang Mulia Putri itu?” tanya Kepala Profesior.
“Sangat...... Misterius.” Jawab Seung Yoo, lalu kembali ketawa ngakak.
Para pengajar langsung melongo. Seung Yoo berdehem, lalu pergi mengajar.

Sambil berjalan ke kediaman Putri, Seung Yoo teringat saat “Putri” memaksanya meminjamkan punggungnya. Ia juga ingat saat “Putri” tidur dengan kaki terjulur keluar. Ia cengar cengir, lalu kembali menguasai diri dan terus berjalan menuju kediaman Putri. Sampai di kediaman Putri, ia minta kedatangannya diumumkan.

  
Seung Yoo dan Se Ryung duduk dipisahkan tirai. Seorang dayang masuk menyajikan teh. Seung Yoo minum teh. Dayang itu ternyata Putri Kyung Hee! Putri Kyung Hee mengamati wajah Seung Yoo.

“Apa semuanya baik2 saja semalam?” tanya Seung Yoo.
“Ya.” Jawab Se Ryung.
“Saya tidak tahu kenapa saya mencemaskan Yang Mulia yang baik2 saja di istana. Seharusnya saya tidak perlu cemas.” Ucap Seung Yoo.
“Terima kasih untuk perhatianmu.” Jawab Se Ryung.
“Apa kau pernah dengan dongeng wanita nakal yang hampir kehilangan nyawanya karena tidak bisa menunggangi kudanya, lalu melemparkan diri ke dalam pelukan seorang pria dan jatuh bergulingan?” tanya Seung Yoo menyindir.
“Mereka bilang pria itu bahkan membawa sang gadis ke gibang dan membuat si gadis mengenakan baju yang memalukan. Lalu apa yang terjadi dengan norigae yang ia berikan pada pria itu?” Balas Se Ryung.
“Oh, jadi anda sudah mendengarnya. Norigae milik seorang wanita yang tertidur di hadapan seorang pria dan tiba2 menghilang...”

Kata2 Seung Yoo terputus karena Putri Kyung Hee menjatuhkan teko teh. Ia bener2 kaget dengan pembicaraan mereka. Seung Yoo dan Se Ryung juga kaget. Se Ryung mengangkat tirai dan terkejut melihat sepupunya itu ada di sana.

Se Ryung dan Putri jalan bersama. Se Ryung berkata, “Aku benar2 terkejut. Kenapa anda memainkan permainan yang berbahaya?”
“Jika kau bicara tentang bahaya, bukankah kita sama? Kau berpura2 menjadi seorang putri, kenapa aku tidak bisa pura2 jadi dayang istana?” jawab Putri.
“Lalu, kenapa anda di sana?” tanya Se Ryung.
Putri menunjukkan norigae-nya ke Se Ryung. Se Ryung tanya, “Kenapa bisa di sini?”
“Semalam, dayangku menerima ini dari Profesor Kim?” jawab Putri.
“Jadi dia datang mengembalikannya?” tanya Se Ryung.
“Gadis yang tidur dengan pria ceroboh dan tiba2 menghilang, apa itu kau?” jawab Putri.
“Ah, kami mengalami kecelakaan diluar istana dan dia pria yang sangat berlebihan.” Ucap Se Ryung.
“Apa kalian begitu dekat?” tanya Putri.
“Dekat? Dia sebenarnya adalah pria yang membosankan yang selalu bicara bagaimana pria dan wanita harus bersikap baik2. Tapi aneh, kemarin dia membubuhkan obat ke kakiku.” Jawab Se Ryung.
Putri tampak kesal.
(Ada apa dengan Putri Kyung Hee? Mungkinkah dia mulai menyukai Kim Seung Yoo?)


Putri dan Se Ryung sudah berganti baju lagi. Se Ryung pamit pulang. Namun langkah Se Ryung terhenti. Ia membalikkan badannya dan mengucapkan selamat karena Putri sebentar lagi akan menikah. Putri hanya berkata, terima kasih. Se Ryung beranjak pergi.
“Kim Seung Yoo, bukan pria untukmu.” Ucap Putri pelan.

Shin Suk Joo menghadap Raja. Raja mengizinkan Suk Joo masuk. Suk Joo memberi hormat. Raja menyuruh Suk Joo mendekat. Suk Joo mengkhawatirkan kondisi kesehatan Raja. Raja berkata, “Aku merindukan saat kita begadang dan terlibat perdebatan ilmiah. Jika saja Raja terdahulu tidak melarang keterlibatan para sarjana dalam dunia politik, aku pasti sudah mengajukanmu ke kantor pemerintah.”
“Anda sungguh mulia.” Jawab Shuk Joo.
“Tolong bantu aku. Orang Sooyang sudah memenuhi Dewan Istana. Kau harus mengecek apa mereka melakukan semuanya dengan benar.” Ucap Raja.
“Baik, aku akan mengingatnya.” Jawab Shuk Joo.

Shuk Joo beranjak meninggalkan kediaman Raja. Sooyang dan Kwon Ram melihat kepergian Shuk Joo. Sooyang tanya apa Kwon Ram sudah menemukan calon yang cocok menggantikan Seung Yoo. Kwon Ram bilang kalau dia sudah menemukan beberapa yang cocok.
Dalam pertemuan, Shuk Joo menolak calon2 yang diajukan Sooyang.
“Song Ki Suk dari Myeongsan sudah memiliki 4 selir. Itu artinya kelakuannya tidak benar. Dia tidak akan cocok menjadi Pangeran Pendamping.” Ucap Shuk Joo.
“Bagaimana dengan putra tertua Cho Hyun dari Wonju, Cho Kyung Teck?” tanya Kwon Ram.
“Ayah Cho Kyung Teck, Cho Hyun dan kakeknya, Cho Il Suk, pernah melakukan penyuapan.” Jawab Shuk Joo.
“Jadi kau menolak semua calon yang diajukan!” tanya pihak Sooyang kesal.
“Aku akan melihat kecocokan Kim Seung Yoo dan Yang Mulia Putri.” Jawab Suk Joo.
“Apa kau tidak tahu kalau itu proses akhir?” ucap Menteri Onnyeong.

Sooyang angkat bicara dengan menyuruh Shuk Joo memeriksa kecocokan antara Seung Yoo dan Putri.
“Aku ingin petugas astrologi Park Soo Cheon dilibatkan dalam memeriksa kecocokan tanggal lahir Kim Seung Yoo dan Yang Mulia Putri. Sampai proses ini selesai, kantor Petugas Park akan dijaga ketat oleh pengawal istana.” Ucap Shuk Joo.
“Kau sangat teliti sekali.” Puji Sooyang.

Pangeran Sooyang jalan dengan Shuk Joo. Pangeran Sooyang berkata kalau ia sangat lega Shuk Joo ikut terlibat dalam acara penting itu. Shuk Joo bilang kalau tugas Pangeran Sooyang juga penting. Mereka lalu bertemu Seung Yoo. Shuk Joo memperkenalkan Seung Yoo pada Pangeran Sooyang. Wajah Pangeran Sooyang langsung berubah mengetahi pemudia di depannya adalah Kim Seung Yoo.
“Kau sangat berbeda dengan ayahmu. Apa mengajar setiap hari itu melelahkan?” tanya Sooyang.
“Saya tidak berbuat banyak untuknya.” Jawab Seung Yoo.
“Kudengar kau bertanggung jawab terhadap pelajaran Putri. Apa kau sangat dekat dengannya?” tanya Sooyang.
“Saya hanya mengajar bagian Klasik saja.” Jawab Seung Yoo.
“Hanya melihatmu saja sudah membuat hatiku sakit. Kau boleh pergi sekarang” ucap Sooyang.
Setelah Seung Yoo pergi, Sooyang tanya apa Shuk Joo juga mengenal Seung Yoo. Shuk Joo berkata kalau Seung Yoo sahabat anaknya. Sooyang memperhatikan kepergian Seung Yoo dengan wajah dingin.


Shin Myun sedang memberikan instruksi pada seluruh prajuritnya untuk menangkap preman yang meresahkan warga.

Tangan kanan Shin Myun berhasil menangkap mereka dan melumpuhkan dua diantaranya. Satunya lagi masuk ke dalam gibang. Shin Myun dan pasukannya datang.
“Kenapa kau berhenti?” tanya Shin Myun.
“Ini adalah tempat yang sering dikunjungi pejabat tingkat atas.” Jawab tangan kanan Shin Myun.
“Ini hanya gibang. Buka pintunya!” ucap Shin Myun.

Dua polisi menggedor pintu, namun tak dibuka. Tangan kanan Shin Myun akhirnya manjat ke dalam dan membuka pintu. Shin Myun dan pasukannya langsung masuk ke dalam. Seorang gisaeng menghampiri mereka dan berkata kalau mereka sedang melayani tamu penting.
“Kami sedang mencari pengacau yang bersembunyi di sini.” Ucap Shin Myun.
“Anda salah tempat.” Jawab gisaeng itu, lalu pergi.
“Menyembunyikan kejahatan itu perbuatan melanggar hukum. Apa kau tidak tahu itu?” tanya Shin Myun.
Gisaeng itu berbalik dan berkata, “Kami menutup pintu gerbang karena ada tamu penting di sini.”
“Kami harus mencari mereka.” Ucap Shin Myun.
“Orang yang semestinya disebut preman adalah yang berdiri di hadapanku sekarang.” Jawab gisaeng itu.
“Ini tidak akan lama.” Ucap Shin Myun, lalu menyuruh anak buahnya memeriksa. Polisi pun menyebar membuat gisaeng dan pengawal gibang bingung.

Shin Myun masuk ke dalam, memeriksa pintu ke pintu. Sampai pada satu pintu, Im Woon mengarahkan pedangnya ke leher Shin Myun. Shin Myun tak peduli. Ia tetap membuka pintu. Di dalam ada Pangeran Sooyang dengan Han Myung Hoe, penasehat Sooyang.

Myung Hoe tanya, “Ada apa?”
“Saya Shin Myun, pejabat Hanseong. Saya di sini untuk menangkap pemimpin pengacau.”
“Pengacau? Sepertinya yang kau maksud adalah diriku.” Jawab Sooyang.
Im Woon semakin mengarahkan pedangnya ke leher Shin Myun. Gisaeng dan pengawal tadi datang. Mereka semua menertawakan Shin Myun. Akan tetapi, Shin Myun tidak peduli. Ia mengajak Sooyang ikut dengannya ke kantor Hanseong.
“Apa kau benar2 tidak tahu siapa yang ada di hadapanmu? Tunjukkan hormatmu. Ini adalah Yang Mulia Pangeran Sooyang!” ucap Myung Hoe marah.

Shin Myun kaget dan langsung berlutut, “Maafkan ketidaksopanan hamba.”
“Apa kau benar2 sadar kalau kau sudah berlaku tidak sopan?” tanya Sooyang.
Shin Myun menatap Sooyang. Sooyang mempelajari mata Shin Myun, kemudian berkata, “Mata yang jujur dan tidak takut pada kekuasaan. Apa kau benar2 Shin Myun?”
“Iya.”
“Siapa keluargamu.”
“Shik Sook Ju adalah ayah saya.”
Shin Myun keluar dari gibang. Tangan kanannya bertanya kemana preman itu pergi. Shin Myun diam saja sambil menatap ke arah gibang.

Sooyang berkata, “Hari ini aku bertemu dengan teman orang itu di istana.”
“Maksudmu Kim Seung Yoo?” tanya Myung Hoe.
“Dia terlalu baik untuk diberikan pada orang lain.” Jawab Sooyang.
“Jadi lamaranmu ditolak?” tanya Myung Hoe.
“Dia memilih bekerja sama dengan kakakku.” Jawab Sooyang.
“Kalau begitu kita harus memisahkan mereka. Jika kau mengubur mereka tanpa meninggalkan jejak, tidak peduli mereka pejabat tinggi atau pengemis, semua akan baik2 saja.” Ucap Myung Hoe.
“Mereka akan mencurigaiku.” Jawab Sooyang.

Seung Yoo ke rumah Jung Jong. Jong, kau di dalam?
Seung Yoo lalu jalan ke sisi lain. Jong, ini aku, Seung Yoo.
Pintu terbuka. Seorang wanita tua keluar dari dalam. Dia ibunya Jung Jong.
“Kau rupanya.” Ucap ibu Jung Jong.
“Kenapa anda yang membuka pintu?” tanya Seung Yoo.
“Tidak ada alasan mereka bertahan di sini, karena kami yang tidak mampu membayar mereka.” Jawab ibu Jung Jong.
“Apa Jong di sini?” tanya Seung Yoo.
Ibu Jung Jong hanya menghela napas.

Jung Jong ternyata ada di toko obat. Ia membujuk pemilik toko memberikan obat itu padanya dan berjanji akan membayarnya nanti. Pemilik toko menolak dan menyuruh Jong membayar hutang jika mau mendapatkan obat itu. Jong berusaha merebut obat itu dari si pemilik toko.

Seung Yoo muncul. Jong senang Seung Yoo membelikan obat itu untuknya. Ia berjanji akan membayar hutangnya setelah menjadi pangeran pendamping Putri nanti.
Seung Yoo geli, “Pangeran Pendamping?”
“Hey, apa kau pikir kau bisa bicara atas nama Putri hanya karena kau gurunya? Coba kau pikir, kau adalah sainganku. Myun tidak termasuk, karena kakaknya sudah mencalonkan diri.”
“Pulanglah dan berikan obat itu pada ibumu.” Suruh Seung Yoo.
“Baiklah, aku pergi.” Jawab Jong.

Seung Yoo pulang, “Ayah, aku pulang.”
Kim Jong Seo memanggil Seung Yoo.
“Orang yang seperti apa Putri itu? Kudengar Baginda Raja sangat memanjakannya, sehingga membuatnya jadi manja dan sombong. Apa itu benar?” tanya Kim Jong Seo.
“Itu hanya rumor. Putri orang yang sangat ceria dan sangat hidup.” Jawab Seung Yoo.
“Aku lega mendengarnya. Aku sudah memasukkan namamu ke dalam daftar calon Pangeran Pendamping. Ini hanya formalitas saja. Bagind Raja sudah menetapkan pilihan siapa yang akan menjadi Pangeran Pendamping. Orang itu adalah kau, Kim Seung Yoo.” Ucap Kim Jong Seo.

Seung Yoo jalan menuju kamarnya. Ia gembira karena dipilih menjadi Pangeran Pendamping “Putri”.
Pelayan Se Ryung datang menemui Se Ryung. “Nona, saya dengar Yang Mulia Pangeran Sooyang akan pergi berburu. Kita harus manfaatkan waktu ini untuk mencari kudanya.”

Se Ryung dan pelayannya pergi ke gibang. Pelayan Se Ryung menyuruh Se Ryung menunggu diluar sementara ia akan masuk menanyakan kudanya. Se Ryung berbalik dan terkejut melihat Seung Yoo. Ia pun langsung bersembunyi. Pelayan Se Ryung kebingungan mencari Se Ryung.

Saat Se Ryung melihat ke arah Seung Yoo, Seung Yoo tiba2 muncul di hadapannya.
“Kenapa anda suka sekali meninggalkan istana? Hari ini akan kupastikan pelayanmu mendapatkan hukuman karena kesalahan mereka.” Ucap Seung Yoo.
“Itu bagus. Aku juga akan melaporkanmu dan meminta mereka melakukan penyelidikan karena kau suka datang ke gibang.” Jawab Se Ryung.
“Kenapa kau ke sini?”
“Untuk mencari kuda.”

Seung Yoo geli, “Alasan yang buruk. Anda bisa menyuruh pelayan anda melakukannya.”
“Aku punya alasan yang tidak akan kau mengerti.”
“Apakah gurumu akan menghentikanmu atau tidak, apakah kau akan terluka atau tidak, kau akan tetap naik kuda?”
“Aku tidak akan naik kuda lagi. Aku sudah berjanji pada orang yang sudah merawatku dan mencemaskanku setiap hari.”

Seung Yoo ingat keinginan Se Ryung untuk merasakan kebebasan dengan berkuda. Ia juga ingat kata2 Se Ryung kalau wanita yang sudah menikah tidak akan bisa melakukan kontak dengan dunia luar. Se Ryung bilang akan kembali ke istana dan minta Seung Yoo tidak mencemaskannya.
“Ayo kita pergi bersama.” Ajak Seung Yoo, membuat Se Ryung kaget.
Seung Yoo mengajari Se Ryung cara naik kuda.
“Saat naik kuda, kau harus memegang kekang dan surai kuda. Saat naik kuda, kau harus naik dari sisi kiri.”
Seung Yoo berlutut dan menepuk2 pahanya. Ia meminta Se Ryung menginjak pahanya agar Se Ryung bisa naik kuda.

Seung Yoo kembali menjelaskan, saat naik kuda, jangan menendang pantatnya, karena anda akan sangat mudah dijatuhkan olehnya.
“Itu pernah terjadi padaku sebelumnya.” Ucap Se Ryung.
Seung Yoo lalu memberitahu Se Ryung bagaimana posisi tubuh yang seharusnya saat naik kuda. Berkat petunjuk Seung Yoo, Se Ryung pun berhasil menjalankan kudanya. Tanpa mereka sadari, ada 3 orang yang mengintip mereka.

Seung Yoo berkata lagi, jika ditendang maka kecepatannya akan bertambah. Se Ryung mencobanya, namun ia justru ketakutan. Se Ryung menutup matanya. Seung Yoo melarang Se Ryung menutup matanya. Se Ryung yang ketakutan, memaksa Seung Yoo ikut naik ke kuda.

Sooyang bertemu dengan Menteri Onnyeong. Menteri Onnyeong berkata sulit menemukan kandidat pengganti Seung Yoo. Sooyang bilang Seung Yoo tidak akan muncul di hari pemilihan.
“Buka mata anda. Saya akan menambah kecepatannya.” Ucap Seung Yoo.
Se Ryung masih gak berani membuka matanya.
Seung Yoo memeluk Se Ryung, dan satu tangannya lagi memegang kekang kuda.
Se Ryung berkata, “Aku takut!”
“Saya tidak akan membiarkan anda terluka. Percayalah.” Ucap Seung Yoo.
Se Ryung pun akhirnya membuka matanya. Dan senyumnya mulai mengembang.
“Guru! Aku merasa dunia seperti berlari ke arahku!” teriak Se Ryung.
“Rasakan anginnya, bukankah itu menyegarkan!” ucap Seung Yoo.
“Rasanya dadaku ingin meledak.” Jawab Se Ryung.


Seung Yoo menurunkan kecepatan kudanya. Se Ryung masih ingin naik kuda. Seung Yoo bilang kalau mereka harus kembali ke istana. Se Ryung meminta Seung Yoo mengajarinya berkuda lagi. Seung Yoo kaget. Se Ryung bilang akan menunggu Seung Yoo di depan gibang di malam bulan purnama berikutnya.

Sooyang berkata, “Kim Seung Yoo tidak akan selamat.”

Orang2 itu menembakkan panah ke arah Seung Yoo. Seung Yoo berhasil menghindari panah itu. Ia pun menambah laju kudanya. Orang2 itu terus mengejar mereka. Dan mereka kembali menembakkan panah. Panah itu mengenai pantat kuda. Kuda mengerang kesakitan. Seung Yoo dan Se Ryung terlempar ke bawah.
“Yang Mulia, anda tidak apa2?” tanya Seung Yoo cemas.
Se Ryung tampak kesakitan. Seung Yoo lalu mengajak Se Ryung lagi. Tiba2, Seung Yoo tertembak anak panah! Se Ryung kaget melihat gurunya langsung terkulai lemas. 

No comments:

Post a Comment