Thursday, March 24, 2016

I Have a Lover Ep 12

Sebelumnya <<<


"Choi Jin Eon???" pikir Hae Gang.

Jin Eon yang sedang menandatangani surat perjanjian itu pun kesal. Dirobeknya surat perjanjian itu. Hae Gang terkejut. Jin Eon ingin pergi. Hae Gang menahannya. Ia menunjukkan surat perjanjian yang baru sambil berkata kalau dirinya sengaja membuat surat perjanjian itu beberapa karena sudah tahu Jin Eon akan seperti itu. Ia juga berkata tidak akan pergi sebelum Jin Eon menandatangani surat itu.

"Aku akan melakukan apapun agar kau mau menandatanginya." ucap Hae Gang lagi.



Jin Eon lagi2 merobek surat perjanjian itu. Hae Gang terkejut. Jin Eon lantas beranjak pergi. Hae Gang pun mengambil alat pengeras suara dari tasnya dan meneriaki Jin Eon. Hae Gang berteriak, menyuruh Jin Eon membuang sobekan2 surat perjanjian itu ke tempat sampah. Tapi Jin Eon tidak peduli dan terus berjalan ke rumahnya. Jin Eon memencet bel. Tepat saat pintu rumahnya terbuka, Hae Gang datang.

"Tolonglah... ini menyangkut hidup seorang anak. Masa depan seseorang ada di tanganmu. Tolong terima uangku dan tandatangani perjanjian ini." pinta Hae Gang.

Jin Eon pun akhirnya menandatangani surat perjanjian itu... ia juga menyebutkan nominal yang harus dibayar Hae Gang. Hae Gang terkejut. Setelah memberikan tandatangannya, Jin Eon meminta Hae Gang jangan lagi muncul di hadapannya. Jin Eon lalu masuk ke rumahnya. Hae Gang kembali berteriak, meminta sidik jari Jin Eon. Tapi Jin Eon tidak peduli.


"Kalau aku ingat, apa kau mau bekerja sama? Aku akan berusaha mengingatmu! Professor Choi, meskipun aku tidak mengingatmu, aku pasti merasakan sesuatu! Sama seperti ketika aku melihatmu pertama kali! Sepertinya kita memang saling mengenal! Aku yakin kita pasti saling mengenal, kau dan aku!" teriak Hae Gang.


Tapi Jin Eon tidak peduli. Jin Eon masuk ke rumah dengan wajah masam. Seol Ri langsung menghampiri Jin Eon. Ia bertanya Jin Eon darimana saja? Disana, juga ada Nyonya Hong dan Jin Ri yang sedang meminum teh. Nyonya Hong berkata teh Jin Eon sudah dingin karena Jin Eon pergi terlalu lama. Seol Ri pun berkata akan membuatkan Jin Eon teh yang baru.

"Kenapa harus kau? Kau itu tamu disini." ucap Jin Ri. Jin Ri lalu menyuruh pembantunya membuatkan teh yang baru untuk Jin Eon.


Seol Ri tampak tegang. Jin Eon pun berbisik di telinga Seol Ri, jangan cemas.


Sementara itu, Hae Gang masih berdiri di depan rumah Jin Eon. Ia sedang mencatat alamat Jin Eon. Ia lalu teringat pertemuannya dengan Jin Eon di perpustakaan. Ketika Jin Eon meminta dirinya menatap mata Jin Eon. Ia juga ingat ketika Jin Eon memegang tangannya dan bertanya siapa dirinya.


"Siapa sebenarnya dirimu? Jika kau orang yang berarti bagiku, seharusnya aku mengingatmu." ucap Hae Gang.


Di dalam, Seol Ri memberitahu Jin Eon kalau ia sudah menemui ayah Jin Eon. Jin Eon berkata seharusnya mereka melakukannya bersama2. Seol Ri bilang kalau ia ingin melakukannya sendiri. Seol Ri terlihat sedih. Untuk menghibur Seol Ri, Jin Eon pun berkata ayahnya seperti itu karena dirinya, jadi Seol Ri jangan sakit hati.

"Setelah kalian menikah, ayahmu akan menerima seseorang yang akan menjadi bagian dari keluarga ini. Jika kau memberinya cucu, dia akan mencintaimu sampai mati. Jadi jangan cemas. Pikirkan saja kapan kalian akan menikah." ucap Nyonya Hong.


Seol Ri pun tersenyum mendengar perkataan Nyonya Hong. Namun Jin Eon sepertinya berusaha mengalihkan topik pembicaraan. Ia meminta ibunya membiarkan Seol Ri istirahat. Karena Seol Ri tidak bisa tidur dan makan dengan baik lantaran harus menyelesaikan tesisnya. Tak hanya itu, Jin Eon juga meminta ibunya memberi kesempatan pada Seol Ri untuk membangun karir.

"Tentang pernikahan, kami tidak ingin terburu2." ucap Jin Eon lagi.

"Lihatlah? Kalian tidak terlihat seperti pasangan kekasih yang saling mencintai, tapi kalian terlihat seperti orang tua dan anak. Apa kalian ini benar2 pacaran?" jawab Jin Ri.


"Noona!" tegur Jin Eon.

"Bagus lah kalau aku salah. Tapi jika aku benar, kalian harus putus secepatnya. Kau membawanya keluar negeri dan membuatnya sukses. Kenapa kau melakukan itu?" jawab Jin Ri.

"Noona, jangan main2 denganku. Jika kau memulainya, aku akan membalasmu!" ucap Jin Eon.

"Apa?" kaget Jin Ri.

"Jin Eon-ah. Jangan terlalu keras pada kakakmu. Dia seperti itu karena kau adiknya." tegur Nyonya Hong.

Jin Ri diam saja dan menatap kesal Jin Eon.

"Jadi kapan kalian akan menikah? Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Segera tentukan tanggal pernikahan. Jangan pedulikan hari kematian...."


Nyonya Hong keceplosan. Jin Eon dan Seol Ri langsung menatap heran Nyonya Hong. Sedang Jin Ri, melirik Nyonya Hong dengan muka sumringah. Seol Ri bertanya, siapa yang meninggal?
Nyonya Hong kaget, apa barusan aku mengatakan tentang kematian?"
Nyonya Hong pun langsung meralat kalimatnya, maksudku hari baik. Jin Ri pun tersenyum sinis.

"Sunbae belum melamarku ibu. Aku merasa kalau kami tidak akan pernah menikah. Beberapa kali aku berpikir aku mungkin tidak akan menikah. Jujur, kerja lebih menyenangkan buatku daripada Sunbae. Tentang pernikahan, jika Sunbae melamarku di kemudian hari, aku akan memikirkannya lagi. Aku tidak ingin buru2 menikah." ucap Seol Ri.

Nyonya Hong kaget dengan jawaban Seol Ri. Sementara Jin Ri tersenyum sinis. Jin Eon dan Seol Ri saling melirik. Ketegangan begitu terasa diantara keduanya. Benarkah Seol Ri tidak ingin menikah dengan Jin Eon??


Baek Seok sedang memeriksa sesuatu. Ia kemudian melihat ke arah meja Hae Gang.. kata2 Hae Gang pun terngiang di telinganya.

"Aku bahkan tidak ingat Yong Gi yang kau kenal. Tapi aku akan berusaha menjadi Yong Gi yang kau kenal." ucap Yong Gi.

Yong Gi kemudian berkata seperti sedang menyelesaikan 1000 keping puzzle.
 "Sulit dan aku takut. Aku tidak tahu apa yang terjadi setelah 1000 keping puzzle itu berhasil disusun. Apa di masa lalu aku orang yang baik?" ucap Hae Gang lagi.

Baek Seok juga ingat ketika Hae Gang pergi begitu saja meninggalkannya di pengadilan, setelah ia memberikan secarik memo pada Hae Gang.

Baek Seok lantas duduk di meja Hae Gang. Ia kemudian menatap plang namanya dan menghela napas.

"Saat aku duduk disana, dapatkah kau melihatku?" gumam Baek Seok.


Hae Gang pun datang. Ia heran melihat Baek Seok yang duduk di mejanya.  Baek Seok marah, kau kemana saja! Kenapa tidak menjawab ponselmu! Kau tahu seberapa cemasnya aku memikirkan dirimu!

"Maaf." jawab Hae Gang tertegun menatap Baek Seok.

"Aku mengembalikan dompetnya dan memintanya menandatangani surat perjanjian kalau dia tidak akan membawa masalah ini ke polisi." ucap Hae Gang kemudian.

Namun Baek Seok tetap saja diam. Ya ia masih marah. Hae Gang pun berkata lagi bahwa dirinya tidak akan kemana2. Baek Seok tetap diam. Hae Gang pun berkata lagi bahwa ia sudah kembali. Baek Seok pun akhirnya membuka mulutnya. Ia menyuruh Hae Gang berdiri di depannya. Hae Gang pun berdiri di depan Baek Seok. Baek Seok menatap Hae Gang dalam2.

"Jangan pergi kemana2. Tetaplah berada disisiku. Jangan pergi ke tempat dimana aku tidak bisa melihatmu." pinta Hae Gang.


Hae Gang pun mengangguk. Baek Seok lalu mengacak2 rambut Hae Gang. Hae Gang kesal dan ingin membalas Baek Seok. Baek Seok pun memegang kedua tangan Hae Gang. Untuk sejenak, mereka saling bertatapan. Baek Seok kemudian mendekatkan wajahnya ke Hae Gang secara perlahan2. Baek Seok ingin mencium Hae Gang. Hae Gang menghindar. Baek Seok pun mengerti dan kembali mengacak2 rambut Hae Gang.


Di ruangannya, Jin Eon sedang mempelajari perusahaannya. Tae Seok pun masuk dan melihat berkas yang sedang dipelajari Jin Eon.

"Jangan terlalu memaksakan dirimu. Lakukan saja sesuai keinginanmu." ucap Tae Seok.

"Satu2nya keju gratis hanya ada di perangkap tikus." jawab Jin Eon.

"Apa maksudmu?" tanya Tae Seok bingung.

"Itu pepatah Rusia. Aku hanya ingin membuat obat." jawab Jin Eon.

"Tidak hanya kami, tapi juga seluruh perusahaan di Korea hari ini." ucap Tae Seok.

"Aku tidak bicara hasilnya. Mengurangi investasi dan menempatkan lebih banyak dana ke dalam penelitian. Apa yang kau lakukan dengan membeli tanah dan membangun gedung? Perusahaan farmasi kita, jika tidak meneliti dan mengembangkan obat, tidak akan memiliki masa depan." jawab Jin Eon.

"Perusahan farmasi tetaplah sebuah perusahaan. Kita harus melakukan investasi agar mendapatkan keuntungan. Orang lain melakukannya, mengapa kita tidak? Kau tidak perlu melakukan apapun. Harga tanah semakin naik dan kau akan mendapat keuntungan dari penyewaan. Kau akan mendapatkannya secara cuma2." ucap Tae Seok.

"Aku akan mengisi posisi Presdir untuk Divisi Penelitian dan Pengembangan." jawab Jin Eon.

"Apa? Presdir? Lalu bagaimana dengan Presdir yang sekarang?" tanya Tae Seok.

"Kita bisa memecatnya atau memberinya posisi lain. Aku jelaskan, dia tidak cocok mengisi posisi itu." jawab Jin Eon.

"Kita akan memikirkannya nanti." ucap Tae Seok, lalu bangkit dari duduknya.


Tanpa mereka sadari, Seol Ri datang dan menguping pembicaraan mereka. Sebelum pergi, Tae Seok memberitahu Jin Eon mengenai Hae Gang. Tae Seok berkata kalau Hae Gang mengambil cuti selama setahun dan sedang melakukan perjalanan. Tae Seok lalu bertanya apa Jin Eon ingin tahu alamat dan nomor ponsel Hae Gang. Wajah Seol Ri pun langsung berubah kesal.

"Tidak usah. Yang penting bagiku adalah dia hidup dengan baik." jawab Jin Eon.

Seol Ri pun keluar dari ruangan Jin Eon dengan wajah kesal. Dan ia kembali masuk ruangan Jin Eon dengan mengetuk pintu terlebih dahulu. Seol Ri memberitahu mereka kalau makan malam sudah siap. Jin Eon pun mengangguk dan mengajak Tae Seok keluar. Di belakang Jin Eon, Tae Seok tersenyum sinis.


Jin Eon sedang menikmati makan malam dengan keluarganya. Tae Seok membuka suara. Ia berkata rumah mereka jadi lebih ramai setelah kedatangan Jin Eon dan Seol Ri. Presdir Choi bahkan ikut makan malam. Tae Seok kemudian menyuruh ayah mertuanya itu agar makan yang banyak. Presdir Choi melirik Tae Seok dengan wajah tegang.

Jin Ri lalu menanyakan kakak Seol Ri. Kenapa dia bisa tinggal di Buamdong? Beberapa hari yang lalu  kau ke Buamdong kan?

Semua langsung tegang. Untuk menetralisir keadaan, Nyonya Hong menanyakan kenapa tidak ada kabar dari Amerika? Mereka juga tidak datang waktu liburan.

Tae Seok pun berkata akan menyuruh anak2nya menelpon Nyonya Hong. Tae Seok lalu melirik Jin Ri. Dilirik seperti itu, membuat Jin Ri bertanya kenapa? Aku tidak menanyakan adikmu.

Jin Eon pun langsung bertanya apa adik Tae Seok sudah kembali ke Korea?

"Dia sudah kembali. Dia menolak semua tawaran yang datang padanya dan memilih kembali ke Korea untuk membantu orang2 yang mengidap penyakit langka." jawab Tae Seok.

"Berikan aku posisi. Aku tertarik dengan penyakit langka." ucap Jin Eon.

"Tentu saja. Kupikir kau bisa melakukannya dengan baik karena kau memiliki ketertarikan." jawab Tae Seok.

"Hal itu mungkin tidak jelas bagaimana seseorang bertahan hidup, tetapi sangat jelas bagaimana seseorang dibesarkan. Sangat jelas malam ini. Kau tidak berkelas. Mereka bilang lebih baik membuat sebuah perjanjian atau kerjasama dengan orang yang kau kenal, meskipun kau tidak menyukainya daripada seseorang yang tidak kau kenal karena mungkin akan lebih buruk. Kita sudah membiarkan dia pergi. Aku sangat menyesal dan merindukannya." ucap Jin Ri sambil terisak.

"Yeobo..." tegur Tae Seok.


Suasana pun langsung berubah tegang gara2 perkataan Jin Ri. Untuk mencairkan suasana, Nyonya Hong menyuruh Seol Ri makan. But she called her Hae Gang. Ya, Nyonya Hong memanggil Seol Ri dengan nama Hae Gang. Seol Ri pun terdiam, begitu juga dengan yang lainnya.

"Kau pasti merindukan masakan rumah kan selama tinggal di luar negeri. Kepiting ini rasanya sangat lezat. Cobalah Hae Gang-ah." ucap Nyonya Hong lagi.


Semua mata langsung tertuju pada Nyonya Hong. Mereka menatap Nyonya Hong heran.

"Ada apa? Apa ada yang salah denganku?" tanya Nyonya Hong bingung karena mereka menatapnya seperti itu.  Sedangkan Seol Ri tampak menahan kesedihannya.


Di kantor, Baek Seok dan Hae Gang juga sedang menyantap makan malam mereka. Sambil makan, mereka membahas masalah yang sedang dihadapi klien mereka. Tiba2, Hae Gang tertegun melihat Baek Seok. Baek Seok pun heran ditatap Hae Gang seperti itu. Tapi Hae Gang terus menatap Baek Seok.

"Jangan menatapku seperti itu, kau membuatku bingung." ucap Baek Seok kemudian mengambil sebutir nasi yang menempel di bibir Hae Gang dan memakannya. Hae Gang kembali tertegun dan menatap Baek Seok. Baek Seok pun heran dan meminta Hae Gang tidak menatapnya begitu. Sejurus kemudian Hae Gang mengambil sebutir nasi di mangkuknya dan menempelkannya ke bibir Baek Seok. Hae Gang kemudian mengambil sebutir nasi di bibir Baek Seok dan memakannya. Baek Seok semakin heran.

"Aku tahu itu kotor, tapi rasanya hangat sekali." ucap Hae Gang.

"Kalau begitu aku akan meletakkan mereka di sini dan kau harus mengambil dan memakannya." jawab Baek Seok.


Hae Gang pun tertawa lepas. Baek Seok menyuruh Hae Gang berhenti tertawa karena Hae Gang terlihat sangat cantik saat tertawa. Hae Gang tidak peduli dan terus tertawa.


Seol Ri memberantaki isi apartemennya. Jin Eon terkejut melihatnya. Seol Ri berkata itu bukan seleranya. Ia juga berkata akan mengganti tirai jendelanya. Jin Eon terpengarah melihat Seol Ri marah2. Seol Ri terus marah2. Ia berkata jendela dan mejanya terlalu kecil. Kemarahannya semakin menjadi saat melihat bunga mawar di atas meja.

"Aku membenci bunga mawar! Bukankah kau sudah tahu!" teriak Seol Ri.

"Itu hadiah dari Hyun Woo. Dan mengenai ibuku, dia hanya salah bicara." jawab Jin Eon.

Jin Eon kemudian memberikan segelas minuman dingin pada Seol Ri. Seol Ri yang masih kesal menampik gelas di tangan Jin Eon, hingga gelas itu jatuh dan pecah.

"Kita tidak akan pernah menjadi satu! Kita selalu bertiga, dengan wanita itu. Kemana pun kita pergi, wanita itu selalu mengikuti kita! Ketika kita pergi ke Amerika dan ketika kita kembali ke Korea, dia selalu mengikuti kita!" teriak Seol Ri.

"Seol Ri-ya. Kau melakukannya lagi." ucap Jin Eon pelan.


"Kau tahu kenapa? Karena kau tidak akan pernah melepasnya! Kau tidak rela dia pergi! Satu momen, setiap momen bahkan di setiap momen kau tidak membiarkan wanita itu pergi." jawab Seol Ri.

"Itu tidak benar. Aku sudah melupakannya. Itu benar, aku sudah melupakannya. Benar2 melupakannya." ucap Jin Eon.

"Pembohong!" maki Seol Ri.

"Aku benar2 akan menghapusnya dari pikiranku. Aku akan melakukannya." jawab Jin Eon.

"Lalu kenapa kau menanyakan kontak wanita itu? Kau ingin menemuinya? Kenapa? Kau datang ke Korea, kau merindukannya, kau ingin melihatnya, kau ingin kembali padanya? Kau ingin mendengar suaranya? Apa kau mencemaskan wanita itu? Kenapa kau begitu mempedulikannya? Jika kau peduli, kenapa kau menceraikannya?" ucap Seol Ri berapi2.

Jin Eon diam saja, tidak bisa berkata apapun.


Sementara itu Hae Gang dan Baek Seok masih ada di kantor. Mereka kembali membahas klien mereka. Baek Seok lalu memberi Hae Gang sebuah permen. Permen yg bergambar wajah bahagia.... Hae Gang pun langsung memakannya... Baek Seok juga mengunyah permen itu dan membuat balon. Hae Gang juga melakukan hal yang sama, membuat balon dari permen karet.

 "Aku lega karena dia tidak jadi melaporkannya. Kalau sekolah sampai tahu, dia mungkin dikeluarkan." ucap Baek Seok.

"Aku tahu." jawab Hae Gang.

Baek Seok pun kembali membuat balon lagi. Hae Gang ikut2an. Saat Baek Seok membuat balonnya lagi, Hae Gang memecahkannya. Mereka pun tertawa bersama. Tiba2, ponsel Hae Gang berdering. Hae Gang pun kaget karena itu telepon dari kantor polisi. Seseorang telah melaporkan Baek Ji pada polisi.


Sementara itu Jin Eon memberitahu Seol Ri kalau ia melihat seseorang yang mirip dengan Hae Gang.
"Aku melihatnya sendiri, itulah kenapa aku mencari tahu itu dia apa bukan. Hari ini aku sudah mendapatkan jawabannya. Semua sudah berakhir." ucap Jin Eon.

"Hari ini?" tanya Seol Ri.

"Aku kehilangan dompetku dan dia datang mengembalikannya." jawab Jin Eon.

"Apa mereka begitu mirip?" tanya Seol Ri.

Jin Eon mengangguk.

"Jika itu benar2 dia, apa yang akan kau lakukan? Walaupun kau menghapusnya dari pikiranmu, tapi mata dan hatimu tidak akan pernah melupakannya. Kau tahu, Sunbae? Walau hanya sebuah lelucon, kau tidak pernah mengatakan cinta padaku. Kau tidak mencintaiku karena itu kau tidak pernah mengatakan itu. Karena itulah kau tidak melamarku. Bukankah begitu?" ucap Seol Ri berkaca2.

Jin Eon diam saja.

"Aku akan menunggu sampai kau melamarku, sampai kau mengatakan cinta padaku. Aku akan menunggu sampai aku bisa mendengar semua itu. Jadi kumohon, berusalah mencintaiku." ucap Seol Ri lagi.

Jin Eon terpaku. Ponsel Seol Ri kemudian berdering. Telepon dari Hyun Woo. Seol Ri memberikan ponselnya pada Jin Eon. Hyun Woo memberitahu Jin Eon kalau ia sudah menangkap pencopet dompet Jin Eon. Jin Eon pun terkejut. Sementara itu, Hae Gang dan Baek Seok sudah tiba di kantor polisi. Baek Ji langsung menghampiri Hae Gang.


"Yong Gi Eonni, Oppa..." ucap Baek Ji.

"Jangan cemas. Kami akan mencari jalan keluarnya." jawab Hae Gang.

Baek Ji gemetaran. Hae Gang pun menenangkan Baek Ji dengan berkata kalau Baek Ji tidak sendiri. Baek Ji memiliki dirinya, Baek Seok dan di rumah ada Beum Hee, Hyeon Hee, Joon Hee dan juga ayah mereka. Baek Ji menangis. Hae Gang pun langsung memeluk erat Baek Ji. Baek Seok lantas menghampiri petugas dan memberikan kartu namanya.


"Aku ingin tahu apa yang terjadi disini." ucap Baek Seok.

"Mereka ini pencuri profesional. Ada laporan pencurian, saat aku menyelidikinya ternyata mereka lagi. Aku menangkap mereka di TKP. Tapi mereka bilang Jang Soo Young yang melakukannya." jawab petugas.

"Jadi dia tidak ada di lokasi saat kejadian? Dan mereka mengatakan Baek Ji, maksudku Jang Soo Young pelakunya?" tanya Baek Seok.

Petugas mengiyakan....


Gantian Hae Gang yang bertanya siapa yang membuat laporan? Petugas berkata orang itu hanya mencari sebuah foto. Hae Gang kembali bertanya apa orang itu Choi Jin Eon. Apa Choi Jin Eon yang membuat laporan. Petugas mengiyakan. Hae Gang pun terkejut dan kesal.


Sementara itu Seol Ri duduk melamun di tepi ranjang. Ia memikirkan kata2 Presdir Choi dan Jin Ri.

Flashback--Seol Ri berkata pada Presdir Choi kalau ia pasti bisa memenangkan hati Presdir Choi. Presdir Choi pun berkata tidak akan semudah itu. Sementara Jin Ri memberitahu Seol Ri tentang kematian Eun Seol yang menjadi penyebab hancurnya hubungan Jin Eon dan Hae Gang--flashback end.

Seol Ri juga teringat ketika Nyonya Hong memanggilnya Hae Gang saat makan malam. Ia juga ingat penjelasan Jin Eon tentang wanita yang mirip Hae Gang. Seol Ri pun menghela napas, kemudian ia beranjak pergi.


Jin Eon baru saja tiba di kantor polisi. Di lobby, mereka bertemu. Hae Gang kesal sekali pada Jin Eon. Ia mengajak Jin Eon bicara di luar. Tapi Jin Eon tidak mau. Hae Gang pun terus menghalangi langkah Jin Eon yang ingin menemui petugas. Jin Eon kesal dan akhirnya beranjak keluar dari kantor polisi. Hae Gang mengejar Jin Eon.

"Apa kabur adalah hobimu Choi Jin Eon? Kenapa kau kabur?Apa wajahku membuatmu tidak nyaman?" tanya Hae Gang.

"Bukankah sudah kubilang jangan muncul di depanku! Pergilah! Pergi!" jawab Jin Eon.

"Ya! Choi Jin Eon-ssi! Kenapa kau bersikap akrab denganku? Apa aku pacarmu? Aku istrimu? Lihat Ahjussi ini!" dengus Hae Gang.

"Lihat sini Ahjumma!" balas Jin Eon.

"Ahjumma?!" tanya Hae Gang kesal.

"Aku minta maaf. Kau bukan Ahjumma tapi Ahjummoni. Ahjummoni, aku tidak tahu dosa apa yang kuperbuat padamu, tapi aku tidak akan membuat kesepakatan yang menguntungkan dengan adikmu! Ayo kita selesaikan secara hukum, Ahjummoni." jawab Jin Eon.


"Apa? Kesepatakan yang menguntungkan? Aku sudah memohon padamu supaya kau tidak menuntutnya tapi kau tetap melaporkannya ke polisi. Kesepakatan yang menguntungkan apa? Aku tidak bilang dia tidak bersalah, tapi dia masih kecil. Aku memintamu memberinya kesempatan. Kalau kau menuntutnya, dia akan dicap sebagai pencuri. Kau juga memiliki anak kan? Kau membesarkan seorang anak. Apa yang akan kau lakukan jika putrimu yang mengalami hal ini? Hal ini biasa terjadi pada anak2 yang mengalami masa pubertas. Mereka akan bertindak semaunya untuk mencari perhatianmu." ucap Hae Gang.

Kata2 Hae Gang membuat Jin Eon sedih. Hae Gang pun heran melihatnya. Sementara di dalam Baek Seok masih bernegosiasi dengan petugas. Petugas meminta Baek Seok membawa Baek Ji pulang dan menunggu keputusan jaksa apakah Baek Ji akan mendapat keringanan hukum atau tidak.

"Dia masih kecil. Aku menjamin dia tidak akan melakukan hal ini lagi. Jadi tolong lepaskan dia." pinta Baek Seok.

"Karena korban yang melapor, jadi kami harus mengikuti keputusan jaksa. Sebagai seorang pengacara kau pasti mengetahuinya dengan baik." jawab petugas.


Baek Seok dan Baek Ji mulai meninggalkan kantor polisi dengan wajah lesu. Setibanya diluar, Baek Seok melihat Hae Gang bicara dengan Jin Eon. Baek Ji terkejut melihat Jin Eon. Jin Eon pun berbalik dan berjalan menuju kantor polisi. Baek Seok terus melihat Jin Eon yang berjalan begitu saja melewatinya. Namun langkahnya terhenti karena Baek Ji memanggilnya.

"Ahjussi! Aku minta maaf. Aku sudah mencuri dompetmu dan merobek fotomu." ucap Baek Ji.

"Kau janji tidak akan melakukannya lagi?" tanya Jin Eon.

"Aku berjanji." jawab Baek Ji.

"Baiklah, aku tidak akan menuntutmu. Kau tidak usah cemas." ucap Jin Eon.

Baek Ji pun langsung mengucapkan terima kasih. Baek Seok juga ikut mengucapkan terima kasih. Jin Eon lantas masuk ke dalam. Baek Seok memberikan kunci mobil dan menyuruh Baek Ji dan Hae Gang menunggu di mobil karena ia akan memastikan semuanya. Hae Gang pun memapah Baek Ji menuju mobil.


Sementara itu Seol Ri sedang di perjalanan menuju kantor polisi. Wajahnya terlihat cemas. Ya, ia takut Jin Eon bertemu lagi dengan wanita yang mirip Hae Gang. Setibanya di kantor polisi, ia terkejut melihat Hae Gang. Hae Gang kala itu berdiri di depan kantor polisi. Seol Ri ingin menghampiri Hae Gang, namun langkahnya terhenti melihat Baek Seok menghampiri Hae Gang.


"Kau seharusnya menunggu di mobil. Di luar sangat dingin."  ucap Baek Seok.

"Aku harus mengucapkan terima kasih." jawab Hae Gang.

"Aku sudah melakukannya." ucap Baek Seok kemudian memeluk Hae Gang.


Seol Ri pun semakin terkejut. Tepat saat itu, Jin Eon keluar. Seol Ri menatap Jin Eon. Jin Eon menatap Hae Gang sejenak. Tatapannya dingin. Setelah itu, Jin Eon beranjak pergi. Sedangkan Hae Gang dan Baek Seok berjalan ke mobil mereka. Seol Ri terus memperhatikan mereka. Ia benar2 syok.


Gyu Seok sedang memeriksa pasiennya. Pasienya seorang anak kecil yang menderita penyakit gaucher. Dengan wajah sedih anak itu berkata kalau dia tidak bisa berlari seperti teman2nya yang lain.

"Orang dewasa tidak berlari setiap hari. Mereka berlari ketika mereka sedang bermain bola saja. Lakukan seperti yang orang dewasa lakukan. Lagipula kau bukannya tidak bisa berlari, tapi kau tidak mau berlari." jawab Gyu Seok.

"Apa dia sembuh? Aku dan suamiku menaruh harapan padamu. Kami sudah pergi ke banyak rumah sakit. Tapi tidak satu pun dari mereka yang tahu penyakitnya. Mereka hanya mengatakan dia kena anemia. Aku sangat marah...."

"Kita akan melakukan pengobatan nanti." ucap Gyu Seok memotong kata2 ibu dari anak itu.

"Apa?" tanya ibu anak itu bingung.


Gyu Seok menghela napas dan menunjukkan jamnya. Sudah jam 12.00. Gyu Seok berkata sudah waktunya ia makan siang. Ibu anak itu kesal dan langsung mengajak anaknya pergi. Gyu Seok lalu mendapatkan sebuah email. Email dari Yong Gi.

Bagaimana kabarmu Dokter Min Gyu Seok. Ini Dokgo Yong Gi, ibu Dokgo Woo Joo. Aku berada di China. Rumah sakit di China mencurigai Woo Joo mengidap penyakit gaucher. Aku dengar kau seorang yang ahli dalam bidang ini. Itulah kenapa aku tiba2 mengirimkan email ini padamu.

Yong Gi juga mengirimkan beberapa foto Woo Joo, membuat Gyu Seok penasaran dengan mereka.

Gyu Nam baru saja tiba di rumah sakit. Ia terus berjalan hingga dirinya tiba di sebuah ruangan. Tangannya menenteng rantang. Gyu Nam mengetuk pintu ruangan itu, kemudian masuk ke dalam. Di dalam Gyu Seok sudah menunggu Gyu Nam. Gyu Nam meletakkan rantang itu di meja Gyu Seok lalu pergi. Gyu Seok memanggil Gyu Nam, mengajaknya makan siang bersama. 


Gyu Nam dan Gyu Seok duduk di taman. Mereka tidak saling bicara. Gyu Seok sibuk mendengarkan musik lewat earphone-nya. Gyu Nam membereskan rantang satu per satu. Namun tiba2 Gyu Nam menatap ke arah langit. Gyu Seok pun melepas earphone-nya sebelah dan memberikannya ke Gyu Nam. Gyu Nam memasang earphone itu di telinganya dan tersenyum saat mendengarkan musiknya. 

Lalu terdengar suara Jin Ri, adik ipar! Gyu Seok pun langsung bangkit dari duduknya.

"Aku bertanya pada suster dimana dirimu dan dia bilang kau selalu makan siang disini." ucap Jin Ri.

Jin Ri lalu melirik Gyu Nam.

"Kalian bersama2. Apa kau sehat? Jin Eon kembali ke Korea dengan Kang Seol Ri. Apa kau tahu?" tanya Jin Ri.

Gyu Nam diam saja, tapi wajahnya terlihat kesal.

"Kau pasti ingin balas dendam kan? Kau pasti menunggu momen ini. Pastikan kau melakukannya." ucap Jin Ri.

Gyu Nam pun pergi tanpa membalas perkataan Jin Ri. Gyu Nam pergi dengan rasa kesal.

"Apa yang kau lakukan disini? Aku akan memberimu waktu beberapa detik, jadi bicaralah." ucap Gyu Seok.

"Adik Ipar, apa kau bercanda?" tanya Jin Ri.

"Kau punya waktu 50 detik." jawab Gyu Seok.


"Adik Ipar, jadilah model untuk perawatan kesehatan Cheon Nyeon. Kau yang pantas melakukannya. Tidak ada yang lebih baik darimu. Kami akan membayarmu sesuai dengan bayaran model papan atas." ucap Jin Ri tanpa titik koma.

Jin Ri lalu melihat jam Gyu Seok, 42 detik lagi.

"Aku tidak mau." tolak Gyu Seok.

"Apa!" teriak Jin Ri. Jin Ri kemudian menurunkan volume suaranya, "Ini pertama kalinya aku meminta padamu, kenapa kau langsung menolaknya? Pikirkan lagi kata2ku."

"Aku tidak ingin melakukannya." jawab Gyu Seok, lalu beranjak pergi. Jin Ri pun mendengus kesal.


Di kantor, Manajer Byun sedang menggaruk2 kepalanya dengan sebuah alat... Mi Ae dan seorang temannya menghampiri Manajer Byun. Teman Mi Ae bertanya apa mereka bisa bekerja sama dengan anak Presdir?

"Jangan pedulikan dengan siapa kau bekerja." jawab Manajer Byun.

"Jadi benar dia akan bekerja disini? Kudengar banyak perusahaan memperebutkannya karena ia telah mengembangkan obat anti kanker." ucap Mi Ae.


Produser Kim datang, menyuruh Mi Ae dan teman Mi Ae kembali bekerja. Produser Kim lantas memberitahu Manajer Byun yang akan bekerja dengan anak Presdir. Manajer Byun kaget.

"Kenapa aku? Aku tidak memenuhi kualifikasi." jawab Manajer Byun.

"Ini perintah Presdir." ucap Produser Kim, lalu pergi.


Di ruangannya, Tae Seok sedang melihat beberapa foto. Foto seorang pasien laki2 yang tangan dan kakinya dibalut perban.

"Dia mengatakan dia akan segera mendapatkan pengacara. Sepertinya dia berusaha membesar2kan masalah. Kalau sampai hal ini bocor ke publik, bahkan orang2 yang tidak tahu tentang efek samping, akan menggugat kita. Ini sudah 6 tahun sejak obat itu dipasarkan. Jumlah kasus efek samping akan meningkat lebih dan lebih." ujar Produser Kim.


"Jika kita mengakui bahwa ada efek samping, maka permainan berakhir hari itu. Aku dan kau akan berakhir. Jika laki2 ini membuat masalah yang lebih besar, keadaan akan terbalik. Jika laki2 ini mendapatkan pengacara, kita harus menyuap pengacaranya. Orang ini harus berada dalam genggaman kita. Apapun yang dia lakukan, kita harus menghentikannya." jawab Tae Seok.

Produser Kim diam saja dan tampak memikirkan sesuatu.

"Kita tidak boleh membiarkan Dokgo Yong Gi mengancam kita untuk yang kedua atau ketiga kalinya." ucap Tae Seok lagi.

Produser Kim mengerti. Tae Seok lantas melirik dokumen rahasia yang berisi tentang efek samping pudoxin yang ada di meja.


Sementara itu Jin Eon dan Hyun Woo sedang berada di lift. Hyun Woo bertanya apa lift itu hanya digunakan untuk para dewan direksi?

"Tidak ada wanita cantik disini, sangat membosankan" ucap Hyun Woo.

"Kita mulai bekerja Hari Senin." jawab Jin Eon.

"Aku belum memikirkannya." ucap Hyun Woo.

"Ayo kita kembangkan obat yang baru bersama2." jawab Jin Eon.

"Bagaimana dengan Kang Seol Ri?" tanya Hyun Woo.

"Kang Seol Ri, dia akan melanjutkan sekolahnya. Dia bisa melanjutkan penelitian yang dia suka." jawab Jin Eon.

"Benar, itu adalah hal yang paling bahagia untuk seorang peneliti." ucap Hyun Woo.


Sementara itu di depan lift, Manajer Byun berdiri sambil membungkukkan badannya. Begitu Jin Eon dan Hyun Woo keluar, Manajer Byun langsung membuat penyambutan. Manajer Byun bahkan mengalungkan bunga ke Jin Eon. Jin Eon dan Hyun Woo menatap aneh Manajer Byun. Manajer Byun kemudian memperkenalkan dirinya sebagai seketaris Jin Eon.


Di rumahnya, Tuan Baek sedang melihat video wawancara Seol Ri tentang obat anti kanker. Tuan Baek menghela napasnya, lalu mengambil kartu nama Nyonya Hong. Cukup lama ia menatap kartu nama Nyonya Hong, sebelum akhirnya ia menelpon Nyonya Hong.

 "Tentang Seol Ri, dia sudah kembali ke Korea?" tanya Tuan Baek.

Nyonya Hong mengiyakan.

"Apakah dia sudah menikah?" tanya Tuan Baek.


"Mereka akan segera menikah. Kau tidak akan datang ke pesta pernikahan. Kau begitu menakutkan waktu itu. Kau belum mengenal anakku. Dia anak yang baik. Jadi kau tidak usah cemas." jawab Nyonya Hong.
"Menikahkan mereka setelah menantumu meninggal? Apakah mereka akan tetap menikah kalau mereka mengetahui hal itu?" ucap Tuan Baek.

"Mereka tidak boleh tahu. Aku pastikan mereka tidak akan tahu. Lagipula apa hubungannya kematian menantuku dengan pernikahan mereka? Mereka tidak akan batal menikah hanya karena kematian seseorang." jawab Nyonya Hong.

"Kalau begitu berikan padaku alamat Seol Ri." pinta Tuan Baek.

"Omo, kenapa? Kau mau memberitahunya?" tanya Nyonya Hong kaget.


Seol Ri pergi ke kantor Baek Seok. Ia teringat Baek Seok yang menghampiri Hae Gang di kantor polisi. Seol Ri pun masuk ke dalam. Di dalam Baek Seok sedang berbicara dengan kliennya. Perlahan2 Seol Ri mendekati Baek Seok. Baek Seok pun terkejut begitu melihat Seol Ri. Seol Ri tersenyum pada Baek Seok.
Sementara diluar, Hae Gang baru saja tiba. Hae Gang mengambil beberapa surat di kotak surat. Saat hendak masuk ke dalam, ia teringat saat berbicara dengan Jin Eon di kantor polisi.


Flashback

"Kau juga punya anak kan? Kau juga membesarkan seorang anak. Ketika putrimu memasuki usia puber, dia akan melakukan hal2 yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya. Dia akan membuatmu cemas, meminta perhatian darimu." ucap Hae Gang.

Jin Eon berkaca2 mendengar kata2 Hae Gang.

Flashback end...

"Kenapa dia menangis saat itu? Apa putrinya sakit? Atau..."


Hae Gang pun terkejut menyadari sesuatu. Lamunan Hae Gang pun buyar ketika klien yang tadi bicara dengan Baek Seok menyapanya. Klien itu kemudian pergi. Dan Hae Gang berlari masuk ke dalam.
Di dalam, Baek Seok dan Seol Ri bicara. Seol Ri bertanya apa Baek Seok sudah menikah. Baek Seok berkata belum. Seol Ri bertanya lagi apa ada seseorang yang dicintai Baek Seok. Baek Seok mengangguk. Seol Ri ingin tahu wanita seperti apa yang disukai kakaknya.

"Kau sudah mengenalnya." ucap Baek Seok.

"Siapa dia?" tanya Seol Ri kaget.

"Cinta pertamaku, Dokgo Yong Gi." jawab Baek Seok.

"Cinta pertamamu? Dokgo Yong Gi?" tanya Seol Ri heran.


Tepat saat itu Hae Gang masuk. Seol Ri pun syok melihat Hae Gang. Sementara Hae Gang terus mengoceh soal kliennya. Hae Gang baru berhenti mengoceh begitu melihat Seol RI. Ia mengira Seol Ri adalah klien mereka. Baek Seok pun mengenalkan Seol Ri pada Hae Gang. Baek Seok berkata Seol Ri adalah adiknya.

"Adik?" tanya Hae Gang heran, "... ah, Seol Ri Eonni. Baek Jo memperlihatkan fotomu padaku. Kau ternyata lebih cantik dari yang di foto."

Hae Gang lalu mendekati Seol Ri. Ia mengulurkan tangannya.


"Aku Yong Gi Eonni." ucapnya memperkenalkan diri.


Dengan tangan bergetar, Seol Ri mengulurkan tangannya. Hae Gang pun tersenyum dan menjabat tangan Seol Ri.


Hae Gang, Baek Seok dan Seol Ri kini berada di sebuah restoran. Seorang pelayan menuangkan anggur ke dalam gelas Seol Ri. Seol Ri mengaduk2 anggurnya, sebelum akhirnya ia merasakannya. Setelah yakin dengan rasanya, Seol Ri pun menyuruh pelayan menuangkan anggur itu ke gelas Baek Seok dan Hae Gang.

Seol Ri memuji Hae Gang dan Baek Seok sebagai pasangan yang serasi. Seol Ri lalu bertanya pada Hae Gang, apa Hae Gang mencintai Baek Seok. Hae Gang pun bingung harus menjawab apa, jadi ia hanya diam saja dan tersenyum. Baek Seok lah yang menjawab pertanyaan Seol Ri.


"Tentu saja dia mencintaiku. Kami saling mencintai, hari ini, esok dan selamanya." jawab Baek Seok.

"Apa kau sudah menikah? Kudengar kau pergi ke Amerika dengan pria yang kau cintai." ucap Hae Gang.

"Kami akan segera menikah." jawab Seol Ri.

"Kalau begitu lain kali kita harus makan bersama." ucap Hae Gang.

"Kau sudah bertemu dengannya." jawab Seol Ri.

Hae Gang pun kaget, apa? Aku sudah bertemu dengannya?


Jin Eon baru saja tiba di rumahnya. Ia disambut oleh Jin Ri. Saat Jin Eon hendak naik ke atas, Jin Ri memanggil Jin Eon. Jin Ri lalu memberitahu Jin Eon tentang dirinya yang baru saja bertemu dengan Nyonya Kim di rumah sakit.
"Sekarang dia tinggal dengan adik iparku di Buamdong. Apa kau sudah bertemu dengannya? Dia tidak bisa bicara sejak 4 tahun yang lalu karena menderita aphasia."

Jin Eon pun kaget, apa?

"Jadi kau tidak tahu? Dia mungkin akan bicara lagi setelah bertemu denganmu karena dia sangat marah padamu." ucap Jin Ri lagi.


Sementara itu, Hae Gang masih bersama Baek Seok dan Seol Ri di restoran.

"Tadi kau bilang aku mengenal pria itu? Siapa dia?" tanya Hae Gang.

"Aku tidak bilang kau mengenalnya, aku hanya bilang kau sudah bertemu dengannya." jawab Seol Ri.

"Apa kau sedang mempermainkan kami?" ucap Baek Seok kesal.

"Siapa nama pria itu?" tanya Hae Gang.

"Aku tidak ingin membicarakannya. Bolehkah aku bertanya, kenapa kau bisa tinggal di rumah kami selama 4 tahun? Dimana keluargamu?" tanya Seol Ri.

"Aku kehilangan ingatakanku 4 tahun yang lalu. Keluargaku, rumahku, aku bahkan tidak tahu siapa diriku. Jika aku tidak bertemu kakakmu, mungkin aku tidak akan tahu kalau namaku Dokgo Yong Gi." jawab Hae Gang.


Seol Ri pun kaget, apa? Seol Ri kemudian bertanya bagaimana Hae Gang bisa kehilangan ingatan.

"Aku berlumuran dengan darah. Aku pingsan di dekat jalan raya ketika kakakmu menemukanku. Aku tidak bisa menjelaskan apa yang terjadi saat itu karena aku sendiri tidak ingat." jawab Hae Gang.

"Bagaimana kau bisa yakin kalau kau adalah Dokgo Yong Gi?" tanya Seol Ri.

"Dia memilikiku. Aku ingat semuanya. Sahabat kami di sekolah juga mengingatnya. Kami pergi ke reuni sekolah dan semua orang mengatakan kalau dia adalah Dokgo Yong Gi, cinta pertamaku." jawab Baek Seok.


Hae Gang lalu memberikan dompet Yong Gi, yang ditemukan Baek Seok di lokasi kecelakaan, pada Seol Ri. Seol Ri kaget melihat kartu identitas Yong Gi. Seol Ri lalu menatap Hae Gang dengan wajah tegang. Seol Ri lalu mengajak Hae Gang dan Baek Seok ke apartemennya. Seol Ri berkata sangat merindukan Baek Seok. Hae Gang yang tak ingin mengganggu mereka pun memutuskan pergi tapi Seol Ri menahannya. Seol Ri menyuruh Hae Gang duduk.

"Kalian berdua duduklah, biar aku yang membuat kopi." ucap Baek Seok lalu pergi ke dapur.


Hae Gang melihat2 sekeliling apartemen Seol Ri. Ia menyukai dekorasinya. Seol Ri bilang kekasihnya yang melakukannya. Hae Gang pun berkata kekasih Seol Ri pasti orang yang baik. Hae Gang lalu melihat sebuah foto yang terpajang di meja. Hae Gang ingin melihat foto itu, namun Seol Ri berteriak begitu Hae Gang menyentuh foto itu.

"Jangan sentuh! Kenapa kau menyentuh barang orang lain tanpa permisi!" sewot Seol Ri sambil mengambil fotonya dari tangan Hae Gang.


"Kenapa kau bicara seperti itu? Sofa ini, apa karena milikmu kami tidak boleh duduk di atasnya?" ucap Baek Seok kesal.

"Maaf." jawab Seol Ri.


Sementara itu Jin Eon dan Hyun Woo berhenti di depan apartemen Seol Ri. Jin Eon menelpon Seol Ri. Saat itulah Hyun Woo melihat Hae Gang. Hyun Woo kaget dan langsung memberitahu Jin Eon. Hae Gang keluar dari gedung apartemen dengan marah2. Ia tersinggung dengan perkataan Seol Ri tadi. Ia lalu terkejut begitu melihat Jin Eon dan Hyun Woo. Hyun Woo yang kaget tanpa sengaja menjatuhkan belanjaannya. Hae Gang langsung berlari memungut belanjaan Hyun Woo, kemudian mengembalikannya ke Hyun Woo.


"Apa kau Hae Gang?" tanya Hyun Woo.

"Apa?" ucap Hae Gang bingung.

"Kau benar2 bukan Hae Gang?" tanya Hyun Woo lagi.

Hae Gang pun mengangguk. Jin Eon lantas mengajak Hyun Woo masuk. Namun Hae Gang mengajak Jin Eon bicara. Hyun Woo pun pergi meninggalkan berdua. Hyun Woo terlihat sangat syok melihat Hae Gang.


Hae Gang berlari menemui Jin Eon di pinggir jalan. Ia lalu menyerahkan amplop putih yang berisi uang. Hae Gang kemudian berterima kasih dan meminta maaf karena sudah salah paham dengan Jin Eon. Jin Eon mengambil uang itu dan berkata urusan mereka sudah selesai. Saat hendak pergi, ponsel Hae Gang berbunyi. Langkah Jin Eon seketika terhenti mendengar dering ponsel Hae Gang. Jin Eon pun menatap Hae Gang. Tak lama setelahnya, giliran ponsel Jin Eon yang berbunyi. Deringan ponsel Jin Eon juga membuat Hae Gang tertegun. Kedua lalu saling menatap. Hae Gang lantas ingin menjawab ponselnya, tapi Jin Eon merebut ponselnya.

No comments:

Post a Comment